Awal Pertemuan
udara yang begitu panas menyengat, mentari seakan tidak bisa diajak berkompromi hari ini. angin yang berhembus sedikit memberikan kesejukan karena keringat yang membasahi tubuh. lalu lintas yang begitu padat terlihat dari dalam Kafe Mawar dimana tempat Bulan bekerja. sudah hampir tiga tahun, gadis itu bekerja menjadi waiters. meski Bulan pernah mendapatkan tawaran bekerja ditempat yang lebih baik, namun gadis itu menolak karena sudah terlalu nyaman berada di tempat nya mencari nafkah saat ini, ibarat rumah kedua yang disinggahi oleh nya. hari ini Kafe Mawar tidak terlalu padat karena hari weekdays. biasanya, tempat itu akan ramai saat weekend tiba. hanya ada lima table yang terisi sekarang, yang biasanya hampir seluruh table terisi oleh tamu dengan berbagai keanehan nya.
pernah beberapa kali Bulan mendapat tamu yang menguras emosi jiwa dan raganya. seorang pemuda yang menggoda nya dan membuat nya risih sudah beberapa kali dialami nya.bahkan, mbak- mbak judes dan sensi juga pernah didapati oleh Bulan. semua tetap ditanggapi nya dengan senyuman demi menjaga keprofesionalan nya dalam bekerja.
pintu Kafe Mawar yang bernuansa mawar merah itu seperti namanya terbuka pertanda ada tamu yang hendak datang. dengan senyum ramah , Bulan menyapa dan membawa menu pada tamu tersebut. tamu itu dua orang bapak-bapak paruh baya dengan tubuh tambun dan pakaian nya yang necis.
"Selamat siang Pak! Selamat datang di Kafe Mawar!" sambutan Bulan ditanggapi oleh salah satu pria itu dengan anggukan kepala dan senyuman.
tanpa menunggu lama lagi, Bulan mengarahkan tempat duduk yang nyaman untuk kedua pria itu kemudian meletakan menu didepan nya dan pamit pergi sembari menjelaskan jika ingin memesan bisa untuk melambaikan tangan.
tak..tok..tak... tokk suara sepatu pantofel Bulan beradu dengan lantai marmer yang begitu mengkilat. ditambah dengan grooming Bulan yang selalu rapi dan menarik membuat nya mendapat nilai plus dari tamu yang hadir ke Kafe Mawar.wajah nya yang cantik ditambah dengan polesan make up tipis itu membuat pesona tersendiri bagi yang melihatnya.
tak lama kemudian, mata indah nya melihat kedua pria itu melambaikan tangan pertanda jika ingin memesan. dengan cekatan, Bulan menghampiri kedua pria itu dengan membawa note book kecil yang selalu tersematkan di saku celana nya.
"Permisi Pak! bisa dibantu apa pesanan nya?"
"Saya mau pesan satu waffle cream sama satu ice salted caramel machiato." jawab pria dengan kumis tebal dan berbadan tambun itu
"Baik saya catat ya pak pesanan nya! lalu ada tambahan lain nya?" tanya Bulan dengan ramah dan senyuman semanis madu.
Alih-alih menjawab pertanyaan Bulan, pria paruh baya dengan badan tambun serta pakaian branded dan jam tangan yang memiliki harga fantastis itu malah memindai Bulan dari atas sampai bawah dan membuat gadis itu menjadi kurang nyaman.
Bulan yang merasa jika dilihat seperti itu, hanya menundukan kepala dan kembali mengulangi ucapan nya tadi.
sontak, pria tambun itu langsung terhentak dan segera menyebutkan apa yang menjadi pesanan nya.
"Saya pesan Burger smooked beef sama ice green tea "
"Baik pak saya catat ya pesanan nya! dan mohon ditunggu pesanannya tiba ya, terima kasih."pamit Bulan saat melakukan order kepada customer nya itu. bentuk tubuh Bulan yang memang ideal itu dipandang lekat-lekat oleh pria tambun paruh baya itu yang bernama Edwar. pria kaya raya dan memiliki usaha furniture itu hidup bergelimang harta . apapun yang menjadi keinginan mudah untuk didapatkan karena uang yang berbicara. meski sudah memiliki satu istri dan dua anak ,tetap saja lagak nya bagai bujangan yang genit terhadap dara muda.
"Di, tuh waiters boleh juga ya " ujar Pak Edwar pada kawan nya itu Pak Andi yang menjadi sahabat karib nya. Pak Andi juga pengusaha tapi di bidang garmen, sifatnya sangat bertolak belakang dengan Pak Edwar itu. Pak Andi benar-benar lelaki sejati idaman para wanita.
"Edwar..Edwar.. kondisiin sedikit kenapa itu si mata lu, inget anak bini lu dirumah!"
"Ah tapi ini menggoda gue Di, bosen gue Ama si Tina, begitu gitu aja. kan kalo ini dara muda beda pastinya" Pak Edwar mulai traveling dengan isi otak nya itu yang penuh dengan kekotoran.
karena males menanggapi Pak Edwar, Pak Andi mengalihkan dengan membuka ponsel nya dan sibuk dengan sosmed yang dimiliki nya.
Pak Edwar yang merasa dikacangi oleh sobat nya itu menjadi jengkel dan mencoba untuk celingak celinguk mencari dimana keberadaan Bulan.yang dicari akhirnya tiba juga. Bulan datang dengan nampan dikedua tangan nya dan mengantar nya pada meja Pak Adi dan Pak Edwar.
Pak Edwar yang terlihat salah tingkah itu mencoba untuk tetap stay cool dengan merapikan rambut nya dan tersenyum genit pada Bulan.
"Silahkan pak pesanannya!" ucap Bulan sambil tangan nya sibuk menata piring dan gelas yang berisi pesanan nya itu.
"Terima Kasih Mbak Bulan" Pak Edwar berkata sambil senyum genit , sontak Bulan menjadi makin tidak nyaman dengan posisi sekarang. gadis itu kesal karena name tag yang tersemat di d**a sebelah kirinya yang membuat Pak Edwar tau namanya. karena keprofesionalan yang harus tetap di lakukan nya, Bulan hanya tersenyum saja menanggapi Pak Edwar yang menyebalkan itu.
"Iya sama-sama Pak! selamat dinikmati ya! " pamit Bulan sambil balik kanan berlawanan arah dari posisi tempat duduk kedua pria itu.
tatapan sinis tentunya sudah biasa didapati Bulan dari rekan kerja nya itu. namun, Bulan memilih untuk tidak menanggapi dan mencoba bodo amat dengan hal itu. gadis itu berlari kelantai dua untuk kekamar mandi sekedar menjernihkan kembali pikiran nya yang saat ini sedang kalut.dalam cermin wastafel gadis itu menatap nanar dan melihat pantulan wajah nya yang terlihat kusut itu. sungguh hari yang membuat badmood batin nya dalam hati.saat sudah dirasa lebih baik, Bulan kembali bekerja kembali dan mencoba untuk tidak terlalu memasukan kedalam hati hal itu.
"Nis, nanti balik nya aku boleh nebeng lagi kan?" Bulan berbasa basi pada Nisa rekan kerja nya itu yang biasa memberinya tumpangan.
"Kayaknya nanti gue mau kerumah saudara gue dulu deh!kenapa lu ngga coba bareng om itu aja!" ledek Nisa yang kembali membuat Bulan menjadi badmood. tanpa menanggapi, Bulan memilih untuk pergi dan membersihkan sisa makanan dimeja ujung sama karena tamu telah pergi.
dari kejauhan, Bulan melihat Pak Edwar yang tak berkedip menatap nya. kapan sih tamu itu bakal pergi, sungutnya sambil tangan nya sibuk menata gelas dan piring sisa makanan yang berserakan dimeja itu.
akhirnya Tuhan menjawab Doa yang Bulan lantunkan tadi. yang menginginkan jika Pria itu cepat-cepat pergi dari Kafe Mawar itu.
selesai menyelesaikan transaksi nya dikasir, Pak Edwar masih sempat nya mencuri-curi pandang pada Bulan yang membawa baki makanan dan minuman bekas tamu.
"Mas, saya boleh minta nomor handphone Mbak Bulan nggak?" Pak Edwar tanpa malu meminta pada Riko, kasir yang sedang jaga.
"Mohon maaf Pak, kalau untuk nomor ponsel itu privasi kami, jadi lebih baik Bapak yang meminta sendiri pada yang bersangkutan Pak!" tolak Riko secara halus pada Pak Edwar itu.
"Baiklah , Baiklah Mas nanti saya akan datang lagi kemari dan meminta nya langsung pada Bulan" ucap Pak Edwar sembari pergi meninggalkan kafe Mawar dan tak lupa menitipkan tip untuk Bulan pada Riko.pantang bagi Pak Edwar menerima penolakan. lain waktu Pak Edwar akan meminta nya pada Bulan dan membuat dara muda itu bertekuk lutut