Ruang IGD rumah sakit dipenuhi aroma obat yang tajam. Liodra duduk di ranjang pemeriksaan sambil meremas lengan bajunya, menahan rasa sakit pada pergelangan kaki yang bengkak. Seorang perawat membalut kakinya dengan perban tebal, sementara Alex berdiri di sampingnya, kedua tangannya terkunci di belakang punggung, wajahnya datar, tapi tatapannya tidak pernah lepas dari kaki Liodra. “Sudah selesai,” kata perawat itu ramah. “Jangan dipaksakan berjalan dulu.” “Baik.” Liodra mengangguk kecil, wajahnya meringis. Alex langsung mengambil posisi di sampingnya. “Ayo pulang,” ujarnya datar, seperti keputusan yang tak bisa diganggu gugat. Namun, Liodra langsung menggeleng cepat dan mencibir. “Tidak mau.” Alex memiringkan kepalanya sedikit. “Nona butuh istirahat.” “Aku lapar,” jawab Liodra tanpa

