Keduanya masih saling menatap, terjebak dalam keheningan yang menekan sekaligus memabukkan. Nafas Alex hangat menyentuh wajah Liodra, dan Liodra bisa merasakan degup jantung pria itu cepat, tidak setenang yang selalu ditunjukkannya.
Angin sore berhembus pelan, membawa aroma laut, sementara langit berubah menjadi warna keemasan terakhir sebelum gelap menelan cakrawala.
Perlahan … tanpa sepatah kata pun … Alex menurunkan wajahnya.
Liodra tidak bergerak. Tidak berani bernapas keras. Matanya membesar saat jarak di antara mereka tinggal beberapa milimeter. Dan ketika bibir Alex akhirnya menyentuh bibirnya, sentuhan itu ringan, hampir seperti mimpi.
Liodra menutup matanya.
Ciuman itu lembut pada awalnya, hati-hati, seolah Alex sedang memeriksa sesuatu yang tidak pernah ia izinkan dirinya untuk rasakan. Tapi ketika Liodra membalas, menyentuh bibir Alex dengan lebih yakin, sesuatu dalam diri Alex runtuh.
Tangan Alex yang tadi menahan tubuhnya pada tikar berpindah, menyentuh wajah Liodra. Dan Liodra spontan melingkarkan lengannya ke punggung Alex, punggung lebar, hangat, dan kuat. Ia menarik pria itu lebih dekat, menyadari betapa ia telah mendambakan kedekatan ini tanpa pernah mengakuinya.
Alex merespons.
Ciumannya semakin dalam, bukan lagi ragu, tetapi penuh dorongan emosi yang selama ini ia kubur. Seolah seluruh dingin dan jarak yang ia bangun selama bertahun-tahun luluh begitu saja.
Matahari tenggelam sepenuhnya di belakang mereka, bayangan jingga terakhir memudar, digantikan cahaya violet senja. Suasana itu terasa begitu romantis, begitu intim hingga dunia di sekitar seakan menghilang.
Liodra mengusap tengkuk Alex, merasakan rambutnya yang basah karena air laut. Alex menahan napas sejenak, lalu kembali mencium sudut bibir Liodra dengan sentuhan kecil yang begitu manis. Seolah ia tidak ingin melepaskannya.
Ciuman itu terhenti hanya ketika keduanya kehabisan napas.
Alex membuka mata perlahan, napasnya masih tidak stabil. Liodra juga melakukan hal yang sama … dan ia tersenyum. Senyum kecil, lemah, tetapi penuh kebahagiaan murni.
“Alex …,” bisiknya nyaris tak terdengar.
Alex tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan tatapan yang berbeda, bukan tatapan seorang pengawal pada majikannya. Bukan pula tatapan dingin yang selalu ia gunakan sebagai tameng.
Melainkan tatapan seorang pria, yang secara perlahan kehilangan kendali atas perasaannya.
Liodra mengangkat tangan dan menyentuh pipi Alex. “Kamu tadi bilang butuh alasan untuk mencintai sesuatu yang tidak berarti … tapi kamu tetap mencium aku.”
Alex memejam sebentar. Tubuhnya kaku di atas Liodra.
“Liodra ….” Suaranya serak, seperti ada sesuatu yang berusaha ia tahan.
Namun, Liodra hanya tersenyum dan menarik wajah Alex kembali kepadanya.
“Kamu tidak perlu alasan.”
Matahari telah tenggelam, hanya tersisa garis tipis merah di langit. Cahaya itu jatuh pada wajah Alex yang begitu dekat dengan wajahnya. Liodra bisa merasakan napas Alex menyentuh bibirnya lagi, hangat dan menggoda.
Dan ketika Alex kembali mencium bibirnya, kali ini tanpa ragu sama sekali. Liodra tahu meski Alex menyembunyikannya, meski hatinya penuh gelap dan dendam, pria itu mulai mencintainya. Walau ia sendiri belum berani mengakuinya.
Ciuman itu semakin dalam, semakin hangat, semakin sulit untuk dihentikan. Liodra merasa seluruh dunia lenyap, hanya tersisa hembusan napas Alex dan sentuhan bibir yang membuat tubuhnya bergetar halus. Tangan Alex meremas lembut pinggangnya, sementara jari-jari Liodra tertahan di tengkuk Alex, tidak ingin melepaskan.
Namun pada detik berikutnya, seperti seseorang membangunkannya dari mimpi napas Alex terhenti.
Ia membuka mata secara tiba-tiba. Ada bayangan gelap melintas di wajahnya, seperti ingatan yang tidak seharusnya hadir dalam momen itu. Dan sebelum Liodra sempat bertanya, Alex menarik diri.
Dengan cepat, ia bangkit berdiri.
Liodra terkejut. Tubuhnya masih terbaring di atas tikar, rambutnya berantakan karena air laut dan ciuman yang barusan terjadi. Ia menatap Alex yang kini berdiri membelakanginya, napasnya tak beraturan, tapi ekspresinya sudah kembali dingin.
Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah ciuman itu … tidak berarti apa pun.
“Alex …?” Suara Liodra pelan, bingung sekaligus kesal.
Alex tidak menatapnya. Ia menarik napas panjang, menstabilkan dirinya. “Kita harus pulang,” ucapnya singkat.
Liodra langsung duduk, bibirnya mengerucut marah. “Kenapa berhenti?” tanya Liodra tanpa menahan diri, suaranya terdengar penuh protes dan sedikit terluka.
Alex menghela napas, masih tidak berbalik. “Ini sudah terlalu jauh.”
“Terus kenapa?” Liodra berdiri cepat dan merapikan rambutnya yang berantakan. “Kenapa kau bertingkah seolah kau tidak menginginkannya juga?”
Alex akhirnya menoleh. Matanya dingin, tapi ada sesuatu yang bergejolak di dalamnya. “Karena kita harus pulang,” ulangnya, nada suaranya tajam dan tak bisa dibantah.
Liodra mendengus keras, tanda kesal. Ia tahu Alex sedang membuat jarak lagi, kebiasaannya yang menyebalkan setiap kali hubungan mereka terasa terlalu dekat. Tapi kali ini, berbeda. Kali ini Liodra tidak mau diam.
Namun, Alex sudah sibuk membereskan tikar, menutup wadah makanan, menggulung kain, dan membawa semuanya menuju mobil. Semua gerakannya cepat dan tertata, seperti ingin menutup momen tadi dan menguburnya jauh-jauh.
Liodra hanya berdiri memandangnya dengan alis terangkat, tak percaya betapa mudahnya Alex kembali menjadi dingin setelah ciuman yang begitu … intens.
Saat Alex mengenakan kembali kemejanya yang sudah setengah kering, ia bahkan tidak melihat Liodra. Ia hanya berjalan menuju mobil dan membuka pintu penumpang, berdiri di sana, menunggu.
“Nona, ayo kita pulang.” Nada suaranya formal. Dingin. Seolah mereka kembali pada hubungan pengawal dan majikan.
Liodra mendesah keras. “Astaga, Alex …,” gumamnya sambil berjalan mendekat. Ia lalu masuk ke mobil dengan wajah cemberut.
Alex menutup pintu dengan tenang, masuk ke sisi pengemudi, lalu menyalakan mesin tanpa sepatah kata. Kesunyian memenuhi kabin mobil. Hanya suara deburan ombak yang masih terdengar dari kejauhan.
Beberapa detik berlalu sebelum Liodra akhirnya bersuara. Dengan nada protes. Bahkan sedikit menggoda.
“Lain kali …,” katanya pelan sambil menyilangkan tangan, “aku tidak akan membiarkanmu berhenti.”
Alex tidak bereaksi. Hanya sedikit mengalihkan pandangan. Namun, Liodra melihatnya, kedipan kecil itu, tarikan halus di sudut bibirnya. Seolah pria itu berusaha keras untuk tetap terlihat tenang.
Namun, akhirnya ia hanya menjawab dengan suara rendah, hampir tidak terdengar.
“Tolong, pasang sabuk pengaman, Nona.”
Liodra tersenyum kecil. Sekalipun Alex menolak mengakui, ia tahu, pria itu tidak setenang yang ia tunjukkan. Dan ia pasti akan membuat Alex kehilangan kendalinya lagi.
Entah kapan, tapi Liodra yakin momen itu akan datang.
***
Mobil berhenti di depan rumah megah bak istana, lampu-lampunya menyala lembut menerangi halaman yang luas dan sunyi. Alex segera turun, mengitari mobil, lalu membuka pintu untuk Liodra.
“Silakan, Nona,” ucapnya dengan nada kembali formal.
Liodra turun dengan langkah malas, masih memikirkan kejadian di pantai. Rumah itu terlalu hening, terlalu besar, terlalu dingin. Begitu mereka masuk, suara langkah kecil terdengar.
Riri, pelayan yang sudah lama bekerja di rumah itu, segera menghampiri sambil membungkuk hormat.
“Selamat datang kembali, Nona Liodra. Kamar Nona sudah disiapkan,” ujarnya lembut.
Liodra mengangguk singkat, tetapi tatapannya gelisah. “Riri … Papa di mana?”
Riri terdiam sejenak sebelum menjawab pelan, “Tuan Tomas sudah pergi lagi, Nona. Beliau mengatakan harus ke luar kota.”
Liodra mendesah panjang, bahunya turun kecewa. “Tentu saja … Papa selalu begitu.”
Riri menatapnya iba. Liodra mengalihkan pandangan, suaranya lirih, tapi penuh rasa perih.
“Dia bahkan tidak … peduli. Seolah aku tidak pernah dalam bahaya sama sekali.”