Melihat Sunset

1117 Kata
Liodra duduk di bangku belakang mobil dengan handuk tersampir di bahu, berusaha berganti pakaian secepat mungkin. Rambutnya masih basah dan menetes, membasahi jok mobil. Dari luar, suara ombak masih terdengar, tetapi fokus Liodra hanya pada baju ganti yang ia bawa dari rumah sakit, kaus putih longgar dan celana pendek lembut yang jauh lebih nyaman dari gaun yang ia pakai. Di luar mobil, Alex berdiri tanpa mengenakan kemeja. Ia membentangkan kemejanya yang basah di atas kap mobil agar cepat kering. Kulitnya yang kecokelatan memantulkan cahaya sore, otot-ototnya tampak jelas setiap kali ia mengangkat tangan untuk merapikan lipatan kain basah itu. Tidak jauh dari sana, sepatu Alex yang basah juga dijemur di atas pasir. Dari dalam mobil, Liodra berteriak, “Alex! Jangan berani-berani mengintip! Kalau kamu melirik sedikit saja, sumpah aku akan membunuhmu!” Alex menjawab datar, tanpa menoleh, “Aku tidak akan mengintip. Lagipula aku tidak tertarik.” Suara itu membuat Liodra tersentak. “Tidak tertarik?” gumamnya dengan wajah panas. Ia memukul-mukul udara seolah sedang memarahi dirinya sendiri sebelum akhirnya membuka pintu mobil dengan gerakan kesal. Liodra melangkah keluar, ia berjalan cepat menuju Alex, menghentikan langkah hanya beberapa sentimeter darinya. Wajahnya memerah, matanya menyala menuntut penjelasan. “Apa maksudnya kamu tidak tertarik?” Suaranya meninggi, tetapi ada goyah yang terdengar jelas. “Apa kamu tidak merasakan apa pun? Tidak merasakan jantungmu berdebar setiap kali melihat aku? Setiap kali aku dekat? Saat aku menyentuhmu?” Alex mengangkat tatapan perlahan. Ada angin yang lewat di antara mereka, menyibakkan rambut basah Liodra. Untuk sesaat, Liodra bisa melihat refleksi dirinya di mata Alex, mendebarkan dan membuatnya semakin berani. Namun, Alex hanya mendesah, lalu mengambil satu langkah mundur. Gerakan itu membuat Liodra baru sadar, bahwa Alex benar-benar tidak memakai baju. Dadanya terbentang jelas, diperjelas oleh otot-otot yang terbentuk karena latihan dan kerja keras. Cahaya matahari sore menyentuh garis-garis tubuhnya dengan cara yang membuat Liodra mematung. Ia merasa wajahnya semakin panas, dan bukan hanya karena marah. Alex melirik singkat lalu berkata dengan nada tanpa ekspresi, “Tolong jaga pandanganmu, Nona. Kita tidak boleh melangkah terlalu jauh.” Liodra hampir tersedak udara. “Kenapa? Apa kamu takut? Apa kamu terlalu lemah sampai tidak bisa menahan diri saat aku dekat?” Nada menggoda itu keluar begitu saja, bersama pipi yang memerah. Liodra menahan senyum geli sekaligus gugup. Ini pertama kalinya ia melihat Alex seperti itu. Alex berdehem keras dan langsung mengalihkan pandangan ke horizon. “Sebentar lagi matahari terbenam,” katanya, terdengar seperti alasan paling darurat yang bisa ia pikirkan. Liodra ikut menoleh, dan matanya membesar. Langit sudah mulai berubah menjadi campuran jingga keemasan dan merah muda. Awan-awan tipis tampak seperti dilukis dengan kuas ringan. Ia sampai lupa bernapas beberapa detik. Lalu tanpa berkata apa pun lagi, Alex meraih tangan Liodra. Pegangannya tidak kuat, tetapi hangat. Ia menarik Liodra mengikuti langkahnya menuju sebuah tikar sederhana yang terbentang di atas pasir, tak jauh dari tempat mereka bermain air. Tikar itu sudah disusun rapi. Di atasnya ada roti, es kelapa muda, dan beberapa buah segar lain. Semuanya tampak sederhana, tetapi disusun sangat rapi, seolah seseorang memastikan agar semuanya terlihat layak dinikmati. Liodra tertegun. “Kapan kamu menyiapkan semua ini?” tanyanya tidak percaya. Alex duduk dan menjawab sambil menatap lautan. “Saat Nona sibuk mencari kerang.” Liodra memejamkan mata sebentar, mencoba mengingat, lalu tertawa kecil. Ia memang sempat menghilang beberapa saat untuk mencari kerang di pinggir pantai sambil bernyanyi pelan. Jadi … saat itu Alex melakukan ini? Seolah baru tersadar sesuatu, Liodra mengangkat tas kecilnya dan mengeluarkan beberapa kerang yang sudah ia bersihkan. Kemudian dia memilih satu kerang yang yang berlubang lalu memasukkan tali kalung hias miliknya. Senyumnya merekah saat kerah itu menjadi sebuah bandul. “Alex, ini buatmu,” katanya lembut. Alex menoleh, bingung. “Apa itu?” Liodra beranjak lalu berdiri di belakang Alex. Tanpa permisi dia memasangkan kalung kerang itu di leher Alex. Warna alami kerang itu tampak indah di kulit kecokelatan Alex, seolah kalung itu memang dibuat untuknya. “Jangan lepaskan,” kata Liodra pelan. “Apa pun yang terjadi.” Alex menatap bandul itu lama. Tidak ada emosi besar di wajahnya, tetapi sorot matanya berubah, ada sesuatu yang melunak di sana, sesuatu yang jarang Liodra lihat. Liodra lalu menunjukkan kerang lain yang agak kecil. “Ini nanti aku buat bandul kalung juga. Jadi, kita bakal punya kalung yang sama. Cantik, kan?” Cahaya matahari terbenam menyentuh kedua gelang itu sehingga tampak berkilau halus. Liodra tersenyum puas, sementara Alex hanya menunduk sedikit, tetapi bibirnya terangkat sangat tipis, hampir tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuat hati Liodra berdebar kencang. Alex menunduk melihat bandul kerang yang kini melingkari lehernya. Ia memutarnya pelan, lalu berujar datar. “Kalung ini … tidak cocok denganku.” Liodra langsung menajamkan mata. “Kalau kamu berani melepaskannya, Alex, aku sumpah aku akan menangis di sini juga.” Ancaman itu terdengar kekanak-kanakan, tetapi justru membuat Alex terdiam. Kemudian, perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. Sebuah senyuman yang begitu jarang, hampir tak terlihat, tetapi cukup membuat hati Liodra meleleh. Mereka berdua lalu menatap langit jingga yang semakin memudar. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma asin laut. Alex mengambil kelapa muda, lalu mengulurkan. “Minumlah.” Liodra menerimanya dan menyesap perlahan. “Segar sekali …,” gumamnya sambil tersenyum. Beberapa menit berlalu dalam keheningan damai hingga matahari mulai menyentuh permukaan laut. Alex tiba-tiba bersuara, suaranya rendah dan serius. “Nona … kenapa kamu menyukaiku? Aku hanya seorang pengawal.” Liodra menoleh, wajahnya teduh. “Tidak ada alasan. Aku hanya suka saja. Apa kamu butuh alasan untuk jatuh cinta?” Alex ikut menoleh, menatap Liodra yang sejak tadi menatapnya tanpa berkedip. Ada sesuatu di mata pria itu, dingin, tetapi bergetar entah oleh apa. “Tentu saja,” jawabnya pelan. “Kenapa harus mencintai sesuatu yang tidak berarti?” Kalimat itu menusuk, tetapi Liodra justru tersenyum lebar. Senyum nakal yang penuh tantangan. Ia mendekat sedikit. “Jangan dekat-dekat.” Alex memperingatkan. Namun, Liodra tidak peduli. Tangannya terulur, menyentuh d**a Alex yang masih telanjang. Jemarinya bergerak turun ke perut Alex, memancing reaksi spontan. Alex tersentak … lalu tertawa kecil, suara tawa yang tak pernah Liodra dengar sebelumnya. “Berhenti … Nona, itu menggelitik.” “Kalau begitu, lawan aku,” balas Liodra sambil makin cepat bergerak. “Liodra, cukup!” Alex berkata sambil berusaha mengelak, tetapi gadis itu semakin agresif, membuat Alex tak kuasa menahan geli. Akhirnya Alex memegang kedua pergelangan tangan Liodra, berusaha menghentikan serangan kecil itu. Karena kehilangan keseimbangan, ia terdorong terlalu kuat. Dan Liodra jatuh terlentang di tikar. Tubuh Alex terjatuh tepat di atasnya. Napas Liodra tercekat. Mata mereka bertemu dalam jarak yang mustahil diabaikan. Alex mematung, kedua tangannya menahan tubuh agar tidak sepenuhnya menindih Liodra. Keduanya terdiam dengan terkejut. Jantung berdebar terlalu keras untuk diabaikan. Dan untuk sesaat … dunia seolah berhenti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN