Liodra cemberut sepanjang jalan, pipinya menggembung seperti anak kecil yang ngambek. Kedua lengannya ia lipat di d**a, sementara tatapannya sengaja ia palingkan ke jendela agar tidak harus melihat wajah Alex yang menurutnya menyebalkan.
Dari tadi tidak ada suara selain dengungan mobil dan tarikan napas kesal Liodra.
“Aku benci sama kamu,” gumamnya akhirnya, masih menatap ke luar. “Beneran deh, Alex. Kamu tuh, tidak pernah mau nurutin keinginanku. Kita putus aja.”
Ucapan itu meluncur begitu saja, tajam dan penuh emosi. Namun, Alex hanya melirik sekilas, sedetik saja, lalu kembali menatap ke jalan. Tidak ada reaksi. Tidak ada protes. Tidak ada kata jangan.
Itu membuat Liodra makin jengkel.
“Dengar tidak, sih?” katanya, suara meninggi. “Aku bilang kita putus!”
Tetap tidak ada jawaban.
Liodra mengembuskan napas keras, menahan diri untuk tidak berteriak. Menurutnya, cowok itu seharusnya minta maaf atau berusaha menenangkannya, tapi Alex malah cuek seperti biasanya dan entah kenapa, di saat seperti ini, sikap itu terasa makin menyebalkan.
Namun di tengah kekesalannya, Liodra sadar sesuatu. Mobil itu berbelok ke arah yang tidak menuju rumahnya. Bahkan bukan ke arah mana pun yang biasa mereka lewati.
Dahinya langsung mengernyit.
“Alex,” panggilnya, akhirnya menoleh. “Ini bukan jalan pulang. Kita ke mana?”
“Ke pantai, gunung, atau ke mana pun Nona Liodra inginkan.” Alex meliriknya sekilas, kali ini lebih lama dari sebelumnya. “Bukankah Nona bilang ingin pergi dari rumah?”
Sejenak Liodra terdiam. Semua kekesalannya seperti buyar dalam hitungan detik. Mulutnya terbuka sedikit, lalu perlahan berubah menjadi senyum lebar yang tak bisa ia tahan.
“Beneran?” Ia bersandar lebih dekat. “Kamu ngajak pergi beneran?”
Alex mengangguk kecil, satu tangan masih di setir. “Ya. Asal jangan marah lagi.”
Seketika, mood Liodra berubah drastis secepat lampu dimatikan lalu dinyalakan kembali. Ia langsung memeluk lengan Alex dengan kedua tangannya, menggoyang-goyangkannya penuh semangat.
“Aaaaah … Alex, kau baik sekali! Tadi itu aku bercanda soal putus, sumpah! Ya ampun, aku sayang kamu banget!”
Tanpa pikir panjang, Liodra mencondongkan tubuh dan mencium pipi Alex. Kencang. Sampai Alex refleks menghela napas karena kaget.
Wajah Liodra kembali cerah seperti matahari setelah hujan. “Kita ke pantai aja, ya! Soalnya kalau ke gunung aku tidak bawa peralatan, dan bajuku juga tidak cocok. Pantai aja paling bener!”
Ia menepuk-nepuk lengan Alex, matanya berkilat-kilat penuh kegirangan.
“Kita lihat matahari terbenam, ya? Pasti bagus banget! Aku udah lama pengen banget lihat sunset sama kamu. Kamu tuh, ngerti aja keinginanku, sumpah deh!”
Alex akhirnya tersenyum tipis. “Tadi katanya benci.”
“Aku udah tidak,” jawab Liodra cepat, memainkan rambutnya dengan malu-malu. “Sekarang aku cinta banget.”
Alex tertawa pelan, suara rendah yang hanya muncul ketika ia benar-benar terhibur.
“Cepat sekali berubahnya.”
“Itu namanya spontan!” Liodra membela diri sambil memeluk lengan Alex lebih erat. “Dan kamu harus bersyukur aku gampang dibahagiain.”
Angin sore mulai masuk dari jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma laut yang halus. Liodra menempelkan dagunya pada lengan Alex, pipinya memerah penuh semangat.
“Aku tidak sabar lihat sunset …,” gumamnya lembut, kali ini tanpa cemberut, tanpa marah. “Makasih ya, Lex. Kau selalu tahu waktu yang tepat buat nyenengin aku.”
Mobil itu terus melaju, menuju garis cakrawala tempat matahari perlahan turun. Dan Liodra, yang beberapa menit lalu mengancam putus, kini tertawa kecil sambil memandang ke depan bahagia dengan cara paling sederhana.
***
Begitu mobil berhenti di area parkir pantai, Liodra langsung membuka pintu dan melompat turun dengan semangat yang tidak bisa dibendung. Tanpa menunggu Alex, ia berlari kecil menuju hamparan pasir yang keemasan, langkahnya ringan seperti sedang menginjak awan. Angin laut menyambutnya, membawa aroma asin yang khas, sementara suara ombak terdengar menenangkan.
Liodra menoleh ke belakang dan melambaikan tangan tinggi-tinggi. “Alex! Cepat! Indah sekali!”
Alex berjalan menyusul dengan tempo yang jauh lebih pelan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, wajahnya tetap tenang seperti biasa. Ia berhenti beberapa meter dari bibir pantai, sekadar mengamati Liodra yang sudah berlari ke arah ombak kecil dan mulai bermain air dengan tawa memenuhi udara.
Liodra memercikkan air ke kakinya sendiri, lalu menatap Alex yang masih berdiri kaku.
“Alex!” serunya. “Lepaskan sepatumu dan rasakan airnya! Hangat sekali!”
Alex hanya menggeleng singkat.
“Tidak perlu.”
“Tuh kan, kaku lagi,” gumam Liodra sebelum ia kembali berlari.
Namun tak lama kemudian, ia berbalik arah dan berlari kembali menuju Alex. Tanpa peringatan, ia langsung memeluk pria itu erat-erat. Pipinya menempel pada d**a Alex, dan ia menarik napas panjang seolah ingin menyimpan momen itu selamanya.
“Alex …,” katanya dengan suara lembut. “Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan.”
Alex tampak canggung. Ia meletakkan satu tangan di bahu Liodra, berusaha melepaskan pelukan itu.
“Liodra, jangan terlalu dekat. Aku tidak membawa baju ganti.”
Liodra menengadah menatapnya dengan senyuman penuh makna. “Ya, dan aku suka itu.”
Dalam sekejap, tanpa memberikan kesempatan bagi Alex untuk mengantisipasi, Liodra mendorong tubuhnya ke arah laut. Alex berusaha menahan keseimbangan, tetapi pasir yang lembut membuat langkahnya goyah. Ia terhuyung beberapa kali sebelum akhirnya jatuh ke air dangkal dengan suara kecipak keras.
“Liodra!” Alex berteriak setengah kesal, setengah kaget.
Namun, Liodra justru tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya membungkuk menahan tawa ketika melihat Alex yang basah kuyup, rambutnya menempel pada dahi.
Alex menghela napas panjang, lalu mulai melepas sepatunya perlahan, sambil menatap Liodra dengan ekspresi yang sulit diartikan. Bibirnya sedikit terangkat, senyuman kecil yang tidak sepenuhnya ramah.
Liodra mendadak tersadar.
“Alex …,” katanya, langkahnya mundur satu. “Jangan lihat aku seperti itu.”
Alex berdiri, celananya basah. Ia memajukan satu langkah, pandangannya tidak lepas dari Liodra.
“Apa Nona Liodra pikir bisa berbuat sesukanya lalu lari begitu saja?”
Liodra menelan ludah. “Alex, aku bercanda … jangan, jangan kejar aku!”
Alex mencondongkan tubuh sedikit, seolah siap mengejar. Liodra langsung memutar badan dan berlari di atas pasir, berteriak sambil tertawa panik. Namun, Alex jauh lebih cepat. Dalam beberapa langkah saja, ia berhasil menangkap pergelangan tangan Liodra lalu menariknya ke arah pelukannya.
“Tertangkap.”
“Arrghh … Alex! Lepas!” Liodra mencoba meronta, tetapi tidak ada gunanya.
Dengan satu gerakan ringan, Alex mengangkat tubuh Liodra ke dalam gendongan. Liodra menendang-nendang kecil, berusaha kabur.
“Alex! Jangan berani, jangan!”
Alex menaikkan alis. “Bukankah Nona yang memulai?”
Sebelum Liodra sempat mengeluarkan argumen lain, Alex berjalan langsung menuju laut. Ombak kecil menyentuh kakinya. Liodra menjerit ketika menyadari apa yang akan terjadi.
“Alex! Jangan! Jangan! Aku minta ma—”
Belum selesai, Alex melepaskan pegangan dan menjatuhkan Liodra ke dalam air dengan bunyi kecipak yang keras. Liodra terbenam sebentar sebelum muncul kembali dengan rambut basah menempel di pipinya. Ia menatap Alex dengan campuran terkejut dan geli.
Alex tersenyum sinis, tetapi matanya hangat.
“Itu balasan yang adil.”