Jaga Sikapmu, Nona!

1119 Kata
Dua puluh tahun yang lalu. Harvey Kenneth. Ayah Alex. Pria yang selalu tersenyum lembut, kini tampak hancur. Tubuhnya gemetar, tangannya yang kokoh tampak rapuh saat ia memohon kepada pria yang berdiri di depannya. “Tomas … tolong. Jangan ambil perusahaan ini. Kakek buyutku membangunnya dari nol. Aku … aku mohon.” Tomas Muller berdiri tegak seperti raksasa yang tak tersentuh. Wajahnya dingin. Tatapannya tajam. Tidak ada belas kasihan di dalamnya. Ia menatap Harvey seolah pria itu bukan rekan lama, bukan sahabat bisnis melainkan sampah di bawah sepatunya. “Aku sudah memperingatkanmu,” gumam Tomas dengan nada meremehkan. Tanpa peringatan, kaki Tomas menendang Harvey, hingga ayah Alex itu terhempas ke lantai marmer. Suara benturannya keras dan menyakitkan, membuat Alex kecil yang berdiri di sudut ruangan terlonjak ketakutan. “Jangan memohon seperti anjing,” ujar Tomas sinis. “Kau kalah. Itu saja.” Air mata Alex kecil meleleh tanpa suara. Ia memegangi robot kecil pemberian ayahnya, tubuh mungilnya bergetar hebat. Ia tidak paham politik, tidak paham perusahaan. Yang ia tahu Ayahnya disakiti. Harvey mencoba bangkit, tapi tubuhnya lemah. Ia mengangkat wajahnya sedikit, cukup untuk melihat putranya. “Jangan … lihat,” bisiknya, suara pecah. Tapi sudah terlambat. Tomas sudah melihatnya. Tatapan pria itu beralih ke sudut ruangan. Ke arah bocah tujuh tahun yang berdiri dengan mata ketakutan. Tomas melangkah mendekat perlahan, setiap langkahnya seperti petir yang menghantam jantung Alex kecil. “Jadi ini anakmu?” suara Tomas rendah, menakutkan. “Anak seorang pecundang?” Alex mundur hingga punggungnya menempel ke dinding. Napasnya tercekat. Tubuhnya menggigil tak terkendali. Tidak ada siapa pun yang akan menyelamatkannya. Tomas membungkuk sedikit, menatap Alex dari jarak sangat dekat. “Kau ingat wajahku, anak kecil?” Suara itu menusuk telinga dan memorinya. “Bukan aku yang menghancurkan ayahmu, tapi karena kebodohannya sendiri.” Alex kecil tidak mampu menjawab. Tidak mampu bergerak. Hanya terjebak dalam ketakutan yang membekas seumur hidup. “ARGH!” Alex dewasa terbangun mendadak dari tidurnya. Dada naik turun cepat. Napasnya memburu. Seluruh tubuhnya berkeringat, peluh dingin mengalir di wajahnya. Kaus tipis yang ia kenakan sudah basah, menempel di kulitnya. Ruang apartemennya gelap. Alex menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rahangnya mengeras. Amarah yang telah ia simpan selama dua puluh tahun kembali menyala, membakar jantungnya. Ia bangkit perlahan, menatap jendela yang memantulkan bayangan dirinya. “Tidak lagi,” gumamnya pelan suara dingin penuh dendam. “Mimpi buruk itu akan berakhir ketika Tomas Muller jatuh.” *** Liodra kini sudah mengenakan pakaian biasa, kaus putih lembut dan rok jeans, tapi langkahnya mondar-mandir gelisah. Pelayan yang dikirim Tomas sudah merapikan barang-barangnya ke dalam koper kecil, berdiri kaku menunggu. Ponsel di tangan Liodra kembali menyala. Ia menekan tombol panggil lagi, suara nada sambung terdengar jelas di ruangan itu. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Tidak diangkat. “Kenapa dia tidak jawab?!” Liodra meremas rambutnya, frustrasi. “Dia bilang tidak akan pergi jauh.” Pelayan perempuan itu mendekat dengan hati-hati. “Nona … Tuan Tomas meminta Anda kembali sekarang.” “Aku tidak mau!” Liodra menepis tangan pelayan itu. “Aku cuma mau pulang sama Alex! Mana dia?” Tangis kekesalan memenuhi suaranya. Ia kembali menekan panggilan. Tidak ada jawaban. Kembali. Pelayan lainnya mencoba membujuk, “Nona, sebaiknya kita—” “Alex!” teriak Liodra tiba-tiba, suaranya pecah. “Alex, di mana kau!” Pelayan saling pandang, tak berani mendekati gadis itu lagi. Dan saat Liodra hendak menekan panggilan untuk keempat belas kalinya pintu kamar rumah rawatnya terbuka. Alex masuk dengan langkah tenang. Tubuh tinggi. Rambut hitam sedikit berantakan. Wajahnya dingin, tanpa ekspresi. Begitu melihatnya, napas Liodra tersendat … lalu ia langsung berlari menghampirinya. “Alex!!” Ia jatuh ke dalam pelukan Alex, memeluk erat seolah dunia bergantung pada pria itu. Wangi tubuhnya, hangat dadanya, semua membuat seluruh ketakutannya runtuh seketika. Alex melirik ke arah para pelayan yang langsung menunduk dalam-dalam, pura-pura tidak melihat apa pun. Perlahan, Alex menahan bahu Liodra dan melepaskan pelukan itu. “Jangan seperti itu,” gumamnya datar. “Banyak yang melihat.” Bukannya tersinggung, Liodra malah tersenyum lebar, senyum nakal yang membuat pipi Alex menegang. “Kalau gitu .…” Ia menautkan tangannya ke lengan Alex, mendekat dengan manja. “Kau lebih suka kalau cuma ada kita berdua?” Nada genit itu membuat beberapa pelayan tersentak gugup, pura-pura sibuk merapikan barang. Alex menatap Liodra sebentar, tatapan dingin, tapi ada sesuatu yang lain tersembunyi di baliknya. Ia melepaskan tangan Liodra perlahan, tidak kasar, hanya tegas. “Ayo pulang,” ujarnya sambil membungkuk sedikit seperti seorang pria sopan yang mengajak wanita berjalan. “Aku akan mengantar.” Liodra mengembungkan pipi sambil tersenyum kesal. “Terserah. Yang penting sama kau.” Alex menahan napas sejenak, entah karena lelah, bingung atau hal lain. Namun, ia berbalik dan memberi isyarat pada pelayan untuk membawa koper Liodra. Dengan langkah tenang, Alex berjalan ke luar. Dan Liodra dengan hati yang masih berdebar mengikuti di belakangnya. Saat sampai di lobi, Alex membuka pintu belakang mobil, tapi Liodra malah duduk di kursi penumpang sebelah supir. Dua pelayan lainnya bersiap masuk ke kursi belakang, tetapi Liodra menoleh cepat dan mengangkat tangan. “Stop. Kalian naik taksi saja.” Liodra mengeluarkan segepok uang lembaran dari tasnya, menjejalkannya ke tangan perempuan itu. “Nih. Naik taksi. Pulang sendiri.” “Tapi Nona—” “Aku lagi mau quality time sama Alex. Jangan ganggu.” Pelayan itu hanya bisa membungkuk pasrah. Alex memejamkan mata sejenak, napasnya keluar panjang, campuran lelah dan menyerah. Setelah para pelayan berjalan pergi, ia masuk ke mobil dan duduk di balik kemudi. “Jangan buat hal rumit,” gumam Alex sembari menyalakan mesin. Liodra menyandarkan dagunya pada sandaran tangan, menatap Alex dengan mata berbinar. “Alex mau ke pantai? Anginnya sejuk. Atau … mau ke gunung? Kita piknik?” Alex tidak menjawab. Fokus pada jalan. Namun, Liodra tidak kehabisan ide. “Hari ini hari yang penting. Kita harus merayakan hari jadi kita.” Alis Alex terangkat tipis. “Hari jadi apa?” “Hari jadi kita pacaran, dong,” jawab Liodra cepat. “Hari ini jadi anniversary pertama kita.” Alex menghela napas. “Tuan Tomas menyuruhku mengantar Nona pulang.” Liodra mendengus keras, melipat tangan di d**a. “Aku tidak mau!” Nada suaranya seperti anak kecil yang menolak dibawa pulang setelah main di taman. Mobil terus melaju, tapi suasana di dalam semakin panas oleh rengekan manja Liodra dan kesabaran Alex yang menipis. Liodra memutar tubuhnya, wajahnya mendekat ke arah Alex. “Kalau pulang sekarang, aku yang bosan. Aku mau jalan sama kau. Kau kan penyelamatku … masa penyelamatnya tidak boleh diajak bersenang-senang?” Alex tetap tenang, tapi rahangnya menegang samar. “Nona, Aku hanya menjalankan tugas.” “Tapi aku tidak peduli tugasmu. Aku cuma mau … sama kau.” “Kita pulang, jangan membantah!” ujarnya datar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN