Tangan Dingin Tomas

1171 Kata
Tomas berdiri di ambang pintu, wajahnya gelap, sorot matanya penuh kemarahan yang seakan siap meledak. Nafasnya terdengar berat, dan dari cara ia menggenggam tongkatnya, Liodra tahu amarah itu bukan main-main. “Pa—” Liodra mencoba berdiri, tapi Tomas sudah melangkah cepat menuju dirinya. Langkahnya berat, penuh tekanan, dan tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk menahan. PLAK! Tamparan tajam itu mendarat di pipi Liodra tanpa peringatan sedikit pun. Suaranya menggema di seluruh ruangan. Kepala Liodra terpental ke samping. Pipinya langsung panas, perih, dan memerah. Air mata mengalir begitu saja, bukan hanya karena sakit, tapi karena keterkejutan dan rasa dipermalukan oleh ayahnya sendiri. Dengan suara patah, ia memandang Tomas sambil menangis, “Papa jahat .…” Tidak ada perubahan di wajah Tomas. Tidak ada penyesalan. Tidak ada keraguan. “Kau anak tak tahu diri!” bentaknya. “Sudah berkali-kali Papa bilang jangan pergi sendiri! Tapi kau selalu kabur!” Liodra hanya bisa menunduk, suaranya tercekat. Ia ingin menjelaskan, tapi ketakutan membuat lidahnya membeku. Tomas kemudian mengalihkan pandangannya pada Alex. Sorot matanya berubah semakin dingin, seolah Alex adalah sumber semua masalah di dunia ini. Tanpa berkata apa pun, ia menendang Alex dengan keras. Alex terjatuh tersungkur, mengerang pelan. Liodra menjerit, “Alex!” Belum sempat Alex berdiri. Tongkat besi Tomas menghantam punggungnya. Suara benturannya begitu keras hingga Liodra ikut meringis hanya dengan mendengarnya. Alex tetap diam. Tidak melawan. Tidak menghindar. Bahkan tidak mengangkat tangan untuk melindungi diri. Ia menerima semuanya, seperti sudah tahu bahwa melawan hanya akan memperburuk keadaan. “Berhenti! Papa, itu bukan salah Alex!” Liodra memeluk lengan Tomas, berusaha menghentikan amukan itu. Suaranya bergetar panik. Tomas meludah kasar ke samping. “Kalau dia becus, kau tidak akan hilang! Orang seperti dia lebih baik dipecat!” Kata dipecat itu menghantam Liodra lebih keras daripada tamparan sebelumnya. Jantungnya mencelos, napasnya terhenti sesaat. Ia langsung jatuh berlutut, memegang tangan ayahnya erat-erat. “Jangan pecat Alex … Papa, aku janji … aku janji akan nurut. Aku tidak akan kabur lagi. Papa, tolong.” Tangisnya pecah, memohon tanpa malu. Alex, yang kini berhasil bangkit sambil menahan sakit, terdiam melihat itu. Matanya membesar sedikit, ia terkejut. Ia tidak pernah mengira Liodra akan memohon seperti itu. Demi dirinya. Tomas mendengus, wajahnya sedikit melunak namun tetap keras. “Kau benar-benar menyusahkan.” Ia menatap Alex dengan tatapan tajam terakhir sebelum berkata datar, “Gajimu akan dipotong. Anggap ini peringatan.” Tanpa menunggu jawaban, Tomas berbalik dan keluar dari ruangan, meninggalkan aura pengap yang menekan d**a siapa pun di dalamnya. Kepergian Tomas menyisakan keheningan yang sangat berat. Liodra masih berlutut di lantai, bahunya bergetar menahan tangis. Alex menatap Liodra, tanpa banyak bicara, ia melangkah mendekatinya. Ia membungkuk, menyentuh bahu Liodra dengan hati-hati sebelum menarik tubuh gadis itu agar berdiri. “Bangun,” ucapnya pelan. Liodra menurut, meski lututnya masih gemetar. Alex kemudian memegang kedua sisi lengannya dan dengan gerakan ringan mengangkatnya kembali ke atas ranjang. Ia menarik selimut dan menyelimutkan tubuh Liodra sampai ke bahunya, seolah ingin memastikan gadis itu merasa aman setelah semuanya. “Kau istirahat dulu,” ujarnya datar. “Aku akan bawakan makanan.” Ia berbalik, hendak melangkah pergi. Namun, belum sempat ia mengambil satu langkah pun, sebuah tarikan kecil menghentikannya. Jemari Liodra mencengkeram ujung lengan baju Alex dengan kuat, begitu kuat hingga membuat kain itu menegang. Alex berhenti. Ia menunduk menatap tangan kecil itu, kemudian menoleh ke arah wajah Liodra. Gadis itu menggeleng pelan, air mata kembali jatuh, mengalir tanpa bisa ia tahan. “Jangan pergi .…” Suaranya serak dan pecah. “Jangan tinggalkan aku … tolong …” Alex tidak berkata apa pun. Ia hanya diam, membiarkan gadis itu menangis dan memegangnya erat. Tidak ada tatapan iba yang berlebihan, tidak ada kata-kata manis. Liodra mencoba berbicara di tengah isaknya, kalimatnya terhenti-henti. “A-Aku … aku tidak mengerti … kenapa Papa begitu tega.” Air matanya mengalir lagi, lebih deras. “Padahal … Papa yang tidak mau menolong aku … Dia bahkan … tidak mau memberikan uang pada para penculik itu.” Suaranya pecah pada akhir kalimat itu. Liodra menunduk, memeluk selimutnya, tubuhnya bergetar hebat. “Kenapa … kenapa aku harus lahir dari pria jahat itu?” Ada jeda panjang. Alex menatapnya dengan sorot tak terbaca. Pada awalnya, wajahnya masih datar dingin seperti biasa. Namun perlahan, tanpa ia sadari, tatapannya melunak sedikit. Hanya sedikit. Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa kata-kata Liodra, menyentuh sesuatu di dalam dirinya. Ia tidak menjawab. Tidak menjanjikan apa pun. Tapi ia tetap di sana, tidak pergi. Dan entah kenapa … ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia biarkan muncul sebelumnya. Iba. Simpati. Atau mungkin … sesuatu yang lebih rumit dari itu. Liodra menggenggam lengan bajunya semakin erat, seolah Alex adalah satu-satunya tempat ia bisa berpaut. Sedangkan Alex, meski bisa saja melepaskan diri kapan saja, tidak melakukannya. Ia hanya berdiri di sana diam, tapi hadir. Dingin, tapi kali ini … tidak sampai menusuk. Sebentar lagi, ia tahu, gadis itu akan kembali tenang. Namun untuk sekarang, Alex membiarkan Liodra menumpahkan semuanya, tanpa menolaknya. Beberapa saat kemudian, Liodra sudah tertidur dengan tenang. Alex meninggalkan kamar rawat dengan langkah tenang, seakan tidak terjadi apa pun. Begitu pintu tertutup, ekspresi lembut yang sempat muncul di wajahnya menghilang sepenuhnya digantikan kembali oleh ketenangan dingin yang tanpa emosi. Ia berjalan keluar rumah sakit, menyusuri lorong, menyeberangi parkiran dini hari yang sunyi, lalu menyalakan motornya. Perjalanan menuju apartemen kecil tempat ia tinggal tidak memakan waktu lama. Bangunan tua itu tampak kusam, jauh dari kemewahan rumah keluarga Muller, kontras yang sangat disengaja oleh Alex. Begitu pintu apartemennya terbuka, suasana berubah drastis. Ia tidak menyalakan lampu. Sudah hafal tata letaknya. Alex melangkah ke ruang tengah, langsung menuju jendela yang tertutup tirai tebal hitam. Ia berhenti tepat di depannya, menarik napas panjang … lalu menarik hordeng itu dalam satu sentakan. Ruangan itu seketika diterangi cahaya lampu kota dari luar. Dan di sana, di balik tirai tersingkap jendela penuh foto. Foto Tomas Muller, dari muda hingga sekarang. Foto gedung-gedung yang direbut Tomas dari ayah Alex. Potongan berita, dokumen, laporan investigasi, semua terpasang rapi dengan benang merah yang menghubungkan nama-nama penting. Dan di sisi kanan foto-foto Liodra. Dengan senyumnya yang cerah. Sorot matanya yang manja, tapi tulus. Pose isengnya dengan teman-temannya. Bahkan foto diam-diam yang Alex ambil saat mengawalnya diam-diam mengikuti setiap pergerakannya. Tatapan Alex berubah. Seluruh emosinya saat berada di samping Liodra, kelembutan sesaat, sentuhan yang tak sengaja hangat sirna dalam sekejap. Rahangnya mengeras. Tangan kirinya menggenggam sampai tulang menonjol. Bahunya yang terluka berdenyut, tapi ia tak peduli. “Sebentar lagi …,” gumamnya, suaranya rendah dan penuh kebencian yang menahun, “… aku akan menghancurkanmu, Tomas.” Ia menatap foto Tomas yang disilang dengan tinta merah. “Kau akan merasakan apa yang kau lakukan pada ayahku.” Lalu perlahan, pandangannya bergeser ke foto Liodra, foto yang ia pasang paling banyak. Senyum gadis itu seolah menyala di tengah kegelapan ruangan. Sorot mata Alex berubah lagi, bukan lembut, bukan pula penuh belas kasih. Tajam. Mengukur. Mematikan. Seolah Liodra pun bagian dari rencana yang lebih besar. “Dan kau …,” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar, “… akan melihat kehancuran Tomas.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN