CHAPTER XXXVIII | Fase Merelakan

2107 Kata

[Ray Dhanadyaksa] Sesuatu yang berkilau tiada tara. Gue terus memutar otak supaya mendapatkan jawaban. Namun nihil. "Karena dari kita berempat belum ada yang dapat ide dari maksud petunjuk itu. Lebih baik kita ikuti maksud yang paling jelas, yaitu berjalan ke arah utara," putus gue. Mereka bertiga mengangguk setuju. Gue menghela napas dan meluruskan pandangan. Di depan gue terdapat hamparan tanah hijau dengan beberapa bunga aster yang tumbuh di pinggir jalan. Juga pepohonan yang tumbuh begitu besar dan rindang, tidak jauh berbeda dari apa yang gue lihat di bawah. Gue tersenyum lega. Walaupun keadaan hati gue belum baik-baik saja, namun karena gue berhasil menaklukan tebing sedikit mengubah suasana hati gue menjadi lebih baik. "Ray, lebih baik kita istirahat sebentar di sini, menarik n

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN