CHAPTER XXXIX | Manusia Kerdil

2051 Kata

[Ray Dhanadyaksa] Kendra menepuk pelan bahu gue, menyuruh gue bangun, bersiap-siap akan perjalanan selanjutnya. Gue merasa sedikit lega setelah mengobrol penuh curhat dengan Adara semalam. Walaupun gue sering berdebat dengan dia, sengaja membuatnya kesal, tetapi dia tetap peduli dengan gue. Lagi pula, mana seru kalau sebuah persahabatan tidak ada cek-cok kecil. Kendra, Adara dan Meysha sudah berada di depan api unggun yang masih menyala terang. Wajah mereka juga sama seperti gue, wajah baru bangun tidur. Kecuali Kendra, dia terlihat sedikit segar, mungkin karena sudah lama bangun dan habis berjaga. Matahari belum menampakkan wujudnya. Gelap sepanjang mata memandang. "Ini jam berapa? Ada yang tahu?" Meysha membuka tasnya, mengeluarkan jam tangan. "Jam empat pagi." Gue mengangguk, pan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN