[Meysha Fradella]
Setelah acara di rumah Pak Banyu selesai, kami berenam sengaja untuk pulang lebih cepat. Alasan utamanya karena gue, Zanna dan Adara ada acara dadakan malam ini. Tiba-tiba saja hal itu terlintas di kepala gue tadi saat setelah menatap lukisan di rumah Pak Banyu.
"Kak Gabriel, nanti aku mau menginap di rumah Kak Meysha, ya?" izin Zanna kepada Gabriel saat kami berada di luar rumah Pak Banyu.
"Memangnya kalian mau ngapain?"
"Gue mau ngajarin Zanna make up buat acara sekolah dia bulan depan. Adara juga ikut, kok. Ya, kan?"
Adara mengangguk. "Iya, sekalian kita pesta piyama. Izinin aja dong, Riel! Tenang, Zanna aman kok sama gue dan Meysha. Lo percaya kami, kan?"
"Ya, gue percaya. Tapi kata lo acara Zanna masih bulan depan, kenapa harus sekarang?"
"Ih, lo itu nggak peka banget sih, Riel. Mereka bertiga sebagai perempuan mau ngumpul-ngumpul seru. Udahlah, kasih izin aja!" sahut Ray.
Gue, Adara dan Zanna mengangguk.
"Oke. Gue titip Zanna sama kalian. Ingat ya, hanya di dalam rumah Meysha. Jangan nekat keluyuran. Ini udah malam," putus Gabriel.
"Siap Kak Gabriel! Makasih, ya!"
Entah kenapa, Ray tiba-tiba merangkul Kendra dan Gabriel. "Eh, kita bertiga bikin pesta piyama juga, yuk. Kayaknya seru, deh!"
Kendra dan Gabriel langsung melepas rangkulan Ray. "No, thanks. Gue lagi sibuk," tolak Kendra.
"Apalagi gue."
"Yah, nggak asik nih, kalian!" ucap Ray kecewa.
Saat kami sedang mengobrol, datanglah Mbok Yu bersama pemuda berambut ikal yang setahu gue itu anaknya Mbok Yu. Lebih tua beberapa tahun dari gue. Kalau nggak salah, namanya Dimas.
"Malam, Mbok Yu," sapa Ray sopan.
Mbok Yu tersenyum. "Malam, Ray. Kalian kenapa ngobrol di luar? Pak Banyu ngusir kalian, kah?"
Kami semua terkekeh.
"Ya kali saya mengusir mereka, Mbok," suara Pak Banyu mengintrupsi dari belakang.
Mbok Yu tersenyum dan mereka berdua berjabat tangan erat. Dimas juga ikut berjabat tangan setelahnya.
"Hei Dimas, kenapa saja kamu? Saya sudah semakin jarang melihatmu di Desa Tiwa."
"Saya tidak kemana-mana, Pak. Hanya di rumah."
"Biasa, dia sibuk latihan bela diri. Itu udah jadi kesenangannya. Dan nggak ada yang bisa ganggu," tambah Mbok Yu.
"Woah, tapi kalau boleh saran, kamu sering-sering keluar. Bersosialisasi sama mereka-mereka, nih. Kan sayang kalau kamu jago bela diri tapi kamu nggak mau membuka diri untuk dunia luar. Supaya ilmu yang kamu kuasai bisa digunakan untuk melindungi sekitar."
Dimas mengangguk sopan. "Iya, Pak. Akan saya lakukan."
"Ini udah kesekian kalinya loh, Mbok dengar kamu berkata seperti itu. Tapi nggak pernah kamu laksanakan."
Gue hanya tersenyum mendengar percakapan itu. Pasti Dimas merasa tidak nyaman dirinya menjadi topik utama pembicaraan yang didengar oleh orang lain selain keluarga atau orang dewasa. Tapi Dimas pandai sekali menutupinya, dia terlihat seperti sudah terbiasa akan pembicaraan semacam itu.
"Ya sudah, silakan masuk ke dalam. Makanannya masih banyak, loh. Jangan sungkan," ujar Pak Banyu menutup percakapan.
"Baiklah kalau begitu. Mbok masuk ya," kata Mbok Yu sebelum melangkah masuk.
Dimas juga mengangguk ramah kepada kami semua yang kami balas dengan anggukan yang sama ramahnya.
"Kalau gitu, kami pamit pulang ya, Pak. Sekali lagi terima kasih atas hidangannya yang enak banget. Dan maaf soal masalah tadi," pamit Ray.
"Iya, Ray. Sama-sama. Saya senang kalau kalian bisa menikmatinya dengan baik. Soal percakapan tadi, itu kami cuma murni bercanda. Nggak ada yang diambil hati sama sekali. Jadi, tenang aja."
Kami mengangguk. "Permisi, Pak!" ucap kami bersamaan.
"Ra, aku temani kamu sampai rumah Meysha, ya?" tanya Kendra saat kami dalam perjalanan.
"Nah bener tuh, gue juga ikut. Udah malam soalnya," timpal Ray.
"Gue juga mau antar kalian," ujar Gabriel.
"Oke, asik nih. Kita dikawal oleh tiga jagoan sampai rumah Meysha," seru Adara.
Gue tersenyum. "Terima kasih, ya."
Begitu kami sampai di persimpangan rumah gue, kami langsung disuguhkan pemandangan buruk. Seorang perempuan berambut pendek yang sepertinya seumuran dengan kami sedang ditarik paksa oleh dua orang laki-laki berandal-terlihat dari penampilan mereka berdua yang acak-acakkan.
"Kayaknya perempuan itu lagi diganggu, deh. Kita bantuin, yuk! Aku takut dia diperlakukan lebih buruk lagi," ucap Zanna khawatir.
Gue mengangguk setuju. "Kita harus banget bantu dia!"
Adara mengibaskan rambutnya yang tergerai dengan raut wajah kesal. "Berani-beraninya mereka ganggu kaum gue!"
"Oke, kalian bertiga tunggu di sini. Biar gue sama Ray dan Gabriel yang ke sana. Begitu kami berhasil mengatasi dua laki-laki itu kalian langsung bantu perempuannya, ya?"
Kami bertiga menuruti perkataan Kendra dengan segera bersembunyi. Sedangkan Ray, Kendra dan Gabriel melangkah penuh keyakinan hendak membantu sang perempuan. Dari sini, gue bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.
"Lepasin dia!" teriak Ray nyaring.
Satu laki-laki berandal yang berambut cepak menoleh, tersenyum miring. "Siapa, lo? Berani sama kami?"
"Elo yang siapa? Sampai mau banget kami takuti!" sahut Kendra tidak santai.
Laki-laki lain yang berambut gondrong mengeluarkan pisau lipat dari sakunya, lalu ia menahan paksa perempuan itu. "Jangan mendekat! Atau gue akan menyakiti dia tanpa ragu!"
Gue menutup mulut tak percaya melihat itu. Perempuan berambut pendek yang sedang terancam tidak bisa memberi perlawanan, ia hanya menangis tanpa suara.
"Laki-laki macam apa kalian? Beraninya sama perempuan! Pengecut tahu, nggak?!" ejek Gabriel.
Laki-laki yang berambut cepak tertawa menyebalkan. "Heh, ngaca dulu kalau mau mencaci orang! Kalian juga pengecut karena datang keroyokan!"
Adara di sebelah gue meninju telapak tangannya sendiri saking merasa kesal dengan apa yang dia lihat.
Ray balas tertawa meremehkan yang juga terdengar menyebalkan. "Oh, jadi kalian takut sama kami?"
Laki-laki berambut gondrong semakin mendekatkan jarak pisau miliknya dengan leher perempuan itu, membuat gue meringis ngeri.
"Kalau berani lo one by one sama gue!" tantang laki-laki berambut cepak.
"Dengan syarat kalau lo kalah, lo harus lepasin perempuan itu!" kata Gabriel.
Tanpa menunggu lagi, laki-laki itu langsung menyerang Gabriel. Mereka berdua pun terlibat adu jotos yang membuat gue tidak berani melihatnya lebih lama. Terlalu mengerikan. Begitu gue mengembalikan pandangan ke depan, terlihat Dimas yang entah sejak kapan berada di belakang laki-laki yang menahan perempuan berambut pendek itu. Dengan pergerakan yang sangat cepat, ia menendang betis laki-laki itu sampai ia terjatuh ke samping kanan. Melihat itu, dengan cepat Ray mengamankan perempuan yang wajahnya terlihat sangat sendu. Sedangkan Kendra segera membantu Gabriel yang masih bertarung.
Gue, Adara dan Zanna saling tatap-melempar pertanyaan dalam senyap, lalu kami pun memutuskan mengangguk bersama. Segera berlari ke sana hendak membantu perempuan berambut pendek itu. Begitu kami sampai di sana, kedua laki-laki berandal itu berhasil dikalahkan oleh Dimas, Gabriel dan Kendra. Kedua laki-laki tersebut pun memilih lari menjauh secepat kilat.
Gue langsung merangkul perempuan berambut pendek itu dari Ray. Dia sedari tadi hanya menangis pilu tanpa suara. Jujur, gue jadi ikut sedih melihat kondisinya.
"Mereka nggak berbuat macam-macam ke lo, kan?" tanya Ray lembut.
Perempuan itu menggeleng lemah. Gue mengelus pundaknya pelan.
"Hmm, gimana kalau kita ajak dia ke rumah Kak Mey? Karena kalau kita tanya tentang siapa dia dan tujuan dia ke sini sekarang, keadaannya nggak memungkinkan," saran Zanna.
Gue mengangguk. "Iya. Ayo. Rumah gue di depan, kok. Deket."
"Saya pamit pulang saja, ya. Kalian hati-hati," ucap Dimas.
"Iya. Terima kasih banyak buat bantuannya," balas Kendra yang diangguki kami berlima.
Setelah Dimas melangkah pergi, kami semua pun berjalan menuju rumah gue. Perempuan itu masih di dekat gue, berjalan sambil menunduk dengan berkali-kali menghapus air mata di pipi. Gue menepuk pundaknya. "Kalau lo mau nangis, nangis aja nggak apa-apa. Nggak ada yang memaksa lo untuk terlihat tegar di sini," bisik gue pelan.
Begitu sampai, kami langsung masuk dan disambut dengan wajah Ibu dan Ayah yang bingung kami datang ramai-ramai sambil membawa perempuan asing yang terlihat berantakan lagi.
"Eh, kalian langsung masuk aja. Mey, Ibu dan Ayah mau bicara."
Gue mengangguk dan mengikuti mereka ke dapur. "Perempuan yang terus menangis itu siapa, Mey?"
"Aku nggak kenal. Tadi kami melihat dia di pinggir jalan sedang diganggu oleh dua laki-laki berandalan. Ya, kami bantu dan bawa dia ke sini untuk menenangkannya, sekaligus ngobrol soal identitas dia," gue menjelaskan dengan suara pelan.
Ayah mengangguk mengerti. "Kalau gitu, kamu suruh Ray, Kendra dan Gabriel di sini sampai kami pulang dari Pak Banyu. Bagaimanapun juga, perempuan itu tetap orang asing di Desa Tiwa. Nggak ada yang tahu dia itu sebenarnya orang baik atau bukan. Jadi kita harus tetap waspada."
"Benar sekali itu, Mey. Apalagi di Desa Tiwa sekarang sedang ada wabah, jarang sekali ada orang asing yang masuk ke sini."
"Iya, Ayah, Ibu. Aku akan minta tolong Ray, Kendra dan Gabriel untuk di sini dulu. Kalian have fun aja di rumah Pak Banyu."
Mereka berdua tersenyum dan mengangguk. "Ya sudah, kami berangkat, ya. Kamu mending ambil minum dulu untuk perempuan itu."
"Siap, Bu. Kalian hati-hati, ya."
Ayah mengelus rambut gue sambil tersenyum. "Kamu juga hati-hati, sayang."
Gue langsung mengambil cangkir dan mengisinya dengan teh manis yang masih hangat, Ibu sudah menyiapkannya tadi. Membuat teh manis hangat dengan porsi besar sudah menjadi kebiasaan Ibu setiap malamnya. Setelahnya gue membawa cangkir itu ke depan. "Ini, diminum dulu."
Perempuan itu menurut, ia mengambil cangkirnya dan menyeruput isinya sebentar. Kalau dilihat-lihat, ia sudah lebih bisa mengontrol dirinya. Tangisannya sudah berhenti, hanya menyisakan mata yang masih memerah sembab.
"Gimana? Sudah baikan?" tanya Adara beberapa menit kemudian.
Dia mengangguk, menatap kami satu persatu. "Terima kasih, kalian sudah mau membantu aku."
"Sama-sama. Kalau kami bertanya tentang identitas lo, apa lo udah bisa menjelaskannya?"
"Tentu. Aku Filona, tempat tinggalku di Desa Gria. Tapi, tadi sore aku berkunjung ke rumah Bibi di Desa Laksmina. Jadi, aku hanya melewati Desa Tiwa untuk pulang ke Desa Gria."
Desa Laksmina adalah desa yang terletak di paling ujung, lebih terpencil lagi dari Desa Tiwa.
"Lo jalan kaki dari Desa Laksmina ke Desa Gria?" tanya Ray.
Filona mengangguk. "Iya. Tapi, tadi saat pulang aku sempat tersesat. Makanya bisa sampai selarut ini."
Gue berucap, "Kenapa nggak naik angkutan aja?"
"Jarang ada angkutan dari Desa Laksmina kalau sudah petang."
"Tapi kamu benar nggak diapa-apain sama dua laki-laki tadi? Soalnya kamu sampai nangis sepilu itu," tanya Zanna peduli.
Filona tersenyum samar. "Nyaris saja. Untungnya kalian datang. Maka dari itu, aku berterima kasih banyak sama kalian semua. Termasuk laki-laki yang nggak ikut ke sini. Tolong sampaikan rasa terima kasihku ke dia, ya?"
"Iya, nanti kami sampaikan," balas Adara.
"Kalian kan sudah tahu siapa aku, apa kalian tidak ingin memperkenalkan diri ke aku?"
"Eh, iya. Sampai lupa. Aku Zanna. Salam kenal."
Lalu kami memperkenalkan diri secara bergantian.
"Jadi, apa rencana lo selanjutnya?" tanya Gabriel.
"Hmm, mungkin aku mau lanjut jalan pulang. Udah nggak jauh juga ke Desa Gria," Filona mengucapkan itu penuh keraguan.
"Kalau saran gue sih, lebih baik lo tinggal di sini. Lo nggak mau kejadian tadi terulang lagi, kan?" kata Ray tegas.
"Iya, gue setuju tuh. Lo nggak masalah kan, Mey?" timpal Kendra.
Gue mengangguk semangat. Sepertinya Filona bukan orang jahat. "Nggak, kok. Lo boleh nginap semalam di sini. Kebetulan Zanna dan Adara juga mau menginap di sini."
"Aku beneran boleh di sini dulu?" Filona memastikan.
Gue mengangguk. "Iya. Santai aja."
"Kalau boleh tahu, lo ditarik paksa oleh dua laki-laki tadi dari mana?" Kendra bertanya.
Raut wajah Filona berubah murung. "Aku kurang tahu pasti di mana letaknya, tapi yang pasti sejak aku sudah berada di Desa Tiwa."
"Wah, Desa Tiwa udah nggak aman lagi nih. Ada berandal yang berani-beraninya masuk ke sini," ujar Kendra terlihat seperti bermonolog.
Ray mengangguk dengan wajah tidak santai. "Benar banget, Desa Tiwa bukan desa yang besar, jadi kami sudah pasti mengenal semua orang yang tinggal di sini. Dan, mereka berdua asing bagi kami. Pasti mereka pasti pendatang, soalnya kami nggak ada yang kenal sama mereka. Ya, kan? Kalau misalnya kita tahu ada orang yang jadi korban mereka lagi, Pak Banyu harus tahu masalah ini."
"Benar juga, ya. Desa Tiwa sudah mulai tidak aman kalau seperti ini," kata Adara risau.
"Kamu tenang aja, Ra. Kan ada aku," goda Kendra. Selalu.
Adara melotot menatap Kendra. "Ken!"
Gue menghela napas. "Ya, kita berharap aja semoga dua laki-laki tadi hanya orang yang nggak sengaja sampai di sini, tidak sampai menetap di Desa Tiwa."
Gabriel mengangguk prihatin "Semoga aja begitu."
"Iya, soalnya kan tadi udah dikasih pelajaran sama kalian. Semoga mereka jera, deh," tambah Zanna.
"Oh iya, gue lupa. Kalian mau minum apa?"
Adara melambaikan tangannya. "Ah, lo udah kayak sama siapa aja sih, Mey. Gampang itu mah, gue bisa langsung ambil di belakang."
"Kalau Ray, Kendra dan Gabriel?"
"Nggak usah repot-repot, Mey. Teh manis aja kayak Filona," jawab Ray.
Gue terkekeh. "Oh iya, kamu udah makan, Fi?"
"Terima kasih, Mey. Aku udah makan kok, sebelum berangkat tadi."
"Fi, perjalanan dari Desa Laksmina ke Desa Tiwa cukup menguras energi, loh! Kalau gue jadi elo sih, gue pasti lapar sekarang," komentar Ray.
"Benar, tuh. Biar gue ambilkan, ya?!"
"Jangan, Mey. Aku nggak mau tambah merepotkan kamu."
"Nggak sama sekali, kok. Eh, tapi Ibu aku nggak masak. Kita bikin mi rebus aja gimana? Ada yang mau?"
"Boleh tuh, gue mau satu, Mey!" ujar Ray semangat.
"Heh, makanan dari rumah Pak Banyu ke mana?" ejek Kendra.
"Namanya juga manusia, wajarlah merasa lapar lagi walau habis makan," elak Ray.
"Kalau lo mau, bilang aja, Ken. Jangan malu-malu," kata Gabriel.
Kendra berucap serius, "Kayaknya mi rebus enak juga ya, malam-malam gini. Setelah gue pikir-pikir, boleh deh. Dua ya, satunya buat Gabriel."
"Lah, kenapa bawa-bawa gue?" ujar Gabriel tak terima.
"Udah, jangan malu-malu, Riel. Santai aja. Ya kan, Mey?" ucap Ray sambil menaik turunkan alisnya.
Gue terkekeh. "Setuju. Zanna dan Adara mau juga, nggak?"
"Aku nggak deh, Kak."
"Gue juga sama. Bisa minta punya Kendra. Boleh, kan?"
"Ya masa nggak boleh sih, sayang?"
Ray berdeham kencang.
Gue berdiri. "Oke, empat mi rebus akan segera datang."
"Mey, aku boleh ikut bantu kamu bikin mi rebus?" tanya Filona yang sedari tadi diam.
"Boleh, dong! Masa nggak boleh, sih?"
Lalu kami berdua berjalan menuju dapur. Saat gue sedang sibuk menyiapkan air untuk direbus, Filona bertanya, "Mey, kamu dan yang lainnya udah sahabatan lama, ya?"
Gue mengangguk. "Iya, dari SMA. Bisa dibilang, kami dipersatukan oleh masalah dan punya pikiran yang sama. Jadi sama-sama terus deh, sampai sekarang."
"Terus, sekarang kalian kuliah di tempat yang sama? Atau mungkin kerja?"
"Hmm, nggak dua-duanya. Tapi kami semua punya rencana untuk kuliah, kok. Karena kami mau menikmati masa muda dan mau mencari tahu bakat masing-masing dulu."
"Oh gitu, berarti kalian benar-benar punya pikiran yang sama, ya?"
Aku terkekeh dan mengangguk. Kami memang seperti itu. Karena hal itulah yang menjadi alasan terbesar mengapa kami berlima selalu bersama.
Setelah selesai memasak, gue dan Filona masing-masing membawa dua mangkuk mi rebus ke depan.
"Pasti mantep, nih! Wanginya udah menggugah selera banget," ucap Ray semangat ketika melihat kedatangan gue dan Filona.
"Iya, dong. Silakan dimakan."
"Lo nggak bikin, Mey?" tanya Adara.
"Nggak ah, bosen gue makan mi rebus terus."
"Oh."
Ray, Gabriel, Filona, asik menikmati mi rebus itu sambil mengobrol. Sedangkan Kendra memakan mi rebus sambil sesekali menyuapi Adara. Gabriel juga melakukan hal itu ke Zanna. Gue merekam dengan baik semua kejadian hari ini di dalam kepala supaya bisa mengenangnya suatu hari nanti.
***
Saat pagi hari, gue, Adara dan Zanna tidak melihat eksistensi Filona. Begitu gue bertanya kepada Ibu, ternyata dia sudah berangkat sejak fajar. Dan menitipkan sebuah surat ke Ibu yang isinya.
Terima kasih, Mey, karena kamu dan teman-temanmu sudah mau membantu aku. Maaf, aku berbohong tentang semua penjelasan yang aku berikan. Sebenarnya, aku sedang dalam perjalanan melarikan diri dari sesuatu. Tentang dua orang laki-laki itu, mereka adalah anak buah Ayahku. Tapi aku bisa memastikan kalau mereka tidak akan menganggu kenyamanan warga Desa Tiwa. Tolong simpan informasi ini hanya untuk dirimu, jangan beritahu siapa pun, ya? Sekali lagi, terima kasih banyak.
Filona S
***