[Ray Dhanadyaksa]
Pada malam hari, gue dan Meysha tengah berjalan menuju rumah Pak Banyu yang merupakan Kepala Desa Tiwa. Katanya, ada acara makan malam kecil-kecilan dalam rangka terpilihnya Pak Banyu sebagai Kepala Desa dalam periode kedua.
Gue memakai kemeja berwarna abu-abu yang dipadukan dengan celana bahan berwarna hitam. Sedangkan Meysha memakai atasan lengan panjang berwarna jingga cerah ditambah dengan rok selutut berwarna biru tua yang beberapa centi di bagian bawah roknya terdapat rempel. Rambut panjangnya ia biarkan jatuh terurai dengan indah. Kami sama-sama memakai sepatu yang biasa dipakai untuk main.
Rencananya, gue dan Meysha ingin ke rumah Gabriel dulu, setelah itu ke warung Bi Ida untuk bertemu Kendra dan Adara yang meminta untuk ketemuan di sana. Ketika formasi sudah lengkap, baru kami akan langsung ke rumah kepala desa.
"Mey, menurut lo kenapa Pak Banyu bisa menjabat lagi sebagai kepala desa?" tanya gue memecah hening.
Meysha mengangkat bahu. "Memangnya waktu itu lo milih nomor 2, Ray?"
Nomor 2 yang dimaksud Meysha adalah saingannya Pak Banyu. "Nggak juga, sih."
"Nah, alasan lo milih Pak Banyu karena apa?"
"Ih, kok malah gue yang ditanya-tanya, sih? Gue kan nanya elo, Mey!"
Meysha terkekeh. "Jawabannya simpel, Ray. Karena Pak Banyu kepala desa yang ramah, gampang akur sama warganya, apalagi sama kita-kita yang masih remaja. Kalau ngobrol tuh nyambung banget."
"Benar juga, sih."
"Memang alasan lo milih Pak Banyu apa?"
"Selama Desa Tiwa dipimpin oleh Pak Banyu kemarin, segalanya terasa baik. Jadi, kenapa kita harus pilih yang lain kalau yang sebelumnya bisa dipercaya?"
Meysha mengangguk. "Jawaban lo barusan udah pas banget untuk mewakili pertanyaan lo ke gue sebelumnya."
"Kan gue pengen tahu pendapat lo aja, Mey."
"Iya, Ray."
Begitu kami hendak berbelok ke g**g rumah Gabriel, kami melihat ia dan Zanna sedang berjalan pelan sambil saling merangkul satu sama lain.
"Wah, pas banget nih, ketemu di persimpangan," kata gue.
"Cie... yang udah semakin akur," goda Meysha.
Zanna membalas terkekeh. "Iya nih, terima kasih banyak ya, buat semua bantuannya."
"Sekarang kita ke warung Bi Ida, kan?" tanya Gabriel.
"Iya, jemput Kendra sama Adara," Meysha menjawab.
"Ngomong-ngomong, mereka ngapain ya di sana?" tanya gue iseng.
"Mereka nggak mungkin makan juga kan, ya?" balas Zanna.
"Iya dong, kan nanti kita mau makan," timpal Meysha.
Gabriel berucap, "Ya ngapain lagi selain pacaran?"
Gue menjentikkan jari semangat. "Oh iya ya, pacaran for life."
Mereka bertiga terkekeh kecil.
"Ya udah, kita lanjut ke sana. Daripada telat," ajak Meysha.
"Bukannya daripada takut kehabisan makanan, Mey?" ucap gue bercanda.
"Ih, itu mah elo kali, Ray!" balas Gabriel.
"Wah, santai dong, bang! Ya udah, yuk kita jalan lagi menuju warung Bi Ida!"
Kami berjalan ditemani rembulan yang bersinar malu-malu juga ditemani oleh kunang-kunang yang beberapa kali terlihat indah. Di Desa Tiwa, kami masih bisa melihat eksistensi kunang-kunang walau sudah tidak sebanyak waktu gue masih kecil dulu. Mungkin kalau di kota, rasanya mustahil kami bisa menemukan kunang-kunang lagi.
Lampu-lampu di pinggir jalan sepanjang kami lewati lebih banyak yang menyala tidak baik. Cahaya yang keluar tidak maksimal, tak jarang ada yang berpendar-pendar seperti akan mati. Dan kondisi penerangan di jalan ini sudah menjadi perhatian Pak Banyu sejak lama. Bahkan ada yang sudah berkali-kali diganti. Namun lampu itu menyala terang hanya sekian minggu lalu redup dan mati lagi. Sulit sekali bagi kami mendapatkan lampu yang bercahaya terang dan tahan lama di wilayah pedesaan terpencil seperti ini.
Bahkan di rumah, ibu sampai menyetok persediaan lampu banyak sekali saking buruknya kualitas lampu yang dijual di Desa Tiwa. Kalau mau yang bagus dan tahan lama, harus beli di kota yang sangat jauh kalaupun ada yang jual di Desa Tiwa, harga satu lampunya setara dengan lima buah lampu biasa. Sehingga warga Desa Tiwa banyak yang memilih memakai lampu kualitas standar. Karena tidak semua lampu kualitas standar bermutu buruk, ada yang medium, tapi tidak ada yang paling bagus. Jadi ketika membelinya, kita cukup berharap Dewi Fortuna berpihak kepada kita sehingga lampu yang dibeli bisa menyala terang dan tahan lama. Singkatnya, para pembeli cukup untung-untungan tentang mutu lampu.
Tiga menit kemudian, kami sampai di warung Bi Ida. Kendra dan Adara terlihat sedang menyeruput secangkir teh di sana.
"Pacaran mulu ya, kalian!" sapa gue sambil duduk di bangku kayu panjang tanpa sandaran tepat di samping Kendra.
"Kita bukan pacaran, Ray. Kendra ada urusan sama Bi Ida tadi," jawab Adara.
"Oh. Urusan apa?" kepo gue.
"Bayar hutang kemarin. Ya kan, Bi?" sahut Kendra.
Bi Ida keluar dari warungnya. "Iya. Ray, kamu juga masih ada hutang loh, ya ke Bibi. Kapan mau dibayar?"
Pertanyaan Bi Ida membuat gue menggaruk tengkuk belakang gue yang tidak gatal. Salah tingkah. "Eh, iya. Nanti ya, Bi."
Zanna ikut duduk di samping Adara, tepat di depan gue. Dia memajukan wajahnya. "Wah, jangan-jangan waktu Kak Ray traktir aku mi rebus itu ngutang juga, ya?"
"Iya Neng Zanna, dia juga ngutang kemarin. Nggak modal emang," Bi Ida yang menjawab.
"Bi Ida jangan fitnah ya, Bi. Lo kan lihat gue bayar kemarin, Zan?!"
Zanna tertawa.
Adara berdeham kencang. Kencang sekali. "Duh, kayaknya ini mah bentar lagi jadi, nih. Gimana, lo setuju nggak, Riel?"
Gabriel menaikkan kedua alisnya. "Gue pikir-pikir dulu, deh."
"Kalau saran dari Bibi mah, Neng Zanna jangan dibolehin sama Ray. Masih banyak laki-laki di luar sana yang lebih cocok sama Neng Zanna," Bi Ida berbicara, yang gue tahu itu hanya bercanda.
"Bi Ida nggak ke rumah Pak Banyu? Ikut makan-makan." Gue mengalihkan topik.
"Bi Ida mah terakhir aja. Gampang itu mah."
"Kalau habis gimana, Bi?" tanya Meysha yang masih berdiri bersama Gabriel.
"Nggak akan. Bi Ida dan yang lain ada acara di sesi terakhir. Jadi, santai aja."
Gue mengerutkan alis. "Sesi terakhir? Memang mau ada yang dibahas?"
Bi Ida melambaikan tangan dengan segera. "Oh, nggak. Acaranya memang sengaja dibuat seperti itu. Jadi nanti sesi awal untuk anak remaja berkumpul, sesi terakhir untuk orang tua kayak Bibi gini. Tapi itu nggak harus, sih."
"Oh, pantas Bunda aku nggak mau berangkat sekarang," komentar Adara.
Gue mengangguk setuju. Ibu dan Ayah gue juga begitu. "Tapi kenapa dipisah gitu, Bi?"
"Bibi kan udah bilang, itu cuma peraturan informal. Sebenarnya tujuan utamanya supaya para orang tua bisa berbicara panjang tanpa merasa ada yang tidak nyaman. Singkatnya, supaya obrolan kami lebih nyambung. Dan yang remaja pun begitu."
"Oh, jadi Bibi mau ke sana nanti malam?" Zanna menyimpulkan.
"Nggak juga. Bibi mau berangkat setelah kalian sudah pergi, supaya Bibi bisa makan dua kali lebih banyak," Bi Ida terkekeh di akhir kalimat.
"Eh, kalian ngerti nggak sih, maksud perkataan Bi Ida barusan?" pancing Adara.
"Wah, udah pasti dong. Bi Ida mengusir kita secara halus. Iya, kan?" balas gue.
Bi Ida tertawa. "Itu kalian paham. Udah gih, sana berangkat!"
"Siap, Bi!" kata Meysha.
Gue, Kendra, Adara dan Zanna yang tadinya duduk pun segera berdiri dan melangkah keluar dari warung Bi Ida. Kami dan Bi Ida sudah kenal lama sekali. Bahkan, sudah terasa seperti saudara sendiri. Sehingga kami bisa bertukar obrolan seakrab tadi.
Kami langsung disambut oleh Pak Banyu begitu sampai di depan rumahnya. Pak Banyu memakai kaos lengan pendek dan celana panjang, terlihat santai sekali. "Halo, Ray, Meysha, Kendra, Adara, Gabriel. Eh, sekarang nambah satu orang lagi, nih?"
Zanna terkekeh. "Iya, aku kan udah satu paket sama Kak Gabriel."
Pak Banyu balas tertawa. "Halo, Zanna. Sekolahnya lancar, kan?"
"Lancar dong, Pak."
"Kalau kalian berempat gimana? Lancar ngumpul-ngumpulnya?" Pak Banyu bertanya lagi.
Disindir sama orang tua emang udah biasa. Tapi pernah nggak sih, kalian disindir sama kepala desa seperti kami? Rasanya, malu banget! Pak Banyu memang mengenal kami cukup baik. Seperti yang Meysha katakan sebelumnya, kalau Pak Banyu itu orangnya ramah banget, kalau ngobrol sama remaja macam kami tuh selalu nyambung. Bahan candaan beliau pun bisa disesuaikan dengan kami.
"Wah, tentu lancar dong, Pak. Masa punya teman segini doang bisa musuhan?" jawab Kendra.
"Saya hanya bercanda loh, ya! Jangan diambil serius. Saya tahu kok, ngumpul-ngumpul kalian itu membawa hal baik. Intinya, saya menunggu kalian menjadi orang sukses dan memajukan Desa Tiwa. Karena kalau bukan kalian, siapa lagi?"
"Memangnya Pak Banyu tidak bisa membawa kesuksesan bagi Desa Tiwa?" pertanyaan gue tadi langsung dibalas tatapan sengit dari teman-teman gue.
"Baiklah, kali ini kamu seri dengan saya dalam hal sindir menyindir, Ray!" Pak Banyu tertawa di akhir kalimat.
Gue tahu Pak Banyu tidak akan menganggap serius hal itu. Gue balas tertawa. "Oke, kali ini kita seri. Tapi nanti malam, saya balas sampai 5-1."
Pak Banyu melipat lengan di depan d**a. "Jangan terlalu yakin, Ray." Dia melirik Adara dan Kendra. "Oh iya, kalian kapan membagikan undangan ke saya?"
"Eh? Maksudnya?" bingung Adara.
"Jangan pacaran lama-lama, nggak baik. Mending nikah lama-lama, tahu?!" balas Pak Banyu.
Kendra mengangguk. "Siap, Pak! Secepatnya saya akan melamar Adara kalau saya sudah sukses."
"Memangnya kamu yakin bakal sukses cepat?" Setelahnya Pak Banyu menatap gue. "Ray, catat ya, sekarang sudah 3-1."
Gue melotot tidak terima. "Dih, kok curang, sih? Bapak kan bisa menyerang lima orang sekaligus, sedangkan saya harus menyerang Bapak sendirian. Wah, nggak adil ini!"
Hanya Pak Banyu yang tertawa menanggapi omongan gue. "Sudahlah. Kalian masuk sana. Acaranya di lantai dua, ya. Kalau kehabisan makanan, jangan salahkan saya."
Rumah Pak Banyu memang dibangun tingkat dua. Bisa dibilang, rumah Pak Banyu adalah rumah paling mewah yang ada di Desa Tiwa. Tapi, kalau dibandingkan dengan rumah-rumah yang ada di perkotaan, rumah Pak Banyu jelas bukan apa-apa.
"Oke, Pak! Kami masuk dulu, ya?" ujat Meysha.
"Iya, silakan."
"Ray, bercandaan lo sama Pak Banyu tadi cringe parah!" komentar Kendra saat kami sudah di dalam rumah Pak Banyu. Ternyata di dalam sini sudah ada banyak orang yang mengantri mengambil makanan.
"Iya, benar banget. Aku aja sampai ngeri kalau nanti kita tiba-tiba diusir dari sini," tambah Zanna.
"Tahu nih, ya, Ray. Bagaimanapun juga, Pak Banyu orang tua. Hormatilah sedikit," Adara ikut-ikutan.
Gue berhenti melangkah, diikuti mereka berempat. "Tenang, gue sama Pak Banyu udah akrab banget, kok. Kalian nggak perlu khawatir berlebih kayak gini."
"Ya walaupun Pak Banyu itu berjiwa muda banget, lo jangan begitu, Ray. Dia pemimpin kita di sini, kita harus hormat sama dia," Gabriel yang sedari tadi diam, kini angkat bicara.
Gue menunduk terdiam. Sikap gue tadi salah banget, kah? Sampai semua teman gue memojokkan gue seperti ini?
"Udah, udah. Sikap Ray tadi memang cukup kelewatan, tapi kita nggak harus mengingatkan dia dengan cara menekan seperti ini. Kalian kan tahu sikap Ray kayak gimana? Dan Pak Banyu juga tadi biasa-biasa aja, kok. Gue pikir, kita bisa memakluminya, kok," ujar Meysha yakin.
Gue yang tadi menunduk kini mengangkat kepala dan menjatuhkan tatapan tepat ke Meysha. Astaga! Gue salah. Tidak semua teman gue memojokkan sikap gue tadi. Kecuali Meysha. Ia tidak terbawa suasana dan, gue emang nggak salah deh, suka sama dia.
"Oke, gini aja. Gue nanti mau keluar lagi, minta maaf sama Pak Banyu. Dan, gue juga minta maaf sama kalian, karena membuat kalian tidak nyaman dengan obrolan gue dan Pak Banyu tadi. Kalian duluan aja ke atas dan makannya." Setelah mengatakan itu, gue langsung melangkah keluar hendak menemui Pak Banyu.
Di depan, gue melihat Pak Banyu sedang berdiri. Belum ada warga desa lain yang datang. Gue kira, ini waktu yang tepat. "Pak Banyu!" panggil gue.
Pak Banyu menoleh. "Iya, kenapa Ray?"
"Tadi saya diprotes sama teman-teman tentang candaan kita sebelumnya. Jadi, saya mau minta maaf nih, sama Bapak. Kalau misal perkataan saya tadi kelewatan dan meninggalkan bekas di pikiran Bapak. Tapi sumpah, saya hanya bercanda, tidak ada maksud serius sama sekali."
Pak Banyu terkekeh pelan. "Oalah, saya kira ada apa. Kamu tenang saja, Ray, saya nggak masalah kok dengan omonganmu tadi. Hmm, kalau teman-teman kamu mengingatkanmu, itu hal wajar. Itu tandanya mereka peduli sama kamu."
Gue mangangguk. "Iya, Pak. Sekali lagi maaf, ya."
Pak Banyu balas mengangguk. "Udah, kamu masuk lagi sana! Sebentar lagi saya juga mau ke dalam."
"Oh iya, ini kita benar udah boleh makan? Penggagas acara ini aja masih di luar."
"Iya, udah kalian makan duluan aja. Ini acara santai, kok. Siapa pun warga Desa Tiwa boleh ke sini dan makan kapan pun sampai hidangannya habis."
"Oke, Pak. Saya ke dalam, ya!"
"Ray, gue minta maaf ya, nggak seharusnya gue kayak gitu tadi," ucap Adara ketika gue menemui mereka di lantai dua.
Zanna mengangguk. "Aku juga minta maaf, Kak."
"Gue juga, Ray," tambah Gabriel.
"Gue juga, maaf, ya," kata Kendra.
Gue mengerutkan alis, bingung. "Aduh, apaan sih, kok jadi gini? Kalian nggak salah. Santai aja kali. Justru gue yang berterima kasih karena kalian sudah mau repot-repot mengingatkan gue yang kayak begini."
Meysha tersenyum. "Ya, karena itu tugas sahabat, kan? Saling mengingatkan satu sama lain."
"Eh, kalian belum mengambil makanan?" heran gue.
"Kami nunggu elo lah, Ray. Kita harus terus sama-sama. Ya, nggak?" balas Kendra.
"Wah, gue jadi terharu, nih."
Tak lama, Pak Banyu masuk memberi kata sambutan kepada kami semua yang berada di sini. Setelahnya, gue dan yang lain segera mengambil makanan.
Tiga puluh menit kemudian, gue berjalan hendak ke kamar mandi. Baru beberapa langkah, gue melihat Meysha yang tengah berdiri dalam hening sambil menatap lukisan hutan berukuran besar yang terpajang di dinding. Dia tadi memang sempat izin hendak ke kamar mandi juga. Jadi, wajar jika kami bertemu di sini.
"Mey," sapa gue.
Dia menoleh sekilas, lalu kembali memandang lukisan itu. "Eh, Ray."
Gue ikut memandangi lukisan hutan itu. Di dalam lukisan itu terdapat beberapa pohon yang dilukis sebaik mungkin. Tapi, ini tetap tampak seperti lukisan pada biasanya yang gue yakin, harganya tidak murah. Gue menoleh, menatap Meysha yang berdiri di samping gue. "Mey, kenapa lo serius banget memerhatikan lukisannya? Ada yang begitu menarik perhatian lo, kah?"
"Gue cuma kagum sama lukisan ini dan penasaran sama pelukisnya. Dan entah kenapa, gue merasa semacam ada unsur magis yang berhasil memikat gue." Setelah mengatakan itu, Meysha memutar tubuhnya ke kiri, menatap jendela besar yang menampilkan malam dengan gemerlap bintang. "Tapi, gue lebih kagum sama ciptaan Tuhan yang ada di depan gue."
Gue ikut memutar tubuh, berdiri berdampingan dengan Meysha. Kami menatap langit malam yang terasa begitu menenangkan. "Gue setuju."
"Langitnya cantik banget ya, Ray?"
Lo jauh lebih cantik, Mey. Tapi, gue memilih membalas ucapan Meysha dengan mengangguk tanpa kata.
"Oh iya, lo mau ke kamar mandi, Ray?"
"Kok tahu?"
"Karena ini jalan menuju kamar mandi, Ray!" kata Meysha jengah.
Gue terkekeh. "Iya juga, ya?"
"Ya udah, gue ke depan duluan, ya." Kemudian Meysha melangkah menjauh dengan pasti.
Tiba-tiba gue teringat dengan perkataan Meysha tentang lukisan hutan ini tadi. Unsur magis dalam lukisan? Gue kembali menghadapkan tubuh menatap lukisan—mencoba memerhatikan lukisan ini lebih dalam lagi. Mengarahkan seluruh perhatian gue kepada sebuah benda yang ada di depan mata. Setelah beberapa saat pun, gue tetap tidak bisa merasakan adanya unsur magis yang dikatakan Meysha. Mungkin, itu cuma perasaan belaka. Baiklah, gue kembali melanjutkan langkah menuju kamar mandi.
***