[Ray Dhanadyaksa]
Gue berenang menyusuri danau, mencari keberadaan Gabriel yang sampai sekarang tak berujung temu. Gue berenang menuju permukaan, hendak menghirup udara terlebih dahulu, sekaligus memberi jeda.
Pandangan gue terarah kepada tiga perempuan yang pipinya sudah basah oleh air mata dengan raut cemas dan gelisah.
Gue harus bisa menemukan Gabriel. Untuk setidaknya, dapat menenangkan hati ketiga perempuan itu, walau hanya sementara.
Gue melanjutkan pencarian, menyelam, berenang mencari keberadaan Gabriel. Saat gue mulai merasa sesak, cepat-cepat gue berenang menuju permukaan kembali. Tidak mau memaksakan.
Sesampainya di permukaan, gue berteriak, "KEN, BANTUIN GUE!"
Kendra langsung mengangguk dan bersiap setelah mendengar apa yang gue ucapkan. Setelah itu, dia berenang, memulai pencarian Gabriel.
Semoga Gabriel cepat ketemu. Supaya diantara tiga perempuan yang berada di daratan tidak bertindak nekat.
Gue mulai memasuki danau kembali. Berenang dengan harapan yang masih dan akan tetap sama. Dapat menemukan Gabriel. Sepertinya gue harus menyusuri danau lebih dalam, bahkan sampai titik terdalam danau. Semoga gue bisa menahan napas dengan waktu yang lama.
Gue melanjutkan berenang, dengan mata yang tetap terbuka, melihat tajam ke berbagai arah. Mata gue melebar. Itu Gabriel. Namun, napas gua benar-benar terasa sesak tiada ampun.
Bagaimana ini?
Gue tetap berenang mendekati Gabriel. Kalau gue kembali ke permukaan, kemungkinan besar gue akan lupa dengan keberadaan Gabriel di dalam danau ini yang sangat besar.
Dengan susah payah, sekaligus napas yang sudah sangat sesak, gue membawa tubuh Gabriel ke permukaan. Demi apa pun, gue sangat kewalahan. Mungkin kalau napas gue tidak sesesak sekarang, gue tidak akan kesulitan membawa tubuh Gabriel ke permukaan.
Gue berhenti berenang. Napas gue benar-benar sesak. Sepertinya, sudah tidak ada cadangan pasokan oksigen lagi di dalam paru-paru gue.
Tubuh gue bergerak dengan pelan namun teratur ke dasar danau. Tapi disaat bersamaan, gue tidak akan melepas tubuh Gabriel. Jadi, kalau misal ada yang menemukan gue, otomatis dia akan menemukan Gabriel juga atau sebaliknya. Gue tidak ingin menambah beban lagi, jika hilang dengan jarak yang jauh dengan Gabriel.
Namun, sebelum mata gue benar-benar terpejam, gue melihat seorang perempuan berambut panjang mendekati gue, dan seorang laki-laki berenang mendekati Gabriel.
Dengan samar, gue melihat wajah Meysha. Dia sangat terlihat cemas, apalagi setelah melihat kondisi Gabriel yang berada di sebelah gue.
Gue belum sepenuhnya pingsan, mata gue masih terbuka sedikit. Dibantu Meysha, gue berenang menuju permukaan. Gue tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Kejadian tadi siang di rumah Gabriel saja masih sangat sulit untuk gue percaya. Apalagi sekarang, yang sedang terjadi.
Sesampainya di permukaan, gue langsung buru-buru menghirup udara sebanyak mungkin. Sedangkan Kendra yang membawa Gabriel, dia langsung membawanya menuju daratan.
Meysha masih merangkul gue.
"Lo nggak apa?"
Gue menggeleng. "Terima kasih."
Dia tersenyum dan mengangguk.
Gue bertatapan dengannya cukup lama. Demi apapun, pesona Meysha bertambah dua kali lipat dalam kondisi saat ini. Dia sangat-sangat terlihat cantik.
Salahkah gue jika masih berharap dengannya?
Salahkah gue, jika terus mencintainya?
"Kita ke daratan, pelan-pelan aja."
Gue menurut, kami berenang bersama menuju daratan. Tangan Meysha tidak lepas dari pinggang gue, dia masih setia merangkul gue, seakan takut sesuatu buruk terjadi pada gue.
Lantas, gue merekahkan senyum. Senyuman paling bahagia, senyuman paling tulus yang pernah gue tunjukkan. Sesampainya di tepi daratan, gue terlebih dahulu membantu Meysha menapaki daratan. Setelah itu, Meysha yang membantu gue.
Gue langsung duduk di hamparan rumput hijau dengan lutut setengah menekuk. Gue letakkan lengan gue di atas lutut. Gue menoleh, mengecek kondisi Meysha. Dia menangis. Membuat hati gue hancur.
Setelah itu, gue menjatuhkan tatapan kepada Gabriel yang terbaring lemah, ditemani dengan Zanna, yang sama sedihnya dengan Meysha.
Kendra sedang melakukan pertolongan pertama untuk Gabriel. Namun sampai sekarang, belum ada hasilnya.
Gue berjalan mendekati mereka semua. Lalu, gue bergantian dengan Kendra, memberikan pertolongan pertama kepada Gabriel dengan menekan dadanya. Satu kali. Dua kali. Tetap sama, tidak berhasil.
Gue mengecek denyut nadinya, sudah tidak ada. Gue masih mencoba untuk menemukan sebuah harapan, gue menyentuh lehernya, mencoba merasakan denyut nadi, namun nihil.
"Kasih napas buatan aja, Ken!" Adara memberi saran.
Kendra mengernyit. "Masa gue?"
"Aku aja, Kak." Zanna menawarkan diri.
"Kamu tahu caranya, kan?" Meysha bertanya.
Zanna mengangguk yakin.
Lalu ia memberi napas buatan kepada Gabriel, percobaan pertama. Kami berharap cemas. Tidak ada reaksi apa pun. Zanna memberikan napas buatan lagi, percobaan kedua. Dan semoga kali ini berhasil. Selang beberapa detik, d**a Gabriel naik dan ia mengeluarkan air dari mulutnya.
Membuat kami semua menghela napas lega.
Satu masalah selesai.
Begitu Gabriel duduk, Zanna langsung memeluk Gabriel. Ia menangis di d**a Gabriel. Pundaknya bergetar hebat. Seperti menjelaskan, bahwa ia benar-benar takut kehilangan Gabriel.
Gue melihat Kendra merangkul Adara yang tengah menangis.
Entah keberanian dari mana, gue juga ikut merangkul Meysha, yang sedang menahan isak tangisnya.
Ekspresi Meysha sempat terkejut, sebelum ia membalas dengan memeluk gue. Otomatis gue kaget. Gue tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi lagi.
Gue merasakan Meysha menaruh dagunya di pundak gue. Dengan sangat ragu, gue mengelus rambut Meysha penuh kasih sayang.
"Everything's gonna be alright, Mey." Gue berbisik tepat di telinga Meysha.
Namun yang gue rasakan malah pundak gue yang basah, karena air mata Meysha. Niat hati ingin menenangkan, malah semakin membuat Meysha tambah menangis.
"Gue salah. Semuanya nggak harus seperti ini." Dia mengatakan itu dengan berbisik dan suara yang lemah.
Gue tidak mengerti.
Gue melepas pelukan, gue tatap mata indahnya yang penuh dengan sorot kesedihan, membuat gue merasakan sesak. Gue menangkup wajah Meysha. Dia tidak boleh bersedih. Tidak boleh ada setetes pun air mata yang menghalangi kecantikannya.
Gue menghapus air mata di pipi Meysha dengan ibu jari disertai senyuman. "Percaya sama gue, semuanya akan baik-baik saja." Gue menatapnya lama, disertai senyuman.
Wajah Meysha bagai ombak besar yang datang ke tepi laut, yang mampu menyeret gue ke tengah laut, sampai terombang-ambing tanpa arah dan tujuan di tengah laut yang begitu luas tiada ujung.
Setelah itu, gue memfokuskan diri kepada Gabriel dan Zanna yang masih belum melepas dekapan.
Gue tersenyum.
"Ada yang sakit, Riel?" Adara bertanya saat Gabriel dan Zanna sudah melepas pelukan erat mereka.
Gabriel menggeleng lemah.
"Ya udah, kita antar Gabriel pulang aja." Gue memberi usul.
Mereka semua mengangguk setuju.
Lalu, Meysha berdiri, ia berjalan ke arah dimana baju gue, Kendra dan Gabriel tergeletak. Dia mengambilnya. Lalu menyerahkan itu kepada gue, Kendra dan Gabriel.
Gue langsung memakainya, karena badan gue sudah tidak terlalu basah lagi.
Dengan pelan namun pasti, kami melangkah menuju rumah Gabriel. Dan kami tiba di rumah Gabriel, tanpa ada hambatan apa pun.
Gue, Meysha, Zanna, Adara dan Kendra duduk di sofa ruang tamu Gabriel. Sedangkan Gabriel, ia sedang beristirahat di kamarnya. Kejadian tadi sore, sungguh menakutkan.
Tapi gue heran, melihat Meysha yang berada di samping gue masih menangis. "Mey, lo tenang. Jangan nangis terus," ucap gue.
Dia menggeleng. "Gue minta maaf. Ini semua karena keegoisan gue."
"Maksudnya?" tanya Kendra yang sama bingungnya dengan gue.
Adara yang duduk di sisi sofa Kendra, berpindah ke samping kiri Meysha. Dia mengelus pundak Meysha, memberi ketenangan. "Ini bukan salah lo kok, Mey. Lo udah mengambil keputusan dengan alasan yang logis."
Gue bingung setengah mati. "Memangnya ada apa?
Meysha terisak. "Maaf."
"Maaf untuk apa?" tanya Kendra serius.
Gue merasa ada yang disembunyikan oleh ketiga perempuan ini dari gue dan Kendra. "Dara, ada apa? Zan, kenapa?" Gue bertanya bingung.
Tapi ketiganya menunduk. Membuat gue semakin pusing. Karena tidak tahu masalah apa yang sedang terjadi.
"Kak Mey...."
"Gue aja yang cerita," Meysha memotong. Ia melanjutkan, "Sebenarnya, berendam di danau itu kemungkinan gagalnya jauh lebih besar daripada berhasil, itu yang dikatakan Mbok Yu. Tapi gue dengan egois, nggak mau memberitahu Ray dan Kendra."
Gue menggeleng heran. Hal sebesar ini, mereka sembunyikan?
"Tapi Kak Gabriel udah tahu kok resikonya. Dan dia siap akan itu," ujar Zanna.
Gue dan Kendra saling tatap diam. Karena mau marah dan memaki pun percuma, semuanya sudah terjadi. Tapi, yang paling penting Gabriel tahu dan dia siap. Setidaknya, itu yang meredakan emosi gue yang tadi sempat meluap dalam d**a.
Gue menghela napas. "Ya sudah, nasi sudah menjadi bubur. Nggak ada yang bisa kita lakukan lagi selain menerima."
Meysha masih menangis. "Gue minta maaf, Ray, Ken."
"Ini udah malam. Gue pamit pulang," ujar Kendra, sepertinya dia sangat kecewa atas keputusan yang para perempuan ambil.
"Bareng ya, Ken," pinta Adara.
Kendra mengangguk.
"Jaga Gabriel ya, Zan," pesan Kendra sebelum dia keluar dari rumah Gabriel.
Pasti Kendra sangat kecewa dengan hal yang baru saja Meysha ungkap. Tapi gue sedikit tenang, karena ada Adara. Dia pasti bisa memberi pengertian dan dapat menenangkan Kendra.
"Zan, gue pamit ya. Mey, mau pulang bareng?"
Walaupun gue tahu jawabannya pasti penolakan. Namun, apa salahnya usaha?
Meysha mengangguk. Otomatis membuat gue terkejut. Seriusan, nih?
Sebelumnya, Meysha menghapus air mata terlebih dahulu. "Zan, aku pamit. Jaga Gabriel. Dan maaf."
Zanna tersenyum, ia mengangguk.
Lalu gue dan Meysha berjalan keluar dari rumah Gabriel.
Kami berjalan ditemani keheningan menuju rumah Meysha. "Mey, jangan terus merasa bersalah, ya."
Dia menoleh, menatap gue. "Gue merasa banyak dosa sama kalian semua. Gue nggak tahu harus melakukan apa untuk menebus itu."
"Kalau menebus dosa sama gue sih, gampang."
Ia menaikan alis, menatap gue. Melayangkan pertanyaan tersirat dari raut wajahnya.
"Cukup selalu tersenyum dan bahagia."
Dia tertawa kecil. "Gue akan melakukan itu, kalau keadaannya memungkinkan. Sedangkan sekarang?"
"Tidak ada alasan untuk tidak tersenyum dan bahagia, Mey. Kalau di kondisi seperti tadi, wajar kalau lo sedih, karena lo manusia yang punya perasaan. Tapi sekarang, nggak ada salahnya kan, untuk tersenyum, sekali pun dengan hati yang masih bersedih?"
Dia tersenyum, terlihat sangat tulus.
Itu yang mau gue lihat.
"Terima kasih Ray. Lo selalu menebar kebahagiaan bagi orang yang berada di sekitar lo."
"Itu udah jadi tugas gue, Mey. Yang gue mau, orang-orang yang di sekitar gue bahagia, supaya gue juga ikut bahagia."
"Lalu, bagaimana dengan suasana hati lo yang sebenarnya sekarang, Ray?" dia memberi jeda, "Apa lo pernah mempunyai masalah besar? Gue pengen tahu sesuatu tentang lo, Ray. Apa pun itu."
***