[Ray Dhanadyaksa]
Gue terkejut akan pertanyaan Meysha. Untuk apa dia bertanya seperti itu?
Tidak bisa disangkal, kalau pertanyaan Meysha, seketika melambungkan rasa percaya diri gue akan hatinya.
Tidak salah, kan?
"Maksudnya gimana, Mey?"
"Lo terlalu sibuk menghibur orang lain. Sampai membuat orang lain lupa akan suasana hati lo yang sebenarnya. Jadi bagaimana suasana hati lo yang sebenarnya sekarang, Ray?"
Tuh kan. Aduh Mey, kenapa harus bertanya seperti itu. Kalau gue baper lo mau tanggung jawab apa?
Tapi gue juga tidak boleh menyalah artikan pertanyaan Meysha. Siapa tahu, dia peduli, hanya sebatas sebagai teman atau sahabat? Iya, kan?
Gue harus jawab apa dong?
"Suasana hati gue sekarang itu, kacau balau, Mey. Sampai gue nggak tahu harus mulai merapihkan dari yang mana dulu."
Dia menghentikan langkah, menatap gue teduh. "Apa aja yang kacau, Ray? Siapa tahu, gue bisa bantu."
"Banyak, mulai dari kondisi Gabriel, urusan pribadi yang nggak bisa gue ceritain ke lo. Maaf." Sebenarnya, urusan pribadi itu adalah soal perasaan. Kan nggak mungkin kalau gue cerita ke Meysha tentang ini. Gue masih terlalu takut. Gue belum menemukan keberanian yang sesungguhnya untuk menyatakan apa yang gue rasa.
Kami melanjutkan perjalanan.
"Tapi lo udah maafin gue soal keegoisan gue kan, Ray?"
Gue mengangguk. "Setiap manusia pasti selalu melakukan kesalahan. Dan dari kesalahan itu, kita bisa belajar bagaimana ke depannya. Iya, kan?"
Kini, raut wajah Meysha jauh lebih tenang. "Terima kasih, Ray."
Mungkin, apapun kesalahan yang Meysha perbuat, tidak akan pernah terlihat salah di mata gue. Mungkin ini yang dinamakan cinta. Ketika yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar. Cinta terlalu rumit untuk didefinisikan.
Gue sudah terlalu jatuh kepada Meysha.
"Ray, ketika masalah di pundak lo sudah tidak bisa lo pikul sendiri, ada gue. Jangan sungkan untuk cerita ya, Ray. Gue siap kok, untuk mendengar keluh kesah lo kapan saja." Dia tersenyum.
Astaga. Pikiran gue sudah melayang kepada akhir yang bahagia atas rasa gue kepada Meysha. Tapi sayangnya, gue nggak akan pernah bisa cerita ke lo, Mey. Karena, hampir semua kekacauan yang ada di hati gue berasal dari lo.
Gue mengangguk. "Terima kasih Mey, udah mau peduli sama gue."
"Gue ingin menjadi seperti lo, Ray."
Gue bingung. "Maksudnya?"
"Gue pengen banget jadi penyebar energi positif bagi orang yang berada di sekitar gue. Walaupun gue tahu, itu akan sulit dilakukan. Tapi nggak ada salahnya kan, gue coba?"
Gue diam.
"Dan gue mau mulai mencoba itu dari lo, Ray. Karena, menurut gue, lo itu hebat. Tapi orang hebat juga butuh pelipur lara, kan?"
Gue tetap diam. Ini maksudnya apa? Gue sama sekali nggak ngerti.
"Izinin gue ya Ray, untuk melakukan itu?"
Stay cool Ray. Jangan terbang.
Gue tersenyum. "Gue nggak akan menghalangi niat baik lo kok, Mey. Jadi silakan. Tapi untuk cerita kekacauan yang terjadi pada diri gue, kalau sekarang gue belum bisa."
Dia mengangguk puas. "Kapanp un lo bisa. Gue akan selalu siap menjadi pendengar yang baik buat lo, Ray."
Jaga hati dan pikiran Ray. Hari ini, banyak sekali hal membahagiakan yang dilakukan oleh Meysha.
Tak terasa, kami sudah sampai di depan rumah Meysha.
"Tidur yang nyenyak ya, Mey. Gue pamit."
Dia mengangguk. "Terima kasih dan hati-hati, Ray."
Gue tersenyum dan berbalik, melangkah menuju rumah ditemani perasaan bingung yang sangat membahagiakan.
***
[Meysha Fradella]
Gue menutup pintu rumah, tentu saja tidak lupa menguncinya. Malam ini sampai beberapa hari ke depan, gue akan sendiri tanpa siapapun di rumah ini.
Gue langsung melangkah menuju kamar mandi untuk cuci muka dan bersih-bersih, setelah itu, melangkah menuju kamar. Gue menghempaskan tubuh di atas kasur. Malam ini sangat sepi.
Gue masih sangat merasa bersalah dengan Gabriel. Semua ini terjadi karena keegoisan gue.
Sepertinya opsi terakhir yang paling berbahaya harus gue bicarakan kepada mereka. Gue harus menebus kesalahan dengan mencari obat hyrexin di hutan yang gue tidak tahu di mana letak persisnya.
Cuma itu satu-satunya cara, supaya hati gue jauh lebih tenang.
Tapi, apa mereka akan setuju dan mendukung itu?
Bagaimana kalau mereka menolak?
Apa gue berani memasuki hutan sendiri jika mereka tidak setuju?
Satu-satunya cara adalah meyakinkan mereka. Tidak semuanya pun tak apa. Setidaknya gue memiliki teman untuk mencari obat hyrexin, karena sendiri terlalu menakutkan.
Lalu, pikiran gue melayang pada percakapan dengan Ray tadi. Pasti Ray mempunyai masalah besar, sampai ia tidak mampu menceritakan kekacauan yang ada di hatinya kepada siapapun. Termasuk gue. Atau mungkin dia merasa asing dengan gue, sampai ia tidak mau bercerita?
Tapi kan, gue sahabatnya. Dia juga sering menenangkan saat perasaan gue kacau. Gue bahkan tidak yakin, seorang Ray akan merasa asing pada orang lain.
Apa Ray belum bisa percaya sepenuhnya kepada gue?
Padahal gue tidak pernah membocorkan cerita seseorang yang curhat kepada gue. Dan sepertinya, gue tidak pernah menyebarkan aib seseorang. Mungkin semuanya butuh waktu. Atau dia kaget karena gue bertanya mengenai masalah pribadinya, sampai ia bingung mau cerita yang mana dulu?
Jujur, gue saja bingung dengan sikap gue yang terlalu tiba-tiba perhatian kepada Ray. Tapi kalau bukan gue yang memulai peduli kepada Ray, siapa lagi?
Seceria apapun sikap Ray, pasti dia juga membutuhkan teman untuk berkeluh kesah. Dan gue sangat siap menjadi teman ceritanya. Gue hanya ingin membalas kebaikan Ray dengan cara itu. Karena hanya itu yang dapat gue lakukan.
Pikiran gue malam ini terlalu bercabang pada banyak masalah. Kini lagi-lagi kondisi Gabriel muncul di pikiran gue. Efek parah apa yang akan ia terima akibat kejadian tadi sore yang merupakan keegoisan gue?
Pasti dia sekarang sedang berusaha mati-matian menahan rasa sakit yang ada di tubuhnya.
Ini semua salah gue. Andai saja gue tidak berpikiran untuk membantu Mbok Yu, pasti tidak akan seperti ini. Kalau saja gue tidak mengusulkan itu, pasti sekarang gue dan teman-teman sedang bahagia menikmati hidupnya, atau sedang fokus memikirkan masa depan.
Tanpa terasa, air mata gue mengalir deras.
Karena gue yang memulai, maka gue juga yang harus mengakhiri. Cara mengakhiri ini hanya dengan mencari obat hyrexin. Itu harus dilakukan. Gue yakin, pasti salah satu dari Ray, Kendra, Adara dan Zanna ada yang setuju dengan pendapat gue. Semoga.
Gue menghapus air mata yang berada di pipi. Setelah itu, memejamkan mata, berharap hari esok adalah hari baik bagiku.
***
Pagi-pagi sekali gue berjalan menuju rumah Zanna, gue akan mengajaknya menuju rumah Kendra untuk membicarakan ide gila gue.
Gue memilih rumah Kendra karena Kendra hanya tinggal sendiri. Ini adalah hal serius. Jadi harus hanya ada kita. Orang lain tidak boleh mendengar.
Walaupun gue sekarang juga sendiri di rumah, bagaimana cara untuk mengumpulkan mereka? Telepon rumah sedang rusak. Sedangkan gue tidak memiliki ponsel genggam.
"Ada apa, Kak?"
"Gabriel masih tidur?" gue bertanya penuh harap.
Dia mengangguk.
"Ikut aku sebentar, bisa nggak? Ada yang mau aku omongin."
Lalu dia keluar dari rumahnya. "Bisa, Kak."
Aku mengangguk. "Tapi kita ke rumah Ray dan Adara dulu."
Zanna menurut.
Lalu gue dan Zanna berjalan cepat menuju rumah Ray. Semoga dia sudah bangun.
Ray keluar dari rumahnya dengan wajah khas bangun tidur. Aku mengulum senyum. "Ikut gue sebentar, Ray. Ada yang mau gue omongin," ucap gue serius.
"Ya udah, gue cuci muka...."
Gue langsung menahan tangannya. "Nggak perlu. Ayo!"
Lalu gue menarik tangannya, diikuti Zanna yang gue sangat yakin dia sangat kebingungan akan sikap gue.
Dia melepas tarikan tangan gue. "Kita mau ke mana?"
"Ke rumah Adara. Udah, ayo jalan!" lanjut gue.
Sebenarnya gue juga merasa kasihan dengan Ray yang baru bangun tidur, bahkan dia sekarang sedang mengucek-ngucek matanya. Tapi tidak ada waktu lagi. Lebih cepat lebih baik.
"Kenapa Mey, tumben banget pagi-pagi ke sini, ramean lagi."
"Ikut gue yuk, ke rumah Kendra."
"Ngapain? Kendra kenapa?"
Gue menghela napas. "Ada yang mau gue omongin. Dan nggak ada sangkut pautnya sama kondisi Kendra."
Dia mengangguk. "Oke."
Lalu kami berempat berjalan menuju rumah Kendra.
"Kendra udah tahu kita mau ke sana?" Ray bertanya.
Gue menggeleng.
"Kak Meysha, sebenarnya ada apa, sih?"
"Ada yang mau gue omongin sama kalian, penting. Dan tempatnya di rumah Kendra."
"Kenapa harus di rumah Kendra?" tanya Adara.
"Karena dia tinggal sendiri. Gue benar-benar butuh tempat yang sepi untuk membicarakan ini sama kalian."
Sesampainya di rumah Kendra, gue mengetuk pintu rumahnya.
Pintu terbuka dan menunjukan wajah Kendra yang gue yakin, dia juga baru bangun tidur. "Kenapa nih beramai-rami ke sini?"
"Gue pengen ngomong penting di rumah lo. Bisa ya?"
Kendra menaikan kedua alisnya, sepertinya dia mengerti. "Ya udah, masuk."
Kami semua masuk.
Dan Kendra kembali menutup pintu rumahnya.
"Ada apa, Mey?" Ray yang membuka pembicaraan.
Gue sangat ragu dan takut untuk mengatakan ini. Tapi mau bagaimana lagi, kami sudah terlanjur mengumpul. "Gue merasa bersalah atas apa yang menimpa Gabriel. Dan gue butuh kalian untuk membantu gue menebus dosa."
"Mey, ini nggak sepenuhnya salah lo, kok," ujar Adara.
"Tapi rasa bersalah akan terus menghantui gue, kalau gue tidak bertindak, Ra."
"Memangnya bantuan apa yang lo mau dari kami?" Kendra bertanya.
"Gue tahu ini gila. Sangat gila. Tapi kalian harus bantu gue, demi Gabriel."
Gue menatap mereka semua satu persatu. Sepertinya mereka semua sudah menangkap hal apa yang ingin gue katakan. Gue sangat butuh mereka untuk membantu menebus kesalahan. Cuma mereka orang yang gue punya, cuma mereka yang bisa gue andalkan, cuma mereka yang bisa gue percaya.
"Jangan bilang hal gila itu...."
Gue memotong perkataan Ray, "Iya. Bantuin gue cari obat hyrexin di dalam hutan. Bantu gue cari obat hyrexin untuk menyembuhkan Gabriel. Gue mohon."
Lalu mereka berempat menatap gue tidak percaya. Ini memang gila.
***