[Meysha Fradella]
"Lo yakin, Mey?" tanya Kendra penuh dengan nada keraguan.
Gue mengangguk yakin, sangat yakin. "Cuma itu satu-satunya cara supaya gue bisa menebus dosa kepada Gabriel."
"Tapi ini semua bukan salah Kak Meysha, kok."
"Tapi atas alasan apa pun, gue orang yang paling tepat untuk disalahkan atas semua kekacauan yang terjadi sekarang. Gue mohon, bantu gue."
"Nggak Mey, gue nggak mau melakukan hal yang jauh lebih beresiko lagi."
Apa yang dikatakan Ray memang benar. Tapi ini satu-satunya cara supaya Gabriel bisa sembuh. Hanya ini cara untuk menghilangkan rasa bersalah yang selalu bersemayam di hati gue. "Gue butuh kalian. Cuma kalian tempat gue minta tolong. Cuma kalian orang yang bisa gue percaya. Gue nggak mungkin pergi ke hutan sendirian, gue takut." Gue meneteskan air mata. "Keselamatan Gabriel bergantung di tangan kita. Cuma kita harapan dia supaya bisa seperti semula."
"Tapi ini terlalu beresiko, Mey," ujar Kendra.
"Gue ikut sama lo, Mey." Gue langsung menoleh kepada sumber suara yang berasal dari Adara. Gue menatapnya dengan penuh harapan sekaligus perasaan tidak percaya.
Gue tersenyum. "Terima kasih, Ra."
"Are you sure babe?" Kendra bertanya memastikan.
Adara mengangguk. "Gue ingin membalas kebaikan Gabriel. Dia selalu ada buat gue saat gue terjatuh. Dan gue juga harus melakukan hal yang sama ke dia."
"Tapi Ra, ini terlalu berbahaya...."
"Kalau para laki-laki nggak setuju, biar gue sama Meysha aja yang cari obat itu. Kalian nggak pernah bisa mengerti perasaan perempuan seperti apa."
Gue memeluk Adara dari samping, penuh rasa bahagia.
"Aku setuju kok sama apa yang Kak Meysha dan Kak Dara akan lakukan. Aku boleh ikut?"
Gue tersenyum lebar. "Semakin banyak semakin baik."
"Tapi kalian nggak bisa pergi begitu aja tanpa sedikit pun petunjuk," ujar Ray.
"Kalau gitu, kita cari petunjuknya sama-sama," ucap gue yakin.
"Gue ikut. Gue nggak bisa biarin Adara pergi sendiri. Gue harus temani dia."
Cinta kalian memang tulus.
Gue melihat Adara dan Kendra saling tatap dengan senyuman manis. Andai gue juga memiliki seseorang seperti Kendra yang mencintai Adara dengan tulus.
"Berarti cuma lo, Ray, yang nggak setuju dengan saran gue?" gue bertanya dengan harapan besar kalau Ray akan berubah pikiran.
Dia berdiri dari duduknya. "Gue nggak mau ikut kalian, jika kalian mencari obat itu tanpa petunjuk sama sekali. Anggap saja gue egois. Gue cuma tidak mau menerima resiko buruk atas tindakan gegabah kalian."
Setelah itu, gue melihat Ray melangkah keluar dari rumah Kendra. Gue menunduk lesu. Apa yang dikatakan Ray sangat benar. Bagaimana kalau gagal? Bagaimana jika tindakan ini berefek lebih buruk lagi kepada kita semua?
Gue ikut berdiri. Mengejar langkah Ray. "Ray!" gue berteriak.
Dia tetap melangkah dengan tempo cepat.
Gue tetap mengejarnya,dengan harapan bisa mengubah keputusannya. "Bantu gue, Ray!"
Gue menahan lengannya saat jarak kami sudah cukup dekat. "Gue mohon, ngertiin perasaan gue."
Gue rasa, jika kami pergi tanpa Ray, akan ada yang kurang. Tidak ada penyebar energi positif di antara kami. Tidak ada yang membuat kami kesal dengan perkataannya yang menyebalkan. "Bantu gue ya, Ray?"
Dia dengan susah payah menggeleng. "Maaf, gue nggak bisa. Dan gue juga nggak ada hak untuk menghentikan rencana kalian. Gue memikirkan hal terburuk dari yang kita lakukan. Jika kita melakukannya, lo bisa menjamin bahwa ini akan berhasil? Ada yang bisa menjamin bahwa Gabriel akan bertahan sampai kalian tiba di sini dengan membawa obat hyrexin? Atau kalian yakin akan menemukannya? Itu cuma kabar yang kita nggak ketahui kebenarannya."
Gue menatap matanya tak percaya. "Ray, lo sering bilang ke gue, ke kita. Kita harus yakin atas suatu hal, bahkan kepada hal yang paling tidak mungkin untuk terjadi. Katanya, lo percaya akan keajaiban? Apakah keajaiban akan datang begitu saja tanpa kita jemput?"
"Ini udah beda konteksnya, Mey. Gue percaya keajaiban akan datang jika Tuhan menghendaki tanpa kita jemput sekali pun. Dan gue rasa, ide lo itu gila. Gue nggak mau mencari sesuatu yang wujudnya seperti apa aja kita nggak tahu, apalagi kita mencari itu tanpa petunjuk sedikit pun. Terlalu berbahaya."
"Kita cari petunjuknya sama-sama, Ray! Semuanya akan terasa lebih ringan jika kita tanggung bersama."
"Siapa warga Desa Tiwa yang tahu mengenai petunjuk itu? Kalaupun ada, lo bisa pastikan apa yang ia katakan benar? Bagaimana kalau yang ia katakan hal bohong dan malah menyesatkan kita?"
Gue menunduk. Argumen Ray terlalu kuat untuk disanggah. Begitupun juga dengan tekad gue untuk tetap mencari obat hyrexin. Sekuat apa pun argumen yang Ray berikan, tidak akan pernah bisa menggoyahkan tekad gue. "Ya sudah, jika lo tidak mau membantu gue."
Setelah itu, gue berbalik melangkah menuju rumah Kendra.
"Mey!" Ray memanggil membuat gue dengan ragu menoleh.
"Good luck!" dia mengucapkan itu sambil tersenyum sempurna.
Gue membalas tersenyum dengan paksa. Setelah itu melanjutkan langkah menuju rumah Kendra.
Gue berpapasan dengan Zanna di ambang pintu rumah Kendra. Ia tersenyum. "Aku pulang dulu ya, Kak Mey. Pasti Kak Gabriel udah bangun. Aku setuju kok sama usulan Kak Mey."
Gue membalas senyum dan mengangguk. "Terima kasih, Zan. Jaga Gabriel, ya!"
Dia tersenyum dan melanjutkan langkahnya yang tadi sempat tertunda.
Saat gue ingin melanjutkan langkah, gue melihat raut wajah Adara yang tengah tertekuk dan raut wajah Kendra yang kebingungan setengah mati.
"Ada apa ini?" tanya gue tentang raut wajah mereka yang berubah.
Dua menit, tidak ada jawaban. Gue menatap Adara, dia bangkit dari duduknya dan menarik tangan gue. "Kita pergi aja, Mey!"
Mau tak mau, gue menurut, menoleh sebentar, menatap Kendra. Dia hanya mengangguk seakan memaklumi sikap Adara yang tiba-tiba saja menarik gue untuk pergi dari rumahnya.
Adara melepas genggaman tangannya pada lengan gue saat di pinggir jalan. "Gue kesel banget, Mey. Masa Kendra tiba-tiba berubah pikiran."
"Berubah pikiran gimana?" tanya gue bingung.
"Dia nggak jadi menemani gue, menemani kita mencari obat hyrexin. Pasti karena perkataan Ray. Ih, kesel banget!"
Gue mengelus pundaknya. "Pelan-pelan, Ra, gue yakin dengan perlahan, kita bisa meyakinkan Kendra dan Ray akan keputusan kita. Sekalipun mereka tetap nggak mau ikut, apa lo mau temani gue?"
Dia mengangguk. "Tanpa atau dengan Kendra, gue tetap mau menjalankan ide lo."
Gue memeluk Adara. "Terima kasih banyak, Ra."
Dia membalas pelukan gue. "Nggak perlu bilang terima kasih, Mey. Gue akan melakukan apa pun untuk Gabriel. Seperti apa yang dilakukan Gabriel ke gue dulu."
Gue mengangguk mengerti. "Ra, menurut lo siapa warga Desa Tiwa yang bisa kita tanyakan petunjuk tentang obat hyrexin?"
Dia berpikir sebentar. "Mbok Yu, Bu Wina?"
"Yang mana yang akan kita tanyakan lebih dulu?"
"Bu Wina? Kita juga kan, udah lama nggak ketemu sama Bu Wina semenjak lulus."
"Bulan lalu gue udah ketemu sama Bu Wina untuk meminjam buku. Berarti cuma lo yang nggak ketemu sama Bu Wina semenjak kita lulus," kata gue.
"Iya deh, iya."
Gue terkekeh dan melangkah menuju rumah Bu Wina, yang berada di dekat gerbang Desa Tiwa.
"Lo yakin Bu Wina tahu sesuatu, Mey?" Adara bertanya.
Gue mengernyitkan alis bingung. "Kan, lo yang usul."
"Kok gue tiba-tiba nggak yakin ya, Mey."
"Kita coba aja. Kita nggak pernah tahu kalau belum mencoba."
Dia mengangguk.
Sesampainya di depan rumah Bu Wina, gue mengetuk pintu rumahnya pelan. "Permisi, Bu Wina!"
Kini Adara yang mengetuk pintu. "Permisi, Bu Wina!"
Tak lama, pintu terbuka menampakkan wajah yang selalu terlihat ramah dan menenangkan.
Gue tersenyum, mencium tangan Bu Wina. "Selamat pagi, Bu."
Disusul Adara. "Selamat pagi, Bu. Masih ingat saya kan, Bu?"
Bu Wina terkekeh. "Ibu nggak mungkin lupa sama kalian, dong. Silakan masuk."
Gue dan Adara tersenyum sopan dan menurut masuk ke rumah Bu Wina. Di atas meja ruang tamu Bu Wina terdapat secangkir teh yang isinya tinggal setengah. Ada yang bertamu sebelum kami, kah? Atau Bu Wina iseng minum teh pagi-pagi? Opsi kedua lebih masuk akal.
"Duduk, kalian mau minum apa?"
Gue dan Adara kompak menggeleng. "Tidak usah, Bu."
Bu Wina tersenyum. "Sebentar ya."
Tak lama Bu Wina kembali dengan nampan berisi dua cangkir teh panas. Ia meletakkan itu di meja. "Diminum dulu, silahkan."
Kami tetap disuguhkan minum, walau kami sudah menolak. Gue dan Adara pun menyeruput teh itu sebagai ungkapan terima kasih atas suguhan Bu Wina.
"Ada apa kalian pagi-pagi gini bertamu?"
Gue baru ingat hal itu. Ini masih pagi dan bertamu ke rumah Bu Wina. Pasti sangat menganggu. "Aduh, maaf. Jadi ganggu ya, Bu?"
"Ganggu sih nggak. Tapi Ibu heran aja. Ada apa?"
"Ibu udah tahu kalau Gabriel terkena penyakit hyrexin?" Adara bertanya hati-hati.
Bu Wina mengangkat kedua alisnya. "Jadi berita itu benar? Ibu kira cuma gosip saja. Maaf Ibu belum bisa jenguk Gabriel."
Gue tersenyum. "Bukan itu masalah pentingnya, Bu."
"Lalu?"
"Aku dan Adara mau meyakinkan Ray dan Kendra untuk mencari obat hyrexin yang berada di dalam hutan. Apa Ibu tahu sesuatu tentang itu?"
Bu Wina terlihat sangat terkejut. "Kalian mau mencari obat hyrexin?"
Gue dan Adara mengangguk yakin.
"Itu terlalu beresiko."
"Tidak jika Ibu tahu sesuatu tentang letak obat hyrexin dan memberi tahunya kepada kami," ujar Adara.
"Ibu tidak tahu apa-apa mengenai itu."
"Oh ayolah, Bu. Bantu kami," gue memohon.
"Memangnya alasan apa yang membuat kalian yakin kalau Ibu tahu sesuatu tentang obat hyrexin?"
Gue dan Adara diam sejenak. Memikirkan jawaban yang masuk akal. Dan, gue menemukannya. "Ibu pernah memberi aku buku tentang bahan-bahan ramuan untuk meredakan penyakit hyrexin. Dengan itu, Ibu pasti banyak tahu sesuatu tentang obat hyrexin." Itu alasan yang paling masuk akal, setidaknya untuk sekarang.
Adara mengangguk kuat-kuat. "Bantu kami, Bu."
"Sebenarnya, berpuluh-puluh tahun yang lalu, sempat ramai tentang ramalan yang dicetuskan oleh pendiri Desa Tiwa. Ramalan ini selalu dibicarakan dari mulut ke mulut. Sampai akhirnya, berhenti di generasi kalian."
Gue dan Adara saling tatap tak mengerti. "Ramalan apa, Bu?"
"Tentang penyakit hyrexin dan pahlawan yang akan menghentikan penyakit itu."
"Maksudnya?" tanya gue penasaran.
"Jadi, zaman dahulu pendiri Desa Tiwa sudah merasakan bahwa akan terjadi suatu titik balik, titik kejayaan yang akan di alami oleh Desa Tiwa. Tapi sebelum itu, ada masalah besar, berupa penyakit atau semacamnya untuk melahirkan pahlawan yang akan membawa Desa Tiwa menjadi sebuah Desa yang maju."
"Lalu?"
"Tapi sebuah desa yang maju bukanlah suatu kepastian. Pahlawan yang lahir dari masalah ini, juga bisa mendatangkan malapetaka yang jauh lebih besar bagi Desa Tiwa. Ibu tahu, karena ada lagu yang biasa dinyanyikan oleh anak kecil. Dan harus berhenti di generasi kalian. Entahlah, ramalannya menjelaskan seperti itu."
"Lagu seperti apa?" Adara bertanya mewakili rasa penasaran yang ada di benak gue.
***