CHAPTER XXI | Ramalan

1632 Kata
[Meysha Fradella] "Lahirlah lima kesatria Kesatria tanpa pedang Namun bisa menghalau petaka Mereka bertarung dengan takdir Demi kejayaan Desa Tiwa Bawalah mereka kepada kemenangan yang hakiki." Gue dan Adara terdiam mendengar Bu Wina menyanyikan lagu itu. "Seperti itu lagunya, Ibu dulu sangat senang menyanyikan lagu itu." "Lalu, mengapa kami tidak boleh mendengar lagu itu? Apa tidak masalah jika Ibu menyanyikan lagu itu kepada kami sekarang?" tanya Adara. "Karena kalian lahir saat kekacauan sudah banyak berdatangan ke Desa Tiwa. Di saat itu pula, senandung lagu tersebut harus dihentikan. Ramalan yang mengatakan seperti itu. Kalian jangan khawatir, Ibu tidak akan kenapa-napa karena sudah menyanyikan lagu itu di depan kalian." "Apa soal penyakit hyrexin juga sudah ada dalam ramalan itu?" gue bertanya. Bu Wina mengangguk. "Ramalan itu benar-benar terjadi. Bahkan hampir semuanya." Rasa penasaran kembali menghantui benak gue. "Kalau boleh tahu, apa saja ramalannya, Bu?" "Sayangnya kalian tidak boleh tahu dari Ibu." "Mengapa?" tanya gue dan Adara bersamaan. "Ibu tidak punya hak untuk memberitahu ramalan. Lagi pula, jika kami yang mengetahui ramalan memberi tahu kepada generasi yang dilarang untuk tahu, maka malapetaka akan datang melanda Desa Tiwa." Baiklah kalau begitu. "Ibu bisa bantu kami? Untuk mencari obat hyrexin?" Gue sudah tidak mau bertele-tele. "Sebenarnya Ibu ingin membantu kalian, tapi Ibu tidak bisa. Karena Ibu tidak punya hak untuk membeberkan ramalan yang sudah disimpan sebaik mungkin." Hak, hak, dan hak lagi. Ini membingungkan sekali. Adara berdecak kesal. "Lalu siapa orang yang memiliki izin itu?" "Mbok Yu. Dia orang yang digariskan takdir untuk memberi tahu ramalan kepada orang yang ia anggap amanah. Datangi saja, dan berharap semoga Mbok Yu berbaik hati kepada kalian." "Baik Bu, kami akan mengunjungi Mbok Yu," pasrah Adara. Bu Wina tersenyum. "Sebentar, Ibu ingin memberi sesuatu ke kalian. Ini penting sekali. Tunggu!" Setelah itu Bu Wina beranjak dari duduknya, melangkah menuju kamar. Ia keluar dari sana dengan segulung kertas kuning di tangan kanannya. "Jika Mbok Yu adalah seorang yang digariskan takdir untuk memberi tahu ramalan pada orang yang amanah. Maka Ibu adalah seorang yang digariskan takdir untuk memberi suatu petunjuk kepada orang yang Ibu sayang." Gue dan Adara saling tatap bingung. Bu Wina terkekeh, ia meletakkan gulungan kertas itu di atas meja. "Pecahkan teka-teki misteri di kertas ini, bersama teka-teki misteri yang dipegang temanmu." "Teman? Siapa?" bingung gue. Bu Wina tersenyum. "Temui lah Mbok Yu. Dan tunjukkan gulungan kertas itu padanya." Gue mengambil gulungan kertas itu dan membukanya. Namun kosong, tidak ada apa-apa. "Teka-teki apa, Bu? Ini kosong." "Sudah Ibu bilang, temui Mbok Yu, tunjukan gulungan kertas itu, jika kalian beruntung, kalian dapat membaca tulisan di kertas itu. Setelah itu, pecahkan teka-tekinya bersama gulungan kertas yang sudah dimiliki temanmu." Perkataan Bu Wina sangat memusingkan kepala. Gue sama sekali tidak mengerti dengan maksud ucapan Bu Wina. "Kalian tidak perlu memikirkan maksud ucapan Ibu. Jika kalian beruntung, kalian akan mengerti dengan sendirinya. Temui Mbok Yu." Gue dan Adara mengangguk. "Terima kasih Bu, atas hal yang sudah bikin kepala aku migrain," ucap Adara sama sekali tidak sopan. Gue menyenggol lengannya. Ia hanya terkekeh canggung. Bu Wina tersenyum, "Nanti kalian akan mengerti...." "Jika kalian beruntung," tambah gue dan Adara kompak. Kami bertiga terkekeh. "Maaf Bu, atas ketidak sopanan kami," gue langsung meminta maaf, takut berdosa. "Ibu bisa maklumi. Hati-hati dan jaga kertas itu. Oke?" Gue dan Adara mengangguk, lalu mencium tangan Bu Wina sopan. Setelah itu, kami berjalan menuju halaman depan rumah Bu Wina. "Permisi, Bu," ucap gue dan Adara sambil melangkah meninggalkan rumah Bu Wina menuju rumah Mbok Yu. "Mey, gue sama sekali nggak ngerti, bahkan nggak percaya dengan apa yang Bu Wina jelaskan," keluh Adara. "Iya Ra, ini semua terlalu rumit." "Maksud gulungan kertas, keberuntungan, dan Mbok Yu juga apa? Pusing banget gue jadinya!" Gue terkekeh. "Sudahlah, kita ke rumah Mbok Yu aja." "Kan emang kita mau ke sana." "Iya, Adara. Udah dong jangan ngeluh aja." Dia terkekeh. "Mey, tahu nggak sih?" "Tahu apa?" "Gue tuh nggak pernah sekali pun membayangkan kalau gue akan mempunyai sahabat seperti lo, seperti kalian dan mempunyai pacar seperti Kendra," dia tersenyum di akhir kalimat. Adara hanya bersikap seperti ini kepada gue, Ray, Gabriel dan sudah pasti Kendra. Yang mana, sikap seperti inilah sikap asli seorang Adara Rosalie. Setidaknya itu yang gue perhatikan sebelum masalah datang menimpa Adara. "Gue juga Ra. Awalnya circle pertemanan gue nggak banyak dan jarang banget langgeng. Tapi sama kalian bisa sampai selanggeng ini. Memang ya, masalah itu nggak selalu membawa hal buruk, tapi juga membawa hal baik seperti persahabatan kita ini." Dia mengangguk setuju. "Kalau misalnya masalah itu nggak ada, mungkin sekarang gue masih sendiri dan kebingungan mau ngapain setiap bosan." Kami berdua terkekeh. Sesampainya di depan rumah Mbok Yu, gue dan Adara bingung. Karena pintu rumah Mbok Yu terbuka dan di ruang tamu terlihat Ray dan Kendra yang sedang berbicara dengan Mbok Yu. Adara mengetuk pintu yang terbuka. Atensi di dalam ruang tamu langsung teralih kepada kami. Membuat gue sedikit canggung. "Permisi, Mbok Yu!" ucap gue dan Adara bersamaan. Mbok Yu tersenyum. "Silakan masuk." Gue dan Adara menurut, kami duduk lesehan di lantai beralaskan karpet. Gue duduk di sebelah Ray, sedangkan Adara di sebelah Kendra. Ada satu hal yang berhasil mengalihkan fokus gue. Tadi, saat atensi mereka teralih kepada gue dan Adara, wajah mereka berubah menjadi lebih semangat. Sebenarnya ada apa? Untuk apa Ray dan Kendra datang ke rumah Mbok Yu juga? Mbok Yu tersenyum sempurna. "Tepat seperti apa yang sudah Mbok katakan sebelumnya." Gue dan Adara saling tatap kebingungan. Setelah itu gue melihat wajah Ray yang memerah malu. Sebenarnya ada apa? "Maksudnya apa ya, Mbok?" tanya Adara. Bukannya menjawab, Mbok Yu malah balik bertanya. "Kalian mendapat gulungan kertas dari Bu Wina?" Gue dan Adara mengangguk ragu. Mbok Yu tahu dari mana? Apa mungkin sebelumnya Bu Wina telah bercerita kepada Mbok Yu? "Boleh Mbok lihat?" Dengan ragu, gue memberikan gulungan kertas itu kepada Mbok Yu. Dan gue semakin dibuat bingung ketika Mbok Yu terlihat sedang membaca gulungan kertas itu yang padahal sudah gue yakini sebelumnya, bahwa kertas itu kosong. Tidak ada satu huruf pun. "Mbok Yu bisa membacanya?" gue bertanya heran. Mbok Yu hanya tersenyum. "Kalian mau meminta petunjuk tentang obat hyrexin untuk Gabriel, kan?" Sebentar, ada yang rancu dari kalimat Mbok Yu. Kalian. Maksudnya, Ray dan Kendra juga termasuk? Katanya, mereka berdua... Sepertinya gue harus meluruskan sesuatu terlebih dahulu. "Ray, Ken. Kalian mau ikut membantu gue dan Adara mencari obat hyrexin juga?" Ray tersenyum, dia menatap gue. "Gue akan membantu kalian mencari petunjuk itu. Jika ketemu, gue akan ikut. Jika tidak, gue dengan sangat tega harus mengatakan tidak bisa menemani kalian." Gue terenyuh dan ikut tersenyum. "Terima kasih, Ray." "Ken, terima kasih," ujar Adara tersenyum. Gue melihat Kendra mengangguk dan tersenyum sambil mengacak rambut Adara penuh kasih sayang. "Aku akan bantu kamu sebisa aku, Ra." Senyum gue semakin lebar karena mendengar perkataan manis yang keluar dari mulut Kendra untuk Adara. "Apa Mbok bisa membantu kami?" tanya Ray tanpa basa-basi. "Apa kalian tidak ingin mendengar ramalan para pendiri Desa Tiwa terlebih dahulu?" Gue baru teringat sesuatu. Ramalan. Itu yang berhasil membuat kepala gue pusing tak karuan. "Kalau Mbok Yu mau bercerita, langsung ke poinnya aja ya, Mbok. Saya sudah pusing mendengar penjelasan dari Bu Wina," keluh Ray. Berarti Ray sudah lebih dulu menghampiri Bu Wina. Dan berarti, secangkir teh yang tinggal setengah itu punya Ray. Hati gue kembali terenyuh. Ternyata Ray tetaplah Ray. Dia tidak akan pernah berubah menjadi sosok lain. Dia tetap menjadi orang yang paling peduli, namun dengan caranya sendiri. Mbok Yu terkekeh. "Mbok akan menceritakan secara jelas dan lugas. Karena saat ini, ramalan itu sedang terjadi." Gue mengernyit bingung, namun tetap diam mendengarkan. "Desa Tiwa ini berdiri di tengah kekacauan yang melanda. Ada seorang leluhur yang meramalkan banyak hal buruk akan terjadi di Desa Tiwa beberapa puluh tahun ke depan. Dan ramalan itu ia tuliskan dalam sebuah buku. Bahkan Mbok sudah hapal seluruh isinya. Banyak hal yang sudah terjadi. Daun mematikan. Ikatan sahabat berniat baik namun berakhir buruk. Dan, beberapa orang yang berniat baik untuk menolong salah satu dari mereka." "Dua ramalan yang Mbok sebutkan, itu mengarah kepada kami, kan?" ujar gue. "Tepat sekali." "Apa kami yang disebutkan oleh ramalan itu?" Kendra bertanya memastikan. "Sepertinya memang kalian." "Bu Wina mengatakan lima pahlawan, apa salah satunya Zanna?" tanya Adara. Mbok Yu terdiam sebentar. "Mbok tidak tahu, tetapi sepertinya bukan. Karena jika Zanna ikut bersama kalian mencari obat hyrexin, siapa yang akan menjaga dan merawat Gabriel?" Apa yang dibilang Mbok Yu benar. "Lalu, satunya lagi siapa?" "Mungkin seseorang yang akan memberikan bantuan kepada kalian saat kalian sedang terdesak. Ini juga alasan mengapa Mbok bertanya kepada kalian tentang kronologi Gabriel menyentuh daun hyrexin. Itu karena Mbok ingin memastikan, apakah kalian yang digariskan oleh takdir ramalan itu? Dan ternyata memang kalian." "Mbok bisa membantu kami menemukan obat hyrexin?" gue bertanya penuh harap. "Itu memang sudah menjadi tugas Ibu dan Mbok Yu." Suara seorang perempuan mengintrupsi dari belakang. Gue menoleh dan menemukan Bu Wina tengah menutup pintu dan melangkah masuk mendekati Mbok Yu. Setelahnya, ia duduk di sebelah Mbok Yu. "Bu Wina?" ujar gue, Ray, Kendra dan Adara kompak. Bu Wina terkekeh. "Apa kalian sudah siap menjadi empat dari lima pahlawan yang telah digariskan takdir ramalan?" Dengan penuh keraguan, kami mengangguk. Demi Gabriel. Apa pun resikonya, akan gue hadapi. "Kalian mencari obat hyrexin demi Gabriel, kan?" tanya Bu Wina. Kami mengangguk. Mbok Yu menghela napas. "Mbok akan memberi tahu petunjuk pada kedua gulungan kertas ini. Kalian pecahkan. Jika kalian berhasil dan benar, berarti dugaan Mbok Yu dan Bu Wina sudah tepat, bahwa kalianlah orang yang digariskan oleh ramalan. Namun, jika kalian tidak berhasil, kalian harus bersumpah atas nama Desa Tiwa dan para leluhur, untuk tidak membocorkan masalah ramalan ini kepada siapa pun. Jika kalian melanggar, maka cepat atau lambat, malapetaka akan datang menghampiri kalian." Mendengar penjelasan Mbok Yu, membuat gue menelan ludah dengan susah payah. Ini akan menjadi hal yang serius sekali untuk gue hadapi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN