[Zanna Felysia Lovatach]
Aku terus-terusan memikirkan ide gila Kak Meysha di sepanjang perjalan menuju rumah. Sebenarnya aku sedikit ragu dengan ide itu, tapi benar apa yang dikatakan Kak Meysha, hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Kak Gabriel.
Aku membuka pintu rumah dan berjalan menuju kamar Kak Gabriel. Dengan pelan, aku membuka pintu kamar Kak Gabriel. Aku melihat Kak Gabriel masih terlelap tidur, tapi deru napas Kak Gabriel terdengar tidak beraturan. Kening Kak Gabriel juga berkeringat. Apa Kak Gabriel mimpi buruk?
Aku memutuskan untuk berjalan mendekati Kak Gabriel dan duduk di tepi kasurnya yang sempit. Aku menatap wajah Kak Gabriel dengan perasaan sesak. Kenapa harus Kak Gabriel?
Aku mengelap keringat di kening Kak Gabriel dengan lembut, tak ingin membuatnya terbangun. Aku sangat menyayangi Kak Gabriel. Aku belum siap untuk kehilangan Kak Gabriel. Aku tidak mau sendiri di sini. Sendiri terlalu menakutkan dan mengerikan bagiku.
Kak Gabriel menggeliat dan ia terbangun, membuat aku sedikit kecewa. Karena aku belum menyiapkan sarapan untuk Kak Gabriel. Harusnya aku tadi tidak menganggu tidur Kak Gabriel. Tapi tadi Kak Gabriel terlihat gelisah dalam tidurnya. Jadi, apakah yang aku lakukan sudah benar?
"Eh, kamu," ujar Kak Gabriel dengan suara khas bangun tidur.
Aku tersenyum. "Kak Gabriel mau makan apa? Biar aku masakin."
Dia duduk dari posisi tidurnya dengan susah payah. "Kakak belum lapar. Kakak mau ngobrol aja sama kamu."
"Ngobrol apa?" jawabku antusias.
"Apakah kamu mempunyai rencana tentang bagaimana hidupmu dalam tiga atau lima tahun ke depan?"
Firasatku mendadak jadi tidak enak. Mengapa Kak Gabriel bertanya seperti itu? Aku berpikir sebentar, menggali memori tentang hal tersebut. "Mungkin fokus mengejar cita-cita dan hal yang aku impikan."
"Kakak boleh tahu apa cita-cita dan mimpimu?"
"Aku punya cita-cita menjadi penulis. Aku ingin menulis banyak hal tentang Desa Tiwa, tentang kisahku dengan tokoh yang aku buat jauh lebih beruntung dari aku. Karena aku ingin dunia tahu, bahwa ada desa terpencil yang sedang terancam keberadaannya karena daun mematikan."
Aku melihat Kak Gabriel tersenyum sempurna. "Apa kamu sudah mulai menulis itu?"
Dengan ragu aku mengangguk. "Sekarang udah lumayan."
"Kamu tulis di mana?"
"Di buku. Saat aku lagi bosan, saat aku lagi jenuh dengan duniaku yang sesungguhnya."
"Kamu hebat. Apa kamu pernah berpikir untuk mengirim tulisan itu ke penerbit di kota?"
"Berpikiran seperti itu sih, sudah. Tapi untuk dikirim ke penerbit, naskah aku masih jauh dari kata rampung."
"Kakak yakin pasti di masa depan, kamu akan menjadi penulis besar. Dan dunia menjadi tahu tentang kehidupan di Desa Tiwa. Supaya pemerintah lebih memerhatikan kita."
Aku mengangguk. "Semoga ya, Kak. Terima kasih Kak, doanya. Kalau cita-cita Kak Gabriel apa?"
"Kakak ingin menjadi dokter. Kakak ingin ikut andil dalam memberantas penyakit hyrexin, setidaknya dengan mengobati pasien itu semampu Kakak."
Aku terharu. "Keren. Kenapa Kakak tidak menjadi apoteker saja? Supaya bisa meracik obat hyrexin sendiri."
"Kakak tidak berminat dibidang itu. Gak tahu kenapa, Kakak hanya tertarik kepada ilmu medis saja."
Aku mengangguk mengerti. "Semoga kita bisa menggapai cita-cita kita bersama ya?!"
Kak Gabriel mengangguk. "Kalau mimpi kamu?"
Aku menunduk. "Aku ingin berkumpul bersama Kak Gabriel dan Ayah Ibu, menjadi sebuah keluarga lengkap. Seperti dulu."
Raut wajah Kak Gabriel berubah, sepertinya aku salah bicara. "Kita punya mimpi yang sama, Zan."
"Apa hal itu mungkin untuk terjadi?" tanyaku lesu.
Kak Gabriel tersenyum tulus. "Kita hanya bisa berharap, semoga semesta menghendaki impian kita."
Aku mengangguk. "Kakak mau makan apa? Kakak harus makan."
"Apa aja, apa pun masakan kamu, pasti Kakak makan, kok."
Aku terkekeh. "Aku buatin bubur aja, ya?"
Kak Gabriel mengangguk patuh.
Aku teringat sesuatu. "Ada yang sakit lagi nggak, Kak?"
"Katanya kamu mau buatin bubur? Kakak udah lapar nih."
Aku mengerjap bingung. "Eh, iya Kak. Tunggu, ya."
Setelah itu, aku berjalan keluar dari kamar Kak Gabriel. Pasti Kak Gabriel menyembunyikan rasa sakit yang ia rasa. Sangat kentara sekali kalau tadi Kak Gabriel mengalihkan pembicaraan. Aku harus mencari tahu itu. Tapi nanti.
Dan aku juga harus bicara kepada Kak Gabriel soal ide gila Kak Meysha. Walaupun aku tahu, Kak Gabriel pasti melarang, karena itu terlalu berbahaya. Tapi Kak Gabriel harus tahu. Kan tidak lucu, kalau misalnya kami pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Tapi sebentar, kalau aku ikut pergi, siapa yang menjaga Kak Gabriel? Apa aku tidak jadi ikut saja, biar Kak Meysha, Kak Adara dan Kak Kendra yang mencari obat itu. Dan aku juga berharap semoga Kak Ray berubah pikiran untuk ikut andil dalam mencari obat hyrexin itu. Supaya pencarian obat hyrexin terasa lebih mudah jika dilakukan bersama.
Lalu, aku memulai membuat bubur untuk Kak Gabriel. Semoga rasanya sesuai ekspetasiku dan tidak mengecewakan Kak Gabriel. Aku menyicipi bubur yang aku buat, hanya satu suap. Setelahnya, aku tersenyum puas. Rasanya tidak mengerikan dan masih bisa di makan oleh orang sakit.
Aku berjalan santai menuju kamar Kak Gabriel. Membuka pintu kamarnya dan seperti biasa, duduk di tepi kasurnya. Kak Gabriel juga sepertinya dari tadi hanya duduk duduk saja.
Aku memberikan semangkok bubur kepada Kak Gabriel. "Eh aku suapin aja, ya?" aku bertanya iseng.
"Kakak bisa makan sendiri, kok," balasnya tepat seperti dugaanku, sambil mengambil mangkok bubur yang ada di tanganku.
Aku memerhatikan Kak Gabriel yang makan dengan pelan dan tenang.
Andai saja waktu dapat diputar, pasti aku akan lebih menikmati waktuku bersama Kak Gabriel, bersama Ayah dan Ibu. Menjadi sebuah keluarga lengkap nan utuh. Selama ini, aku terlalu mengabaikan sekitar dan aku menutupinya dengan sikapku yang ceria. Tiga tahun belakangan ini, aku terlalu fokus dengan cita-citaku sampai sering mengabaikan bagaimana perasaan Kak Gabriel. Aku bercanda ria dengan Kak Gabriel hanya untuk menghilangkan rasa jenuhku. Bukan karena perhatian.
"Kok melamun?"
Aku tersadar dan menatap tepat pada netra Kak Gabriel, lalu aku tersenyum lebar. "Enak nggak, Kak?"
Kak Gabriel mengangguk. "Masakan kamu nggak pernah mengecewakan, Zan."
Aku terkekeh. "Terima kasih Kak Gabriel."
Setelah itu, Kak Gabriel meletakkan mangkok bubur yang tadi dipegangnya ke atas nakas. Lalu aku melirik mangkok itu untuk memastikan bahwa buburnya habis atau tidak. Dan ternyata tidak habis, masih tersisa beberapa suap lagi.
Aku pura-pura merajuk. "Kok nggak habis?"
"Kenyang, dek."
Aku mengambil gelas yang ada di atas nakas dan memberikannya kepada Kak Gabriel. "Minum dulu. Harus habis."
Dia terkekeh dan mengikuti perintahku, yang otomatis membuatku tersenyum lebar. Aku menggenggam tangan Kak Gabriel. "Kakak harus jujur ya, sama aku. Sekarang sakit apa yang Kakak rasakan?"
Kak Gabriel diam.
Perasaanku semakin tidak enak. "Kakak kenapa?"
"Kakak udah nggak bisa jalan lagi."
Aku terdiam. Mencoba memproses maksud kata yang diucapkan Kak Gabriel. Berkali-kali menepis hal buruk yang sejak tadi berdatangan di kepala, namun tidak bisa. "Kakak lumpuh?"
Dia tersenyum getir.
Ya Tuhan. Aku sekuat mungkin mencoba untuk tidak mengeluarkan air mata. Namun gagal.
"Kakak nggak apa kok, dek...."
Aku menggeleng, racun daun hyrex sudah menyebar semakin ganas. Bagaimana jika lama-kelamaan tubuh Kak Gabriel lumpuh total? Bagaimana kalau Kak Gabriel... Aku menggeleng kuat-kuat. Pikiranku sudah berkelana terlalu jauh. Hal itu pasti tidak mungkin terjadi.
"Kamu jangan nangis, Zan. Dengan melihat kamu menangis, perasaan Kakak akan menjadi jauh lebih hancur dari sekarang."
Aku menghapus air mata di pipi. "Kakak mau mandi? Biar aku bantu."
Kak Gabriel mengangguk.
Setelah itu aku berdiri mengambil mangkok dan gelas yang berada di atas nakas dan berjalan keluar dari kamar Kak Gabriel.
Aku menutup pintu kamar mandi. Di sini aku menangis kuat tanpa suara. Aku takut. Apa perasaanku akan tetap kuat, apa aku mampu untuk terus berpura-pura tegar di depan Kak Gabriel, jika keadaan Kak Gabriel sangat jauh dari kata baik?
Mengetahui bahwa kaki Kak Gabriel lumpuh saja, sudah cukup membuat patah hatiku, sudah cukup untuk mengacaukan duniaku. Aku akan seperti apa jika tahu bahwa Kak Gabriel... Aku tidak sanggup untuk terus membayangkan hal itu.
Ibu, aku butuh Ibu sekarang. Aku rindu sama Ibu. Aku ingin Ibu memeluk aku sekarang, memberikan kekuatan. Ibu dan Ayah kenapa pergi? Pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas meninggalkanku dengan Kak Gabriel. Membiarkan hati kami sepi, membiarkan hari kami sunyi tanpa kalian.
Apa Ayah dan Ibu masih hidup? Apa kalian tidak pernah punya niat untuk mengunjungi kami?
Apa kalian sudah lupa dengan eksistensi kami di dunia?
Apa kami sudah tidak penting lagi untuk kalian?
Sungguh, aku sangat butuh kalian di sisiku. Aku kangen melihat wajah tenang Ibu. Aku rindu menatap wajah tegas Ayah. Bahkan, kata kangen dan rindu saja sudah tidak lagi cukup untuk mendefinisikan apa yang aku rasakan sekarang. Aku menggigit bibir sekuat mungkin, jangan sampai aku terisak dan Kak Gabriel mendengarnya. Aku tidak mau membuatnya khawatir.
Setelah beberapa menit, aku menghapus air mata. Mencuci muka, supaya Kak Gabriel tidak thau kalau aku habis menangis.
Setelahnya, aku mengisi air pada baskom dan mengambil handuk kecil untuk Kak Gabriel. Aku keluar dari kamar mandi dengan senyuman. Percayalah, berpura-pura untuk selalu terlihat tidak apa-apa itu menyakitkan.
Aku memasuki kamar Kak Gabriel. "Sini Kak, aku bantu."
Kak Gabriel menurut dan perlahan membuka bajunya. Aku terkejut karena melihat ruam merah yang semakin parah di punggungnya.
"Masih sakit, Kak?"
"Kadang-kadang."
Bohong.
Dengan perlahan, aku membasuh punggungnya dengan handuk kecil yang sudah aku celupkan ke baskom yang berisi air. Berpindah ke bagian perut dan lutut sampai kakinya.
Setelah selesai, aku mengambil handuk yang tergantung di balik pintu. Kak Gabriel meletakkannya di sana. Sama sepertiku.
Aku juga mengambil kaos untuk Kak Gabriel kenakan. Aku membantu mengeringkan tubuhnya yang tidak terlalu basah. Setelah itu, membantu Kak Gabriel mengenakan kaos yang sudah aku siapkan tadi.
Aku kembali duduk di tepi kasur, aku harus membicarakan ide gila Kak Meysha kepada Kak Gabriel. Tidak peduli bagaimana pun respon yang ditunjukan Kak Gabriel.
"Kak."
"Iya?"
"Teman-teman Kakak mau mencari obat hyrexin demi Kakak," ujar ku to the point.
Alis Kak Gabriel terlihat menyatu, aku harus menyiapkan hati untuk mendengar celotehan pedas Kak Gabriel.
"Untuk apa?"
Pertanyaan bodoh.
"Supaya Kak Gabriel sembuh. Mereka peduli sama Kakak."
"Terlalu berbahaya, Zan."
"Zanna tahu, tapi apa salahnya dicoba, kan?"
Kak Gabriel menggeleng tegas. "Mereka tidak perlu melakukan itu untuk Kakak."
"Tapi mereka mau. Oh, ayolah Kak, mereka semua sayang sama Kakak. Mereka ingin Kakak sembuh. Dan cara supaya Kakak sembuh ya, hanya dengan obat hyrexin itu."
"Kakak tuh ingin menghabiskan waktu Kakak bersama orang yang Kakak sayang. Termasuk mereka."
What?
No, no.
"Kakak ngomong apa sih? Kalau Kakak sembuh juga kan, Kakak bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama aku, bersama mereka. Kakak juga bisa menggapai cita-cita Kakak."
"Tapi apa mereka akan senekat itu? Pergi ke hutan mencari obat hyrexin yang bentuknya seperti apa aja, kita nggak tahu. Letak persisnya juga kita nggak tahu. Mereka nggak harus melakukan itu. Kakak cuma ingin bersama mereka sampai detik terakhir Kakak hidup di dunia."
Perasaanku terasa sangat getir setelah mendengar perkataan Kak Gabriel, terutama saat mendengar ucapan Kak Gabriel di akhir kalimat. "Mereka sedang mencari petunjuk tentang letak obat itu, Kak."
"Apa mereka semua setuju?"
"Semua, kecuali Kak Ray."
"Jelas, Ray adalah orang yang paling logis yang pernah Kakak kenal. Dia pasti satu pemikiran sama Kakak."
"Kak, aku mau Kakak sembuh. Aku belum mau sendiri. Jadi, biarkan mereka mencari obat hyrexin demi Kakak, ya?"
***