CHAPTER XXIII | Kesempatan

1533 Kata
[Ray Dhanadyaksa] Setelah mendengar ucapan Mbok Yu, gue takut setengah mati. Bila gue bukan seorang yang ditakdirkan ramalan, maka gue harus bersumpah atas nama Desa Tiwa dan para leluhur untuk tidak menyebar luaskan ramalan yang gue ketahui, kalau gue menyebar luaskan secara sadar atau tidak sadar, gue akan mendapat petaka. Mbok Yu menyerahkan dua gulungan kertas kuning itu kepada gue dan Meysha. Gue menerima dengan ragu. Mengapa Mbok Yu memberikan kertas ini lagi? Padahal kan tadi, jelas-jelas di dalam kertas ini tidak ada tulisan atau huruf apa pun. "Buka, baca dan pecahkan." Gue menatap Mbok Yu penuh kebingungan. Setelah itu, gue melirik Meysha yang sama bingungnya dengan gue. "Maaf Mbok, bukannya kertas ini kosong?" Kendra memutuskan bertanya. Gue, Meysha dan Adara mengangguk kompak. Mbok Yu tersenyum. "Buka dan lihatlah." Gue menatap Bu Wina, ia hanya mengangguk dan tersenyum. Adara bergerak pelan untuk pindah ke samping Meysha, mungkin karena dia tidak bisa dengan leluasa melihat isi kertas ini, jika ia duduk di samping Kendra yang ada di sebelah gue. Perlahan, gue membuka gulungan kertas berwarna kuning ini. Dan, hei lihatlah! Di kertas ini sudah ada tulisan yang sedikit buram, namun masih bisa untuk dibaca dan dipahami. Gue menoleh ke kertas Meysha. Namun kertas Meysha masih kosong, sama seperti sebelumnya. Mengapa hanya kertas di tangan gue yang sudah berisi kalimat? "Kertas saya masih kosong, Mbok," bingung Meysha. "Itulah tugas kalian. Memecahkan maksud kalimat yang ada pada kertas Ray. Saat kalian berhasil menjawab dengan benar, kertas di tangan Meysha akan menunjukkan kalimat teka-teki mengenai petunjuk pertama letak obat hyrexin." Hening. Gue bahkan masih belum mengerti. Mengapa gue bisa terjebak dengan hal yang bisa tidak mungkin seperti ini? "Ray, silakan baca kertas kamu," ujar Bu Wina. Gue mengangguk, membacanya dengan suara. "Ketika kertas ini dibuka, berarti sudah ada beberapa remaja yang mempunyai hati tulus serta berani. Ketika kertas ini dibaca, berarti kekacauan besar sudah terjadi di desa tercinta. Silakan pecahkan teka-teki berikut untuk mendapatkan kesempatan. Saat kau sangat yakin bahwa kau bisa melakukan sesuatu, maka kegagalan yang akan menghampirimu." Kami berempat saling tatap. Mbok Yu mengangguk. "Silakan kalian pecahkan teka-teki itu." Kami terdiam. Gue berpikir, semua ini terlalu tidak masuk akal. "Mungkin kalian masih tidak percaya dengan hal yang terjadi sekarang. Tentang ramalan, garis takdir, teka-teki. Tetapi, percayalah, Ibu dan Mbok Yu sedang tidak mengarang cerita. Dengan adanya daun mematikan saja, itu sudah mustahil adanya, bukan? Ditambah dengan tulisan yang tiba-tiba muncul pada kertas kosong itu. Apa pun bisa terjadi di dunia, bahkan sesuatu yang tidak mungkin sekalipun." Sepertinya Bu Wina menyadari dan mengetahui letak kegelisahan kami. "Kalian tidak harus memecahkan teka-teki itu langsung di sini dan sekarang. Kalian butuh waktu untuk memproses dan mengerti apa yang sedang terjadi di Desa Tiwa. Sekarang, lebih baik kalian renungkan semua hal yang terjadi hari ini dan kemarin lusa. Dan tanyakan kepada diri kalian sendiri, apa kalian percaya dengan semua hal tersebut? Setelah itu, bertukar pikiranlah dengan sahabat kalian. Mbok akan tunggu jawaban atas teka-teki paling lambat besok. Juga jawaban pemahaman kalian mengenai hal yang terjadi sekarang." Gue mengangguk. "Kami akan mencoba." Tidak ada protes sama sekali dari teman-teman gue. Berarti mereka setuju akan jawaban gue. "Ya sudah, kami permisi," pamit Kendra. Kami berempat bangun dari posisi duduk, mengangguk kepada Mbok Yu dan Bu Wina. Lalu melangkah pelan keluar dari rumah Mbok Yu. "Kita mau bahas ini di mana?" gue bertanya saat kita sedang di jalan. "Rumah gue aja," Meysha yang menjawab. Kami bertiga mengangguk. Terus berjalan menuju rumah Meysha. Sesampainya di rumah Meysha, kami berempat langsung duduk di lantai beralaskan karpet, seperti biasa. Gue menghela napas. Baru setengah hari yang gue jalani dan ini terasa sangat melelahkan. "Kalian percaya dengan ramalan itu?" Kendra langsung bertanya. Hening. Meysha mengangkat bahu. "Mau gimana lagi, hal yang akhir-akhir ini terjadi di Desa Tiwa saja, rasanya tidak mungkin." "Tapi Mey, gue sendiri aja masih ragu dengan hal itu. Kita bukan lagi hidup di abad 15," sanggah Adara. "Gue setuju sama Adara. Tidak ada penjelasan logis tentang hal itu," gue menambahkan. Meysha terlihat lesu. "Tapi gue pengen bantu Gabriel. Hanya dengan cara ini, kita bisa mendapat petunjuk untuk membantu Gabriel." Jujur, gue cemburu dengan Gabriel. Walau gue tahu, gue sama sekali tidak punya hak untuk merasakan itu. Baru kemarin gue rasa memiliki harapan akan hati Meysha. Namun, sekarang hal itu langsung dipatahkan begitu saja. Sangat terlihat sekali, bahwa Meysha tidak ingin kehilangan Gabriel. Walaupun gue juga merasakan hal yang sama seperti Meysha. Lagian, tidak ada seseorang yang ingin sahabatnya pergi. Kecuali orang itu sudah kehilangan akal. Dan, gue masih memiliki akal. "Kalau lo gimana, Ken?" gue bertanya. Kendra menaikkan kedua alisnya. "Memang sangat tidak logis. Namun, semua hal bisa terjadi jika Tuhan sudah menghendaki. Bahkan, tanpa penjelasan yang dapat kita terima sekalipun." Gue mengangguk. Gue setuju dengan pendapat Kendra. "Gimana kalau kita pecahkan saja teka-teki itu? Apakah kita akan menemukan hal yang lebih tidak mungkin lagi, dari sekadar daun mematikan dan ramalan?" Gue terkekeh. Apa yang dibilang Kendra ada benarnya. "Gue lihat kertasnya dong, Ray!" pinta Adara. Gue memberinya. "Sesuatu yang kita yakin kita bisa melakukan itu, namun kita malah gagal. Apa ya?" ucap Adara lebih seperti monolog. Hening lagi. Gue berpikir. Namun tetap tidak berujung temu. Sepuluh menit kami terdiam. Meysha berdiri, mengalihkan seluruh atensi kami. "Gue ambil minum dulu ya, untuk kalian." Gue menghela napas kecewa. Gue kira Meysha sudah berhasil menemukan jawaban. "Gue kira lo tau jawabannya, Mey!" keluh Adara. Meysha hanya tersenyum tipis dan melangkah menuju belakang rumahnya. Gue melanjutkan berpikir. Apa sesuatu itu berhubungan dengan sikap, tingkah laku manusia? Atau berhubungan dengan sesuatu hal? Tempat? Meysha kembali dan meletakkan nampan di tengah-tengah kami. Nampan itu berisi secangkir teh manis yang mungkin hangat. "Menurut kalian, jawaban dari teka-teki itu, sesuatu yang merujuk kepada suatu perihal? Sikap, tingkah laku manusia? Atau malah suatu tempat?" gue meminta pendapat. Ekspresi Kendra, Adara dan Meysha bertambah serius. "Kita harus mempersempit kemungkinan jawaban itu," gue menambahkan. "Ya sudah, kita cari jawaban yang paling masuk akal aja, dari kemungkinan yang tadi lo sebutkan," usul Adara. Gue mengangguk setuju,"Pertama, suatu perihal. Hal apa yang kita yakin kita bisa, kita malah gagal?" Sepuluh menit lagi kami terdiam. "Harapan?" ujar Meysha tiba-tiba. "Maksudnya?" tanya Kendra. "Saat kita berharap akan suatu hal. Misal, berharap kepada manusia. Kita yakin seseorang itu akan membalas rasa kita, atau membalas kebaikan kita, namun kenyataannya nihil." "Coba buka kertasnya!" suruh Adara penuh semangat. Meysha langsung mengikuti ucapan Adara. Dengan perlahan dan penuh harapan, Meysha membuka gulungan kertasnya. Saat kertas sudah terbuka sempurna, kertas itu bercahaya sebentar. Setelah cahaya tersebut menghilang, hanya kosong yang terlihat. Ekspresi kami kembali lesu. "Mungkin hampir benar," ucap gue, yang siapa tahu bisa menyemangati mereka. "Hal kedua, suatu tempat. Apa, ya?" lanjut Kendra. Hening kembali menemani kami. Gue melihat Meysha dengan lesu menggulung kertas itu. "Suatu tempat yang kita yakin kita bisa sampai sana, namun gagal," gue bergumam. Suasana kembali senyap. Kami semua terlihat serius, terlihat seperti sedang berkelahi dengan pikiran sendiri. Terus berusaha untuk menemukan titik terang. "Pulau terlarang." Kami semua kompak menatap Adara dengan wajah bingung. "Misalnya, ada seseorang yang sangat yakin untuk datang ke suatu pulau yang berbahaya dengan peralatan lengkap. Namun gagal karena sesuatu 'berbahaya' yang ada di pulau itu, yang tidak bisa dihalau dengan peralatan lengkap yang sudah ia siapkan," Adara menjelaskan dengan penuh semangat. Masuk akal. "Coba Mey, buka lagi kertasnya!" gue meminta. Meysha mengangguk. Dengan perlahan, ia membuka gulungan kertas itu. Saat gulungan kertas itu terbuka sempurna, lagi-lagi muncul cahaya yang kali ini bersinar lebih terang dari sebelumnya. Tapi tetap kosong. Sepertinya gue mengerti, ketika kertas itu bercahaya, berarti jawaban yang kita sebutkan mendekati benar. "Gue mengerti polanya. Kertas itu bercahaya, ketika kita menjawab mendekati jawaban paling tepat. Karena yang saat kita menebak yang kedua kali, cahayanya jauh lebih terang. Berarti, gue yakin, sebentar lagi kita akan mengetahui jawabannya." Kendra, Adara dan Meysha mengangguk semangat. "Satu lagi, mengenai sikap dan pola pikir manusia." Meysha memberi jeda, ia menggulung kertas itu kembali. "Ketika kita berpikir, kita bisa melakukan sesuatu, tetapi gagal. Pola pikir yang paling mendasar dari jawaban berharap pada manusia dan berkunjung ke pulau terlarang." Hening kembali menyelimuti kami. Kendra menjentikkan jari. "Rasa congkak, jumawa dan percaya diri yang terlalu tinggi." Begitu mendengar jawaban Kendra, gue seperti merasa sesuatu memasuki pikiran gue yang membuat gue langsung mengangguk setuju. "Hal itu yang paling mendasar dari jawaban berharap pada manusia dan berkunjung ke pulau terlarang. Ketika rasa yakin sudah terlalu mendominasi pikiran manusia, maka rasa yakin akan berubah menjadi rasa congkak, jumawa dan tinggi hati. Sampai membuat kita berhasil melupakan kemungkinan terburuk dari apa yang kita lakukan, sehingga kita lalai dan berujung gagal." Gue menjelaskan dengan semangat menggebu. Kami semua tersenyum sempurna. Kini, atmosfer ruang tamu Meysha terasa lebih segar dari beberapa detik lalu yang terasa penuh sesak. Sekarang, tanpa disuruh, Meysha langsung membuka gulungan kertas kuning itu. Ketika gulungan kertas itu terbuka sempurna, keluarlah cahaya yang terangnya lima kali lipat lebih terang dari sebelumnya. Menerpa kami, yang otomatis cahayanya memenuhi seisi ruang tamu Meysha. Gue mengerjapkan mata, setelah tadi sempat terpejam karena cahaya menyilaukan yang berasal dari gulungan kertas kuning ketika terbuka sempurna. Gue melihat ekspresi Meysha yang terkejut disertai raut bahagia bercampur tak percaya. Dia menatap kami semua dengan senyuman yang mampu memberi desir hangat pada hati gue. "Kita berhasil menjawab teka-teki itu!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN