[Ray Dhanadyaksa]
Gue diam tertegun melihat binar yang keluar dari mata Meysha. Ia dua kali terlihat lebih cantik dari biasanya dengan binar mata indah itu. Gue tersenyum dan bergerak mendekat ke Meysha, begitu pun dengan Kendra dan Adara.
Dengan bersama dan penuh ketakjuban, kami melihat dengan perlahan namun pasti, keluarlah huruf demi huruf, terangkai menjadi kalimat dan tersusun sempurna menjadi paragraf yang utuh di permukaan kertas kuning itu. Lima belas detik yang sangat mengagumkan.
Meysha tersenyum sempurna, menatap kami. Dia membaca isi kertas itu dengan semangat. "Kalian telah berhasil membuktikan diri bahwa kalian layak. Ketika kalian berhasil membaca kertas ini, maka kalianlah orang yang digariskan takdir untuk memutus kekacauan atau kemungkinan buruknya, menambah kekacauan." Meysha memberi jeda, mungkin sedikit risau. "Mari kita buktikan hal apa yang akan kalian hadirkan. Petunjuk pertama, capailah sesuatu yang tinggi dan sulit terjangkau. Berada di daerah timur. Untuk mencapai ketinggian, kalian harus bersusah payah terlebih dahulu. Jika kalian berhasil, maka petunjuk kedua akan kembali hadir dalam kertas ini atau kertas satunya." Meysha menghela napas, menatap gue dan Kendra bergantian. "Kita sudah mendapat petunjuk pertama. Apa kalian yakin untuk ikut andil?"
Gue dan Kendra saling tatap dan mengangguk.
Gue rasa, gue perlu untuk membantu Meysha dan Adara mencari obat hyrexin. Gue tidak mungkin setega itu membiarkan Meysha menjelajah hutan hanya bersama Adara. Dalam hati, gue berjanji, bahwa gue akan selalu menjaga Meysha, sekalipun harus mengorbankan diri gue sendiri. Gue tidak akan pernah membiarkan Meysha sendirian menghadapi apa pun bahaya yang sudah siap menghadang di depannya. Setidaknya, gue bisa membuktikan bahwa gue sangat menyayangi Meysha dengan tindakan sederhana ini, tidak peduli dia menyadarinya atau tidak. Meysha harus tetap selamat, ketika gue berdiri di sampingnya. Karena gue yang siap dan sepenuh hati menjamin keselamatan Meysha.
"Tapi Gabriel harus tahu tentang ini. Kapan kita mau memberi tahu dia?" ujar Adara ada benarnya.
"Hari ini juga," jawab Meysha sangat yakin.
"Kita juga harus memberi tahu hal ini kepada Mbok Yu, kan?" ucap Kendra sambil menunjuk kertas yang berada di tangan Meysha.
Meysha mengangguk. "Kita jelaskan secara singkat dan jelas kepada Gabriel mengenai hal ini. Setelah itu, kita ke rumah Mbok Yu, siapa tahu Mbok Yu mengetahui sesuatu yang memudahkan kita untuk mencari petunjuk pertama. Jika semuanya sudah lengkap, kita bersiap-siap. Besok kita memulai petualangan ini."
"Besok?" gue, Kendra dan Adara berkata tidak percaya.
Meysha menaikkan sebelah alisnya. "Lebih cepat lebih baik. Kita nggak mau kan, membiarkan Gabriel merasakan sakit hyrexin lebih lama?"
"Lo melupakan satu hal, Mey."
Meysha menatap gue. Berpikir. "Apa?"
"Lo yakin, Gabriel akan setuju begitu saja dengan keputusan kita? Lo yakin, Gabriel tidak akan menolak hal yang ingin kita lakukan demi dia? Mungkin menurutnya, kita telah mengorbankan nyawa kita berempat demi dia. Yang padahal, kita melakukan ini demi solidaritas persahabatan. Demi untuk selalu tertawa dan bahagia tanpa beban bersama."
Meysha terdiam. Begitu juga dengan Adara dan Kendra.
"Satu-satunya cara adalah meyakinkan Gabriel. Meyakinkan bahwa, kita akan kembali dengan selamat dan membawa obat hyrexin ke Desa Tiwa, sekaligus membuktikan ramalan bahwa kitalah yang akan memutus kekacauan di Desa Tiwa," yakin Adara.
Meysha tersenyum tulus menatap Adara.
"Tapi, meyakinkan seorang Gabriel bukanlah hal yang mudah."
Adara memutar bola mata malas setelah mendengar ucapan Kendra. "Kenapa sih, kalian para laki-laki, selalu saja, memadamkan api semangat yang membara di dalam hati perempuan?"
Gue terkekeh. "Karena para laki-laki selalu berpikir memakai otak. Bukan hati."
Adara melotot tajam.
Meysha mengangkat bahu, sepertinya ia tidak menganggap serius ucapan gue. "Sejak kapan, hati bisa dipakai untuk berpikir?"
"Kalian melakukannya. Kalian selalu saja menomor dua kan kemungkinan terburuk, yang justru seharusnya kita pikirkan matang-matang cara mengatasinya."
"Memangnya salah, jika gue dan Meysha selalu berpikir hal baik?"
"Di lain waktu, itu salah."
"Ngeselin banget sih, lo, Ray!"
Kalau tidak ditahan oleh Meysha, hampir saja Adara menjitak kepala gue karena geram.
Kendra mengusap bahu Adara lembut dan tersenyum. "Maaf sayang."
Adara menahan senyumnya. Sepertinya rasa geram sudah sedikit berkurang dari dirinya.
"Jadi, Ray Dhanadyaksa dan Kendra Leander. Ada saran untuk membujuk Gabriel supaya ia setuju dan tidak menahan kita untuk mencari obat hyrexin?" Meysha bertanya dengan nada lembut yang dibuat-buat. Terdengar menggemaskan.
Gue berpikir. "Sepertinya kita jelaskan saja dengan lengkap tujuan utama kita mencari obat hyrexin."
Adara, Meysha, bahkan Kendra yang tadi satu pemikiran dengan gue menatap kesal tidak percaya. Gue hanya menyengir lebar. Kali ini, Adara benar-benar menjitak kepala gue. Tidak ada siapa pun dari mereka bertiga yang berniat menahan. Gue meringis pelan, sambil menyentuh bagian kepala yang tadi dijitak oleh Adara. Terkadang, kita memerlukan hiburan di tengah keadaan yang serius, bukan?
***
Di sinilah kami berada, di ruang tamu rumah Gabriel. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, pertama-tama kami akan mengunjungi Gabriel untuk memberi tahu, sekaligus meminta izin, supaya perjalanan kami lancar tanpa hambatan. Kami pergi untuk Gabriel. Maka, Gabriel harus tahu, supaya kami bisa pergi mencari obat hyrexin dengan rasa tenang dan sepenuhnya semangat, tanpa ada bayang-bayang cemas tentang Gabriel yang tahu kami tidak ada di dekatnya lagi dalam jangka waktu, yang entahlah, tidak ada yang tahu, cepat atau lama.
Tapi, tentu saja gue berharap, tidak ada halangan berarti untuk mendapatkan obat hyrexin. Supaya kami bisa kembali dengan cepat membawa kabar bahagia untuk Gabriel. Dan Gabriel sembuh, lalu kami berlima bisa berkumpul bersama lagi di bawah pohon rindang, beralaskan karpet Ibu gue, membicarakan hal absurd, atau malah membahas masa depan masing-masing dari kami. Jujur, gue rindu sekali dengan momen berkumpul tanpa beban dan penuh kehangatan itu.
"Aku sudah memberi tahu Kak Gabriel."
Gue terkejut, memandang Zanna sangat tidak yakin. "Lalu?"
"Reaksi Kak Gabriel seperti yang ada dalam benak kalian. Malah, Kak Gabriel marah sama aku. Tidak mau ditemui oleh siapa pun."
Gue melirik Meysha, raut semangatnya meredup, dia terlihat bersedih. "Padahal, kami sudah punya rencana untuk pergi besok."
"Besok? Kami? Kak Ray mau ikut andil? Soal petunjuk? Pasti ada banyak hal yang aku lewatkan. Boleh aku tahu?"
Meysha menganggu. "Ceritanya panjang." Ia menghela napas. Lalu mulai menceritakan semuanya secara lengkap dan lugas kepada Zanna, yang awalnya sama sekali tidak percaya. Gue, Kendra dan Adara membantu memberi pengertian kepada Zanna. Sampai akhirnya, mau tidak mau, ia harus percaya.
"Lima kesatria? Ramalan? Sulit untuk dipercaya," Zanna bergumam.
Kami berempat kecuali Zanna mengangkat bahu. Kalau masalah percaya atau tidak percaya, gue juga belum bisa yakin dengan sepenuhnya. Tapi semua hal aneh dan membingungkan yang terjadi di depan mata gue, membuat gue merasa sedikit yakin. Gue memasrahkan semua ini kepada waktu. Karena cuma waktu yang bisa mengungkap semuanya dengan tepat tanpa keliru.
"Argh...."
Kami semua terlonjak kaget mendengar suara ringisan yang sepertinya terdengar dari kamar Gabriel.
"Kak Gabriel," Zanna berucap sambil berdiri.
Kami semua berdiri dan mengikuti Zanna yang melangkah cepat menuju kamar Gabriel. Kami semua cemas dengan kondisi Gabriel.
"Argh...."
Lagi-lagi terdengar suara ringisan, yang kali ini terdengar lebih keras dan memilukan. Zanna langsung membuka pintu kamar Gabriel. Dan kami semua terkejut melihat keadaan di depan mata kami.
Gabriel terduduk di samping bawah tempat tidur, dengan tangan yang meremas seprai kasur, berusaha untuk bangkit. Gue dan Kendra dengan sigap langsung menghampiri Gabriel dan membantunya ke posisi semula, berada di atas tempat tidur.
"Lo kenapa bisa sampai jatuh sih, Riel?" tanya gue cemas.
"Kalau kalian ke sini hanya untuk menyampaikan hal gila kepada gue, lebih baik kalian pergi!"
Gue melotot mendengar Gabriel mengucapkan kalimat itu dengan nada datar dan ekspresi dingin.
"Riel, kami semua ingin lo sembuh. Kami ingin kita bisa berkumpul bersama, tertawa bahagia tanpa beban. Seperti dulu. Apa lo nggak ingin sembuh?"
Gue tersenyum mendengar ucapan Meysha barusan.
"Gue hanya butuh kalian. Gue tidak perlu obat itu."
"Tapi kami ingin lo sembuh, Riel. Satu-satunya cara supaya lo bisa sembuh hanya dengan menemukan obat hyrexin itu," ujar Kendra penuh pengertian.
Gabriel menggeleng tegas.
"Riel, gue ingin berguna di hidup lo, seperti lo berguna di hidup gue. Gue ingin membantu lo semampu gue, seperti lo membantu gue sekuat tenaga lo. Gue ingin menjadi orang yang berhasil menyelamatkan hidup lo, seperti lo berhasil menyelamatkan hidup gue, Riel," Adara terisak.
Gue menarik napas. "Riel, kami melakukan ini karena lo orang baik. Kalau lo bukan orang baik, pasti nggak ada yang mau melakukan ini. Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Karena lo selalu melakukan kebaikan, setidaknya untuk kami, kami akan dengan sangat siap membalasnya. Kami melakukan ini karena lo sangat berarti di hidup kami, karena lo sahabat terbaik yang pernah gue punya. Dan, tentu saja tidak ada seseorang yang ingin kehilangan sahabat terbaiknya, bukan?"
Meysha dan Adara yang berdiri berdampingan saling merangkul, bersedih. Kendra berdiri dari posisi duduknya, mempersilahkan Zanna untuk duduk di tempatnya.
Zanna mengelus pundak Gabriel pelan, penuh kasih sayang. "Kak, mereka melakukan ini karena mereka sayang sama Kakak. Mereka rela melakukan apa pun yang mereka mampu untuk menyembuhkan Kakak. Untuk mengembalikan kebahagian Kakak dan aku yang sudah direnggut paksa oleh daun hyrex. Jadi, izinkan mereka membantu Kakak, ya?"
"Gue mohon Riel, kalau kami pergi tanpa izin dari lo, kami akan selalu dihantui rasa bersalah, rasa cemas, atau semacamnya saat di perjalanan, dan tentu saja itu pasti akan menghambat," ujar Kendra.
Gue, Adara, Meysha dan Zanna mengangguk setuju.
"Tapi itu terlalu berbahaya." Gabriel masih saja membantah.
"Kami janji, kami akan baik-baik saja dan selamat sampai Desa Tiwa, asalkan lo juga berjanji untuk terus bertahan dan melawan rasa sakit itu, sampai kami tiba membawa obat hyrexin." Meysha tersenyum diakhir kalimat.
"Riel, kami melakukan ini karena lo sangat berarti bagi persahabatan kami."
"Permudah perjalanan kami ya, Riel?" gue menambahkan ucapan Adara.
Kami semua menatap penuh harap kepada Gabriel. Ia terdiam, terlihat sedang berpikir keras, terlihat tengah bergelut dengan dirinya sendiri dalam senyap. Setelah dua menit yang terasa sangat panjang dan menyesakkan, akhirnya Gabriel mengangguk lemah, menyetujui.
***