[Ray Dhanadyaksa]
"Kayaknya gue setelah berhasil menemukan obat hyrexin akan membuka rumah curhat, deh," ucap gue yakin.
Gabriel menaikkan sebelah alis. "Yang Ray Tegar itu?"
Gue menyengir dan mengangguk antusias.
"Ray, jangan mulai deh!" peringat Adara jengah.
Gue mengerutkan alis. "Kalau lo sama Kendra pasti mau kawin, ya?"
Kini, pasangan itu menatap gue dengan tatapan setajam pisau. Meysha, Gabriel dan Zanna menahan tawa.
"Jangan macem-macem ya lu, Ray!" kesal Kendra.
"Emang lu nggak mau kawin sama Adara?" Gue memancing lagi.
Kendra menatap Adara. "Ya maulah, tapi nggak secepat itu."
"Cie..." goda gue, Meysha, Gabriel dan Zanna bersamaan.
"Ih, kok kalian nyebelin banget, sih!" Sepertinya Adara benar-benar kesal saat ini.
Gue tertawa. "Nanti kalau kalian kawin, gue siap deh, jadi pagar ayunya."
Mereka semua terdiam.
"Lo kan cowok, Ray," ucap Meysha pelan.
"Terus?"
Mereka semua mencebik.
"Ya mana ada pagar ayu cowok, Kak Ray!" Zanna yang sedari tadi diam mendengarkan, ikut berbicara.
"Oh iya, kalau cowok apa dong?"
"Pagar listrik," ujar Kendra asal.
"Nggak keren, pagar maco aja gimana?"
Dengan kesal, Adara mengambil bantal dan melemparnya ke gue, yang mengenai muka gue telak. Gue senang sekali, hari ini, selepas Gabriel memberi izin gue, Meysha, Kendra dan Adara untuk mencari obat hyrexin, untuk pertama kalinya, kami kembali tertawa, walau tidak selepas dulu, tapi gue bahagia. Zanna juga masuk dalam obrolan. Bisa dibilang, ini sebagai perpisahan sementara yang bahagia, karena bisa berkumpul, membicarakan hal absurd bersama lagi, sebelum gue memulai petualangan.
Kami juga sempat memberi tahu ramalan kepada Gabriel, dengan memberi pesan untuk tidak membocorkan ramalan ini kepada siapa pun. Gue rasa, Gabriel dan Zanna adalah alasan mengapa gue bisa terjebak dalam ramalan yang tidak masuk akal namun tidak bisa disangkal. Mereka berhak tahu, karena mereka sahabat gue. Bukankah dalam persahabatan tidak ada yang boleh ditutupi?
"Riel, kami ke rumah Mbok Yu dulu ya, mau memastikan hal ini," Meysha berkata sambil menaikkan gulungan kertas kuning miliknya.
Gabriel mengangguk. "Hati-hati ya. Sebelum berangkat, temui gue dulu."
Adara tersenyum. "Pasti."
Gue, Meysha, Adara dan Kendra berdiri, bersiap untuk meninggalkan kamar Gabriel. Sebelumnya, gue menepuk pundak Zanna. "Jaga Gabriel, ya."
Dia tersenyum dan mengangguk.
Lalu kami semua keluar dari kamar Gabriel. Zanna mengantar kami sampai depan rumah. "Semoga kalian dapat menemukan informasi yang lebih jelas lagi ya, di rumah Mbok Yu."
Kami semua mengangguk.
"Pamit dulu ya, Zan," ujar Kendra.
Dia mengangguk.
Lalu kami berbalik, melangkah dengan rasa tenang, penuh semangat menuju rumah Mbok Yu.
***
Mbok Yu sedang membaca gulungan kertas kuning Meysha, raut wajahnya penuh ketenangan, seakan sudah menduga kami bisa melakukannya, seakan tebakannya benar, bahwa kamilah orangnya. "Kalian berhasil. Tepat seperti dugaan Mbok."
Kami berempat terdiam.
"Apa kami bisa memulai mencari obat itu besok?" Meysha bertanya dengan nada penuh harap.
Mbok Yu menaikkan sebelah alisnya. "Secepat itu? Apa kalian siap? Apa kalian sudah mengetahui, apa yang dimaksud teka-teki dalam kertas itu?"
"Kami tinggal berjalan ke timur dan mencari suatu yang dimaksud oleh kertas itu," gue menjawab ragu.
Mbok Yu tersenyum. "Baik. Sepertinya kalian sudah sangat siap sekali. Namun, Mbok memiliki saran yang patut kalian pertimbangkan. Sebelumnya, Mbok ingin bertanya, apa kalian semua bisa bela diri?"
Gue terdiam.
Kalau dibilang bisa, gue nggak bisa-bisa banget. Tapi gue memiliki kemampuan dasar bela diri, yang mungkin bila ditambah dengan kemampuan refleks gue kepada serangan lawan, itu sudah cukup. Mungkin Kendra bisa bela diri. Gue pernah lihat dia berlatih keras di halaman belakang rumahnya. Dan di sana juga gue sedikit-sedikit melatih kemampuan gue, namun gue tetap tidak sebanding dengan Kendra. Sedangkan Meysha dan Adara, mungkin mereka sama sekali tidak bisa bela diri.
Gue paham maksud Mbok Yu, berjalan di dalam hutan sangatlah berbahaya, apabila tidak bisa bertarung. Entah dengan apa, tapi bela diri sangat dibutuhkan, supaya tidak merepotkan siapa pun.
Gue melihat Meysha dan Adara saling pandang dan menggeleng lemah. Kendra mengangguk yakin. Dan gue, mengangguk ragu.
"Kalau begitu, lebih baik kalian belajar bela diri terlebih dahulu. Setidaknya, kalian mengetahui teknik dasar bela diri. Atau yang sudah bisa, menjadi lebih kuat dan tak terkalahkan."
Kami berempat menghela napas dan mengangguk pasrah. Apa yang dibilang Mbok Yu tidak bisa untuk kami bantah sama sekali.
"Kami akan belajar bela diri dengan siapa?" Adara bertanya.
"Saya."
Kami menoleh ke sumber suara. Dan menemukan Dimas yang merupakan anak Mbok Yu, berdiri di ambang pintu depan. Dimas memiliki tubuh tinggi semampai dengan rambut ikal, tatapan matanya teduh, namun jangan tertipu dengan tatapannya, ia adalah seorang yang sangat maniak dengan ilmu bela diri. Sudah lama sekali gue tidak melihat Dimas. Kami pernah satu sekolah dan ia satu tingkat di atas kami berempat.
"Dimas akan mengajarkan kalian seni bertarung. Apa kalian sudah siap untuk belajar bertarung sekarang?" Mbok Yu bertanya.
Lagi-lagi kami berempat mengangguk.
"Dimas, ajak mereka ke halaman belakang."
Dimas mengangguk. "Mari."
Gue berdiri dan melangkah ragu menuju halaman belakang rumah Mbok Yu. Dan dibuat takjub ketika melihat halaman belakang rumah Mbok Yu, yang seakan sengaja didesain untuk berlatih bela diri. Halaman belakang rumah Mbok Yu ini beratapkan kanopi, beralas rumput hijau yang nyaman untuk diinjak walau tanpa alas kaki sekali pun dan sangat-sangat luas. Bahkan gue berani bertaruh, halaman belakang rumah ini jauh lebih besar daripada ukuran rumah Mbok Yu sendiri.
Di bagian kiri terdapat alat panah lengkap dengan busur, berbagai jenis pedang, handuk dan kaos yang tersusun rapi. Di bagian kanan terdapat berbagai macam jenis pistol dan alat-alat tajam, seperti pisau dengan beragam ukuran juga kapak berukuran besar. Dan di bagian tengah ruangan terdapat samsak tinju. Sangat menakjubkan. Halaman belakang rumah ini seperti sengaja dibuat untuk keperluan Dimas, yang gue tahu dari bisik-bisik, dia sangat tertarik dengan seni bertarung. Mungkin semenjak lulus SMA, waktu satu tahun sebelum gue melihat dia lagi, ia habiskan di sini.
"Sekarang, saya ingin salah satu dari kalian, siapa pun, yang merasa bisa bela diri berhadapan dengan saya."
Gue menelan ludah dan menatap Kendra yang balas menatap gue. Apa maksud Dimas menyuruh salah satu dari kami bertarung melawannya? Tak lama, Kendra bergerak maju. Adara sempat menahan lengan Kendra, namun Kendra hanya tersenyum meyakinkan, senyumnya seakan menjelaskan kepada Adara bahwa ia akan baik-baik saja.
Kini, Dimas dan Kendra berdiri berhadapan. Mereka berdua saling mengangguk, lalu mereka bersiap dengan memasang kuda-kuda yang kokoh. Mereka bertatapan sangat sengit. Cukup mengerikan. Gue yang paham situasi, mengajak Adara dan Meysha untuk menonton dari pinggir halaman saja. Karena akan sangat mengganggu jika kami berdiri di dekat area pertandingan.
Dari sini, gue melihat Kendra yang terlebih dahulu memulai serangan dengan tangan kanan yang terarah ke dagu Dimas, namun dengan cekatan, Dimas menahan serangan itu dengan lengannya. Dimas langsung memberikan serangan balasan dengan menendang perut lawan, Kendra yang tidak sempat menghindar membuat ia mundur beberapa langkah dari tempatnya tadi berdiri. Adara menjerit tertahan melihat itu.
Kendra kembali memasang kuda-kuda, tidak peduli dengan perutnya yang tadi baru saja ditendang oleh Dimas. Dan pertarungan kembali dimulai. Berkali-kali Dimas menyerang Kendra, namun Kendra masih mampu bertahan sekuat tenaganya sampai saat ini. Sudut bibir Kendra mengeluarkan darah segar. Gue menatap Adara yang matanya sudah berkaca-kaca. Gue tahu, saat ini Kendra masih mampu melawan Dimas, ini belum mencapai batas Kendra.
"Ray, maksud Dimas mengajak salah satu dari kita bertarung apa?" Meysha bertanya pelan.
Gue mengangkat bahu. "Mungkin dia ingin kita mempelajari gaya bertarungnya."
Meysha dan Adara menatap gue kompak.
Gue mendadak canggung. "Bisa saja, kan?"
Kendra dan Dimas masih terus bertarung. Sekarang keadaan keduanya sudah tidak lagi baik-baik saja. Terutama Kendra. Gue jadi risau melihat kondisi Kendra, apa dia sanggup untuk melanjutkan petualangan besok? Berbagai pukulan dan tendangan mereka arahkan satu sama lain. Sampai akhirnya, berakhir ketika Dimas berhasil mengunci tubuh Kendra, menjatuhkannya ke tanah sampai Kendra terbaring tak berdaya. Beberapa detik setelahnya, Dimas mengulurkan tangan kepada Kendra, yang langsung disambut. Adara langsung berlari menghampiri Kendra dan memeluknya.
Gue dan Meysha saling tatap, lalu melangkah mendekat.
"Sebenarnya saya ingin melawan kalian satu-satu. Supaya saya tahu sampai mana kemampuan kalian. Tetapi pada akhirnya saya hanya bertanya siapa yang bisa bertarung di antara kalian. Dan Kendra menawarkan diri dengan suka rela. Apakah kalian memerhatikan pertarungan tadi?"
Gue, Meysha dan Adara mengangguk.
"Untuk Kendra, kamu bisa istirahat sepuluh menit. Dan kalian, kita akan memulai pelajaran singkat ilmu bela diri."
"Ray, apa kamu bisa bela diri?" Dia menatap gue.
Gue mengangguk. "Bisa, namun gue tidak terlalu menguasainya dan lihai seperti Kendra."
"Kalian berdua?"
Meysha dan Adara menggeleng.
"Baik, mari kita mulai latihannya."
Gue, Meysha dan Adara berbaris horizontal. Sedangkan Dimas, berdiri di depan kami. Dimas mencontohkan kuda-kuda yang baik dan benar. Tanpa pikir panjang gue mengikutinya. Dimas menatap posisi kuda-kuda gue dan mengangguk. Adara dan Meysha beberapa kali melakukan kesalahan dengan kuda-kuda mereka. Membuat Dimas harus ekstra sabar memberi bantuan untuk memperbaikinya.
Setelah kami semua siap, Dimas mengajar kami bertiga bertarung. Berbagai gerakan, pukulan dan tendangan. Gue menguasainya dengan cepat. Berbeda dengan Meysha dan Adara. Yang pada akhirnya, gue juga membantu Dimas untuk mengajar Adara dan Meysha mengenai gerakan yang benar. Kendra masih setia duduk di pinggir lapangan menyemangati Adara, sepertinya energi dia sudah cukup terkuras dengan pertarungannya dengan Dimas tadi. Namun ketika waktu sepuluh menit istirahat Kendra habis, Dimas kembali mengajak Kendra berlatih bersama.
"Saya ingin kalian bertarung satu lawan satu. Meysha melawan Adara dan Ray melawan Kendra. Saya ingin menilai seberapa besar pemahaman kalian mengenai gerakan yang tadi saya ajarkan, dan seberapa bagus eksekusi kalian."
Kami berempat saling tatap. Dan langsung mengambil posisi masing-masing.
"Dua pertandingan langsung?" tanya Kendra.
"Lebih cepat lebih baik. Kalian juga butuh istirahat yang cukup sebelum memulai pencarian besok."
Dan pertandingan pun di mulai. Kendra menyerang gue lebih dulu, gue bertahan. Kendra bersiap untuk menendang perut gue, dan gue menghindar, menyebabkan tendangannya mengenai udara kosong. Gue balas menyerang dengan menendang lutut Kendra, ia yang sama sekali tidak siap dengan serangan gue jatuh terduduk, gue memanfaatkan kesempatan ini dengan memukul pipinya, ia jatuh ke tanah.
Lalu gue kembali menyerangnya, namun Kendra menendang perut gue, menyebabkan gue terhuyung ke belakang, ia berdiri dari posisinya. Kini keadaan berbalik, Kendra dengan posisinya yang menguntungkan menyerang gue tanpa ampun dan gue berusaha mati-matian menghindar dan mencari celah sekecil apa pun untuk membalas serangan. Tiga menit setelahnya kami terus bertukar pukulan. Posisi gue sekarang menguntungkan Kendra untuk terus menyerang dengan lihai.
"Cukup!" ujar Dimas dengan suara kencang.
Kami semua berhenti. Kendra berdiri dan mengulurkan tangan kepada gue, yang gue balas dengan senang hati. Adara dan Meysha menghampiri kami. Gue tidak sempat melihat pertarungan mereka berdua. Apakah mengagumkan? Atau membuat geleng-geleng kepala? Tapi kalau dipikir-pikir, dari semenjak gue dan Kendra bertarung, Dimas sama sekali tidak mengintrupsi apa-apa. Jadi, kemungkinan besar pertarungan Meysha dan Adara masih terkendali.
"Kalian sudah cukup baik dalam bertarung. Dan saya mendapat kejutan dari Adara dan Meysha yang bertarung tidak kalah sengit dari Ray dan Kendra."
Gue tersenyum lebar. Sangat puas.
***