[Ray Dhanadyaksa]
"Apa ada salah satu dari kalian ada yang tertarik dengan s*****a itu?"
Kami bertiga langsung menoleh dan menatap berbagai s*****a yang tersedia di sebelah kanan dan kiri halaman belakang ini. Jujur saja, dari dulu gue sangat ingin menggunakan pedang.
"Jika kalian tertarik dengan salah satu s*****a yang ada di sana, silakan ambil. Siapa pun dan apa pun."
"Mas Dimas mau memberikan kami s*****a?" Meysha bertanya ragu.
Dimas mengangguk. "Siapa tahu kalian terdesak dan memerlukan s*****a itu." Dia menjeda. "Cukup panggil saya Dimas."
Gue mengulum senyum.
Meysha hanya mengangguk canggung.
Lalu, dengan sangat yakin, gue berjalan menuju tempat diletakkannya pedang yang sangat gue idamkan. Di sana ada lima jenis pedang yang sangat mengagumkan.
"Pedang? Pilihan bagus."
Gue mengambil salah satu di antaranya, yang menurut gue paling menarik. Lalu gua balik kanan, memandang Dimas, Kendra, Meysha dan Adara.
"Itu pedang kesayangan saya, tetapi kalau kamu ingin, silakan ambil saja."
Gue mengerutkan alis, merasa tidak enak dengan Dimas. "Sepertinya gue pilih yang lain aja." Gue buru-buru berbalik, hendak mencari pedang lain.
Dimas berjalan menghampiri dan menepuk bahu gue. "Tidak apa, saya memercayakan pedang ini di tanganmu."
Gue tersenyum, masih merasa tidak enak.
"Yang lain, silakan pilih, apa saja, jika kalian ingin."
Lalu, gue melihat mereka semua berjalan menghampiri gue. Berarti mereka bertiga tertarik dengan pedang dan busur panah. Ternyata pistol dan s*****a tajam di seberang tidak berhasil memikat perhatian kami.
Gue memandang Meysha, memerhatikan s*****a apa yang ia pilih. Dan menakjubkan, dia memilih alat panah, lengkap bersama busurnya. Dia menoleh, tersenyum, menatap gue dan Dimas. "Boleh aku pilih ini?" dia bertanya kepada Dimas.
Dimas mengangguk. "Tentu saja."
Meysha berjalan menghampiri gue. Lalu kami memerhatikan Kendra dan Adara yang sedang memilih s*****a. Kendra dan Adara sedang sibuk memerhatikan s*****a di sini.
"Pilihan yang bagus, Mey," bisik gue kepada Meysha.
Meysha tersenyum. "Lo juga."
Kendra dan Adara berbalik, menghadap kami. Ternyata pilihan Adara sama seperti Meysha, yaitu alat panah. Sedangkan Kendra sama seperti gue, pedang. Setelah itu, Adara berjalan ke seberang. Ia mengambil tiga jenis pisau.
"Dimas, boleh gue pilih dua jenis s*****a?" tanya Adara.
Dimas mengangguk ringan. "Tentu. Nah sekarang, apa kalian bisa menggunakan s*****a itu?"
Kami kompak menggeleng. Membuat Dimas menepuk dahi heran.
Gue hanya terkagum dan sangat ingin menggunakan pedang. Gue bisa menggunakan pedang, namun pedang mainan, jelas saja berbeda, bukan?
"Jangan salahkan kami, kamu sendiri tidak bertanya apa kami bisa menggunakan s*****a ini, kamu hanya meminta kami memilih s*****a yang ada di sini," sahut Kendra membela diri.
Dimas mengangguk jengah. "Baiklah, kalau begitu, kalian harus latihan lagi untuk menggunakan s*****a itu. Ada yang keberatan?"
Kami semua diam.
"Ray dan Kendra tolong bantu saya menyiapkan target panah."
Gue tidak melihat ada target panah di sekitar sini, namun karena melihat ada busur panah, pistol dan pisau, pasti ada. Akhirnya, gue dan Kendra hanya mengikuti langkah Dimas dengan bingung.
Ternyata di halaman belakang rumah ini terdapat pintu tersembunyi yang sama sekali tidak gue duga keberadaannya. Dimas membuka pintu itu dan masuk, gue mengikuti di belakang. Dan ternyata ruangan ini jauh lebih memukau dan lebih besar dari halaman belakang tadi. Di dalam sini terdapat dua ruangan yang dibatasi kaca, sepertinya ini juga ruangan kedap suara. Menarik sekali.
Dimas melangkah menuju tempat target panah terletak, gue terus mengikuti. "Ini ruangan kedap suara. Tempat saya berlatih menggunakan pistol dan senapan. Tadinya, jika salah satu di antara kalian ada yang tertarik memakai itu, ruangan ini akan menjadi tempat latihan kalian. Tetapi karena tidak ada, jadilah kita semua berlatih di luar. Ray dan Kendra tolong bawa target panahnya dulu keluar. Saya ingin memeriksa ruangan ini sebentar."
Gue dan Kendra masing-masing mengambil satu target panah dan berbalik menuju pintu keluar ruangan ini. Di luar, gue melihat Meysha dan Adara sedang mengobrol dan tertawa bersama, dasar perempuan.
Meysha dan Adara langsung berdiri ketika melihat gue dan Kendra keluar dari ruangan. "Dimas mana?" tanya Meysha.
"Dia lagi memeriksa sesuatu yang entah apa, di dalam," jawab gue.
Meysha dan Adara mengangguk paham.
Lalu gue meletakkan target panah asal di tanah dan menghempaskan tubuh di tempat mereka duduk tadi, Meysha menyusul di samping gue. Sedangkan Kendra dan Adara memilih berkeliling melihat-lihat banyak benda yang ada di sini.
"Ray."
Gue menoleh. "Iya?"
"Menurut lo, kita bisa nggak menemukan obat hyrexin?"
"Nggak ada yang nggak bisa Mey. Buktinya, kita aja bisa menemukan petunjuk yang kelihatannya mustahil. Menurut gue ini sebuah pertanda kalau ke depannya akan berjalan lancar."
Meysha tersenyum dan mengangguk. "Semoga. Oh iya, lo kenapa milih pedang?"
"Dari kecil, gue itu pengen banget bisa menggunakan pedang sungguhan, menjadi kesatria."
Meysha tersenyum lebih lebar, manis sekali. "Mimpi masa kecil nih jadinya? Dan sekarang menjadi kenyataan."
Gue terkekeh dan mengangguk. "Kalau lo, kenapa pilih busur panah?"
Dia mengangkat bahu. "Nggak tahu, tiba-tiba aja gitu, gue langsung tertarik dengan s*****a ini. Mungkin juga karena gue ingin menjadi seperti busur panah ini, yang melesat cepat, dengan membawa harapan besar dari pemanahnya dan memberikan hasil yang terbaik."
Gue mengangguk, memandang lurus ke depan. Meysha itu perempuan luar biasa bagi gue, yang bahkan, saking luar biasanya, tidak mampu gue rengkuh, karena selalu merasa tidak layak untuknya.
"Ray, lo pernah nggak suka sama seseorang?"
Jantung gue seakan berhenti berdetak ketika Meysha melayangkan pertanyaan seperti itu. Jika lo ingin jawaban jujur, maka jawabannya iya, Mey. Bahkan gue sedang jatuh cinta, dengan orang yang duduk di samping kanan gue.
"Pernah."
Dia menoleh, menatap gue, membuat jantung gue berdetak lebih cepat dari biasanya. "Perempuan itu beruntung banget."
"Maksudnya?"
Dia tersenyum. "Perempuan yang pernah singgah di hati lo. Eh, pernah singgah atau sedang singgah, ya?"
Justru gue nggak yakin kalau perempuan itu merasa beruntung.
Gue terkekeh. "Apa sih, Mey. Kenapa nanya gitu?"
Dia menggeleng. "Wajar nggak sih, kita melakukan hal apa pun, semampu kita demi seseorang yang kita suka itu?"
Perasaan gue nggak enak, sumpah. "Wajar. Namanya juga sebuah rasa yang mekar tanpa diminta."
Dia mengangguk puas.
Entahlah, sekarang gue malah berpikir kalau Meysha sedang melakukan suatu hal demi seorang yang dia suka, dan tiba-tiba dia menjadi ragu. Gue nggak mau memperjelas, karena sesuatu yang diperjelas, justru akan semakin menyakitkan. Suasana hati gue mendadak berubah, dari yang tadi cerah, penuh semangat, menjadi mendung dan putus asa.
"Ray? Kenapa?" Mungkin Meysha menyadari perubahan raut wajah gue.
Gue mengangkat alis, secepat mungkin langsung merubah ekspresi. "Kenapa apanya?"
Dia menatap wajah gue intens. "Ekspresi lo."
Gue balas menatap matanya yang indah. Dalam beberapa detik yang ingin sekali gue hentikan, kami bertatapan. Mata Meysha adalah hal terindah yang pernah gue lihat, dengan menatap matanya, gue merasa melihat seluruh keindahan yang ada di dunia, begitu menakjubkan. Menatap matanya adalah hal candu yang ingin gue lakukan berulang-ulang, namun gue tidak akan pernah mampu untuk melakukan itu. Karena Meysha sangat sulit, bahkan mustahil untuk gue gapai, untuk gue rengkuh, supaya menjadi milik gue seutuhnya.
Kami tersadar, dan menjadi canggung satu sama lain.
Pintu ruang tersembunyi itu terbuka, menampilkan sosok Dimas yang berjalan tegap penuh percaya diri menghampiri gue dan Meysha. "Waktu kita nggak banyak, maka dari itu saya hanya memberikan latihan dasar kepada kalian berdua."
Gue dan Meysha saling tatap. Kendra dan Adara buru-buru menghampiri.
Dimas mengambil target panah yang tadi gue letakkan di dekat tempat gue duduk. Dia berlari mengambil kayu penyangga target panah lalu meletakkannya sejauh kira-kira 20 meter dari posisi gue dan Meysha berdiri. Gue langsung cepat tanggap, melakukan persis seperti yang Dimas lakukan, membantunya.
Setelah alat untuk memanah siap, Dimas langsung mengambil salah satu panah dan busur yang memang ada beberapa.
"Gue gimana?"
Dimas dan Meysha menatap gue bersamaan.
"Sebentar. Gantian, Meysha dan Adara dulu. Baru kalian," ujar Dimas.
Gue mengangkat bahu dan kembali duduk di tempat tadi, Kendra pun sama.
"Saya akan contohkan cara memanah, kamu perhatikan baik-baik, setelah itu kamu praktikan sebisa kamu. Oke?"
Meysha dan Adara mengangguk patuh. Dari sini, gue bisa melihat dengan jelas wajah serius Meysha, yang tetap terlihat cantik.
Dimas mengangkat busur panahnya, terlihat sedang sangat memfokuskan anak panah dengan target. Beberapa detik setelahnya, Dimas tetap pada posisinya. Gue melihat wajah Meysha yang terlihat tegang, sangat menggemaskan. Setelah itu, Dimas melepaskan anak panah yang meluncur cepat dan tepat pada titik tengah target panah.
Otomatis, gue bertepuk tangan, takjub. Di sebelah gue, Kendra menatap hal tersebut dengan tidak percaya.
Meysha menoleh ke gue. Yang membuat gue tersenyum dan mengepalkan tangan ke atas, menyemangatinya, dia membalas tersenyum.
"Sekarang giliran kamu, setelah itu Adara."
Meysha mengangguk, ia membuang napas terlebih dahulu. Mengangkat busurnya, memfokuskan anak panah dengan tangan yang terlihat sedikit bergetar. Dimas langsung memegang tangan Meysha, supaya tidak bergetar, yang justru membuat hati gue panas, lagi. "Santai aja. Fokuskan mata kamu kepada anak panah dan titik tengah target."
Meysha kembali memfokuskan anak panah dengan target, ia terlihat sangat serius. Namun, sepertinya anak panah terlepas dari kendalinya dan berhenti sama sekali tidak mengenai target panah. Dia menghela napas. "Maaf."
Dimas tersenyum. "Baru permulaan. Lakukan lagi dengan jauh lebih fokus, saya lihat cara kamu memegang busur sudah benar, tinggal eksekusinya saja, tetapi tunggu sebentar. Giliran Adara sekarang."
Adara berusaha untuk memegang busur panah dengan tepat. Namun selalu keliru. Sampai Meysha ikut turun tangan membantu Dimas.
"Semangat, sayang! Kamu pasti bisa!" teriak si bucin Kendra.
Keringan meluncur dari kening Adara. Ia terlihat tegang sekali. Setelah berhasil memegang alat panah dengan tepat, ia mengambil busur, mencari titi fokus, lalu melepasnya. Dan hasilnya, sama seperti Meysha. Tidak mengenai target.
"Tidak buruk. Sekarang, kamu coba biasakan memegang panah dengan seperti itu. Sekarang giliran Meysha."
Meysha mengangguk semangat, ia melakukan sekali lagi dan anak panahnya berhenti di target panah berwarna putih. Jauh lebih baik dari yang tadi.
"Bagus, terus berlatih, Meysha. Ayo, Adara."
Setelah melepas target panah yang kedua kalinya, ia kembali meleset. Dimas masih memantau Adara yang hendak melepas target panah untuk ketiga kalinya, dan kali ini hasilnya sama seperti Meysha ketika melepas target panah keduanya. Sedangkan sekarang, gue melihat sudah ada busur panah yang menancap di daerah berwarna biru. Ia keren sekali.
"Bagus, Adara. Teruskan. Meysha, kamu sudah sangat baik. Kini giliran Kendra dan Ray." Setelah mengatakan itu, Dimas melangkah ke arah gue, otomatis gue langsung berdiri.
"Sudah siap untuk berlatih?"
Gue dan Kendra mengangguk yakin.
Lalu Dimas berjalan ke sisi kiri halaman, meletakkan busur dan anak panah, menggantinya dengan salah satu pedang yang ada di sana. Dia kembali berjalan menghampiri gue dan Kendra.
"Cara berlatih pedang yang paling cepat adalah langsung bertarung. Kalian berdua, lawan saya."
Mata gue melotot, gue menelan ludah dengan susah payah.
"Siap?"
Mau tidak mau harus siap. Gue berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh, begitupun Kendra. Dan Dimas mulai menyerang kami dengan pedangnya. Suara denting pedang langsung terdengar, memenuhi telinga gue. Dimas berkali-kali mengarahkan pedangnya ke kanan dan kiri, bergantian mengincar gue dan Kendra yang langsung kami tepis dengan gerakan refleks yang ternyata tidak begitu buruk. Satu dua kali tubuh gue berhasil dikunci oleh Dimas dan pedangnya, namun gue berhasil keluar dengan bantuan Kendra.
Gue sempat melirik Meysha yang sempat memerhatikan latihan gue dengan Dimas. Sebelum akhirnya, ia kembali fokus kepada anak panah, busur dan targetnya.
Dimas terus menyerang kami dari berbagai arah, yang sebisa mungkin kami hindari. Tiga menit setelahnya, kami berdua tetap menghindar dari berbagai serangan Dimas, sesekali membantu jika ada yang terdesak, juga sesekali menyerang, namun malah balik diserang.
Dimas berhenti. Gue dan Kendra ikut berhenti. "Pertahanan kalian berdua sudah bagus, kerja sama kalian juga sudah oke. Sekarang one by one, Ray yang menyerang saya lebih dulu. Serang saya terus-terusan, jangan biarkan saya balas menyerang, seperti yang tadi saya lakukan."
Gue mengangguk mengerti, ternyata Dimas mengajak gue belajar teknik bertahan.
Kami berdua, kecuali Kendra kembali bersiap. Dan gue langsung menyerang Dimas, berusaha melakukan seperti yang Dimas lakukan ke gue. Namun serangan gue tidak semulus Dimas, gue justru lebih banyak bertahan seperti tadi. Gue belum menyerah, tidak akan menyerah, sebelum gue berhasil mengunci telak tubuh Dimas.
Lima menit, gue masih terdesak, Dimas juga belum ada tanda-tanda untuk menghentikan pertarungan ini, sepertinya ia memiliki pikiran yang sama seperti gue. Tunggu, gue menyadari sisi kiri adalah titik kelemahan Dimas. Dengan itu, gue berusaha untuk mendesak dia dari sisi itu, sampai akhirnya gue berhasil menjatuhkannya, pedang Dimas terlempar. Dan gue berada di atasnya dan mengangkat pedang dengan erat, mengarahkan pedang tersebut ke bagian dadanya.
Beberapa detik setelahnya, gue terduduk, menghela napas. Gue berhasil.
***