"Apakah aku harus mengabaikan perasaan April? Tapi kan April juga tidak dekat sama pak Galih cuma secret admirer pak Galih saja. Apa aku sama pak Galih saja? Lagian juga bukan salah aku kalau pak Galih suka sama aku, kalau April tidak mau terima yah marahnya jangan sama aku dong tapi sama pak Galih. Aaah... Jalani saja dengan apa yang harus dijalani. Gitu saja kok susah seh?" Gendhis bicara sendiri di kamarnya dengan menatap langit kamarnya. "Kalau aku terus memikirkan perasaan orang lain, lalu bagaimana dengan perasaanku sendiri? Masa aku harus mengorbankan diriku sendiri demi orang lain sih? Yang penting mah tidak mengambil hak orang lain sajalah. Hidup ini keras, bung!!!" Setelah mengatakan itu semua, Gendhis pun mulai terlelap tidur. Di keesokan harinya... Galih sudah tiba duluan

