Bab 2: Ciuman Pertama di Lift Maut

403 Kata
Langkah kaki Kirana cepat dan gugup, menuruni tangga menuju lobi utama kantor Arkana Group. Setelah hampir seminggu bekerja langsung di bawah CEO Rayhan Arkana, jantungnya tak pernah berhenti berpacu. Tatapan pria itu, suara dinginnya, dan cara dia mempermainkan emosi Kirana—semua membuat hidupnya seperti sumbu dinamit yang tinggal menunggu waktu untuk meledak. Hari ini ia harus mengantar dokumen penting ke lantai 42. Ya, lantai khusus. Lantai milik si iblis berjas Armani itu. Tangannya gemetar memencet tombol lift. Saat pintu terbuka, lift kosong. Ia menarik napas lega dan masuk. Tapi tentu saja, hidupnya tidak akan semudah itu. Satu detik sebelum pintu tertutup, sebuah tangan menghentikannya. Pria itu masuk. Rayhan Arkana. Tanpa berkata sepatah kata pun, pria itu berdiri tepat di belakangnya. Napas hangatnya terasa di tengkuk Kirana. Aroma parfum maskulin itu menusuk hidungnya—dan pikirannya. Degup jantungnya mulai kacau. Lift mulai bergerak. Kirana menahan napas. Sial. Lift ini sangat lambat. “Dokumennya sudah ditandatangani?” tanya Rayhan pelan, nyaris seperti bisikan di belakang telinganya. "Sudah... saya simpan di tas saya," jawabnya terbata. Rayhan tak bergerak sedikit pun, tapi Kirana tahu matanya sedang mengamati setiap inci tubuhnya dari belakang. Rasanya seperti... terbakar tanpa api. Tiba-tiba, lift berhenti di lantai 25. Tapi pintu tak terbuka. Lampu berkedip. Kirana langsung panik. "Apa—kenapa berhenti?" Rayhan mengeluarkan ponselnya dan menatap layar. "Tenang. Ini hanya gangguan teknis. Akan kembali dalam beberapa menit." Kirana mundur perlahan, berniat menjauh dari Rayhan. Tapi ruang lift kecil, dan punggungnya justru menyentuh d**a pria itu. "Aku... maaf," katanya gugup. Rayhan tak menjawab. Tangannya justru terangkat, menyingkirkan helaian rambut dari leher Kirana. “Apa kau selalu setegang ini kalau sendirian denganku, Kirana?” bisiknya. "Pak Rayhan... kita sedang di kantor—" Ciumannya datang tanpa peringatan. Cepat, panas, dan membuat Kirana kehilangan keseimbangan. Punggungnya menempel pada dinding lift saat Rayhan mendekap pinggangnya, mulutnya masih menyapu bibir Kirana dengan cara yang membuat tubuhnya lemas. Untuk beberapa detik, dunia berhenti. Hanya ada dia dan Rayhan. Nafas dan jantung yang menyatu dalam gelombang yang tak bisa dikendalikan. Sampai akhirnya... pintu lift terbuka. Seorang karyawan berdiri dengan wajah terkejut. Rayhan melepaskan Kirana perlahan, seolah tak terjadi apa-apa. "Jangan lupa kirimkan salinan kontrak ke emailku," katanya datar sambil keluar dari lift. Kirana berdiri kaku, wajahnya merah, napas belum sepenuhnya pulih. Ia sadar satu hal: Rayhan Arkana adalah pria berbahaya. Dan ia baru saja mencicipi bahaya itu—melalui sebuah ciuman yang tak akan pernah bisa ia lupakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN