Kirana tak bisa tidur semalaman. Matanya menatap langit-langit kamar kos sederhana yang kini terasa seperti sel penjara.
Yang terulang di kepalanya hanya satu hal—ciuman itu.
Rasanya bibirnya masih terbakar. Aroma maskulin Rayhan masih tertinggal di hidungnya, dan d**a Kirana masih bergemuruh setiap kali mengingat tatapan tajam itu, sesaat sebelum mulutnya melumat habis rasa logika.
“Apa yang sudah aku lakukan…?” bisiknya lemah.
Ini gila. Ini bodoh.
Dan yang lebih parah—ia menyukainya.
Pagi harinya, ia datang ke kantor dengan jantung berdebar kencang. Rasanya seperti berjalan di atas ranjau. Matanya menunduk, takut bertemu tatapan siapa pun. Apalagi pria itu.
Ia masuk ke ruangannya cepat-cepat, mencoba fokus pada layar komputer. Tapi baru lima menit, sebuah email masuk.
From: Rayhan Arkana
Subject: 19.00 malam ini. Kafe hotel Empyrean. Jangan telat. –R
Kirana menelan ludah.
Ia membaca ulang. Berkali-kali. Tak ada tolong. Tak ada penjelasan. Hanya instruksi. Seperti biasa. Dinginnya mengiris—tapi justru itu yang membuat tubuhnya bergetar.
---
Pukul 19.02
Kirana tiba di Kafe Empyrean. Rambutnya ia biarkan tergerai. Mengenakan blouse hitam dan rok pensil, ia berusaha tampil sopan tapi tetap cantik.
Dan pria itu sudah duduk di pojok, seperti raja yang menanti hamba.
"Telat dua menit," komentarnya tanpa menoleh.
“Ada kemacetan…” Kirana duduk perlahan, tangannya mengepal di atas pahanya.
Rayhan menyesap kopinya, lalu akhirnya menatapnya. Matanya gelap. Seolah bisa melihat langsung ke dalam dirinya.
"Kau masih memikirkan apa yang terjadi di lift?"
Kirana tak bisa menyangkal. Wajahnya merah.
"Pak Rayhan… Saya rasa kita harus bicara. Ini salah. Kita bekerja dalam satu perusahaan. Saya hanya sekretaris Anda, dan—"
“Salah?” Rayhan memotong dengan senyum sinis. “Lalu kenapa kau tidak menolaknya saat aku menciummu?”
Kirana menggigit bibir. Ia tak punya jawaban.
Rayhan bersandar, suaranya mengecil. “Aku tidak suka permainan ini, Kirana. Tapi aku suka melihatmu gemetar saat aku mendekat. Aku suka melihatmu mencoba melawan... padahal tubuhmu jujur.”
Jantung Kirana nyaris pecah. Wajahnya panas, tubuhnya bergetar. Tapi yang membuatnya takut bukan kata-kata itu—melainkan seberapa benarnya kata-kata itu.
“Aku tidak ingin jadi mainan, Pak,” katanya pelan.
Rayhan tertawa. Ringan, tapi tajam. “Sayangnya, Kirana… kadang mainanlah yang membuat hidup lebih menarik.”
Ia berdiri, lalu menyelipkan sebuah kartu hotel ke meja.
“Kamarku di lantai 18. Aku tak memaksa. Tapi kalau kau datang malam ini... artinya kau menyerah.”
Kirana menatap kartu itu, tangannya kaku.
Rayhan berjalan pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Dan di sana, di bawah lampu temaram, Kirana tahu ia berdiri di ujung jurang.
Datang malam ini berarti menggadaikan harga dirinya. Tapi tidak datang... membuatnya gila.