Snow dan Thunder duduk berhadapan, meja yang mereka tempati kebetulan adalah meja untuk empat orang, tapi karena tak ada orang lain yang duduk di meja itu, mereka jadi lebih leluasa.
"Kamu suka menu hari ini?" tanya Thunder mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Iya, menu favorit, karena aku suka makanan berkuah!" jawab Snow, mulutnya sibuk mengunyah, pipinya menggembung lucu dengan mulut mungil yang bergerak seiring irama kunyahannya.
"Dasar hamster!" gumam Thunder lirih sambil tersenyum gemas.
"Ya?" tanya Snow yang tak begitu mendengar ucapan Thunder.
"Makan yang benar, kau bukan anak umur 3 tahun!" ucap Thunder tak menghiraukan pertanyaan Snow, dia menunjuk ujung bibirnya, memberikan sinyal pada Snow kalau ada nasi di sana.
Snow tanggap, lalu mengusapnya dengan tissue.
"Thanks!" ucap Snow, tak lupa dia melemparkan senyuman manisnya kepada Thunder.
"Ehem... Ok!" sahut Thunder salah tingkah, namun segera ditutupinya dengan menyendokkan makanan lagi ke dalam mulutnya.
Tak berapa lama, Thunder selesai makan terlebih dahulu. Dia meminggirkan nampan bekas makanannya, lalu meraih buku yang dia bawa dan mulai membukanya.
Sekilas dia melirik buku kumpulan soal milik Snow. Matematika? Diraihnya buku itu dan membukanya.
"Ada pensil?" tanya Thunder.
"Ada, kenapa?" jawab Snow yang baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya.
"Mana?" Thunder mengulurkan tangannya, meminta Snow menyerahkan pensilnya.
"Ah ini!" Snow meletakkan pensil di telapak tangan Thunder, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Thunder buru-buru menarik tangannya dan mulai mengerjakan soal yang ada di dalam buku kumpulan soal milik Snow. Jantungnya berdegup kencang akibat sentuhan yang tak sengaja tadi.
"Aku akan mengembalikan nampan ini dulu, ya!" ucap Snow sambil menumpuk nampannya dan nampan Thunder, setelah menyisihkan apel dan jus mangga mereka.
"Bisa tolong belikan aku air? Aku lupa tadi, nanti uangnya aku ganti!" pinta Thunder.
"Oke master!" sahut Snow seraya mengedipkan sebelah matanya pada Thunder.
'Damn it, she's too cute!' gerutu Thunder dalam hati.
Snow meletakkan nampan bekas makannya di meja yang disediakan untuk meletakkan nampan kotor, lalu dia berjalan menuju counter minuman dan makanan ringan. Snow membeli sebotol air mineral, sekantung kacang bawang dan sekantung kukis keju, setelah membayarnya, Snow bergegas kembali ke meja tempat Thunder menunggu.
Dahinya berkerut melihat ada tiga orang siswi yang duduk di sana. Mereka terlihat asyik mengobrol dan tertawa cekikikan, walau Thunder tak menanggapi, dia hanya fokus mengerjakan soal di buku milik Snow. Seorang siswi yang duduk di sebelah Thunder tampak menempel-nempelkan dadanya ke lengan kokoh Thunder.
Thunder tampak tak suka dan kesal, dia bangkit berdiri mengemasi buku-bukunya dan buku Snow, meraih dua kotak jus mangga dan buah apel yang tergeletak di meja, lalu buru-buru pergi meninggalkan tiga orang siswi itu yang berteriak memanggil nama Thunder beberapa kali.
"Leon!!!! Leonard!!!!! Kau mau ke mana????" panggil siswi yang tadi menempelkan d**a besarnya di lengan Thunder.
Thunder tak peduli, dia melangkah lebar menghampiri Snow yang bingung.
"Buka plastik itu!" perintah Thunder saat sudah beberapa langkah mendekati Snow.
Snow yang bingung hanya menurut, membuka kantung plastik putih yang dibawanya, dengan gerakan cepat Thunder memasukkan kotak jus dan apel ke dalamnya, dan dengan sekali gerakan, dia meraih tangan Snow dan menariknya perlahan untuk meninggalkan kantin. Terdengar pekikan histeris dari para siswi penggemar Thunder dan juga sorakan frustasi dari siswa yang mengagumi Snow.
Mereka berdua sudah berada di luar kantin, tapi Thunder masih menggenggam tangan Snow dan menariknya perlahan. Snow ingin bertanya, kemana Thunder akan membawanya, tapi karena melihat kekesalan di wajah Thunder, Snow mengurungkan niatnya. Snow hanya diam memandangi tangannya yang digenggam erat oleh Thunder.
Thunder terus menggandengnya menuju danau buatan di belakang sekolah, di sana ada beberapa gazebo kayu yang teduh, Thunder mengajak Snow naik ke salah satu gazebo yang kebetulan kosong, letaknya dekat dengan danau, gazebo itu dinaungi pohon akasia yang rimbun, membuat teduh di siang yang terik ini.
"Kita belajar di sini, nggak apa-apa kan?" tanya Thunder sambil meletakkan buku-buku yang dibawanya di atas meja pendek lesehan yang tersedia di sana.
"Hm.... Nggak apa-apa, lagian suasananya tenang dan menyenangkan!" jawab Snow.
"Duduklah!" Thunder meminta Snow duduk. Lalu dia membuka buku kumpulan soal matematika milik Snow.
"Ehm, Thunder.... Tadi kamu ninggalin teman-teman kamu begitu saja itu nggak apa-apa?" tanya Snow takut-takut, karena samar-samar tadi Snow mendengar teriakan kekesalan mereka dan juga umpatan mereka untuk dirinya.
"Mereka bukan temanku, dan aku merasa terganggu dengan kedatangan mereka." jawab Thunder datar.
"Oh.... Ok!" sahut Snow lirih, dia mengeluarkan barang yang dibelinya, lalu dia menyerahkan botol air mineral pesanan Thunder setelah membuka tutupnya.
"Ini, minum dulu!" seru Snow sambil tersenyum manis.
"Ah, thanks, Snow!" sahut Thunder saat menerima air mineral dari tangan Snow lalu menegaknya.
"Sorry, airmu nggak kebawa saking kesalnya!" sambung Thunder.
"Nggak apa-apa, ada jus mangga kok, santai saja!" sahut Snow sambil menggoyangkan kotak jus mangga di hadapan Thunder sambil tersenyum lebar.
'Ah.... Manisnya!' batin Thunder dalam hati, gemas melihat senyuman Snow, caranya menarik bibir mungil basahnya itu sungguh menggoda, belum lagi pipi chubby di wajah ovalnya yang putih bersih dan tampak licin dan mengundang untuk disentuh, benar-benar menggemaskan.
Tanpa sadar tangan Thunder terulur dan mencubit pipi chubby Snow.
'GOD.... So soft, such a pleasure!' batin Thunder.
Snow terbelalak saat Thunder mencubit pipinya, bukan tak suka tapi kaget.
Melihat reaksi Snow, Thunder membatu.
'Damn it, aku kebawa suasana hati' jerit Thunder dalam hati.
"Ehem... Sorry, gemas lihat pipimu soalnya, kaya squishy!" gumam Thunder sambil melepaskan pipi Snow, lalu kembali fokus ke soal-soal di depannya.
"Oh... Ok!" sahut Snow sambil meraba pipinya. Ya Tuhan... Wajahnya terasa panas, dadanya berdegup kencang, ada apa ini?
Hening, hanya suara angin dan gemerisik daun yang terdengar. Snow memperhatikan Thunder yang serius mengerjakan soal-soal dari buku kumpulan soal Matematika milik Snow.
"Thunder, itu kan kumpulan soalku, kenapa kau yang kerjakan?" Snow membuka suara, memecah keheningan.
"Tak apa, nanti kau bisa mempelajarinya di rumah, itu akan lebih mudah. Kau beristirahatlah, sewaktu pelajaran tadi kau tampak lesu!" jawab Thunder tanpa mengangkat pandangannya dari soal yang dia kerjakan.
"Ah... Itu karena tadi pelajaran Kenjiro, aku malas dengan guru itu!" sahut Snow datar, namun terbesit nada sendu di sana.
"Kau ada sesuatu dengannya?" tanya Thunder, masih fokus mengerjakan soal-soal di hadapannya.
"Sesuatu? Mungkin iya, tapi sudah berlalu, aku tak ingin mengingatnya, terlalu memuakkan untuk diingat!" jawab Snow lirih, terdengar jelas ada kesedihan mendalam di suaranya.
Thunder menghentikan kegiatannya, menatap lekat ke arah Snow. Entah kenapa, hati Thunder terasa bergemuruh, marah dan kesal.
Tiba-tiba Snow menelungkupkan kepalanya di atas meja, menutupinya dengan kedua lengannya. Bahunya tampak terguncang pelan, tak ada suara isakan, tapi Thunder yakin kalau Snow tengah menangis.
Hati Thunder terasa diremas-remas. Apa yang telah Kenjiro lakukan pada Snow sampai dia seperti ini? Pikirannya berkelana liar, Thunder mengira Kenjiro sudah menodai Snow. Tangan Thunder mengepal, rada marah di hatinya membuncah. Perlahan Thunder mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Snow.
Bagai mendapat naungan teduh dari atap yang melindungi dari teriknya panas matahari, tangis Snow pecah, dia tergugu, dan menangis tersedu-sedu. Kesedihan yang selama ini dia sembunyikan dan dia tahan, akhirnya keluar, terbebas, meninggalkan hatinya yang terluka, memberinya kesempatan untuk pulih kembali.
Thunder hanya diam, membiarkan Snow menangis, tangannya mengusap lembut kepala Snow, dalam hati Thunder, dia bertekad akan menyembuhkan luka hati Snow dan menyembuhkannya.
Lima belas menit berlalu, bel tanda berakhirnya istirahat siang sudah berbunyi, tapi Snow masih terisak lemah. Thunder pun tak berniat sedikitpun meninggalkan Snow, dia tetap duduk di hadapan Snow sambil membelai lembut kepalanya.
"Kau bisa masuk kelas dulu, tinggalkan aku sendiri di sini tak apa, aku sudah biasa membolos, aku tak peduli mau lulus atau tidak, jika aku tak lulus, aku tinggal mengulang kelas 3 di sekolah lain! Masuklah, Thunder!" gumam Snow di antara isakannya.
"Hmmmm!" sahut Thunder pendek tanpa berniat beranjak pergi meninggalkan Snow.
"Kau siswa teladan, kalau membolos..." sambung Snow yang langsung dipotong Thunder.
"Membolos sekali tak akan mengurangi kepintaranku!" sahut Thunder kesal.
"Gezz, sombongnya!" Snow mengangkat kepalanya, lalu dengan mata sembabnya dia menatap Thunder lalu tersenyum geli.
"Kau jelek, habis menangis lalu tersenyum." ledek Thunder.
"Biar saja, asal kau tau, aku punya banyak penggemar." sahut Snow sombong.
"Hmmm... Sesukamu saja. Cuci muka sana, wajahmu sungguh mengerikan sehabis menangis." seru Thunder sambil menjentikkan jarinya perlahan di kening Snow.
"Nggak ada keran air!" sahut Snow sambil celingukan.
"Ada di balik gazebo nomor 2 dari sini." jawab Thunder, dia kembali sibuk mengerjakan soal Matematika milik Snow.
"Ah, ok...." Snow melompat turun dari gazebo tempatnya duduk, lalu berlari kecil ke arah gazebo yang ditunjuk Thunder, setelah menemukan keran air, Snow segera membasuh wajahnya, menghilangkan bekas air mata tang lengket. Setelah dirasa cukup, Snow kembali berlari kecil menuju gazebo tempat Thunder menunggunya, lalu dengan santai dia duduk lagi di hadapan Thunder.
Thunder menatap wajah Snow yang basah oleh air, beberapa helai rambutnya ikut basah dan menempel di wajahnya. SEXY!!!
Thunder mengambil sapu tangan dari saku blazernya, lalu diserahkannya pada Snow.
"Apa?" tanya Snow bingung.
"Keringkan wajahmu!" jawab Thunder yang melanjutkan kesibukannya.
Thanks, setelah kucuci, aku kembalikan!" seru Snow, diterimanya sapu tangan itu lalu perlahan dia mengeringkan wajahnya. Setelah itu Snow melipat rapi sapu tangan kelabu milik Thunder dan menyimpannya di saku blazernya.
Bersamaan dengan itu, ponsel dalam saku blazernya bergetar, Snow mengambil ponselnya dan melihat ID pemanggil.
Kenjiro? Hah.... Pasti dapat laporan dari guru Akuntansi.
Dengan malas Snow menerima panggilan itu.
"Ya?" tanpa salam dan basa-basi, Snow menjawab panggilan Kenjiro.
"Bolos lagi? Di mana kamu? Kamu nggak ingin lulus tahun ini?" seru Kenjiro dengan nada tinggi memekakkan telinga.
"Kalau nggak lulus aku tinggal ngulang kelas di sekolah lain, apa susahnya?" balas Snow acuh tak acuh.
"Snow, haruskah kau seperti ini? Mengorbankan masa depanmu?" tanya Kenjiro frustasi.
"Cella!" sahut Snow dingin.
"Apa?" tanya Kenjiro bingung.
"Panggil aku Cella, kau tak pantas memanggilku Snow!!" jawab Snow dingin.
"Apa maksudmu? Sudah lebih dari 1,5 tahun aku memanggilmu Snow, dan sekarang kau tak memperbolehkan aku memanggilmu dengan sebutan itu?" tanya Kenjiro kesal.
Thunder yang sedari tadi hanya mendengarkan, menjadi kesal, bisa-bisanya pria itu membentak Snow?
Thunder merebut ponsel Snow.
"Kalau Snow minta bapak memanggilnya dengan sebutan itu, lakukan saja, tak usah membentaknya. Urusan kelulusan Snow, saya bisa pastikan dia lulus dengan nilai di atas rata-rata!" ucap Thunder datar, mengejutkan Kenjiro, Snow bersama siswa lelaki?
"Siapa kamu?!" bentak Kenjiro kesal.
"Leonard!" sahut Thunder datar lalu memutuskan sambungan telepon Kenjiro, dengan cekatan dia menekan tombol menu dan memblokir nomor Kenjiro dari ponsel Snow, setelah itu dia mengetikkan nomor ponselnya di ponsel Snow dan menyimpannya.
"Aku blokir nomor pak Kenji, itu nomorku. Mulai sekarang aku akan membantumu belajar mempersiapkan ujian tengah semester dan ujian akhir. Jadilah muridku yang baik. Dalam sehari kita akan bertemu dua kali di sini, saat istirahat pertama dan istirahat makan siang. Saat istirahat makan siang, kita akan pack makan siang kita dan makan di sini, jika aku ada suatu urusan aku akan menghubungimu sebelum waktu istirahat dimulai. Ok?" jelas Thunder panjang lebar.
Snow melongo, bingung.
"Kenapa?" tanya Snow.
"Apanya?" Thunder balik bertanya.
"Kenapa membantuku?" tanya Snow lagi.
"Teman?!" seru Thunder ragu, tapi dia mengulurkan tangannya ke arah Snow.
"Teman?" tanya Snow ragu.
"Hmmm... Teman!" jawab Thunder, walau ingin lebih, tapi nanti lah, sambil jalan, begitu batinnya.
Snow tersenyum lebar, menampakkan giginya yang tersusun rapi seperti biji jagung. Snow tak membalas uluran tangan Thunder, tapi dia melompat berdiri menghampiri Thunder lalu memeluknya erat.
"Kyaaaa.... Terima kasih Thunder!!!" pekik Snow gembira, akhirnya harapannya untuk lulus dan tak melihat wajah Kenjiro akan tercapai.
Thunder kaget menerima pelukan dari Snow, perlahan tangannya terangkat dan membalas pelukan Snow. Hidungnya menghirup dalam-dalam aroma tubuh Snow yang lembut namun menyegarkan, jasmine dan madu.
Beberapa saat kemudian, Snow tersadar karena memeluk cowok sembarangan, buru-buru dia melepaskan pelukannya, Thunder yang juga melepaskan pelukannya merasakan kekosongan dan kecewa.
"Ahem... Maaf, aku terlalu gembira." ucap Snow tertunduk malu.
"Understood!" sahut Thunder, kembali menyibukkan diri sengan soal-soal di hadapannya, untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah bak kepiting rebus. Masih terasa lembutnya tubuh Snow, sama seperti namanya tubuhnya selembut salju.
"Thanks!" sambung Snow.
Dibukanya kantong bungkus kacang bawang dan mulai memakannya.
Namun karena tak enak makan sendiri, Snow berinisiatif menyuapi Thunder.
"Thunder, buka mulut!" seru Snow.
"Ya?" Thunder mengangkat kepalanya.
"Aaaa.... buka mulut!" Snow menyodorkan butiran kacang bawang ke hadapan mulut Thunder.
Menurut, Thunder membuka mulutnya dan menerima suapan kacang dari tangan Snow.
DEG DEG DEG...
Jantung mereka berdua berdetak kencang, gugup dan malu, tapi Snow tetap menyuapi Thunder tanpa henti, sedangkan Thunder masih tetap fokus mengerjakan soal-soal Matematika milik Snow yang hanya tinggal beberapa lembar saja.
"Lepas lulus nanti mau melanjutkan kemana?" tanya Snow.
"Universitas S jurusan Kedokteran dan Universitas K jurusan Management Bisnis." jawab Thunder masih tetap fokus mengerjakan soal-soal Matematika.
"Ambil double degree?" tanya Snow takjub.
"Hmmm... Kalau kamu, Snow?" Thunder balik bertanya.
"Entah, mungkin aku akan ambil kursus 1 tahun dulu baru memutuskan akan melanjutkan kemana." jawab Snow ragu.
"Kita lihat hasil ujian tengah semestermu, nanti kita bisa tentukan kamu cocoknya masuk jurusan apa." sahut Thunder.
"Ok!" Snow menyeruput tandas jus mangganya.
"Minum juga punyaku, aku tak begitu suka mangga kalau jadi jus!" seru Thunder seraya menyerahnya kotak jus mangganya pada Snow.
"Ah.... Terima kasih!" seru Snow gembira.
"Pecinta mangga kan?" tanya Thunder.
"Hehehehe.... Iya, kok tau?" Snow menatap Thunder.
"Ehem, soalnya kadang kecium bau mangga dari kamu!" sahut Thunder, bohong. Tak mungkin kan dia bilang kalau dia menciumi bekas lip gloss Snow yang menempel di tangannya?
"Oh, iya... Karena aku pakai lip gloss mangga, hehehehe." jawab Snow sambil terkekeh geli.
"Snow!" panggil Thunder.
"Ya, Thunder?" sahut Snow sambil menatap lekat ke arah Thunder.
"Ini hari terakhir kamu membolos ya, tinggal beberapa minggu sebelum ujian tengah semester. Kita akan berusaha keras agar kau lulus!" ucap Thunder sambil mengusap kepala Snow.
"Ok, master!" sahut Snow.
"Jangan panggil aku MASTER, atau aku akan berhenti mengajarimu!" gerutu Thunder kesal.
"Hehehehe.... Ok, Thunder!" sahut Snow cengegesan.
"Rumahmu di mana?" tanya Thunder kembali fokus pada buku kumpulan soal di depannya.
"Aku tinggal di Elite Permata Raya Residence." jawab Snow.
"Oh ya? Kenapa aku tak pernah melihatmu? Pendatang baru?" tanya Thunder, dia menghentikan kegiatannya lalu menatap Snow tak percaya.
"Aku baru pindah ke rumah itu awal kelas 10, tapi Kak Bryant sudah tinggal di sana 4 tahun lalu." jawab Snow sambil mengunyah kukis keju yang dibelinya di kantin tadi.
"Siapa itu Kak Bryant?" tanya Thunder, rahangnya mengeras.
"Kakakku lah, kakak laki-laki satu-satunya. Kakak kesayangku!" jawab Snow sambil mesam mesem.
"Kesayangan?" tanya Thunder lagi, geram.
"Iya, soalnya sejak kecil dia satu-satunya orang yang selalu ada di sampingku. Papa Mama ku sibuk, hampir tak pernah di rumah, mereka sering pergi perjalanan dinas. Jadi aku lebih dekat dengan kakakku." jawab Snow, dia melewatkan bagian kalau orang tuanya tak pernah memperhatikannya, saat Snow sedang sakitpun mereka tak pernah merawatnya, lain halnya jika kakaknya sakit, seluruh perhatian mereka curahkan pada sang kakak. Untuk itulah kenapa Snow pecicilan, hanya untuk menarik perhatian orang tuanya, namun sayang, mereka sama sekali tak mempedulikannya.
"Oh.... Kalau teman atau sahabat, ada?" Thunder memperhatikan perubahan ekspresi Snow, yang terlihat sendu.
"Tak ada yang mau berteman denganku sejak awal kelas 12, aku selalu sendiri. Bahkan teman sekelaskupun tak ada yang betah bicara denganku." jawab Snow sambil tersenyum sedih.
"Kenapa?" tanya Thunder lagi, tangannya terulur membetulkan anak rambut Snow yang berantakan tertiup angin.
"Mungkin karena sifatku, kata orang aku terlalu liar akhir-akhir in." sahut Snow.
"Dulu aku punya sahabat baik, tapi dia terpaksa pindah dari kota ini karena ayahnya dipindahtugaskan ke daerah lain."sambung Snow sendu.
"Perempuan?" tanya Thunder penasaran.
"Sepasang, lelaki dan perempuan, karena mereka kembar." jawab Snow.
"Kau ada perasaan pada sahabatmu yang lelaki?" tanya Thunder semakin penasaran dan sedikit khawatir.
"Hahaha.... Nggak mungkin lah, kami sudah seperti saudara. Mereka juga punya pacar kok." jawab Snow geli.
"Oh... Ok!" sahut Thunder. "Nanti pulang bareng aku saja, kita tinggal di perumahan yang sama." sambung Thunder.
Dia kembali fokus pada kumpulan soal di hadapannya.
"Memang kau tinggal di Cluster berapa?" tanya Snow.
"Cluster 3 nomor 76E." jawab Thunder singkat.
"Masa? Kita tetanggaan dong selisih 1 rumah doang, aku di 74E.!" seru Snow tak percaya.
"Mulai besok aku akan jemput kamu, berangkat dan pulang sama-sama, ok?" Thunder mengangkat pandangannya lalu mengusap gemas ujung hidung mancung Snow.
"Hey, jangan asal usap hidung orang dong!" seru Snow kesal.
"Aku pengen usap terus kenapa coba? Anggap aja imbalan aku ngajarin kamu!" sahut Thunder sambil tersenyum geli, lalu kembali fokus ke kegiatannya.
"Ngeselin!" gerutu Snow.
"Nggak usah cemberut! Jelek tau!" goda Thunder tanpa melihat ke arah Snow.
"Biarin!" sahut Snow kesal.
Tiba-tiba ponsel Snow bergetar, terlihat nomor tak dikenal memanggilnya.
"Siapa?" tanya Thunder.
"Nggak tau, nggak ada namanya." jawab Snow, lalu dia menggeser tombol untuk menerima panggilan itu.
"Selamat siang, siapa ya?" tanya Snow.
"Aku! Kenapa memblokir nomorku?" tanya penelepon yang ternyata Kenjiro.
"Nggak kenapa-kenapa." jawab Snow malas.
"Datang ke ruanganku sekarang!" perintah Kenjiro.
Thunder mengambil ponsel Snow dari tangannya.
"Ada apa anda memanggil Snow?" tanya Thunder datar.
"Saya wali kelasnya, saya bertanggung jawab atas dirinya, dia sudah sering membolos, jika masih diteruskan tak akan ada jaminan dia lulus tahun ini!" jawab Kenjiro kesal, lagi-lagi siswa ini ikut campur.
"Snow sedang bersama saya, apa yang anda khawatirkan?" tanya Thunder dingin, tangannya sibuk membelai kepala snow.
"Saya tau kalau kamu siswa teladan di sekolah ini, tetapi jangan mengajak Snow pacaran di jam sekolah!" gertak Kenjiro geram.
"Pacaran? Boleh juga idenya!" sahut Thunder seraya tersenyum senang, Snow yang melihatnya jadi heran.
"Asal bapak tau saja, saya hanya membantu Snow mengerjakan kumpulan soal-soal yang bapak berikan." sambung Thunder, lalu menekan tombol kamera, dan merekam menggunakan tombol video, meja tempat mereka duduk dan juga Snow yang sedang membaca buku kumpulan soal yang hampir seluruhnya sudah Thunder kerjakan, tak lupa Thunder merekam tangannya yang mengusap lembut kepala Snow. Lalu Thunder menekan tombol kirim.
"Saya sudah kirim bukti kalau Snow belajar dengan saya, silakan lihat sendiri!" ucap Thunder yang langsung menutup panggilan dari Kenjiro.
Thunder meletakkan ponsel Snow di atas meja, dengan bertopang dagu, dia mengamati Snow yang tengah serius mempelajari coretan-coretan di buku kumpulan soalnya.
Sementara itu, di ruang guru, tampak Kenjiro menahan emosi setelah melihat video yang dikirim Thunder melalui ponsel Snow. Sejak kapan mereka dekat?
Kesal, Kenjiro melangkahkan kaki keluar ruang guru menuju danau belakang sekolah.
Di gazebo, Thunder mengemasi bungkus sisa makanan yang bertabur, sementara Snow masih mempelajari jawaban dari soal-soal yang ada di hadapannya.
"Lima belas menit lagi bel pulang berbunyi, sebaiknya kita jalan balik ke kelas sekarang!" ucap Thunder sambil menepuk bahu Snow.
"Ah, benarkah?" Snow tersentak kaget
"Pakai sepatumu!" Thunder mengambil buku-buku mereka dan membawanya turun dari gazebo, Snow memakai sepatunya dan menyusulnya turun.
"Tunggu di gerbang ya, aku ke kelas ambil tasku lalu ke kelasmu buat ambil barang-barangmu!" seru Thunder.
"Ah, aku ambil tasku sendiri aja, kalau kamu yang ambil pasti jadi gosip." sahut Snow.
"Nggak masalah, toh kita juga nggak ada apa-apa kan?!" balas Thunder.
"Aku ambil sendiri saja, aku sudah terkenal sebagai pembuat masalah di sekolah ini, aku nggak mau kamu kena imbasnya karena digosipkan bersamaku!" seru Snow datar.
"Hm!" sahut Thunder pendek.
"Ke kelasku dulu, baru kita ke kelasmu!" sambung Thunder cuek, diraihnya tangan Snow, lalu menggandengnya berjalan menuju kelas 12 Science 1.