bc

Married with Mr. Bookworm

book_age18+
79
IKUTI
1K
BACA
possessive
friends to lovers
student
comedy
sweet
campus
highschool
school
friends
wild
like
intro-logo
Uraian

Menikah dengan Tuan Kutu Buku

Gracella Snowy Diatmaja adalah seorang gadis ceria yang berotak pas-pasan dan agak pecicilan, putri kedua dari keluarga Diatmaja, yang sejak naik kelas 3 SMU, dia jarang masuk sekolah, sehingga dia jadi langganan masuk ke ruang BK, dan beberapa kali pihak sekolah memanggil orang tuanya datang ke sekolah.

Orang tuanya yang notabene pebisnis dan jarang ada di rumah, kurang menaruh perhatian pada putri mereka. Fokus mereka hanya kepada kakak lelaki Snow yang berjarak 6 tahun darinya, Nicholas Bryant Diatmaja, yang mereka gadang-gadangkan sebagai penerus perusahaan mereka. Merasa tidak dipedulikan oleh kedua orang tuanya, ditambah adanya suatu peristiwa di sekolah yang menyebabkan Snow malas datang ke sekolah, membuatnya berbuat seenaknya. Sampai pada suatu hari, wali kelasnya, Kenjiro Pramudya, memanggilnya dan memberikan ultimatum, Snow harus full mengisi kehadiran di sekolah, dan harus lulus semua mata pelajaran saat ujian tengah semester dan akhir minimal dengan nilai minimum. Jika pada saat ujian tengah semester nilainya tidak mencapai standart nilai minimum, maka Snow harus mengulang kelas.

Walau malas, akhirnya Snow menyanggupi perintah Kenjiro, orang yang memberinya harapan tapi juga mematahkan hatinya.

Ya, Snow dan Kenji mempunya hubungan percintaan antara guru dan murid, walau sembunyi-sembunyi tapi terasa indah, tapi semuanya hancur karena Kenji menyatakan akan menikah dengan teman kuliahnya dulu. Itulah sebabnya Snow, jarang masuk sekolah, karena dia tak ingin bertemu dengan Kenjiro.

Setelah memberikan ultimatum itu pada Snow, Kenjiro memberikan beberapa buku panduan soal ujian yang harus Snow kerjakan dan diserahkan pada Kenjiro.

"Kalau bukan karena ancaman bapak tidak meluluskan aku karena kurangnya absen, aku tak akan datang ke sekolah. Malas melihat wajah bapak, rasanya mual, ingin muntah!" desis Snow saat dia mengambil buku kumpulan soal di ruangan Kenjiro.

"Aku tau, aku salah, aku minta maaf. Tapi ini demi masa depanmu, Snow." sahut Kenjiro. "Datanglah ke sekolah, percayalah, jika kau akan menemukan hal baik dan bertemu orang baik saat kau rajin datang ke sekolah!" sambung Kenjiro.

"Hanya hal buruk dan orang yang menjijikkan yang kutemui di sekolah ini!"Snow meraih kasar buku-buku panduan soal ujian dari tangan Kenjiro dan melangkah keluar ruangan Kenjiro.

Kenjiro mengusap kasar wajahnya, jika bukan karena perjodohannya dengan Liliana, tentu dia tak akan melepaskan Snow, gadis cantik dan ceria, walau berotak pas-pasan dan sedikit pecicilan, tapi itulah daya tarik Snow. Tapi sejak berakhirnya hubungan mereka, Snow berubah, tak lagi ceria, jarang tersenyum, dan hanya selalu menampakkan wajah tak bersahabat kepada siapapun. Bahkan sekarang Snow mewarnai rambut panjangnya dengan warna bronze, walau melanggar aturan sekolah, dia tak peduli.

Sebelumnya Snow adalah siswi yang patuh peraturan walau pecicilan, dia tak pernah sekalipun melanggar peraturan, namun sekarang selain jarang masuk sekolah, dia akan berurusan dengan guru BK saat dia berada di sekolah, dan karena orang tuanya tak pernah berada di rumah, jadi Bryant sang kakak lah yang selalu datang menyelesaikan masalah di sekolah Snow. Bryant sangat memanjakan Snow, jadi apapun masalah yang ditimbulkan Snow di sekolah, Bryant selalu sabar dan menyelesaikannya dengan baik.

"Snow, kakak tak masalah kamu melanggar peraturan sekolah, asal masih dalam batas wajar, tapi kakak mohon, belajarlah dengan rajin, luluslah dengan baik walau tidak dengan predikat terbaik. Demi masa depanmu. Kalau kau ingin, kakak bisa panggilkan guru private untukmu." kata Bryant.

"Snow akan belajar sendiri sebisanya dulu kak, kalau benar-benar sudah ga bisa, baru panggil guru private." jawab Snow sambil menunjukkan tumpukan buku panduan soal ujian dari Kenjiro.

"Kerjakanlah di perpustakaan sekolah, di sana banyak buku, kalau kesulitan menjawab, kau bisa mencarinya di buku!" ucap Bryant sambil mengusap kepala adiknya.

"Iya kakakku sayaaaaang." sahut Snow seraya memeluk erat kakaknya.

Hari itu saat istirahat pertama, Snow melangkahkan kakinya memasuki ruangan perpustakaan. Banyak mata memandang ke arahnya, karena selain sangat cantik dan menawan, ini adalah peristiwa langka, Snow ke perpustakaan. Apakah dunia akan kiamat besok pagi??

Snow duduk di sebelah seorang siswa berkacamata yang tengah mengerjakan soal-soal yang entah apa itu.

"Maaf, saya duduk di sini ya?!" tanya Snow meminta ijin sambil tersenyum ke arah siswa itu.

Siswa berkacamata itu menoleh, sesaat dia tertegun melihat senyuman mempesona di wajah Snow, tapi dia buru-buru mengalihkan pandangannya ke bukunya.

"It's public place, you can sit wherever you want to sit!" jawab siswa berkacamata itu dingin.

Bibir Snow berkedut, kesal dengan jawaban yang dilontarkan si kacamata. Siapa sih dia, berlagak amat, ganteng sih, tapi kelakuannya ngeselin.

Dari perpustakaan sekolah itulah pertemuan Snow dengan Mr. Bookworm. Siapakah dia? Kenapa Snow menikah dengannya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Snow and Thunder
Gracella Snowy Diatmaja adalah seorang gadis ceria yang berotak pas-pasan dan agak pecicilan, putri kedua dari keluarga Diatmaja, yang sejak naik kelas 3 SMU, dia jarang masuk sekolah, sehingga dia jadi langganan masuk ke ruang BK, dan beberapa kali pihak sekolah memanggil orang tuanya datang ke sekolah. Orang tuanya yang notabene pebisnis dan jarang ada di rumah, kurang menaruh perhatian pada putri mereka. Fokus mereka hanya kepada kakak lelaki Snow yang usianya berjarak 6 tahun darinya, Nicholas Bryant Diatmaja, yang mereka gadang-gadangkan sebagai penerus perusahaan mereka. Merasa tidak dipedulikan oleh kedua orang tuanya, ditambah adanya suatu peristiwa di sekolah yang menyebabkan Snow malas datang ke sekolah, membuatnya berbuat seenaknya. Sampai pada suatu hari, wali kelasnya, Kenjiro Pramudya, memanggilnya dan memberikan ultimatum, Snow harus full mengisi kehadiran di sekolah, dan harus lulus semua mata pelajaran saat ujian tengah semester dan akhir minimal dengan standart nilai minimum. Jika pada saat ujian tengah semester nilainya tidak mencapai standart nilai minimum, maka Snow harus mengulang kelas. Walau malas, akhirnya Snow menyanggupi perintah Kenjiro, orang yang memberinya harapan tapi juga mematahkan hatinya. Ya, Snow dan Kenji mempunyai hubungan percintaan antara guru dan murid, walau sembunyi-sembunyi tapi terasa indah, tapi semuanya hancur karena Kenji menyatakan akan menikah dengan teman kuliahnya dulu. Itulah sebabnya Snow, jarang masuk sekolah, karena dia tak ingin bertemu dengan Kenjiro. Setelah memberikan ultimatum itu pada Snow, Kenjiro memberikan beberapa buku panduan soal ujian yang harus Snow kerjakan dan diserahkan pada Kenjiro. "Kalau bukan karena ancaman bapak tidak meluluskan aku karena kurangnya absen, aku tak akan datang ke sekolah. Malas melihat wajah bapak, rasanya mual, ingin muntah!" desis Snow saat dia mengambil buku kumpulan soal di ruangan Kenjiro. "Aku tau, aku salah, aku minta maaf. Tapi ini demi masa depanmu, Snow." sahut Kenjiro. "Datanglah ke sekolah, percayalah, jika kau akan menemukan hal baik dan bertemu orang baik saat kau rajin datang ke sekolah!" sambung Kenjiro. "Hanya hal buruk dan orang yang menjijikkan yang kutemui di sekolah ini!"Snow meraih kasar buku-buku panduan soal ujian dari tangan Kenjiro dan melangkah keluar ruangan Kenjiro. Kenjiro mengusap kasar wajahnya, jika bukan karena perjodohannya dengan Liliana, tentu dia tak akan melepaskan Snow, gadis cantik dan ceria, walau berotak pas-pasan dan sedikit pecicilan, tapi itulah daya tarik Snow. Tapi sejak berakhirnya hubungan mereka, Snow berubah, tak lagi ceria, jarang tersenyum, dan hanya selalu menampakkan wajah tak bersahabat kepada siapapun, terutama padanya, walau Snow akan tetap ramah pada orang-orang tertentu, tapi itu sangat jarang terlihat. Bahkan sekarang Snow mewarnai rambut panjangnya dengan warna bronze, walau melanggar aturan sekolah, dia tak peduli. Sebelumnya Snow adalah siswi yang patuh peraturan walau pecicilan, dia tak pernah sekalipun melanggar peraturan, namun sekarang selain jarang masuk sekolah, dia akan berurusan dengan guru BK saat dia berada di sekolah, dan karena orang tuanya tak pernah berada di rumah, jadi Bryant sang kakak lah yang selalu datang menyelesaikan masalah di sekolah Snow. Bryant sangat memanjakan Snow, jadi apapun masalah yang ditimbulkan Snow di sekolah, Bryant selalu sabar dan menyelesaikannya dengan baik. "Snow, kakak tak masalah kamu melanggar peraturan sekolah, asal masih dalam batas wajar, tapi kakak mohon, belajarlah dengan rajin, luluslah dengan baik walau tidak dengan predikat terbaik. Demi masa depanmu. Kalau kau ingin, kakak bisa panggilkan guru private untukmu." kata Bryant. "Snow akan belajar sendiri sebisanya dulu kak, kalau benar-benar sudah ga bisa, baru panggil guru private." jawab Snow sambil menunjukkan tumpukan buku panduan soal ujian dari Kenjiro. "Kerjakanlah di perpustakaan sekolah, di sana banyak buku, kalau kesulitan menjawab, kau bisa mencarinya di buku!" ucap Bryant sambil mengusap kepala adiknya. "Iya kakakku sayaaaaang." sahut Snow seraya memeluk erat kakaknya. Hari itu saat istirahat pertama, Snow melangkahkan kakinya memasuki ruangan perpustakaan. Banyak mata memandang ke arahnya, karena selain sangat cantik dan menawan, ini adalah peristiwa langka, Snow ke perpustakaan. Apakah dunia akan kiamat besok pagi?? Snow berniat duduk di sebelah seorang siswa berkacamata yang tengah mengerjakan soal-soal yang entah apa itu, karena hanya di situ kursi yang kosong dengan meja menghadap ke luat jendela. "Maaf, saya duduk di sini ya?!" tanya Snow meminta ijin sambil tersenyum ke arah siswa itu. Siswa berkacamata itu menoleh, sesaat dia tertegun melihat senyuman mempesona di wajah Snow, tapi dia buru-buru mengalihkan pandangannya ke bukunya. "Ini tempat umum, kamu bisa duduk di manapun kau mau!" jawab siswa berkacamata itu dingin. Bibir Snow berkedut, kesal dengan jawaban yang dilontarkan si kacamata. Siapa sih dia, berlagak amat, ganteng sih, tapi kelakuannya ngeselin. Snow mendengus kesal, dengan jengkel dia menarik kursi di sebelah siswa berkacamata itu. Snow mulai membuka buku kumpulan soal Bahasa Inggris. Seketika matanya berkunang-kunang melihat rentetan huruf yang membacanya saja Snow tak bisa. Frustasi, Snow meletakkan dahinya di atas meja. Siswa berkacamata di sampingnya melirik heran. 'Tidur?' batinnya, dia menundukkan kepalanya, hendak mengintip apakah gadis di sebelahnya ini tidur atau tidak. "Hah!!! Aku tak boleh menyerah!" seru Snow mendadak mengangkat kepalanya, membuat siswa berkacamata di sebelahnya melompat kaget. "Goodness!!!!" siswa itu mengumpat lirih sambil memegang dadanya, dia benar-benar kaget. Dia melirik ke arah Snow yang tertunduk menatap buku kumpulan soal Bahasa Inggris di hadapannya. Beberpa detik kemudian terdengar desisan frustasi dari bibir mungil Snow. "Aish.... Apa maksud dari kata-kata ini, membacanya saja aku tak bisa, apalagi mengartikannya!!! Lalu bagaimana caranya aku mengerjakan soal-soal ini???? Si Dungu Kenjiro itu memang minta dikubur hidup-hidup!!!" gerutu Snow lirih sambil mengacak rambut panjangnya yang bergelombang dan berwarna bronze indah. "Kau kubur dia hidup-hidup pun tak akan membantumu menjawab pertanyaan dalam kumpulan soal itu. Yang kau butuhkan hanya kamus Bahasa Inggris - Bahasa Indonesia saja!" sahut siswa berkacamata di sebelah Snow tanpa diminta. "Eh? Iya ya... Tapi sayang, aku tak punya, bisakah kau menunjukkan di mana letak kamus itu di simpan di perpustakaan sini?" tanya Snow dengan mata berbinar ceria, seolah bertemu dengan malaikat penolong. "Hmmmm.... Ayo!" siswa itu beranjak berdiri dari bangku yang didudukinya, lalu berjalan menuju sebuah lorong yang bertuliskan Dictionary, Snow pun buru-buru bangkit menyusulnya. Siswa itu berhenti tepat di depan sebuah rak buku besar bertuliskan English-Indonesian Dictionary yang terlihat kosong. "Sepertinya kamusnya baru keluar dipinjam semua." gumam siswa berkacamata itu. "Ah... begitukah? Ya sudah tak apa-apa, terima kasih sudah membantuku menunjukkan tempatnya." Snow berbalik dan bergegas menuju mejanya tadi, dia merasa pusing melihat begitu banyak buku yang berjajar di rak kayu perpustakaan. Serasa diserang vertigo, ingin pingsan rasanya. Snow kembali duduk, lalu ditatapnya lekat-lekat buku kumpulan soal Bahasa Inggris di depannya, lalu dengan gerakan cepat dia menutup buku itu, lalu membukanya lagi, lalu menutupnya dan membukanya lagi, terus berulang kali. Dan ekspresi Snow berubah-ubah, dia menutup dengan antusias, lalu saat bukunya akan dia buka wajahnya terlihat berharap cemas, namun saat buku itu dibuka perasaan kecewa dan kesal jelas terlihat di wajah cantiknya. Kejadian itu tak lepas dari pengamatan siswa berkacamata yang sejak Snow kembali duduk, sudah mengamati gerak gerik Snow. Dia merasa gadis itu konyol, tetapi juga lucu dan imut, sangat menggemaskan. 'Heish, apa-apaan pikiranku ini, biar menggemaskan kalau bodoh juga tak akan ada gunanya' gumamnya dalam hati. Siswa berkacamata itu kembali ke bangkunya. Setelah duduk, dia mengulurkan sebuah buku bertuliskan English - Indonesian, Indonesian - English Dictionary kepada Snow. "Pakai kamusku, berapa kalipun kau membuka tutup kumpulan soal itu, tak akan merubah kata-kata dan pertanyaan di dalamnya!" ucap siswa berkacamata itu tanpa menatap Snow, mata dan tangannya sibuk dengan buku dan soal-soal yang ada di hadapannya. "Eh? Kamu meminjamkannya padaku? Sungguh?" tanya Snow tak percaya. "Hm... Pakailah!" jawab siswa berkacamata itu acuh tak acuh. Snow tersenyum ceria. "Aku Gracella Snowy Atmaja, kelas 12 jurusan Sosial. Kamu bisa panggil aku Cella atau Snow." ucap Snow memperkenalkan diri, dia tak ambil pusing dengan sikap acuh tak acuh siswa di sampingnya ini, karena Snow sudah sering mendapat perlakuan acuh tak acuh dari teman sekelasnya sejak dia masuk SMU ini. "Hm... Aku Leonard Thunder Sanjaya." balas siswa berkacamata itu datar. "Aaaaah.... Jadi kamu Leon, anak kutu buku jurusan Science yang jadi peringkat 1 Daerah dari kelas 10 sampai tahun ini?" seru Snow bersemangat. "Kutu buku?" Thunder menatap sinis ke arah Snow. "Aaah.... Sorry, aku cuma ikutan yang lain sebut kamu itu, hehehe... Maaf!" Snow menunduk salah tingkah sambil tersenyum aneh. "Panggil aku Thunder, aku tak suka dipanggil Leon!" sahut Thunder dingin, dia kembali fokus pada kumpulan soalnya. "Ah, ok Thunder." Snow mengangguk patuh, dia mulai mengamati buku kumpulan soalnya, lalu membuka kamus milik Thunder. Matanya terbelalak kaget, SPEECHLESS.... Kamus itu penuh dengan tanda menggunakan stabillo warna warni, ditambah tempelan sticky notes di sana-sini. WOW!!! Snow mulai mencari satu per satu arti dari kata per kata yang tertulis di dalam buku kumpulan soalnya dengan telaten. Tak disangkanya kalau belajar bisa semudah ini. Tak terasa, waktu istirahat pertama hampir selesai. Lonceng tanda perpustakaan ditutup sudah berdenting. Snow dan Thunder bergegas membereskan buku-buku mereka. Saat Thunder akan melangkah keluar, Snow mengembalikan kamus milik Thunder. "Terima kasih sudah meminjamiku kamus ini, benar-benar sangat membantuku yang bodoh ini!" ucap Snow tulus, walau dia urakan dan pecicilan, tapi Snow adalah tipe gadis polos yang berhati tulus. "Pakailah, gunakan untuk belajar, kamu lebih membutuhkannya dari pada aku. Kembalikan saat kita lulus nanti!" sahut Thunder sambil meletakkan lagi kamusnya di atas tumpukan buku milik Snow. "Sungguh?" tanya Snow tak percaya. "Hm... Kita bertemu nanti di kantin, bawa kumpulan soal yang tak kau pahami, aku akan mengajarimu!" sahut Thunder sambil melangkah meninggalkan Snow yang bengong tak percaya. "Sungguh? Sungguhkah Thunder?" tanya Snow yang masih tak percaya sambil mengejar Thunder. "Sungguh! Dan berhentilah berlari, kembali ke kelasmu!!" jawab Thunder gemas, dia menangkupkan telapak tangannya yang besar ke wajah Snow yang mungil. Tanpa sadar bibir lembut Snow menyentuh telapak tangan Thunder, cepat-cepat Thunder menarik tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celana seragamnya. "Ah iya, aku kembali ke kelas dulu, terima kasih untuk bantuanmu tadi, sampai ketemu di kantin, bye Thunder!" seru Snow sambil melesat lari menuju kelasnya. Thunder mengeluarkan tangannya dari dalam saku celana seragamnya, dipandanginya telapak tangannya. Di sana nampak noda lip gloss milik Snow yang mengkilat, didekatkannya ke hidung dan mulai mengendus wanginya. Mango scents... So refreshing, just like her personality. Perlahan Thunder mengecup lembut telapak tangannya, seolah merasakan saat ini dia tengah mengecup bibir mungil milik Snow yang selalu terlihat basah dan ranum. Bel tanda masuk berbunyi, membuyarkan lamunan Thunder, setelah mengumpat karena pikiran ngeresnya, Thunder buru-buru berlari menuju kelasnya. Kelas Snow saat ini adalah pelajaran Bahasa Inggris, dan guru Bahasa Inggris kelas Snow adalah Kenjiro, yang juga wali kelasnya. Sungguh malas rasanya mengikuti mata belajaran ini, ingin membolos tapi mengingat ancaman Kenjiro yang tidak akan meluluskannya jika jumlah kehadirannya kurang, mau tak mau Snow duduk manis di dalam kelas untuk mengikuti pelajaran Bahasa Inggris. Namun saat teringat janji yang Thunder buat tadi, mendadak menimbulkan sedikit semangatnya. 'Cis, ada benernya juga tuh guru sialan, akan ada hal baik kalau datang ke sekolah, hal baik hari ini aku dapat private tutor gratis, ganteng pula tuh, lebih ganteng dari guru ciki-cikian!' batin Snow sambil terkekeh kecil. "Good morning everyone, how have you been?" sapa Kenjiro saat memasuki ruang kelas. "Good morning, sir! We're all good, sir!!" sahut siswa kelas 12 Social 2. Mata Kenjiro menangkap sosok Snow yang sedang menatap sesuatu di atas mejanya dan tersenyum geli. "What's make you look so happy Miss Snow?" tanya Kenjiro pada Snow. Mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya, Snow mengangkat kepalanya dengan malas, menatap sengit ke arah Kenjiro. "Me?" tanya Snow datar, dia hanya paham basic English conversations dan beberapa umpatan yang sangat sering lolos dari bibir mungilnya. "Yes, you! What's makes you look so happy?" Kenjiro mengulangi pertanyaanya lagi. "None of ya business, but absolutely not you, sir!" jawab Snow datar, wajahnya menyiratkan kebencian, matanya jijik menatap Kenjiro. Mendapat perlakuan seperti itu dari gadis yang masih dia cintai, Kenjiro hanya mampu menahan sakit. "Oh, I see! But it's good that you are in a good mood today, so you might able to do some quick test. Ok everyone?" seru Kenjiro untuk menutupi perasaannya. "HUUUUUUUUU..... Pak Kenji ga asyik!!!" gaduh siswa siswi kelas ini. "Sudah, jangan protes. Kalau protes nanti saya kasih setumpuk tugas rumah!!" ancam Kenjiro yang sukses membuat siswa siswi didikannya bungkam. Kenjiro mulai membagikan lembar tugas kepada murid-muridnya. Sampai dia tiba di meja Snow yang berada di dekat jendela, dia berhenti sejenak, dan meletakkan lembar tugas di mejanya. "Kerjakanlah dengan baik!" ucapnya lirih sambil menatap sendu ke arah Snow yang memandang ke luar jendela dengan tatapan dingin. Kenjiro menghela nafas panjang, lalu meninggalkan meja Snow. Sesaat dia melirik ada kamus di atas meja, di sampul kamus itu ada sticker bergambar petir dan juga tertulis inisial LTS, walau berukuran sangat kecil, tapi mata elang Kenjiro berhasil membacanya. 'Snow tak mungkin punya kamus, apa kamus itu milik seorang berinisial LTS? Siapa dia? Cewek atau cowok?' batin Kenjiro berkecamuk, kepo dan cemburu. "Testnya 30 menit ya, sampai pelajaran berakhir, ada 50 soal objective dan 10 soal subjective. Silakan dimulai!" seru Kenjiro. Para siswa siswi pun mulai mengerjakan dengan serius, kecuali Snow. Dia masih melamun menatap kosong ke arah gedung 2 sekolahnya. Kelasnya berada di lantai 2 gedung 3, yang kebetulan bersebelahan dengan kelas Thunder yang ada di lantai 2 gedung 2. Thunder yang sedang mengikuti pelajaran Kimia, kebetulan sedang menatap ke arah luar jendela, karena dia duduk di sebelah jendela, sengaja dia membuka jendela untuk memperoleh udara segar. Tak sengaja dia menangkap siluet gadis cantik yang sedari istirahat tadi mengganggu pikirannya. "Snow?" desisnya. Ingin rasanya dia berteriak memanggil Snow dan melambai padanya, tapi tak mungkin, imagenya bisa hancur, selama ini dia dikenal sebagai jenius dan kutu buku yang tampan dan kaya tapi sifatnya dingin dan kelewat susah didekati. Makanya dia hanya bisa menatap Snow dari kejauhan. Namun tanpa Thunder duga, Snow melambaikan tangannya perlahan, mengambil kamus Thunder dan mendekatkannya ke jendela, lalu Snow mengirimkan flying kiss ke arah Thunder. DEG Jantung Thunder berhenti berdetak. 'What was that?' batinnya bingung, buru-buru Thunder menutup jendela kelas dan meraba d**a kirinya. Wow.... Jantungnya berdetak lebih cepat. Snow di seberang kaget melihat Thunder tiba-tiba menutup jendela kelasnya, kenapa? Apa gurunya memarahinya karena membuka jendela? Atau karena dia malu menerima flying kiss dari aku? Haish.... terlalu agresif, cewek apakah aku ini???? Snow mengusap wajahnya, lalu menghela nafas panjang. 'Bodo amat ah, yang penting nanti ketemu di kantin' batin Snow. Menit terakhir batas waktu mengerjakan test singkat, Kenjiro memberikan peringatan, bagi siapa yang sudah selesai bisa segera mengumpulkan jawaban dan beristirahat makan siang. Snow cepat-cepat menulis di lembar jawaban, lalu dia meraih buku kumpulan soal Matematika dan bangkit dari duduknya untuk menyerahkan lembar jawaban kepada Kenjiro. Acuh tak acuh, Snow melempar lembar soal dan lembar jawaban ke meja guru. Kenjiro meraih lembaran itu dan memeriksanya, keningnya berkerut lalu dengan lantang memanggil Snow untuk kembali, saat Snow sudah berjalan sampai ke depan pintu kelas. "Snow!!! Kemari cepat!!!" perintah Kenjiro dengan nada tinggi. Snow berhenti, berbalik dan melangkah malas mendekati meja guru, sementara siswa lain yang akan menyerahkan lembar jawaban mereka terpaksa berhenti di tempat. Mereka semua tau kalau Snow tak pernah akur dengan Kenjiro. Apapun yang Kenjiro katakan, selalu dibatah oleh Snow, bahkan kadang tak dipedulikan sama sekali. Entah apa masalah mereka berdua, tapi itu terjadi sejak awal kelas 12. "Apa maksudnya ini? Kenapa kosong tidak kau kerjakan?!" bentak Kenjiro seraya menunjukkan lembar jawaban kosong yang hanya diisi nama dan nomor induk siswa olah Snow. "Kenapa? Kenapa, ya? Malas saja ngisinya." jawab Snow datar. "Kamu main-main sama test yang saya berikan? Kamu ingin ngulang kelas? Kamu nggak ingin lulus tahun ini?" bentak Kenjiro semakin emosi mendengar jawaban Snow. "Beberapa waktu lalu ada seorang guru yang bilang, untuk bisa lulus tergantung dari persentase kehadiran dan hasil ujian tengah semester dan ujian akhir, guru itu tak menyebutkan hasil test harian juga mempengaruhi kelulusan. Jadi test harian ini mau saya kerjakan atau tidak, bukannya nggak ada hubungannya sama kelulusan? Atau.... Omongan guru itu nggak bisa dipercaya?" sahut Snow pedas. "Snow, test harian ini membantu kamu mengasah otakmu dalam menghadapi ujian akhir nanti." balas Kenjiro, menurunkan suaranya. "Oh, guru itu juga bilang kalau saya bodoh, saya nggak berbakat belajar, jadi lulus dengan standart nilai minimum sudah cukup, begitu katanya!" sahut Snow mengulang semua perkataan Kenjiro padanya beberapa hari yang lalu. Snow berbalik dan melangkah pergi, namun setelah dua langkah dia berhenti dan berbalik. "Oh, jangan panggil saya dengan panggilan Snow, hubungan saya dan bapak nggak sedekat itu sampai bapak bisa memanggil saya dengan sebutan Snow!" tambah Snow sinis, lalu segera berbalik dan melangkah keluar dari kelas, meninggalkan tanda tanya di benak teman-teman sekelasnya. Kenjiro meremas kertas jawaban milik Snow, hatinya marah, kecewa dan sedih. Seberapa besar sakit yang dia berikan pada Snow sampai Snow begitu membencinya. "Pak, ini jawaban saya!" seru seorang siswa yang menyerahkan lembar jawabannya kepada Kenjiro. "Ah ya, letakkan di meja, terima kasih!" sahut Kenjiro yang tersadar dari lamunannya. Snow berlari kecil menyusuri koridor yang mengarah menuju ke kantin, dia takut Thunder sudah tiba dan menunggunya terlalu lama. Karena tak memperhatikan jalannya, tak sengaja Snow menabrak seseorang di depannya. BUG!!! "Auh... Maaf, saya tak sengaja karena buru-buru!" Snow membungkuk meminta maaf, tangannya memegang hidungnya yang kesakitan menabrak punggung yang begitu keras. "Buru-buru ke mana?" tanya suara berat yang merdu dan menggelitik telinganya saat istirahat pertama tadi. "T-Thunder?" seru Snow kaget. "Hm.... Buru-buru ke mana?" sahut Thunder lalu mengulang lagi pertanyaannya. "Kantin, kan kita janjian ketemu di kantin? Aku takut kamu sampai duluan trus kelamaan nunggu, jadi aku.... lari!" jawab Snow setengah bergumam. "Oh... Barengan?" tanya Thunder datar. "Oh... Ok!" mereka berjalan beriringan menuju kantin. Sesampainya di kantin banyak mata memandang heran ke arah mereka, Si Jenius barengan ke kantin sama Si Tukang Onar???? WOW!!! Tanpa mempedulikan tatapan siswa siswi yang berada di kantin dan bisikan-bisikan setan yang menyesatkan, Thunder dan Snow melangkah ke salah satu meja kosong dan meletakkan buku mereka di sana sebelum melangkah menuju counter makanan untuk mengambil makan siang mereka. "Siang Neng Cella, lama nih ndak makan di kantin, kebetulan menu hari ini menu favorit Neng Cella." sapa petugas kantin. "Siang, bu! Wah, yang bener bu? Mau ekstra sup sama sambalnya dong bu, tahu tempenya jangan lupa bu ya, hehehehe.... Nanti tambahannya Cella bayar di kasir, kaya biasa!" balas Snow antusias. Snow memang lebih akrab dipanggil Cella oleh teman-teman sekolah dan juga para guru dan staf. Sedangkan panggilan Snow hanya dia perbolehkan untuk orang-orang kesayangan dan terdekatnya saja. "Beres Neng Cella!" sahut petugas kantin sembari mengacungkan jempol ke arah Snow. Lalu dia melirik ke arah Thunder. "Mas ganteng ini pacarnya Neng Cella?" tanya petugas kantin tadi, Thunder dan Snow terbelalak kaget. "BUKAN!!" jawab mereka bersamaan. "Dia teman Cella, bu. Dia yang mau bantu Cella belajar biar bisa lulus." sambung Snow gugup. Buru-buru dia mengambil jatah makan siangnya, nasi hitam, sambal tomat, sup iga, tahu tempe goreng, sebuah apel dan sekotak jus mangga. Setelah membayar tambahan lauk dan air mineral, Snow melangkah ke arah meja tempat dia dan Thunder meletakkan buku tadi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook