Kenangan Dua Tahun yang Lalu

4085 Kata
Snow melongo menatap tangannya yang digandeng oleh Thunder. Ada apa dengan Thunder? Baru pagi tadi dia dan Thunder saling mengenal, tapi kenapa sikapnya begitu manis dan pernuh perhatian padanya? "Thunder, tak bisakah kita ke kelas masing-masing sendirian? Aku sungguh tak ingin ada gossip di antara kita yang bisa menghancurkan reputasimu di mata para guru dan teman-temanmu!" bujuk Snow. "Apa yang kau cemaskan? Aku bahkan tak punya teman di sekolah ini!" sahut Thunder datar. "Tapi kamu kan banyak penggemar?!" balas Snow mulai jengkel. "Kau pun sama, kan?" tanya Thunder sambil menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Snow. "Beda!!! Aku siswa pembuat onar, sedangkan kau siswa teladan!" jawab Snow kesal. "Sama saja!" sahut Thunder, melanjutkan langkahnya kakinya lagi. "Oh, ayolah Thunder, aku tak ingin merusak reputasimu!" bujuk Snow, dia sudah benar-benar kesal. "Snow.... Percayalah, tak ada apapun yang kau rusak!" sahut Thunder gemas. "Ah, terserah lah!" gerutu Snow kesal. Dia menyamakan langkahnya dengan langkah Thunder, menyusuri koridor menuju ruang kelas Thunder. Di tengah perjalanan mereka menuju kelas Thunder, terdengar lonceng tanda berakhirnya sekolah berbunyi. Tepat saat itu dari arah berlawanan, Kenjiro berjalan menuju ke arah mereka dengan raut wajah yang penuh kemarahan. "Guru kesayanganmu sepertinya sudah sangat merindukanmu." sindir Thunder lirih. "Cis, najis!" umpat Snow menampakkan wajah eneg dan jijiknya. "Heh... Kamu imut kalau mengumpat!" goda Thunder sambil tersenyum gemas. "Hiiiiy.... apaan sih?" gerutu Snow tak suka. Thunder tersenyum geli. "Kalian berdua, berhenti di sana!" perintah Kenjiro setengah membentak. Thunder pun menghentikan langkahnya, kemudian mendorong Snow untuk berdiri di belakangnya. Kenjiro datang menghampiri mereka berdua dengan nafas memburu, terlihat jelas kalau dia benar-benar sedang emosi. "Snow!!! Kau tak ingat dengan peringatan yang kuberikan tempo hari?" marah Kenjiro kepada Snow yang berada di sebalik tubuh Thunder. "Kesini kamu, jangan bersembunyi di balik orang lain!!!" bentak Kenjiro, dia sudah gelap mata ketika melihat tangan Snow digenggap erat oleh Thunder, "Dan kau Thunder, jangan melindungi bocah bengal tak tau aturan ini!" tambahnya. "It's Cella, sir. She asked you to address her as Cella, not Snow. You're not worth to address her Snow." sahut Thunder dingin. "I'll address her whatever I want!" bentak Kenjiro menatap sengit ke arah Thunder. Snow yang merasa jengah dengan Kenjiro melangkah ke depan Thunder, kini dia berada di antara Thunder dan Kenjiro. "Ada keperluan apa bapak mencari saya?" tanya Snow datar, dia menatap kosong kearah lorong di belakang Kenjiro. "Ikut ke ruang guru sekarang!" Kenjiro menarik paksa tangan Snow sehingga Snow meringis kesakitan, melihat Snow yang diperlakukan kasar oleh Kenjiro, Thunder meradang, ditahannya tangan Kenjiro. "Perlakukan Snow dengan lembut, dia perempuan!" seru Thunder geram. "Apa urusanmu?" bentak Kenjiro kesal. "Tentu saja urusan saya, karena mulai hari ini saya berniat mendekati Snow dan menjadikannya calon istri saya!" jawab Thunder tegas. Snow melotot kaget ke arah Thunder. Dengan isyarat mata dia bertanya pada Thunder, apa maksudnya berkata seperti itu. Namun betapa jengkelnya Snow saat hanya menerima kedipan mata dan senyuman nakal dari Thunder. "Ca-calon istri?" tanya Kenjiro tak percaya, "Kau mau Snow?" sambung Kenjiro sambil menatap ke arah Snow yang sudah mengubah ekspresi kagetnya menjadi ekspresi datar seperti biasa. "Hm, ada masalah?" Snow balik bertanya. "Kenapa?" tanya Kenjiro, raut wajahnya memancarkan kesedihan, cengkeraman tangannya melonggar. "Kenapa? Karena Thunder tampan, pintar, dan yang jelas dia mencintai saya. Walau saya belum sepenuhnya bisa mencintainya, tapi saya sedang berusaha membuka hati yang pernah terluka untuknya. Dan saya yakin, Thunder bukan tipe lelaki yang dengan mudahnya melepaskan saya demi memenuhi janji perjodohan yang dibuat tanpa persetujuannya." jawab Snow setengah menyindir Kenjiro. Kenjiro melepaskan tangan Snow, tatapannya kosong, Thunder mengambil kesempatan itu untuk membawa Snow pergi dari hadapan Kenjiro, dan meneruskan langkah kaki mereka menuju kelas 12 Science 1. Sepeninggal mereka berdua, Kenjiro masih diam terpaku, pikirannya melayang pada ingatan awal mula pertemuannya dengan Snow dan berlanjut pada hubungan percintaan yang kandas dengan alasan perjodohan. Flashback 2 tahun lalu Pagi itu di gerbang SMU Internasional W, tampak seorang siswi cantik bertubuh mungil berlari-lari menuju aula karena sudah mendekati waktu dimulainya perkenalan siswa baru. Siswi itu tampak kebingungan mencari aula tempat berkumpulnya siswa siswi baru. Di tengah kebingungannya, dia melihat seorang pemuda tampan berwajah Asia, berkulit putih dan tinggi sekitar 175cm, berjalan ke arahnya. "Ah... Kak... Kak.... Maaf, kalau boleh bertanya, dimana letak aula yang dipakai untuk berkumpulnya siswa baru?" tanya siswi itu sambil mengatur nafasnya. "Kak?" pemuda itu celingukan, melihat sekeliling. "Kak, saya tanya dimana aulanya, kok diam saja?" ulang siswi itu seraya memegang lengan baju pemuda di hadapannya. "Oh.... Kau tanya padaku?" pemuda itu balik bertanya. "Iya, ke siapa lagi kak, bukannya nggak ada orang lain di sini selain kakak dan saya?" rungut siswi cantik itu kesal. "Maaf, ikut saja koridor ini, nanti di persimpangan terus saja sedikit, lalu ke kanan, nanti sudah terlihat aulanya!" jelas pemuda itu. "Ah, terima kasih kak! Salam kenal saya Gracella Snowy, kelas 1, kapan-kapan kakak saya traktir sebagai ucapan terima kasih. Sampai ketemu lagi kak, dan terima kasih banyak!" ucap siswi itu sambil memberikan senyuman cerianya, lalu bergegas berlari lagi, tapi baru beberapa langkah dia jatuh tersungkur karena tersandung sambungan keramik yang tidak rata. Pemuda yang melihatnya terjatuh sangat terkejut, tapi saat dia hendak menghampiri, siswi itu langsung berdiri sambil terkekeh kecil lalu berlari lagi. "Gadis aneh, bahkan dia tak menanyakan namaku, katanya mau traktir, gimana mai traktir kalau namakupun dia tak tau?" gumam pemuda itu sambil tersenyum geli. "Aku Kenjiro Pramudya, dan aku guru di sini bukan kakak kelasmu!" gumam pemuda itu sambil terkekeh. "Ah, aku harus ke ruang Kepala Sekolah, memanggil beliau, semua sudah berkumpul di aula." monolog pemuda itu seraya bergegas menuju ruangan Kepala Sekolah yang berasa di gedung 1 sekolah ini. Snow yang sudah sampai di depan pintu aula segera disambut beberapa kakak kelas yang mempunyai kedudukan sebagai pengurus OSIS. "Maaf kak, saya terlambat, tadi tersesat cari aulanya!" Snow sedikit membungkukkan badan dan meminta maaf. "Ngga apa-apa, sini-sini.... Namamu siapa?" tanya seorang kakak kelas perempuan dengan rambut panjang yang diekor kuda. "Gracella Snowy Diatmaja, kak." jawab Snow. "Sebentar, aku ambilin name tagnya ya." ucap kakak kelas itu ramah, lalu mencarikan name tag Snow dalam box plastik di sebelahnya. "Nah ini dia adik manis, silakan masuk ya, cari kursi yang kosong dan duduk di sana, sebentar lagi acaranya dimulai." siswi kakak kelas itu memberikan name tag milik Snow dan menunjuk ke arah deretan kursi yang tersusun rapi dan hampor semuanya terisi di dalam aula. "Terima kasih kak!" setelah berterima kasih, Snow langsung melangkah mencari kursi kosong dan segera duduk dengan rapi, dia meletakkan ranselnya di lantai di samping kakinya. Snow menoleh ke kiri dan ke kanan, tak ada satupun siswa yang dia kenal, semua tampak asing. Dan karena Snow bukan tipe orang yang mudah bergaul, dia memilih untuk diam, tak menyapa siswa yang duduk di sebelahnya. Tak berapa lama, acara pun di mulai. Snow yang duduk di barisan nomor 5 dari depan, melihat jelas deretan guru dan staf sekolah yang duduk berjejer di sebalik meja yang disusun membentuk huruf U. Keningnya berkerut saat melihat pemuda yang tadi sempat dia tanyai arah menuju aula. Acara sosialisasi lingkungan sekolah dan juga para tenaga pengajar, dimulai dengan kata sambutan dari beberapa orang penting. Setelah kata sambutan selesai dimulailah acara perkenalan tenaga pengajar tetap, honorer dan juga staf pendukung yang ada di sana. Snow menyimaknya dengan baik dan menghafal satu persatu nama-nama guru dan juga staff yang berkenalan. Saat tiba giliran pemuda yang Snow tanyai jalan tadi, suara riuh dari siswi yang menjerit histeris terdengar memekakkan telinga. "Halo anak-ana siswa dan siswi baru SMU Internasional W, perkenalkan saya Kenjiro Pramudya, usia saya 25 tahun, saya di sini dipercaya untuk mengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang, kebetulan dulu saya petnah tinggal di Jepang selama 15 tahun, karena ibu saya orang Jepang, saya baru pindah kesini 3 tahun yang lalu. Semoga saya bisa mengajar kalian dengan baik, dan kalian juga bisa menerima pelajaran saya dengan baik, terima kasih!" ucap Kenjiro memperkenalkan diri, disambut teriakan riuh siswi baru yang terpesona dengan ketampanannya. Snow mendengus dan memutar bola matanya. Dasar anak ABG, lihat om-om langsung histeris. Nggak kebayang kalau kakak Snow datang ke sekolah, pasti bertambah pekak telinganya karena jeritan histeris akan lebih keras terdengar. Usai acara sosialisasi, para siswa dan siswi baru diminta memeriksa nomor induk mereka untuk menentukan pembagian kelas dengan cara menscan barcode yang ada di name tag mereka. Ada 15 petugas yang membantu para siswa dan siswi baru menscan barcode mereka. Para siswa dan siswi diminta untuk berbaria dan mengantri. Snow mengambil deretan petugas di line 8, karena jumlah yang mengantri lebih sedikit, Snow melirik ke arah petugas scan, ternyata kakak kelas yang tadi memberinya name tag. Dalam hati Snow menghitung jumlah siswa yang menunggu giliran di barisannya, lalu dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang kakak. 'Kakak, nanti jemput Snow 1 jam lagi ya, ini masih pembagian kelas!' Snow mengirin pesan w******p kepada kakaknya. Snow tak menunggu balasan, karena Snow tahu kalau sekarang jam sibuk kakaknya yang menjabat sebagai Vice President di perusahaan papanya. Antrian bergerak maju, tak terasa tiba giliran Snow. Dia melepas name tagnya dan menyerahkan kepada petugas, namun betapa terkejutnya dia, ternyata petugas scannya bukan kakak kelas tadi, tetapi pemuda yang menunjukkan jalan menuju aula. Ragu, Snow menyerahkan name tagnya untuk discan. "Ketemu lagi ya, Gracella!" sapa Kenjiro sambil tersenyum. "Ah iya kak, eh... pak.... terima kasih yang tadi pagi." balas Snow gugup. "Jadi kapan mau traktir saya?" Kenjiro menagih janji Snow. "Ah anu... Terserah bapak saja." jawab Snow bingung. "Saya scan dulu ya barcodenya," Kenjiro menempelkan name tag Snow pada mesin scan. PIP!!! Dalam monitor LCD terlihat tampilan nama, nomor induk serta kelas baru Snow. "Hmmmm... Gracella Snowy Diatmaja, NIK 59720, kelas 10C," kata Kenjiro membacakan apa yang tertera di monitor. "Terima kasih, pak!" sahut Snow, lalu berniat untuk pergi. "Tunggu, ikuti saya!" perintah Kenjiro. "Ke-kemana pak?" tanya Snow bingung. "Ke kelasmu, saya wali kelas 10C!" jawab Kenjiro sambil berlalu menuju sekelompok siswa siswi yang berdiri di samping sebuah banner bertulis KELAS 10C. Sesaat Snow melongo, lalu buru-buru mengikuti Kenjiro yang sudah tampak mengobrol dengan beberapa siswi genit. 'Hiiiiy.... Dasar cewek-cewek kegatelan!' batin Snow yang bergidik geli melihat kelakuan teman sekelasnya. Dengan malas Snow bergabung dengan teman-teman sekelasnya. Snow tampak menonjol di antara mereka, kulitnya yang putih bersih persemu pink, dengan wajah oval yang sempurna, hidung mancung, mata yang lebar dan berwarna keabuan, bulu mata lentik dan alis tebal yang terbentuk sempurna ditambah dengan bibir mungil berwarna pink dan sedikit mengkilap karena sapuan lip gloss aroma mangga kesukaannya, langsung saja mendapatkan perhatian lebih dari teman-teman sekelasnya bahkan dari kelas tetangga yang kebetulan berkumpul di sebelah kumpulan kelas 10C. Mereka berbisik-bisik, para siswa bersuit-suit menggoda sedangkan para siswi yang iri sibuk menggunjing Snow dengan suara lirih namun tetap terdengar olehnya. Snow mendengus kesal, selalu saja seperti ini, jadi bahan gunjingan, sejak kelas 6 SD sampai sekarang sama saja. Seorang siswi berambut sebahu mendekatinya, dan mencoba berkenalan dengan Snow. "Hai, boleh berkenalan denganmu?" tanya siswi itu. Snow menoleh dan menatapnya tak percaya, dia senang, seumur-umur tak ada yang mau mengajaknya berkenalan terlebih dahulu ( cewek ya, kalau cowok mah beanyak ). "Hai, tentu saja boleh, aku Gracella Snowy Diatmaja, panggil saja Cella. Kalau kamu?" jawab Snow ceria lalu balik bertanya dan mengulurkan tangannya pada siswi berambut sebahu itu. "Aku Rosellina Putri Baskara, panggil saja aku Selli." jawab siswi itu sambil membalas uluran tangan Snow. "Wah, nama panggilan kita mirip-mirip ya Cella-Selli, mau berteman denganku?" tanya Snow sambil terkekeh. "Hehehehe.... Tentu saja, mungkin kita memang berjodoh jadi teman , Cella." jawab Selli yang juga terkekeh. Tak jauh dari mereka, Kenjiro memperhatikan Snow dengan pandangan teduhnya. "Nah anak-anak, sekarang saatnya kita menuju kelas kalian, kelas 10C, nanti kita akan melakukan pembagian bangku dan saya nanti akan menjelaskan tentang peraturan kelas dan sekolah, dilanjutkan dengan briefing tentang kegiatan MOS dan perlengkapan apa saja yang harus kalian bawa besok pagi dan tugas apa yang harus kalian kerjakan!" ucap Kenjiro disambut riuh teman-teman sekelas Snow. "Baru juga masuk, malah dikasih tugas buat MOS," gerutu Snow. "Hehehehe, cobaan jadi anak baru say, terima aja deh, nanti bisa barengan ngerjainnya!" sahut Selli. "Boleh deh, kita lihat nanti tugasnya apa, trus kita kerjain sama-sama balik dari sini," balas Snow antusias. "Tadi diantar apa berangkat sendiri?" tanya Selli, mereka berjalan di barisan paling belakang karena malas berdesakan di depan. "Diantar, aku nggak boleh bawa motor kalau belum pegang SIM," jawab Snow. "What? Hahahahaha.... Masih ada ya ortu yang kolot?!" gelak Selli. "Bukan ortu yang nggak ngebolehin, tapi kakakku," sahut Snow sendu, orang tuanya mana ada peduli padanya. "Wah, anaknya kakak dong kalau gitu?" gurau Selli. "Ya gitu deh, hehehehe...." kekeh Snow garing. "Kakakmu pasti super gwanteng ya Cella?" tanya Selli. "Ya gitu deh, kata orang sih ganteng, tapi buatku biasa aja, la wong tiap hari lihat sampai bwosen!" jawab Snow memutar bola matanya. "Pasti super gwanteng, adiknya ada super cwantik gini, hehehehehe..." goda Selli sambil menoel pipi Snow yang sedari tadi menggoda untuk disentuh. "Whuih, gila Cella.... Pipimu lembut bangeeeeet!" pekik Selli keras sampai mereka menjadi pusat perhatian. Para siswa lelaki auto ngiler ingin ikut menoel pipi Snow. Kenjiro menatap tak suka, tapi hanya diam saja, melanjutkan langkahnya memandu anak-anak didiknya. "Selli apaan sih?! Malu tau?!" gerutu Snow, wajahnha merona merah. "Duh imutnya temanku ini kalau malu-malu!!" Selli semakin menggoda Snow saat melihat Snow yang langsung grogi saat digoda. "Selli, ah!" rungut Snow, bibirnya cemberut. "Eh, Cella... kamu dipelototi sama cewek-cewek berdada besar di depan itu!" bisik Selli sambil melirik ke arah empat orang siswi berseragam ketat dengan polesan make up yang tengah menatap penuh kebencian ke arah Snow. "Masa? Tapi aku nggak kenal mereka, kenapa mereka melototin aku?" tanya Snow bingung. "Iri kali, mereka kalau ngga make up palingan jelek mukanya, wakakakakakaka!" gelak Selli keras. "Hush.... jangan gitu," gumam Snow tapi dia terkikik geli. Akhirnya mereka sampai di kelas 10C, dan Kenjiro meminta mereka berdiri di depan pintu masuk kelas, lalu memanggil mereka satu persatu untuk menentukan bangku mereka. Beruntung Snow dan Selli duduk berseberangan di bangku baris ke 3 dari depan. Bangku mereka tepat berada di tengah barisan memanjang. Sebelah kanan Snow adalah Selli sedangkan sebelah kirinya adalah seorang siswa bergaya nyentrik. Siswa itu memanggil Snow dengan suara rendahnya, "Hai Gracella, salam kenal, aku Keanu, semoga kita bisa jadi tetangga bangku yang baik ya!" sapanya ramah. "Oh, hai.... Panggil Cella saja, semoga bisa berteman baik," balas Snow sambil tersenyum. "Terima kasih!" sahut Keanu. "Sama-sama," balas Snow. Setelah semua siswa dapat bangku dan duduk rapi di bangku masing-masing, mereka mengadakan pemilihan pengurus kelas. Dalam pemilihan itu, Keanu terpilih sebagai ketua kelas dan Selli sebagai wakilnya, sedangkan sekretarisnya adalah siswi dengan penampilan sexy yang tadi sempat memelototi Snow, yang bernama Renata dan bendaharanya adalah teman Renata, Shopia. Setelah pemilihan berakhir, Kenjiro menjelaska tentang peratura kelas dan peraturan sekolah kepada anak didiknya. Di tengah-tengah Kenjiro menjelaskan tentang peraturan sekolah, ponsel Snow berbunyi. "Ponsel siapa yang berbunyi?" tanya Kenjiro sebal. "Maaf, saya pak, kakak saya menelepon," jawab Snow takut-takut. "Cepat jawab, tapi tak boleh lebih dari satu menit!" perintah Kenjiro galak. "Ba-baik, terima kasih pak!" sahut Snow, buru-buru dia menerima panggilan suara dari kakaknya. "Ya kak, ade belum selesai, masih ada beberapa kegiatan.... Nanti kalau sudah selesai ade kabari kakak.... Iya, kak... bye kak!" obrolan super cepat dengan kakaknya yang baru pertama Snow lakukan, dia buru-buru menutup teleponnya, lalu mengaktifkan mode silent. "Sudah pak, terima kasih," ucap Snow sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas sekolahnya. "Oke, kita lanjutkan!" seru Kenjiro yang langsung menyambung penjelasannya tentang peraturan sekolah. Lima belas menit berlalu, saat ini para siswa siswi sibuk mencatat tugas yang harus mereka kerjakan untuk persiapan MOS ( Masa Orientasi Siswa ) besok pagi. Kening Snow berkerut, mereka harus menyiapkan papan nama dari karton yang dihias, lalu membawa bekal makanan ringan dengan bahan dasar tempe yang harus merupakan buatan tangan para siswa, mencari produk dengan nomor barcode 8996001440520 dan membuat ulasan tentang produk itu. Para siswa menggerutu kesal. "Pak, masa iya kita disuruh bawa bekal tempe? Suruh masak sendiri pula, nggak banget deh. Tempe kan makanan orang kampung!" protes Renata dengan suara manjanya. Kenjiro hanya meliriknya kesal, namun tak menanggapi protesnya. "Silakan kalian pulang dan mengerjakan tugas yang saya berikan!" seru Kenjiro, dia melirik ke arah Snow yang terlihat gembira dengan tugas yang harus dikerjakannya. "Baik pak, terima kasih untuk hari ini, selamat siaaaaang!" seru para siswa memberi salam, lalu bergegas keluar kelas. Snow, Selli dan Keanu menunggu di bangku masing-masing, karena malas berdesakan. "Kok kamu kelihatan happy sih, Cella?" tanya Selli penasaran. "Ya habis, tugasnya nggak susah, kirain bakal yang aneh-aneh gitu," jawab Snow, tangannya sibuk mengetik pesan untuk kakaknya. "Nggak susah gimana, Cella? Kita disuruh bikin camilan dari tempe lho!" sahut Keanu, wajahnya terlihat frustasi. "Iya tuh, mana aku nggak bisa masak lagi!" timpal Selli. "Sama, aku juga," sambung Keanu mendengus kesal. "Ya udah kita bikin sama-sama saja di rumahku, mau?" tanya Snow. "Kamu bisa masak?" tanya Keanu dan Selli bersamaan, dan bukannya menjawab usulan Snow. "Lumayan lah, kalau tempe mah kesukaanku, jadi ya gitu deh....," jawab Snow misterius. "Boleh deh, tapi aku pulang dulu, ganti baju," sahut Keanu. "Belanja dulu dong, masa kamu ngga ikut belanja?" protes Selli. "Iya, ikut.... Maksudku habis belanja aku balik dulu. Share location rumahmu ya, Cella!" pinta Keanu. "Tau Elite Permata Raya Residence?" tanya Snow. "Tau, kamu tinggal di sana?" Keanu balik tanya. "Iya, Cluster 3 Nomor 74E," jawab Snow. "Oke, noted!" sahut Keanu. "Kita belanja sekarang? Taksi online aja ya?" usul Selli. "Boleh deh, aku juga lagi nggak bawa motor tadi," sahut Keanu. "Aku telepon kakakku dulu ya, kalian jalan duluan nggak apa-apa," ucap Snow sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. "Kita tunggu di gerbang ya, cantik!" pamit Selli sambil menoel dagu Snow. "Haish Selli!!!!" pekik Snow jengkel. Selli dan Keanu tertawa terbahak sambil mrlangkah meninggalkan kelas. Mereka bertiga tak menyadari kalau di dalam kelas masih ada guru wali kelas mereka yang duduk di kursi guru, di sudut ruangan. "Sudah punya teman, ya?!" tegur Kenjiro membuat Snow terlompat kaget. "Astaga Pak Kenji, kalau saya mati karena kaget gimana pak?" pekik Snow, wajah putihnya terlihat pucat. "Padahal saya dari tadi di sini lho," sahutnya sambil berjalan menghampiri Snow. "Maaf pak, saya keasyikan ngobrol sama Selli dan Keanu," ucap Snow, dia menundukkan kepalanya takut-takut. "Tadi pagi panggil kak, sekarang panggil pak, apa saya sudah tua banget?" goda Kenjiro. "Kan bapak guru saya, wajar to saya panggil pak?" sahut Snow. "Panggil paknya kalau pas ada orang lain saja, kalau berdua gini panggil kakak nggak apa-apa," goda Kenjiro lagi. Pipi Snow bersemburat merah. "Nggak sopan pak, sama guru sendiri," sahut Snow kepalanya semakin tertunduk. "Hahahaha.... Bercanda! Kapan mau traktir saya?" tagih Kenjiro tak tau malu. "Ah, habis MOS ya pak, hari ini saya ada janji sama Selli dan Keanu buat bikin tugas MOS," jawab Snow. "Oke, saya tunggu ya! Buruan telepon kakakmu, kedua temanmu pasti sudah menunggu di gerbang!" seru Kenjiro, yang mengusap lembut kepala Snow sebelum melangkahkan kakinya keluar kelas. Snow juga buru-buru beranjak keluar kelas sambil menekan kontak kakaknya. "Kak Bryant...." sapa Snow. "Ya de? Sudah selesai? Kakak jemput sekarang?" tanya Bryant. "Nggak usah kak, ade mau langsung belanja untuk keperluan MOS sama teman ade, jadi ade naik taksi online aja kak," jawab Snow antusias. "Ade sudah ada kawan? Serius?" tanya Bryant tak percaya, karena selama ini Snow tak pernah punya kawan. "Serius kak, sungguh. Mereka sudah tunggu ade di gerbang. Kalau sudah sampai rumah ade kabari kakak," jawab Snow gembira. "Syukurlah, berkawan baik-baik ya!" pesan Bryant. "Siap kak, nanti kakak mau makan malam apa?" tanya Snow. "Apa aja yang Snow siapkan pasti kakak makan," jawab Bryant. "Okay kak, ade jalan dulu ya, kakak jangan pulang malam-malam, jangan lupa makan siang!" terocos Snow. "Iya.... Iya.... Kamu juga makan dulu baru belanja, ingat asam lambung! Hati-hati, uang belanja keperluan MOS sudah kakak transfer, pakai baik-baik ya adikku, ingat ya, jangan pecicilan!" pesan Bryant. "Iya kak iyaaaaa.... bye Kak Bryant!" jawab Snow. "Bye Snowy... Love you my lil sister," sahut Bryant. "Love you too my big brother," balas Snow sambil terkekeh, lalu menutup sambungan teleponnya. Snow berlari kecil menyusuri koridor yang tampak sedikit ramai dengan beberapa siswa yang juga berjalan hendak keluar menuju halaman sekolah. "Sorry.... Lama nunggu ya?" tanya Snow pada Keanu dan Selli setibanya di gerbang sekolah. "Nggak, kita juga baru nyampe, mampir ke kelasnya teman Keanu tadi," jawab Selli. "Oh gitu...." balas Snow. "Tadi temanku mau ikut gabung, tapi aku bilang ga boleh, soalnya kan ngerjainnya ga di rumahku," sahut Keanu. "Nggak apa-apa sih kalau mau gabung, asal ya sama-sama kerja aja," balas Snow, "Ajak sekalian aja nggak apa-apa!" sambung Snow. "Nggak usah lah, mereka rese, kalau ngumpul nggak akan buat kerja," sahut Keanu. "Ya sudah, kita bertiga aja. Sudah pesan taksi?" tanya Snow. "Belum, kan kita belum tau mau belanja di mana," jawab Selli sambil mengangkat bahunya. "TransMart aja, yang komplit," usul Keanu. "Lumayan jauh, tapi oke lah," sahut Selli yang diangguki oleh Snow. Keanu lalu memesan taksi online, sementara menunggu, mereka membahas camilan apa yang akan mereka buat dengan bajan dasar tempe. "Kalian suka camilan manis atau gurih?" tanya Snow. "Aku sih suka coklat sama yang manis-manis gitu, tapi kalau trmpe mana bisa dibikin camilan manis, sih?" jawab Selli setengah menggerutu. "Bisa aja lah, kenapa nggak bisa," jawab Snow santai. "Seriusan? Bisa?" tanya Selli tak percaya. "He.eh, bisa dibuat keripik dibalur coklat, dibuat cake atau cookies. Mau coba?" jawab Snow santai, seolah dia sering membuatnya. "Beneran?" mata Selli berbinar takjub, Keanu pun melongo dibuatnya. "Yakin itu Cell? Edible nggak tuh?" tanya Keanu. "Edible lah, gila aja kasih makan orang sesuatu yang nggak edible. Aku pernah menang lomba inovasi masakan tau, dari sejak kelas 5 SD!" seru Snow jengkel karena diremehkan. "Gilaaaaa!!!! Serius?????" pekik Keanu dan Selli bersamaan. "Kalau nggak percaya lihat saja nanti di rumah, ada kok piala sama piagamnya. Tahun ini aku juga jadi Juara Utama Inovasi Makanan berbahan dasar tulang ayam," jawab Snow datar, tak bermaksud menyombongkan diri. "Aaaaah..... Gila ni bocah, kecil gini tapi jago masak!" pekik Selli sambil memeluk bahu Snow. "Cell, udah punya pacar belum? Aku daftar jadi calon suamimu boleh?" tanya Keanu setengah bercanda. "Nga-ngawur!!!" jawab Snow, mukanya merah padam karena malu. "Diiiih.... Imutnya teman kita ini kalau malu-malu!" goda Selli sambil menoel pipi chubby Snow, Keanu pun ikutan menoel pipi Snow yang satunya. "Kalau kalian masih iseng, mending kerjain sendiri tugasnya, aku pulang deh," ancam Snow cemberut. "Yah, ngambek dia, kamu sih, Sell!" seru Keanu menyalahkan Selli. "Eh, kamu juga kali Kean!" Selli tak mau kalah. Ketua kelas dan wakil ketua kelas itupun berdebat sendiri, padahal belum genap sehari mereka kenal, tapu sudah seakrab ini, Snow terkekeh geli, lalu dia melihat ada taksi berhenti, sang driver menurunkan kaca mobilnya dan bertanya pada Snow, "Adik, pesanan taksi atas nama Keanu, apakah itu adik?" tanya driver itu sopan. "Oh iya kak, sebentar ya," jawab Snow. "Oi, kalian mau lanjut ribut apa mau belanja? Taksinya sudah datang, kasihan kakak drivernya nunggu!" seru Snow yang membuka pintu penumpang lalu masuk ke dalam taksi, Keanu dan Selli langsung berhenti ribut, buru-buru mereka masuk ke dalam taksi, Selli duduk di belakang bersama Snow, sedangkan Keanu duduk di sebelah driver. "Ke TransMart ya dik?" tanya driver taksi. "Iya kak, pelan saja nyetirnya, kita santai kok," jawab Keanu. "Ok, tapi seatbelt dipasang dulu ya," pinta driver taksi. Mereka bertiga kompak memasang seatbelt, setelah semua memakai seatbelt barulah driver menjalankan taksinya perlahan. Dari sebalik pintu lobby, tampak Kenjiro mengamati ketiga muridnya yang ribut, lalu buru-buru melangkah ke parkiran mobil, masuk ke dalam mobilnya, lalu melesatkannya keluar sekolah dan mengikuti taksi yang dikendarai Snow dan kedua teman barunya. Setelah 30 menit perjalanan yang diwarnai keriuhan kecil antara ketiga orang siswa SMU yang baru saja saling mengenal, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. Setelah patungan membayar taksi, merekapun bergegas turun dan melangkah masuk ke dalam mall. Kenjiro yang tiba tak berapa lama, buru-buru memarkirkan mobilnya di tempat parkir mobil yang berada di halaman mall, lalu dia bergegas masuk ke dalam mall dan mencari keberadaan ketiga muridnya. Sementara itu, Snow terlihat bete setelah kakaknya mengiriminya pesan terus menerus. "Kita makan dulu ya, udah jam 12 lebih, kakakku sudah ribut nyuruh aku makan lewat WA," ajak Snow. "Boleh, kebetulan aku juga sudah lapar," jawab Keanu, Selli juga mengangguk setuju. Mereka memilih sebuah restoran fast-food Jepang dan memesan rice bowl beef yakiniku dengan tambahan sepiring beef yakiniku, ebi furai, dan shrimp roll untuk mereka bertiga dan half boiled egg untuk Snow. Mereka menunggu pesanan sambil bersenda gurau, tak lama pesana mereka pun siap, masing-masing membawa nampan berisi makanan dan juga minuman menuju meja kosong yang berada di tengah restoran tersebut. Saat mereka mau mulai makan, tiba-tiba terdengar suara yang menyapa mereka bertiga. "Lho, kalian bertiga di sini?" Snow, Keanu dan Selli melihat ke asal suara yang menyapa mereka, dan melongo tak percaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN