Still on Flashback Story

3018 Kata
Snow, Selli dan Keanu ternganga melihat orang yang barusan menyapa mereka. "Pak Kenji? Ngapain bapak di sini?" tanya Selli bodoh. Snow dan Keanu menatap konyol ke arah Selli. "Yang jelas Pak Kenji kesini buat makan, dodol!! Masa ya orang datang ke restoran buat boker? Dodol dipiara!" ejek Keanu pada Selli yang langsung menyulu emosi Selli. "Apa kau bilang???" bentak Selli yang langsung menjadi pusat perhatian para pembeli. "Stop kalian!!! Belum genap setengah hari kenal, udah ribut lebih dari 10 kali, yang akur bisa nggak? Nyesel tau ajakin kalian ngerjain tugas barengan kalau cuma ribut terus!" omel Snow kesal, wajahnya memerah dan hidungnya kembang kempis karena kesal dengan kelakuan kedua temannya. "Sorry, Cella," ucap Keanu dan Selli bersamaan. "Diam dan makan, setelah itu segera belanja, ketimbang nanti kemalaman kalian pulang!" perintah Snow galak, Keanu dan Selli menurut dan mulai makan dalam diam. 'Busyet deh Cella, muka kalem kalau ngamuk ngerih!!!!' batin Keanu dan Selli bergidik. "Saya boleh gabung?" tanya Kenjiro memecah keheningan mereka. "Ah, silakan pak, maaf sampai lupa nawarin bapak duduk sama-sama," jawab Snow yang langsung bangkit dan menggeser duduknya, memberi ruangan untuk Kenjiro dudu. "Terima kasih, Gracella," ucap Kenjiro yang langsung duduk di sebelah Snow. Selli mengerjapkan matanya beberapa kali melihat Snow duduk bersebelahan dengan Kenjiro. "Pak Kenji sudah punya pacar?" tanya Selli tiba-tiba, membuat Kenjiro tersedak lemon teanya. "Uhuk... Ngapain tanya? Privasi saya itu. Lagian masih jadi siswa baru, bukannya mikir belajar malah tanya saya punya pacar atau tidak." omel Kenjiro. "Yeeee.... Jangan ge-er ya pak, saya nggak tertarik kok sama bapak, ketuaan kalau buat saya," sahut Selli tanpa menyaring omongannya. "Sembarangan kamu, saya baru 25 tahun!" omel Kenjiro semakin kesal pada Selli. "Ya ketuaan pak kalau buat saya, secara saya masih baru mau masuk 16 tahun, saya nggak sula sama cowok yang umurnya terpaut jauh," sahut Selli disambut dengusan kasar Kenjiro. "Saya tanya bapak punya pacar atau belum karena kalau lihat bapak duduk bersebelahan sama Cella gini cucok banget, serasi, ya nggak Kean?" goda Selli yang meminta perserujuan Keanu. "Hmmmm.... Lumayan, Pak Kenji juga nggak kelihatan tua-tua banget," jawab Keanu yang sukses mendapat pelototan dari Snow dan juga Kenjiro walau dengan dua alasan berbeda. "Kan.... Jadiii.... Bapak jadian deh sama Cella, cocok lho. Asyik nanti di sekolah ada drama romantika percintaan guru Bahasa Inggris dengan kembang sekolah SMU Internasional W.... Kyaaaaa.... Gemoooy!" pekik Selli girang. "NGAWUR SELLI!" omel Snow kesal, temannya satu ini ternyata mulutnya tanpa rem dan saringan. "Boleh juga usulnya, Selli. Tapi mungkin Gracellanya nggak mau sama saya," sahut Kenjiro berpura-pura sedih. "Haish, geli tau pak, jangan aneh-aneh deh!" balas Snow semakin kesal, dia menyuapkan makanan ke mulutnya banyak-banyak, sampai pipinya menggembung dan bibir mungilnya kesusahan bergerak saat mengunyah. "Gracella, pelan-pelan makannya, maaf saya hanya bercanda," bujuk Kenjiro saat meminta maaf, dia khawatir Snow tersedak makanannya kalau makan dengan cara seperti itu. Tapi Snow tak peduli, entah bagaimana caranya, bibir mungilnya bisa terbuka lebar dan menyuap satu sendok penuh nasi beserta lauknya, belum lagi Snow juga menjejalkan ebi furai ke dalam mulutnya. Walau begitu, entah mengapa Kenjiro merasa kalau Snow itu imut. Tiba-tiba, ponsel Snow yang tergeletak di atas meja berbunyi, ID pemanggilnya adalah Kakakku Tercinta, Snow buru-buru menjawabnya setelah menelan makanan dalam mulutnya dan minum seteguk milk tea. "Ya kak Bryant?" sapa Snow ceria. "Ade sudah makan?" tanya sang kakak dari seberang. "Ini baru makan, kak. Kak Bryant sudah makan?" Snow balik bertanya. "Belum, baru dipesankan Alex." jawab Bryant, "Pulang jam berapa nanti? Kakak minta Willy jemput saja ya?" sambung Bryant. "Ade bertiga sama teman ade nggak apa-apa ya kak?" tanya Snow. "Nggak apa-apa, buat adik yang paling kakak sayang apa sih yang nggak boleh?" goda Bryant. "Hehehehe... Makin sayang deh sama kakak," balas Snow manja. "Buruan belanjanya ya, jangan cape-cape, MOS butuh tenaga banyak, kakak nggak mau kamu sakit hanya karena tugas nggak masuk akal dari kakak-kakak kelasmu!" ucap Bryant tegas. "Iya kak, iya.... Ini sudah hampir selesai kok. Kak Willy kesininya satu jam lagi aja kak, ade ke Carefour TransMart, nanti kak Willy langsung masuk aja, atau minta telepon ade," balas Snow. "Hmmm, ok.... Baik-baik ya, kalau uang kurang, pakai uang ade dulu, nanti kakak ganti," sahut Bryant. "Lima kali lipat?" gurau Snow sambil tersenyum lebar, Kenjiro yang melihatnya merasakan jantungnya berdetak 100 kali lebih cepat. "Dasar rampok kecil kamu ya!" omel Bryant pura-pura kesal. "Hehehehe.... Udah dulu kak, ade mau jalan, teman-teman ade sudah hampir kelar makannya," sela Snow. "Ok, satu jam lagi Willy sampai sana. Bye Snow, baik-baik ya..." pesan Bryant. "Iya kak, bye Kak Bryant," balas Snow lalu memutus sambungan teleponnya. Selli dan Keanu menatap Snow, heran, karena kakak Snow over controlling banget, tiap menit kirim WA, dan tiap 15 menit telepon, nanyain ini dan itu. Tapi herannya Snow nggak bete, malah kelihatan bahagia banget, padahal kebebasannya dikontrol sama sang kakak. "Kakak kamu sayang banget ya ke kamu, Gracella?" tanya Kenjiro sambil menatap gemas Snow yang melanjutkan makannya. "Wajar kan, namanya juga kakak," jawab Snow yang mulai risih dengan keberadaan Kenjiro, karena sedari tadi Kenjiro terus memandangi dirinya dengan tatapan aneh. "Snow nanti bagi tugas aja belanjanya biar cepat ya, aku cari yang buat papan nama, kamu sama Selli beli bahan camilan, kan cepetan aku nanti selesainya, trus aku nyusul kalian, gitu ya?!" usul Keanu sambil ngemilin sisa beef yakiniku. "Boleh, ini daftar yang harus di beli buat papan nama," Snow menyodorkan sebuah kertas notes yang berisi daftar barang yang harus dibeli dengan tulisan cantik dan rapi. "Tulisanmu, Cell?" tanya Keanu takjub. "Iya lah, masa iya tulisanmu," sahut Snow mangkel. "Gile.... Rapi bener, kaya tulisan komputer!" puji Keanu dan Selli bersamaan. "Lebay kalian," sahut Snow malu-malu, "Apa gunanya tulisan bagus kalau otakku pas-pasan," gumam Snow. "Bisa diasah dengan belajar," sahut Kenjiro yang sedari tadi dicuekin. "Saya nggak suka belajar," balas Snow ketus. Snow sudah selesai makan, dia meminum habis milk teanya, setelah menunggu 10 menit, dia buru-buru mengajak Selli dan Keanu untuk mulai berbelanja. "Boleh saya ikut?" tanya Kenjiro yang dibalas tatapan aneh dari ketiga anak didiknya. "Ngapain ikut pak?" tanya Keanu, dia merasa tak nyaman dengan keberadaan Kenjiro, mereka jadi tak leluasa ngobrol. "Ya ingin saja ikut, mau lihat kalian bisa tidak menemukan barang dengan code barcode yang tadi saya kasih." jawab Kenjiro asal, karena alasan utamanya adalah ingin berlama-lama menatap Snow. "Saya sudah tau kok, Energen rasa jagung, kan?" sahut Snow santai, tangannya sibuk mengetik pesan untuk memberi tahu kakaknya kalau dia sedang berjalan ke arah Carefour. Kenjiro melongo kaget. "Secepat itu kamu tau?" tanya Kenjiro kagum. "Ada internet, ya saya manfaatin lah," jawab Snow acuh tak acuh, "Jadi bapak nggak perlu ikut, kan sudah tau kalau kami sudah menemukan barangnya," sambung Snow sambil tersenyum sinis. "Oke lah, sampai ketemu besok di sekolah, buat camilan yang edibel ya, karena guru kelas dan kakak pembina kalian juga akan mencicipi," ucap Kenjiro, kecewa karena tak bisa berlama-lama menghabiskan waktu bersama Snow. "Oke pak!" jawab Selli, sedangkan Snow dan Keanu hanya bergumam lirih. Kenjiro pun pamit pulang sementara ketiga anak didiknya masuk ke dalam supermarket dan memulai perburuan barang mereka. "Aku ke area stationary dulu ya," seru Keanu yang langsung melesat pergi. "Kita cari Energennya dulu, Sell, baru belanja bahan," ajak Snow, mereka melangkah ke arah rak yang berisi berbagai macam minuman instant, lalu segera mengambil satu pack Energen rasa Jagung. Kemudian bergegas membeli bahan untuk membuat camilan. Tak sampai 30 menit semua bahan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk membuat tugas sudah siap semua, mereka membayarnya lalu bergegas keluar dari mall. Snow mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi asisten kakaknya. "Halo Kak Willy, Snow sudah selesai, kakak dimana ya?" tanya Snow saat melangkahkan kakinya menuju pintu keluar mall. "Sudah di depan pintu masuk TransMart, mobil kakak sudah nunggu di depan,"jawab Willy. "Okay kak, kami ke depan sekarang," balas Snow yang langsung menutup sambungan teleponnya. Dari kejauhan, tampak sosok Kenjiro yang tengah memperhatikan mereka bertiga, tepatnya Snow. Tampak di luar Snow disambut hangat oleh sesosok pria yang berpenampilan rapi, memakai setelan jas dan dasi, wajah tampannya terlihat datar, namun saat berbicara dengan Snow, pria itu akan memberikan senyuman hangat dan ramahnya. 'Itu pasti orang yang diminta kakaknya menjemputnya' batin Kenjiro. "Kakak lama nunggu? Maaf ya, Snow kelamaan cari barangnya," ucap Snow sambil menangkupkan telapak tangannya di depan wajah mungilnya. "Baru aja sampai, trus Snow telepon tadi, ya udah nggak jadi parkir," jawab Willy sambil mengacak rambut Snow. "Kaaaak, Snow udah gede tau, malu juga sama teman Snow," gerutu Snow kesal, melirik malu-malu ke arah Selli dan Keanu. Willy hanya mengangguk pada mereka, tapi tak tersenyum, membuat Selli dan Keanu canggung. "Mau segede apa juga tetep aja anak kecil buat kakak," sahut Willy sambil mencubit pipi chubby Snow sampai merah. "Auh... Kak Willy sadis! Awas ya, akhir minggu nggak ada camilan pokoknya!" ancam Snow kesal. "Eh, jangan dong.... Melanggar perjanjian itu namanya, kakak nggak terima, kakak ganti rugi deh besok, ya?!" bujuk Willy, mana bisa dia hidup tanpa camilan buatan Snow, dulu mereka membuat perjanjian saat Snow berada di kelas 8, Willy akan mengajari semua mata pelajaran di SMP nya sampai dia lulus dan masuk ke SMU Internasional W, asalkan Snow membuatkan cookies dan keripik untuknya setiap akhir minggu. "Huh.... Banyak maunya," dengus Snow, "Buruan buka pintunya kaaaak, Snow masih harus ngerjain ini itu tau!" omel Snow. "Tapi camilan tetap lanjut lho ya!" pinta Willy. "Iya iya.... Asal uang camilannya dilebihin dikiiiiit, Snow ada sesuatu pengen dibeli," rengek Snow. "Iya deeee... Iyaaaaa...." sahut Willy gemas sambil membuka pintu mobil. Selli dan Keanu duduk di bangku belakang, sedangkan Snow duduk di samping Willy. Daru kejauhan, Kenjiro bertanya-tanya, masa iya sama driver dia bisa manja-manja, kalau kakaknya tak mungkin, karena nggak mirip babar blas, apa mungkin pacarnya? Tapi masa pacarnya seumuran aku? Atau seleranya memang om-om mugan gitu? ( mugan = muda ganteng ). Kalau memang iya, kesempatan baik buat Kenjiro, karena dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Kenjiro menghela nafas panjang, heran dengan kelakuannya sendiri yang mendadak menjadi stalker hanya karena gadis di bawah umur. "Wait... Jangan bilang aku mengidap kelainan sexual... p********a? Hiy.... Amit-amit.... Lebih baik aku periksa sekarang, sebelum terlambat," gumamnya lirih, niatnya mengikuti Snow sampai rumah dia urungkan, dia memilih untuk ke rumah sakit untuk menemui psikiater. Sementara itu, setelah mengantar Keanu pulang untuk mengambil baju ganti, mobil yang dikemudikan Willy bergerak perlahan menuju komplek perumahan yang ditinggali Snow dan Bryant yang hanya berjarak 10 menit perjalanan dari perumahan tempat Keanu tinggal. Sesampainya mereka di rumah Snow, Willy segera berpamitan karena masih harus membantu pekerjaan Bryant. "Kakak balik ke kantor dulu, mungkin kami akan balik agak lambat, Alex juga akan kemari nanti," pamit Willy. "Oke, terima kasih sudah jemput, kak. Hati-hati!" sahut Snow sambil melambaikan tangan pada Willy yang memutar mobilnya perlahan. "Cell, teman kakakmu ganteng bingits, sayangnya jutek," celoteh Selli saat mobil yang dikendarai Willy menghilang di sebalik gerbang. "Masa sih? Perasaan biasa aja tuh," sahut Snow. "Jutek, Cell. Sampai ngap tadi kita di dalam mobil," sahut Keanu. "Belum biasa aja kalian, kalau sudah biasa, Kak Willy orangnya asyik kok," balas Snow. "By the way, kamu dipanggil Snow sama dia, kenapa bukan Cella?" tanya Selli yang penasaran. "Oh, nggak tau, dari kecil keluarga panggil aku Snow, trus kalau ngenalin ke orang mereka panggil aku Cella, gitu," jawab Snow menjelaskan. "Oh gitu...." Keanu dan Selli manggut-manggut kaya boneka Dakocan yang ada di dashboard mobil Bryant. "Kalian boleh juga sih panggil aku Snow, sebahagia kalian aja, hehehehe...." gurau Snow sambil mengajak masuk teman-teman barunya. Keanu yang langsung melihat lemari kaca berisi beberapa penghargaan milik Snow, berdecak kagum. "Whua Cell.... Ternyata omonganmu memang nggak kaleng-kaleng, kereeeen!!!" serunya sambil mrmandangi satu persatu piagam dan piala milik Snow. "Makasih, tapi cuma di bidang cuisine sama craft aja bakatku, kalau akademik aku agak lemot, bukan agak nding tapi terlalu lemot," keluh Snow. "Yang namanya manusia Cell, nggak mungkin semua-semuanya bisa kan, kalau kita lemah di akademik, kita pasti punya sesuatu yang menonjol di bidang non akademik, yang pede dong, prestasimu nggak main-main ini, gila.... Sejak kelas 5 SD lho," ucap Selli terkagum-kagum. "Makasih, Sell.... Yuk kita kerjain sekarang, bikin camilan apa papan nama dulu?" tanya Snow. "Camilan dulu aja deh, yang ribet dulu, yang santainya belakangan," usul Keanu. "Ganti baju dulu kalau gitu, Sell ikut ke kamarku, pakai bajuku nggak apa-apa kan?" tanya Snow pada Selli. "Nggak apa, Cell," jawab Selli. "Tunggu bentar ya Kean, kalau mau minum atau apa, ambil aja di dapur!" seru Snow sambil melangkah menuju kamarnya. "Oke, Cell," sahut Keanu yang masih memandangi deretan penghargaan milik Snow. Tak berapa lama, Snow dan Selli sudah berganti pakaian. Mereka bertiga langsung menuju ke dapur, Snow meminta kedua temannya menimbang dan menyiapkan bahan yang diperlukan. Mereka memutuskan membuat tempe balut coklat, nugget tempe dan cookies tempe. Setelah semua bahan selesai ditakar, Snow dengan cekatan mulai membuat satu persatu dari camilan berbahan tempe. Setelah berkutat hampir dua setengah jam, akhirnya ketiga jenis camilan itu selesai di buat. "Nugget tempenya simpan di freezer dulu kurang lebih 30 menit, baru digoreng," ucap Snow sambil memasukkan kotak berisi nugget tempe ke dalam freezer. "Wow.... Cella, beneran nih kamu nggak buka lowongan calon suami?" gurau Keanu yang masih takjub dengan keterampilan memasak yang dimiliki Snow dan juga dia ngiler melihat cookies dan coklat tempe buatan Snow. "Hahahaha..... Nggak!" jawab Snow tegas. "Heish.... Mbok buka, biar aku nglamar," canda Keanu sambil tertawa ngakak, lalu dia mencomot satu keping coklat tempe dan memakannya. Saat mulai mengunyah matanya terbelalak kaget, lalu terpejam sambil mesam mesem nggak jelas. "Kenapa Kean?" tanya Selli yang ikutan mencomot coklat tempe fan mulai memakannya, dan reaksinya plek sama dengan reaksi Keanu. "Aiiiih.... Cellaaaaa..... Ai lap yuh.... Kalau aku cowok, aku mau deh jadi suamimu, biar bisa makan masakanmu tiap hari," pekik Selli sambil memeluk dan mencium pipi Snow. "Hiiiiiiy.... Apaan sih Sell??? Geli tau?!" pekik Snow yang bergidik ngeri. "Kamu maho ya Sell?" tanya Keanu dengan tatapan aneh. "Sembarangan mulut!!! Aku suka pisang sama terong tau?!" gertak Selli. Keanu tertawa terbahak. Snow yang nggak paham cuma bisa melongo. Dalam hati dia berpikir, gini ternyata rasanya punya teman, bisa ngobrol dan bercanda bareng. "Udah tuh kalian, mending sekarang ngukur itu karton terus dipotong-potong," ucap Snow yang sudah duduk manis di atas karpet di ruang tamu rumah kakaknya. "Ukuran berapa tadi?" tanya Keanu yang menyusul duduk di seberang Snow, tangannya memegang penggaris dan pensil, di atas meja sudah tergelar kertas karton yang tadi mereka beli. "Ukurannya 30x15, lubang talinya jarak atas 5 centimeter, samping 10 centimeter. Ngeselinnya talinya harus dianyam cantik. Nyusahin banget, rafia mana ada cantiknya sih?" jawab Selli setengah menggerutu. "Iya, mana pake acara dihias, dih..... Aku nggak bakat seni, pasti amburadul deh," gerutu Keanu. "Sudah, potong saja dulu, trus kasih 4 garis mendatar lebarnya per 2 garis 5cm, kasih jarak 3cm buat garis kedua dan ketiga. Yang ditulis nama panggilan sama alias yang dikasih tadi kan?" Snow memberikan arahan pada kedua temannya. "Iya, bete banget nama aliasku masa Pete?" sahut Keanu dongkol yang membuat Snow dan Selli tergelak. "Masih mending nama aliasku dong ya, Kunyit," kekeh Selli. "Kamu apa Snow?" tanya Keanu. "Seledri, walau aku nggak suka makan seledri, tapi masih lebih baik dipanggil Seledri ketimbang Pete, hahahahahaa....." gelak Snow yang membuat Keanu cemberut. "Haish.... menjatuhkan harga diri, ketampananku hancur cuma karena dipanggil Pete," gerutu Keanu. "HOEK!!!" ledek Snow dan Selli bersamaan. "Nggak sopan kalian!!!" seru Keanu jengkel. "Sudah, buruan potong! Ntar aku tulis dan lukis pakai pensil, kalian warnai sendiri dan tebalkan sendiri, mau pakai crayon, pensil warna atau cat, terserah kalian, untuk talinya potong dua setengah kali ukuran seharusnya, punyaku sama Selli warna pink punya Keanu warna biru. Aku ke dapur sebentar, ambilin camilan dan minum," seru Snow yang bangkit dari duduknya dan bergegas menuju dapur, membuat satu jug penuh minuman jus buah yang dicampur s**u dan jeli lalu mengeluarkan kotak berisi potongan buah dari dalam kulkas. Setelah menyusunnya di atas nampan, Snow segera membawanya ke ruang tamu, tempat mereka membuat perlengkapan untuk MOS besok. "Cell, ini udah dua yang kupotong dan digaris Selli, ada pelubang kertas nggak?" tanya Keanu. "Ada, sebentar aku ambilkan!" Snow melangkah ke ruang kerja Bryant dan mengambil pelubang kertas dari dalam laci meja Bryant lalu membawanya keluar dan menyerahkannya pada Keanu. "Nih.... Mana yang sudah digaris?" tanya Snow sambil menyerahkan pelubang kertas kepada Keanu. "Itu di depan Selli. Tapi, Cell... Apa nanti nggak dijadikan pertanyaan kalau tulisan sama hiasanya mirip?" tanya Keanu. "Tinggal kita buat beda, kalau masih ditanya lagi ya bilang aja dikerjain sama-sama, kan nggak ada larangan ngerjainnya barengan?" jawab Snow. "Oh iya, ya..." sahut Keanu lega. Snow mulai menuliskan nama panggilan dan nama alias di atas kertas karton yang sudah dipotong, lalu menghiasnya sesuai dengan nama alias mereka masing-masing. "Whoaaaa..... Cella.... You're really something!!!" pekik Keanu saat melihat papan nama miliknya yang sudah ditulis dan dihias pakai pensil oleh Snow. Tulisan tangan yang cantik, seperti tulisan di komputer mode Times New Roman, hiasan bergambar pete yang masih terbungkus kulit dan beberapa butir yang terkupas, lalu sebuah cobek berisi sambal dan butiran pete yang melimpah, ditambah satu karakter kartun chibi yang menggambarkan dirinya. "Aku jadi takut nebelinnya pakai spidol sama pensil warna, Cell.... Takut malah ngerusak," ucap Keanu yang masih takjub. "Tanganmu kebuat dari apa sih, Cell?" tanya Selli tak berkedip. "Tulang, daging, lemak, kulit, darah, dan lain-lain," jawab Snow santai sambil masih menggoreskan pensilnya di atas karton. "Nah... Punya Selli," ucap Snow saat menyerahkan papak nama milik Selli. "Whoooooow.... Kereeeen!!!!" pekik Selli girang. Tulisan jenis Baguette Scrip dengan gambar kunyit yang terlihat realistik, botol bertulis kunyit asam dan juga gambar semangkuk gulai ayam yang jika diwarnai dengan benar akan tampak menggiurkan. "Snow.... Thumbs up!!!" seru Keanu sambil mengacungkan kedua ibu jarinya diikuti oleh Selli. "Haish, lebay... Buruan ditebalin sama diwarna!" balas Snow yang tampak tersipu malu, buru-buru menunduk dan cepat-cepat menuliskan namanya. "Cell, aku nggak ahli melukis, warnainya pake teknik nggak?" tanya Keanu. "Asal aja, kaya anak yang baru belajar mewarnai, tapi jangan tebal-tebal, hasilnya pasti bagus," jawab Snow sambil memberi contoh. "Ok... Siap!" sahut Keanu. Snow melirik ke arah Selli yang masih fokus menebalkan tulisan namanya. "Mingkem, Sell!!! Ilermu netes-netes tuh!" goda Snow sambil terkikik. Selli buru-buru menutup mulutnya lalu mengusap bibirnya. Sikapnya membuat Snow dan keanu tertawa terpingkal-pingkal. "Haish.... Sialan kalian, ngerjain aku rupanya!!" omel Selli. "Hahahahaha..... habisnya, nebalin tulisan sampai mangap-mangap gitu, kaya Packman aja, ahahahhahaha...." sahut Snow yang masih terbahak-bahak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN