Part 25

1136 Kata
Malam semakin larut, bintang-bintang bertaburan di langit malam pulau dewata semakin memancarkan keeksotisan indahnya resort dan hotel milik Serin. Para tamu sudah banyak yang pamit undur diri. Cuma tersisa sebagaian dari keluarga besar Wijaya dan keluarga besar Aditama. Tawa canda terdengar menggema, Serin dan Adrian memutuskan untuk duduk di kursi kayu yang langsung menghadap ke laut. Pemandangan yang sangat romantis. Serin menyandarkan kepalanya ke bahu Adrian, Adrian merengkuh tubuh Serin ke dalam pelukannya. “Terima kasih sayang untuk semuanya,” ucap Serin dalam pelukan hangat Adrian. Adrian mendengar perkataan istrinya mengerutkan dahi. Bingung dengan ucapan terima kasih istrinya. Adrian menagkup wajah Serin dan memandang mata indah istrinya dengan penuh cinta. “Kenapa berterima kasih sayang?” ucap Adrian dengan lembut. Serin semakin membenamkan kepalanya di d**a Adrian, menghirup bau maskulin suaminya yang sudah menjadi candu untuk Serin. Adrian mengeratkan pelukannya, menikmati detak jantung Serin yang terdengar olehnya. “Aq mencintaimu Mas dengan sepenuh hatiku, jangan pernah ada pikiran di kepalamu untuk meninggalkanku,” ucap Serin. “Untuk alasan apa mas meninggalkanmu, nafas dan jantung mas berada dalam dirimu. Mas juga sangat mencintaimu. Memilikimu dalam hidup mas itu sudah lebih dari cukup.” Adrian mencium puncak kepala Serin. Hati Serin terasa hangat saat mendengar perkataan suaminya. Tiba-tiba Serin ingin buang air kecil, Serin pamit pada Adrian untuk ke toilet. “Mas aq ke toilet dulu.” ucap Serin dengan lembut. Adrian menganggukkan kepalanya pada Serin. “Perlu ditemenin sayang ?” ucap Adrian. “Gak usah Mas, Serin cuma sebentar kok.” Serin berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke toilet meninggalkan suaminya sendiri. Tanpa sepengetahuan Serin dan Adrian. Ada sepasang mata yang dari tadi mengawasinya yang tak lain adalah Miranda. Miranda mengikuti Serin ke toilet. Saat Serin keluar dari toilet, tiba-tiba Serin dihadang oleh Miranda yang tak lain adalah mantan tunangan Adrian. “Serin...” Serin menoleh pada orang yang sedang memanggil namanya. “Iya saya sendiri, siapa Anda ?” tanya Serin dengan datar. Miranda mengulurkan tanggannya dan memperkenalkan dirinya. “Perkenalkan saya Miranda, mantan tunangan Adrian. Dan ibu dari putranya Adrian,” ucap Miranda penuh rasa sombong di setiap ucapannya. Serin yang mendengar perkataan Miranda langsung terkejut. Badannya bergetar mendengar sebuah kenyataan itu. “Tidak mungkin suamiku mempunyai anak denganmu. jangan mengada-ngad,” elak Serin. Entah kenapa Serin tak ingin mempercayai perkataan wanita itu. “Tapi ini memang sebuah kenyataan, suamimu mempunyai putra denganku. Hasil dari buah cinta kami. Miranda memperlihatkan foto dari anaknya dari ponselnya. Serin yang melihat anak laki-laki di ponsel wanita itu, dia cuma bisa terdiam terpaku di tempatnya. Miranda pun bergegas pergi dari hadapan Serin. Meninggalkan Serin yang berdiri mematung dengan banyak pikiran yang berkecambuk dalam hati dan pikirannya. Serin langsung menghubungi Carlos untuk segera menemuinya. “Carlos,“ “ Iya Nona “ “Temui aku sekarang, aku di depan toilet hotel lantai bawah. Aku tunggu.” Serin memutus panggilannya. Carlos berlari menuju toilet takut Serin terjadi apa-apa. Langkahnya terhenti saat melihat Serin duduk bersimpuh di depan toilet sedang menangis. Carlos berjalan mendekat ke arah Serin. Memapahnya untuk berdiri. Serin memandang Carlos dan langsung berhambur dalam pelukan Carlos. Menagis sejadi-jadinya. Hati Carlos terasa sakit saat Carlos melihat Serin menagis. Buat Carlos, Serin bukan sekedar atasannya saja. Serin seperti adik untuk Carlos dari masa tersulit Serin, Carlos selalu ada di samping Serin. “Kita balik ke Swiss sekarang,” ucap Serin di sela-sela tangisannya. Carlos sedikit kaget dengan permintaan Serin. Carlos cuma diam dan mengiyakan apa yang di minta Serin. Untuk sementara waktu biarlah Serin tenang terlebih dahulu. “Baik.” Carlos memapah Serin keluar dari hotel dan langsung menuju mobilnya. Serin duduk di samping Carlos dengan tatapan kosong melihat keluar jendela. Carlos melihatnya cuma bisa menghela nafas panjang. Carlos melajukan mobilnya meninggalkan hotel tempat acara resepsi pernikahan Serin. Carlos menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan jet pribadi milik Serin di bandara Ngurah Rai Bali. “Roni siapkan jet pribadi, Nona akan balik ke Swiss sekarang,” ucap Carlos singkat. Panggilan pun langsung diakhiri oleh Carlos. Carlos tetap fokus mengendarai mobil menuju bandara, meskipun banyak pikiran dan dugaan-dugaan yang bersemayam dalam pikirannya. Suasana mobil pun terasa sunyi tanpa ada yang bicara. Di seberang sana tiba-tiba perasaan Adrian tidak enak, takut terjadi apa-apa sama istrinya karena sudah setengah jam Serin belum balik. Adrian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju arah toilet. Semua keluarga ikut berkumpul saat melihat kepanikan Adrian. “Ada yang terjadi Boy?” tanya Stevant mendekati Adrian. “Serin sudah setengah jam lebih belum balik dari toilet gue takut terjadi apa-apa sama dia.” Raut muka Adrian terlihat kacau memikirkan Serin yang tak kunjung kembali. Arabelle tiba-tiba muncul karena mendengar perbincangan antara Antonio dan Stevant. “Ada apa ini, kenapa muka lo kayak gitu?” tanya Arabelle. Sebelum Adrian menjawab perkataan Arabelle, tiba-tiba Miranda datang dan menghampiri Adrian. Entah kenapa tiba-tiba perasaan Adrian tidak enak. “Nyariin istri lo?” ucap Miranda dengan membusungkan dadanya yang besar. Adrian dengan malas melihat ke arah Miranda. “Istri lo sudah pergi ninggalin lo Adrian. Mending lo balik lagi saja sama gue. Kita bangun keluarga kecil kita dengan anak kita,” ucap Miranda dengan penuh penekanan di setiap katanya. Adrian yang mendengar bualan Miranda tak bisa mengontrol emosinya. Adrian mencekik leher Miranda sampai Miranda tidak bisa bernafas, semua keluarga berkumpul melihat apa yang sedang terjadi. Para ibu-ibu pada menjerit saat melihat Adrian mencekik leher miranda. “Lepasin gue Adrian” ucap Miranda terbata-bata. Tiba-tiba Arabelle menarik tangan Adrian. “Lepasin Adrian! gue perlu ngomong sama lo,” ucap Arabelle dengan tegas. Arabelle mengajak Adrian duduk yang diikuti suaminya Stevant dibelakangnya. Miranda setelah lepas dari cengkraman Adrian langsung pergi dari tempat itu. Meninggalkan pesta tersebut. “Serin sudah pergi,” ucap Arabelle dengan datar. Adrian kaget dengan perkataan yang barusan dia dengar dari mulut Arabelle. Arabelle memperlihatkan ponselnya pada Adrian. Arabelle memberitahu posisi Serin untuk saat ini, semua keluarga ikut kaget mendengar apa yang dikatakan Arabelle tentang Serin. Baru saja kebahagiaan dia rasakan, sekarang harus merasakan kesedihan. Adrian menutup mukanya. pikirannya kacau memikirkan Serin yang pergi darinya. Tanpa mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. “Apa sebenarnya yang sudah dibicarakan Miranda pada Serin. Sampai Serin harus pergi seperti ini,” ucap Adrian dalam hati. Adrian menatap Arabelle yang sedang memainkan ponselnya. “Serin sudah pergi, sekarang dia perjalanan menuju Swiss. Dia dalam pengawasan Carlos. Ternyata sebelum dia pergi dia menelfon Carlos terlebih dahulu. Mantan lo bikin gara-gara Adrian. Sampai adik gue harus pergi kayak gini. Lo sekarang siap-siap kita pergi sama-sama jemput Serin. Meskipun nanti pasti akan sedikit sulit,” ucap Arabelle dengan santai. Arabelle menghubungi anak buahnya yang ada di Swiss untuk tetap siaga menjaga Serin. Arabelle menekan chipnya yang terpasang di telinganya. Dan memanggil nama yang akan dia telpon. Arabelle menelphon Ansell. “Ansell lo di mana ?” ucap Arabelle datar. “Ada di markas nona, ada apa nona? Seperti ada insident,” ucap Ansell dengan hormat “Kerahkan anak buah kita yang terbaik untuk melindungi adikku Serin, sekarang dia perjalanan menuju Swiss. Jangan sampai dia terluka. ucap Arabelle Entah kenapa Adrian merasa hampa setelah kepergian Serin. Wanita yang sangat dia cintai dengan sepenuh hati *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN