Dean mengajak Gadis ke taman besar dekat pantai. Keduanya berjalan bersisian. Tak ada kata yang terucap. Embusan angin malam menerpa, Gadis mengeratkan pelukan pada tubuhnya sendiri. Keduanya tiba di bibir pantai. Cahaya samar-samar lampu taman memberi sedikit penerangan. Dean duduk menyila di pasir, lalu menepuk ruang di sebelahnya, meminta Gadis melakukan hal yang sama. "Makasih, Gadis," ujar Dean setelah Gadis duduk canggung di sampingnya. "Makasih buat apa?" "Cuma kamu satu-satunya orang yang enggak mau menjauh setelah aku kasari. Semua menganggap aku sombong. Karena aku memang enggak ingin berteman dengan siapa pun." Gadis tersenyum senang mendengar fakta tersebut. Merasa berguna menjadi manusia. "Kalian udah lama tinggal di sini?" "Ya. Sejak aku SMP kelas satu. Papaku men

