Langit malam itu kelam, sekelam hati Adrian yang kini berkecamuk tak karuan. Sejak melihat Naya di gala amal tadi sore, pikirannya dipenuhi berbagai rencana, obsesi, dan emosi yang membuncah tanpa kendali. Ia ingin Naya kembali. Ia ingin gadis itu berada di sampingnya lagi, di tempat yang seharusnya. Dan ia... tidak peduli bagaimana caranya.
Di hotel tempat gala berlangsung, Naya berjalan cepat ke ruang belakang setelah Arman memperkenalkannya kepada para tamu sebagai manajer kedai kopi sekaligus pendamping gala kecil-kecilan itu. Naya mengira Adrian tidak akan hadir di tempat sederhana seperti ini, tapi kenyataan begitu kejam, memaksanya menelan luka lama yang belum benar-benar sembuh.
Di ruang staf yang sempit, Naya terduduk di lantai, memeluk lututnya, berusaha menahan air mata. Ia tak menyangka Adrian benar-benar menemukan jejaknya, dan yang lebih menyakitkan, tatapan pria itu bukan lagi seperti Adrian yang dulu. Tatapan itu penuh luka... dan kemarahan.
"Naya?" Arman muncul, wajahnya memancarkan kekhawatiran. Ia berjongkok di samping Naya, mengusap lembut pundaknya.
"Kenapa kamu pucat sekali? Kamu nggak apa-apa?"
Naya menggeleng cepat, tapi air matanya tak bisa lagi dibendung. "Aku... aku harus pergi dari sini, Arman."
Arman menatapnya dalam. "Ini tentang pria di gala itu, ya? Pria yang terus menatapmu seperti ingin membunuh siapa saja yang menyentuhmu?"
Naya terdiam. Arman benar. Tatapan Adrian tadi sore benar-benar menakutkan, bukan lagi tatapan lelaki yang ia cintai dulu.
"Aku bisa melindungimu, Naya. Kalau dia mengganggumu, bilang ke aku."
Naya memejamkan mata, hatinya teriris. Ia ingin percaya pada Arman, pria yang telah memberinya kesempatan kedua, tapi hatinya tahu, melarikan diri bukan lagi jawaban.
Malam itu, saat kedai tutup, Naya berdiri termenung di balkon kecil kamar atas kedai. Angin malam membelai rambutnya yang tergerai, membawa bisikan kenangan bersama Adrian.
"Kenapa kamu datang lagi, Tuan...?" bisiknya lirih.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari bawah. Naya menunduk, dan matanya membulat. Adrian berdiri di sana, menatapnya tajam, tanpa senyum.
"Naya... turun. Kita harus bicara."
Naya panik. Ia segera menutup tirai, mengunci pintu, dan mematikan lampu.
Namun Adrian tidak menyerah. Ia memaksa masuk ke kedai yang sudah tutup, menerobos penjagaan Arman yang baru saja kembali dari gudang.
"Heh! Mau apa kau?" bentak Arman, mendorong tubuh Adrian.
Adrian tak kalah garang. Ia mendorong balik Arman. "Aku ingin bicara dengan Naya. Ini bukan urusanmu!"
"Dia sekarang hidup di bawah atapku. Dia urusan aku," tegas Arman, matanya membara.
Naya yang mendengar keributan itu segera turun, menghentikan kedua pria yang hampir saling pukul.
"Berhenti! Kalian berdua!" teriak Naya, air matanya tumpah.
Arman menatap Naya penuh luka. "Naya... dia siapa? Mantanmu? Orang yang membuatmu seperti ini?"
Naya menunduk, tak sanggup menjawab. Adrian melangkah mendekat, wajahnya tak lagi sekadar penuh emosi, tapi obsesi yang gelap.
"Aku bukan mantan. Aku adalah masa depanmu, Naya. Kamu pikir kamu bisa lari selamanya? Dunia ini kecil," bisik Adrian di telinga Naya.
Naya menatap Adrian dengan mata berkaca-kaca. "Kamu... bukan Adrian yang aku kenal."
"Aku tetap Adrian, Naya. Tapi aku berubah... karena kamu."
Arman segera menarik Naya ke belakang tubuhnya. "Sudah cukup. Naya tidak ingin bertemu denganmu lagi. Pergi dari sini, atau aku laporkan kamu ke polisi."
Adrian tersenyum dingin. "Coba saja, kalau kau berani."
Setelah berkata demikian, Adrian berjalan pergi, meninggalkan ancaman yang menggantung di udara.
Naya terjatuh di lantai, menangis sejadi-jadinya. Arman memeluknya erat, mencoba menenangkan gadis yang hatinya kini benar-benar hancur.
"Naya... kamu nggak perlu takut. Aku di sini. Aku akan lindungi kamu," bisik Arman lembut.
Tapi di dalam d**a Naya, ia tahu... luka yang dibawa Adrian lebih dalam dari yang Arman tahu. Dan kini, semua luka itu kembali terbuka, menyayat hatinya lebih dalam dari sebelumnya.
Sementara itu, Adrian duduk di dalam mobilnya yang terparkir di ujung jalan. Matanya kosong, tangannya mengepal di atas setir.
"Kalau aku nggak bisa memiliki Naya dengan cara yang baik... aku akan memaksanya kembali dengan caraku."
Obsesinya kini telah berubah menjadi amarah yang siap menghancurkan segalanya. Ia tak peduli jika harus mengorbankan semua demi mendapatkan Naya kembali.
Di dalam hatinya, hanya satu kata yang kini menguasainya: Milikku.