Bab 10 - Dilema di Antara Dua Dunia

646 Kata
Naya duduk di kursi kayu tua di kamar atas kedai Arman, memeluk kakinya sendiri. Malam telah larut, namun matanya tak bisa terpejam. Setiap kali menutup mata, bayangan wajah Adrian muncul di benaknya—penuh luka, kemarahan, dan obsesi yang menakutkan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi dadanya terasa sesak. Pikirannya kacau. Arman, pria yang memberinya tempat berlindung, perlahan membuka hatinya untuk cinta baru. Tapi Adrian... pria yang dulu membuatnya bermimpi tentang cinta sejati, kini berubah menjadi bayang-bayang menakutkan yang menguntit setiap langkahnya. Naya merasa terjebak di antara dua dunia. Ia ingin melepaskan masa lalu, tapi masa lalu itu terus mengejarnya, menjeratnya lebih kuat. Di lantai bawah, Arman termenung sendirian di ruang makan. Ia memandangi gelas kopi yang dingin di tangannya, memikirkan semua yang terjadi. Ia tidak bodoh. Ia tahu hubungan Naya dengan pria yang muncul tadi malam bukan sekadar mantan biasa. Pria itu membawa aura gelap, aura yang mengancam, seolah siap menghabisi siapa pun yang menghalangi jalannya. Arman menatap langit-langit. Ia tak bisa tidur. Ia ingin melindungi Naya... tapi hatinya bertanya-tanya, apakah Naya benar-benar ingin dilindungi? Keesokan paginya, kedai buka seperti biasa. Naya mencoba bersikap seolah semuanya baik-baik saja, menyapa pelanggan dengan senyum palsu. Tapi Arman tahu, senyum itu dipaksa. Di tengah hari yang terik, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan kedai. Naya yang melihatnya langsung pucat pasi. Ia mengenal mobil itu. Adrian. Pintu mobil terbuka, namun bukan Adrian yang keluar. Seorang wanita muda yang anggun, berambut panjang dengan gaun elegan turun dari mobil. Wajahnya cantik, tapi matanya dingin. "Nona Naya?" Wanita itu tersenyum tipis, memperlihatkan aura kesombongan. "Aku Clara. Tunangan Adrian." Dunia Naya seakan runtuh. Kata-kata itu menusuk dadanya lebih tajam dari belati. "Apa... apa yang Anda inginkan?" suara Naya bergetar. Clara tersenyum dingin. "Aku hanya ingin memperingatkanmu. Jangan pernah berpikir kamu bisa merebut Adrian dariku. Kamu cuma pembantu yang beruntung pernah diperhatikan. Tapi dongeng itu sudah berakhir." Naya menunduk, tangannya gemetar. Arman yang melihat kejadian itu segera menghampiri. "Sudah cukup. Pergi dari sini sebelum aku panggil keamanan," tegas Arman, menatap Clara dengan dingin. Clara mendengus, lalu berjalan pergi. Namun sebelum masuk ke mobil, ia sempat berbisik pada Naya, cukup keras untuk didengar Arman. "Kamu kira Adrian benar-benar mencintaimu? Dia hanya main-main, Naya. Kamu cuma hiburan sesaat. Jangan mimpi tinggi." Setelah mobil itu pergi, Naya terduduk lemas di lantai. Air matanya jatuh tanpa suara. "Naya... jangan dengarkan kata-kata wanita itu," Arman berjongkok, menggenggam tangan Naya. "Aku di sini. Aku yang nyata." Tapi Naya terdiam. Ia merasa hatinya koyak. Adrian bertunangan? Lalu apa arti semua kenangan itu? Apa semua yang ia rasakan selama ini hanyalah ilusi? Arman menarik Naya ke dalam pelukannya, mengusap rambutnya lembut. "Lupakan dia, Naya. Mulailah hidupmu yang baru bersamaku." Namun Naya tahu, hatinya belum sepenuhnya bisa berpaling. Luka yang ditinggalkan Adrian terlalu dalam. Bahkan jika ia mencoba melupakan, bayangan pria itu masih menghantuinya. Di sisi lain, Adrian yang mengatur semuanya dari jauh tersenyum puas saat mendengar laporan Clara. "Bagus... biar dia tahu tempatnya," gumam Adrian dingin. Namun hatinya tidak benar-benar lega. Ia merasa resah. Ia ingin Naya kembali, tapi egonya menolak mengakuinya. Ia memilih cara yang salah, membiarkan Clara, tunangan yang dipaksakan oleh keluarganya, ikut bermain dalam obsesinya. Malam itu, Naya menatap langit dari jendela kamarnya. Ia memegang kalung kecil pemberian Adrian saat mereka dulu masih dekat. Tangannya gemetar. "Aku... harus kuat... aku harus keluar dari lingkaran ini," bisiknya. Tapi hatinya tahu, semakin ia mencoba lari, semakin dalam luka itu mengakar. Hari-hari berikutnya, Naya mencoba fokus pada pekerjaannya di kedai. Arman selalu ada di sisinya, memberi kekuatan. Tapi di lubuk hatinya, Naya tahu... ia harus menghadapi Adrian, menuntaskan semuanya. Entah dengan cara damai... atau dengan luka yang lebih parah. Namun Naya tidak tahu, Adrian sudah merancang permainan yang lebih berbahaya. Ia menyiapkan jebakan yang akan memaksa Naya kembali ke dalam dunianya, dunia di mana Naya tidak bisa menolak, tidak bisa lari. Dan perang cinta segitiga itu... baru saja dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN