Naya mengira setelah Clara datang, Adrian akan berhenti. Tapi dia salah besar. Adrian adalah pria yang tidak pernah puas hanya menakut-nakuti. Ia haus kendali. Dan saat hatinya diliputi obsesi, ia bisa menjadi lebih kejam dari yang pernah Naya bayangkan.
Hari-hari berlalu, Naya berusaha menghindar. Tapi kehidupan tidak semudah itu. Adrian mulai menebar jaringnya secara halus, bahkan di luar kesadaran Naya.
Suatu sore, saat Naya tengah sibuk melayani pelanggan di kedai, seorang pria berjas hitam datang membawa amplop besar. Ia menyodorkannya pada Naya dengan sopan.
"Nona Naya Putri? Ini undangan untuk Anda. Harap diterima."
Naya bingung, membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada undangan makan malam resmi yang tertera nama Adrian Wicaksana sebagai tuan rumah.
Bersama undangan itu, ada surat tulisan tangan Adrian yang begitu khas.
"Naya, kita belum selesai. Datanglah malam ini. Jika kau tidak datang, aku akan membuatmu menyesal telah mengabaikan perintahku. -Adrian"
Naya menjatuhkan surat itu, tubuhnya gemetar. Arman yang melihatnya segera merebut surat itu, membaca isinya dengan rahang mengeras.
"Ini... sudah kelewatan," gumam Arman.
"Tidak, Arman... aku nggak bisa datang... aku nggak mau terjebak lagi," desah Naya dengan suara bergetar.
Arman mengangguk. "Aku yang akan urus ini. Kalau perlu, kita pergi dari kota ini."
Namun sebelum mereka sempat merencanakan sesuatu, kedai tiba-tiba didatangi petugas pajak yang mengaku menemukan pelanggaran administratif yang fatal. Semua surat izin yang tadinya lengkap, mendadak bermasalah.
"Maaf, Pak Arman. Kedai Anda akan kami segel sementara sampai semua dokumen diperbaiki," kata petugas itu tanpa basa-basi.
Arman syok. "Ini... ini pasti permainan Adrian... dia mau memaksamu datang dengan cara kotor," geram Arman, menendang kursi dengan emosi meledak-ledak.
Naya menangis. Ia merasa dijebak dari segala sisi. Ia tahu benar, Adrian memiliki kekuatan untuk menjatuhkan siapa pun yang menentangnya.
Malam itu, di tengah hujan yang deras, Naya berdiri di depan gedung megah milik keluarga Wicaksana. Gaun sederhana yang dikenakannya basah kuyup, membuatnya tampak rapuh dan terluka.
Pintu besar terbuka. Adrian berdiri di sana, mengenakan setelan jas hitam yang begitu sempurna. Senyum kemenangannya membuat Naya ingin berteriak.
"Akhirnya kau datang juga," bisik Adrian, menarik Naya masuk ke dalam.
Gedung itu sunyi. Tak ada tamu, tak ada pesta. Hanya Adrian... dan Naya.
"Apa maumu, Adrian? Aku sudah keluar dari dunia ini... kenapa kamu nggak bisa melepaskan aku?" tanya Naya dengan suara yang mulai parau.
Adrian mengangkat dagu Naya dengan jemarinya yang dingin. "Karena kamu masih milikku, Naya. Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah semua yang kita lewati?"
"Aku bukan milik siapa pun, Adrian. Aku bukan pembantu kecil yang bisa kamu perintah sesuka hatimu."
Adrian menatap Naya lama. "Kamu benar. Kamu bukan pembantu lagi. Kamu... adalah obsesi yang tak bisa aku hilangkan."
Naya mencoba menarik diri, tapi Adrian menahan tangannya.
"Dengar, Naya. Aku bisa membuat hidupmu mudah. Kedaimu? Aku bisa kembalikan. Arman? Aku bisa buat dia sukses tanpa perlu susah payah. Tapi dengan satu syarat..."
Naya menatap mata Adrian, hatinya berdebar keras. "Apa?"
"Kembali padaku. Jadi wanitaku lagi. Kali ini... bukan sebagai pembantu. Tapi sebagai... tunanganku."
Naya ternganga. Tawaran yang terdengar seperti mimpi itu justru membuat hatinya ingin muntah.
"Tunangan? Denganmu?" Naya tertawa getir. "Kamu sudah bertunangan dengan Clara."
Adrian menyeringai dingin. "Clara? Dia hanya permainan politik keluargaku. Aku bisa memutuskan pertunangan itu kapan saja. Tapi kamu, Naya... aku yang memilihmu."
Air mata Naya menetes. Ia tahu, Adrian tak sedang bercanda. Pria itu benar-benar gila.
"Aku... aku butuh waktu," bisik Naya akhirnya.
Adrian menyeringai puas. "Kamu punya waktu sampai malam besok. Kalau tidak... aku pastikan kedai Arman tidak hanya disegel, tapi juga dihancurkan."
Naya berjalan pulang di bawah hujan. Hatinya remuk. Ia terjebak. Jika ia memilih menolak, Arman akan hancur. Tapi jika ia menerima... ia mengkhianati hatinya sendiri.
Arman yang menunggunya di kedai yang kini gelap langsung menghampiri Naya. "Apa yang dia lakukan padamu, Naya?"
Naya menatap Arman, matanya kosong. "Dia memberiku pilihan yang tidak adil, Arman..."
Malam itu, Naya menangis dalam pelukan Arman. Namun hatinya tahu, besok malam, keputusan yang ia ambil... akan mengubah hidupnya selamanya.