Tidur Bersama

1399 Kata
Adanya Rianti di rumah, membuat Sisil dan Aster menjadi tidak leluasa. Bukan, bukan tidak leluasa untuk berdua-duaan. Melainkan Aster harus terus berdekatan dengan Sisil. Tidak biasa tentunya. Malam-malam begini, Aster biasanya akan berada di ruang kerjanya. Entah itu untuk membaca buku atau mengerjakan sesuatu. Tapi kali ini, ia harus menunjukkan keharmonisannya pada sang Mami. Saat Sisil sedang memasak di dapur, Aster berdiri di sampingnya. Sesekali Aster menoleh pada Rianti yang tengah duduk di sofa sambil menonton televisi di depannya. Begitu pun Rianti yang sering kali melirik pada anak dan menantunya. Rianti mengulas senyuman saat melihat Aster mengusap pucuk kepala Sisil yang tengah mencicipi sayur sop. Dan di tempatnya, Sisil juga tersenyum sambil membalas pandangan Aster. Tampak romantis jika dilihat dari jauh. "Mau sampai kapan kita kayak gini, Pak dokter?" bisik Sisil tanpa melunturkam senyum dibibirnya. Aster tertawa dengan dibuat-buat dan menjawab, "Sampai Mami saya tidur, Sil." Dari sudut pandang Rianti lain lagi. Aster dan Sisil terlihat lucu karena beliau mengira mereka tengah saling melemparkan lelucon. Padahal mereka sedang berusaha untuk terlihat harmonis. "Mami sukanya apa ya, Pak dokter?" tanya Sisil. "Apa saja, yang penting enak dan rasanya perfect," jawab Aster. "Duh, Sisil takut masakannya nggak enak. Gimana ya...?" Aster sekilas melirik Rianti. "Mami saya itu paling suka sama rasa gurih. Lidah saya sama Mami saya hampir satu selera. Sini, biar saya cobain sayur buatan kamu," pintanya. Sisil mengambil sendok yang diisi dengan sayur sop dari wajan. Ia dinginkan dulu dengan tiupan kecil sebelum dicicipi oleh Aster supaya tidak kepanasan. "Sebenernya nggak boleh makanan ditiup-tiup gitu, Sil," tegur Aster. Sisil menoleh dan terkekeh pelan. "Gapapa. Biar ada vitamin J-nya." "Hah? Vitamin J apa?" "Vitamin Jorok. Hehe...." "Ck! Kamu ya, Sil. Yaudah sini, saya cobain." Aster mengambil sendok yang ada di tangan Sisil. Kemudian ia mulai mencicipi sayur sop tersebut. Wajah Aster memberenyih karena rasa manis yang berlebihan di lidahnya. "Terlalu manis, Sil. Kamu masukin gula berapa banyak?" Sisil mengernyitkan keningnya penuh keheranan. "Masa sih? Padahal Sisil nggak masukin gula banyak-banyak. Apa mungkin karena ada Pak dokter di sini?" "Kok saya?" "Iya. Soalnya Pak dokter manisnya overdosis. Jadinya, sayur sop buatan Sisil kemanisan." Sisil dengan entengnya menggombal di saat seperti ini. Bukannya baper, Aster malah menghela napasnya lelah. "Kayaknya gombalin saya udah jadi kebiasaan kamu ya, Sil?" Sisil mengerucut kesal. Gombalan berupa apapun sepertinya tak mempan untuk lelaki yang sudah terlalu dewasa itu. Mungkin Sisil yang terlalu kekanakan karena masih mengandalkan jurus gombal anak remaja untuk Aster. Setelah semua makanan sudah tersaji di atas meja, barulah mereka duduk manis di kursi masing-masing dan menikmati makanan itu. Tak ada hal yang aneh atau spesial selama mereka makan. Suasana hanya di isi dengan keheningan dan sesekali terdengar suara dentingan sendok yang mengenai piring. Usai menyelesaikan makan malamnya, tiba-tiba saja Rianti berujar, "Kamu belajar masak di mana, Sil?" Sisil yang setengah menunduk, kini memposisikan wajah dengan tegak saat pertanyaan itu keluar dari mulut Rianti. Sesaat sebelum menjawab ia menoleh dulu pada Aster. "Sisil belajar sama Ibu Panti, Mi." Rianti hanya manggut-manggut. Sedangkan di samping Sisil, Aster tersenyum tipis dalam diamnya. Pertanyaan itu hanyalah kamuflase dari pernyataan yang menyatakan 'Makanan kamu enak, Sil'. Aster tahu betul seperti apa Maminya. Gengsi Rianti terlalu tinggi untuk mengakui masakan Sisil yang nikmat di lidahnya. Mungkin awalnya sayur buatan Sisil terlalu manis, tapi Sisil bisa menyempurnakan kembali rasa itu dengan menambah bumbu lain. *** Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Aster dan Sisil sudah berada di kamar. Sisil sedari tadi hanya duduk diam di ujung ranjang sambil menggoyangkan kakinya di lantai. Sebelum ada interuksi dari Aster, Sisil tidak akan tidur. Karena ia tak tahu harus tidur dimana. Masa iya seenaknya tidur di tempat tidur milik Aster. Aster keluar dari kamar mandi dengan wajah setengah basah. Pandangannya langsung tertuju pada Sisil. "Kamu kenapa belum tidur?" "Pak dokter mau tidur di mana?" tanya Sisil yang mengabaikan pertanyaan Aster. Telunjuk Aster menunjuk ranjang. "Di sini." "Oh, kalo gitu. Sisil di sofa aja ya, Pak dokter?" "Nggak usah, Sil. Tidur di kasur saja sama saya." Sisil melebarkan pupil matanya, sedikit kaget. "Tapi Sisil-" "Maksud saya, kita bisa buat batasan di antara saya dan kamu, Sil. Saya yakin nggak bakalan terjadi apa-apa, tenang saja." Aster lebih dulu menyela sebelum opini aneh Sisil keluar. Sisil mengangguk dengan ragu. Kemudian, ia naik ke atas ranjang. Ia menepuk-nepuk bantal, lalu memasang guling dengan nyaman di tengah. Entah kenapa tiba-tiba saja Sisil menjadi gugup, padahal Sisil hanya akan pergi tidur. Tambah gugup saat Aster mulai mengambil posisi untuk merebahkan diri dan menarik selimut setelah mematikan lampu kamar. Sisil pun ikut merebahkan diri dengan kaku. Di ruangan kamar itu, cahaya hanya bersumber dari lampu tidur yang ada di samping ranjang. Sesekali Sisil menoleh pada Aster. Kaget saat melihat mata lelaki itu sudah terpejam dengan sempurna. Secepat itukah ia tertidur? Sedangkan Sisil harus berusaha keras untuk memejamkan matanya karena terasa gerah. Padahal AC masih menyala. Aster sebenarnya belum tidur. Ia berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman yang sama dengan apa yang Sisil rasakan saat ini. Bayangkan saja, memangnya siapa yang akan tetap santai ketika seorang laki-laki dan perempuan tidur satu ranjang, jika bukan pasutri sungguhan? Awalnya Aster akan memilih tidur di sofa. Namun, besok Aster memiliki jadwal operasi. Jika ia tidur di sofa, punggungnya akan terasa pegal. Masa iya di ruang operasi Aster harus sakit punggung? Lagian, mereka akan tinggal satu kamar dalam waktu satu minggu, dan tidak mungkin Aster tidur di sofa setiap malam. Dan tidak mungkin juga jika Sisil yang harus tidur di sofa. Mana tega Aster membiarkan seorang perempuam tidur dengan tidak nyaman. Aster mengganti posisi dengan menyamping. Dan ia langsung terperanjat kaget saat menemukan wajah Sisil di depannya. "ASTAGA!" Aster spontan terduduk. Sepertinya ia telah salah mengambil posisi. Karena Sisil pun tengah menyamping menghadapnya dengan mata melek. Bahkan jaraknya sangat dekat sebelum Aster menjauhkan wajahnya. "Kamu ngapain mepet-mepet kesini, Sil?" tunjuk Aster pada guling yang sudah bergeser. "Sisil nggak bisa tidur, Pak dokter," jawab Sisil dengan wajah frustasi. "Paksain! Jangan malah mepet-mepet ke saya!" "Ya maaf. Sisil nggak bakalan ngulang lagi." Kemudian Sisil membenarkan posisi guling di antara mereka. "Jangan lewatin batas ini ya, Sil!" intruksi Aster dengan wajah serius. Sedangkan Sisil hanya manggut nurut. Malam ini, Aster mewanti-wanti agar tidak melewati batas. Namun paginya, ia sendiri yang melanggar. Bayangkan saja, ketika matahari masuk menempus gorden, mereka masih tertidur lelap dengan posisi yang saling memeluk. Aster yang bergeser jauh dari wilayahnya sendiri. Sedangkan Sisil masih berada di daerah teritorialnya. Guling yang menjadi pembatas di antara mereka sudah tidak berguna lagi dan jatuh mengenaskan di lantai. Sisil mendusel-duselkan hidungnya pada sesuatu yang agak liat. Indra penciuman Sisil cukup peka meskipun masih pagi. Ini bukan wangi bantalnya, melainkan wangi maskulin yang pernah ia temukan pada seseorang. Tiba-tiba saja otak Sisil jadi lemot di saat seperti ini. Namun beberapa saat kemudian, Sisil spontan membuka mata saat menyadari posisinya sekarang. Tubuh Sisil jadi tegang saat ia tahu bahwa lengan Aster menjadi bantalan kepalanya, sehingga tubuh mereka begitu dekat karena tangan Aster yang satunya lagi memeluk Sisil. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Sisil mendongak. Dilihatnya Aster yang masih terlelap dalam tidurnya. Bisa-bisanya wajah bantal Aster setampan ini. Dengan rambut yang acak-acakan menutupi jidatnya, Aster malah semakin tampan. Apa boleh Aster setampan itu pagi-pagi begini? Sisil melirik ke sekitar dengan gerakan bola matanya saja. Posisi ini bukan kesalahannya. Aster yang sepenuhnya salah. Oleh karena itu, Sisil bisa memakai kesempatan ini untuk berlama-lama memandang lamat wajah tampan itu. Wajah itu menghadap langsung kearah Sisil dengan mata yang masih terpejam. Alisnya yang tebal, kelopak matanya yang tidak terlalu dalam, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tidak terlalu tebal, rahangnya yang tegas, serta warna kulitnya yang tidak terlalu putih tapi bersih. Sisil menyukai semuanya tentang Aster dan apa yang ada pada diri lelaki itu. "Sisil? Kamu mau terus liatin saya dengan posisi seperti ini?" Suara berat dan serak itu tiba-tiba membuat Sisil melebarkan matanya. "P-pak dokter udah bangun?" Aster membuka mata dan tatapannya langsung bertemu dengan mata teduh milik Sisil. Cukup lama mereka saling beradu pandang, sampai akhirnya Aster memutuskan untuk lebih dulu dan bangkit dari tidurnya. Otomatis pelukannya pada tubuh Sisil terlepas. "Maaf, Sil. Saya kira kamu guling." Aster mengusap tengkuknya sendiri. Sedikit malu dengan apa yang diperbuatnya. Iya, Aster memang mengira Sisil adalah guling. Tapi dalam hatinya, Sisil ingin guling-guling karena Aster memeluknya semalaman. Keinginan yang tinggi ingin melelehkan kutub utara tiba-tiba saja terlintas dalam benak Sisil. Atau bahkan ia akan memampukan diri melewati luasnya samudra hanya untuk mendapatkan hati Aster.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN