Ketika Sisil tengah mencuci di tempat cucian yang ada di belakang rumah, Aster tiba-tiba datang dengan tergesa dan eskpresi paniknya yang terlihat jelas.
"Sisil, cepet pindahin barang-barang yang ada di kamar kamu ke kamar saya," ucap Aster tiba-tiba dengan intonasi yang cepat.
Sisil mengernyit bingung. Ia masih mencoba untuk memahami perkataan Aster. "Pak dokter nyuruh Sisil pindahin barang-barang buat apa?"
"Mami saya sebentar lagi datang ke rumah."
"Tapi kan cuma datang. Masa iya periksa setiap kamar. Buat apa coba?"
"Mami saya datang bukan hanya bertamu. Beliau akan nginap di sini."
Sisil yang kaget, lantas bangkit mendadak. "Hah? Masa iya? Gimana dong Pak dokter? Barang-barang Sisil banyak!"
Kini bukan hanya Aster yang panik, Sisil pun sama paniknya. Aster menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lalu, ia mencoba untuk meredakan kepanikan Sisil dengan memegang bahu perempuan itu.
"Sisil, dengerin saya," titah Aster, dan Sisil langsung manggut. "Mami saya bakalan tiba sekitar setengah jam lagi. Kita masih punya waktu 30 menit buat pindahin barang-barang kamu ke kamar saya. Paham?"
Lagi-lagi Sisil mengangguk paham, tapi ia malah membeo, "Sekarang?"
Aster mendesah frustasi. "Sekaraaang. Memangnya kamu mau Mami saya lihat kita nggak pernah satu kamar?"
"Nggak mau... Kalo gitu, ayo kita pindahin sekarang, Pak dokter!"
Sisil bergegas mendahului Aster untuk sampai di lantai dua. Saat sampai di kamarnya, Sisil jadi kebingungan sendiri apa yang harus ia pindahkan lebih dulu.
"Baju kamu dulu, Sil. Pindahin semua ke lemari saya." Aster menunjuk lemari Sisil.
Tanpa berkata, Sisil membudalkan semua isi lemari tersebut. Barang-barangnya ia masukkan ke dalam koper. Lalu, ia membawa koper tersebut dengan mengikuti Aster ke kamar sebelah-Kamar Aster.
"Susun saja di sini, Sil." Aster sudah membuka bagian lemari yang kosong.
Setelah membereskan satu jenis barang, Sisil harus bolak-balik memindahkan barang-barangnya yang lain seperti figura, hiasan, dan sebagainya. Kamar yang Sisil tempati harus benar-benar bersih tanpa barang apapun kecuali ranjang dengan sprei motif bunga-bunga.
Sisil baru bisa bernapas lega saat semua barang miliknya sudah tersusun rapi di kamar Aster. Sekarang, mereka sudah seperti suami istri sungguhan. Aster pun begitu, ia sudah merebahkan dirinya di atas kasur. Cukup melelahkan bergerak dengan dibersamai kepanikan. Ia khawatir Maminya datang sebelum semuanya beres.
"Sisil," panggil Aster.
Sisil menoleh dari tempatnya berdiri. Alisnya terangkat. "Iya, Pak dokter? Kenapa?"
"Selama ada Mami saya, kita bisa bersikap selayaknya suami istri,’kan?" pinta Aster.
Mendengar hal itu, Sisil jadi antusias. "Bisa! Bisa bangeett!" serunya.
"Oke. Mami saya akan tinggal di sini satu minggu lamanya. Kita harus terlihat romantis di depan beliau."
Ting! Tong!
Aster dan Sisil saling lirik dari tempatnya masing-masing. Suara bel pintu berbunyi itu menandakan bahwa Rianti sudah tiba. Dan saat ini'lah Aster harus menunjukkan bahwa ia bahagia sudah menikah dengan Sisil.
"Sil, Mami saya sudah datang. Ayo kita ke bawah," ajak Aster yang langsung bangkit dan mendahului Sisil keluar dari kamar.
Ketika sudah berada di ujung tangga, Aster menghentikan langkahnya. Ia berbalik pada Sisil yang kini memandangnya penuh heran.
Tiba-tiba saja tangan Aster terulur tanpa penjelasan yang pasti dan membuat Sisil bingung hingga meminta jawaban lewat tanda tanya di wajahnya.
"Genggam tangan saya, Sil. Saya sudah bilang kalo untuk satu minggu ke depan kamu harus benar-benar seperti istri saya, ‘kan?" terang Aster.
Sisil merapatkan bibirnya menahan senyum. Hal yang Aster katakan membuat Sisil tersipu. Dengan ragu ia membalas uluran tangan Aster. Lalu, mereka membuka pintu utama. Dan berdiri'lah seorang wanita paruh baya dengan penampilan yang masih elegan seraya bersedekap d**a. Ekspresi Rianti terlihat tidak biasa dan itu membuat Sisil berada dalam situasi kecanggungan. Ia jadi mendadak lupa bagaimana cara menyapa orang yang lebih tua.
"Eummmhh... Pantes buka pintunya lama, kalian lagi mesra-mesraan ternyata." Pandangan Rianti jatuh pada tangan Aster dan Sisil yang saling bertautan.
Aster tersenyum seperti biasanya dan mengangkat tangan Sisil, memperlihatkan lebih jelas pada Rianti. "Iya dong, Mi. Ini'kan hari minggu, waktunya Aster full time sama istri."
Ekspresi Rianti berubah menjadi ramah saat melirik Sisil. "Gimana kabar kamu, Sil?"
"Baik, Mi." Sisil menjawab tak kalah ramah.
"Masuk dulu, Mi. Kita ngobrolnya di dalam saja," ajak Aster.
Aster mengambil alih koper yang Rianti bawa tanpa melepaskan tangan Sisil barang sedetik pun. Malahan, Aster makin mengeratkan genggaman tangan itu. Entah Aster sadar atau tidak, yang jelas Sisil terus melirik tangannya sendiri dengan perasaan campur aduk.
Hingga akhirnya, mereka duduk di satu sofa yang sama, sedangkan Rianti duduk di sofa tunggal. Pandangan wanita yang sudah pantas menggendong cucu itu, menyebar ke segala sudut rumah.
"Mami mau minum apa? Biar Sisil buatin," tawar Sisil.
"Teh hangat saja, Sil." Rianti menjawab tanpa menoleh.
Sisil hendak bangkit, tapi ia lupa bahwa Aster masih menggenggam tangannya. Sisil mencoba untuk melepaskan, tapi Aster sepertinya tidak menyadari hal itu. "Pak dokter ... Tangannya maaf, Sisil mau buatin minum untuk Maminya Pak dokter," bisik Sisil.
Aster sedikit terperangah dan langsung melepaskan tangannya. "Ah iya, Sil. Saya minta maaf."
Selagi Sisil pergi ke dapur, Rianti menengok pada Aster dengan senyuman bungahnya. Tangannya menunjuk dinding dengan figura besar yang memperlihatkan foto sepasang pengantin. Lalu, berkata, "Mami masih belum menyangka anak kecil Mami sudah menikah."
Aster menanggapinya hanya dengan kekehan biasa saja.
"Eh, Mami liat-liat, muka Sisil agak pucet kayaknya. Dia udah ngisi?" tanya Rianti setengah berbisik.
Aster melirik Sisil yang tengah berada di pantry. Kemudian, ia menggeleng. Memang sedikit pucat. Tapi, Aster jelas akan menyangkal pertanyaan Rianti. "Sisil mungkin kecapekan urusin Aster."
"Gimana kalo kamu periksa Sisil ke rumah sakit. Siapa tahu ada calon cucu Mami di perutnya."
Aster menghela napas pelan. Rianti tetaplah Rianti yang tak ubahnya terus meminta cucu dari Aster. Dan hal itu tidak akan berakhir sampai Aster benar-benar memberikan cucu untuk orang tuanya. Boro-boro memberikan cucu, Aster saja belum menyentuh Sisil secara menyeluruh. Bagaimana bisa Sisil hamil jika begitu?
"Nggak, Mi. Sisil gak hamil. Belum waktunya, Mami sabar ya?" pinta Aster.
"Kamu nyuruh Mami sabar terus. Sabar ada batasnya, lho!"
"Iya Aster tahu, tapi-"
"Diminum dulu teh hangatnya ya, Mi." Sisil datang dan menyela perdebatan kecil mereka yang hampir terjadi dengan dua gelas teh hangat. Satu untuk Aster dan satu lagi untuk ibu mertuanya.
"Sisil," panggil Rianti saat Sisil kembali duduk di samping Aster.
"Iya, Mi?" sahut Sisil
"Bagaimana kalo kamu ikutan program hamil?"
Sisil tak langsung menjawab, ia melirik pada Aster. Namun rupanya, Aster tengah mengarahkan wajahnya ke arah Rianti dengan kening berkerut. "Mi! Masalah itu biar Aster yang urus. Mami gak perlu ikut campur perihal itu ya?"
"Tapi Mami pengen cucu segera!" tegas Rianti.
"Mami pikir cucu bisa dibuat seenaknya? Perlu proses'lah, dan setelah proses itu, nggak selalu langsung berhasil. Mami ngerti'kan?" Kelihatannya Aster sudah menahan kesal.
"Yaudah kalo gitu, Sisil ikutan program kehamilan saja."
"Mamiiiii...." Aster sudah gemas sendiri di tempatnya. "Kalo Mami pengen cepet-cepet punya cucu, kenapa Mami harus nginep di rumah Aster?"
"Karena Mami sendiri di rumah. Soalnya Papi kamu pergi wisata tanpa Mami bareng temen-temen SMA-nya," jawab sang Mami lugas. "Dan selain itu Mami juga mau awasin kamu. Pokoknya kalian harus berproses membuat cucu untuk Mami," kukuhnya.
Hampir saja Aster mengerang frustasi di depan Maminya. Makin tua Maminya makin membuatnya sering kali menahan kesal. Ingin marah, tapi orang tua sendiri. Aster tidak ingin menjadi anak durhaka, tapi kesabarannya seringkali diuji oleh orang tuanya.