Warna Abu

1227 Kata
Menikah dengan Aster adalah bagian baru dari lembaran kehidupan Sisil. Dan Sisil harus menata kembali rutinitasnya, karena hidupnya sekarang tidak di panti asuhan lagi, melainkan di rumah minimalis milik Aster. Meskipun Aster itu termasuk orang kaya yang hartanya tak habis-habis, sepertinya lelaki itu tak suka dengan yang namanya hedonisme. Buktinya, rumah yang mereka tempati tidak sebesar rumah orang kaya pada umumnya. Rumah itu tak terlalu besar, tapi halaman belakangnya lumayan luas dipenuhi bunga-bunga. Sejak hidup bersama, Sisil bisa memperhatikan setiap kebiasaan Aster, kesukaan dan apa yang tidak disukai lelaki itu. Aster itu vegetarian, ia tidak makan daging. Apalagi daging ayam, lelaki itu tidak menyukainya. Aster memang tak bilang langsung pada Sisil. Namun, Sisil tahu dari kebiasaan Aster yang selalu menyisakan daging di meja makan. Bahkan lelaki itu tak menyentuhnya sama sekali. Aster itu tipe lelaki yang menjunjung tinggi kerapihan. Buktinya, ketika Sisil hendak membersihkan kamar Aster, kamar itu sudah rapih duluan. Aster selalu menyimpan sesuatu pada tempatnya, dan itu harus. Dan di hari minggu ini adalah hari minggu pertama untuk mereka. Sisil juga harus menghapal kegiatan atau kebiasaan Aster di hari minggu. Pagi-pagi sekali Aster sudah jogging mengelilingi komplek perumahan. Baru saja lelaki itu sampai di depan rumah saat Sisil tengah menyapu halaman rumahnya. Jaket dan celana sport di tubuh atletis Aster terlihat begitu pas. Apalagi ditambah keringat yang mencucuri kening anti badainya itu. Sisil terus memandangnya dengan kagum. Bahkan matanya jarang berkedip saking senangnya memperhatikan wajah itu. Sedangkan Aster menatap heran eskpresi Sisil saat ini. "Kenapa, Sil?" tanya Aster setelah berada di depan Sisil. Sisil mengerjapkan matanya hanya untuk menarik kembali kesadarannya. "Nggak kok, nggak kenapa-kenapa. Sisil cuma heran saja." "Kok heran?" "Ya heran saja. Kenapa bisa Pak dokter gantengnya kelewatan?" Aster menghela napasnya. "Saya kira kenapa." "Hehe... Pak dokter kapan sih nggak ganteng?" Sisil makin menggoda Aster. "Udah ya, Sil. Jangan goda saya terus," larang Aster. "Lho? Kenapa? Nggak dosa kok Sisil goda suami sendiri." Lagi-lagi Aster menghela napas seraya menggaruk keningnya dengan sebelah tangan yang di tanam di pinggang. "Saya laper, Sil. Masak apa kamu hari ini?" tanya Aster setelahnya. "Hari ini Sisil masak tempe orek kesukaan Pak dokter." "Kok kamu tau makanan kesukaan saya?" "Sisil tahu semuanya tentang Pak dokter." Sisil memperlihatkan senyuman seperti biasanya. "Oh ya? Apa aja yang kamu tau tentang saya?" Aster bersedekap d**a dengan seksama untuk mendengarkan lebih lanjut perkataan Sisil. "Minuman kesukaan Pak dokter itu kopi sama teh tanpa gula. Salah satu makanan kesukaan Pak dokter itu orek tempe yang nggak terlalu manis. Terus, makanan yang paling gak disukai Pak dokter itu daging ayam." "Terus?" Aster mengangkat sebelah alisnya. "Warna yang paling di sukai pak dokter itu warna putih." "Salah," bantah Aster. Sisil menautkan alisnya nya dan membeo, "Terus apa dong?" "Warna abu. Warna dari perpaduan hitam dan putih. Saya suka warna itu. Warna abu tercipta karena dua hal yang bertolak belakang bersatu," jelas Aster. "Ohh, gitu ya...." Aster manggut-manggut dan mengusap pucuk kepala Sisil dengan lembut. "Iya, Sisil. Saya ke dalam dulu ya?" Aster pamit untuk masuk tanpa bertanggung jawab pada Sisil yang sudah mematung di tempatnya. Aster melakukan hal itu tanpa memikirkan efeknya untuk Sisil. Hampir saja Sisil berjingkrak kesenangan karena aksi Aster yang mengusap pucuk kepalanya itu tak hanya membuat rambutnya acak-acakan, tapi hatinya juga dibuat jedar-jeder tak karuan. Berkali-kali Sisil berkedip dengan pandangan mengabur dan hampir memekik keras jika saja tak ditahan saat itu juga. Sisil menyentuh kepalanya yang menjadi bekas tangan Aster. Tak henti-hentinya Sisil tersenyum bahagia bukan main. *** Tok! Tok! Tok! "Pak dokter. Ada di dalam,'kan?" Sisil mengetuk pintu kamar Aster yang di dalamnya terasa senyap. Seperti tidak ada orang. Apakah Aster memang sedang pergi? Tapi Sisil masih melihat mobilnya yang terparkir di garasi. "Pak dokter," panggil Sisil lagi. Tetap tak ada sahutan. Ketika Sisil hendak mendorong knop pintu, tiba-tiba saja pintu itu ditarik dari dalam dan membuat Sisil terperanjat. Aster baru saja keluar dengan rambut yang masih basah. Sepertinya Aster baru selesai mandi, tapi kali ini ia sudah memakai kaos tipisnya dan handuk yang disampirkan di bahu. Mungkin untuk antisipasi kalau saja Sisil melihat roti sobeknya lagi. "Sisil mau ambil baju Pak dokter yang kotor. Sisil mau nyuci," ucap Sisil. "Kenapa kamu harus nyuci?" tanya Aster. Sisil mengangkat kedua alisnya. "Emang Sisil selalu nyuci tiap hari." "Jadi... Kamu nyuci pakaian saya tiap hari, Sil? Nggak kamu bawa ke laundry?" Aster sedikit heran. Ia tak menyangka Sisil yang mencuci pakaiannya. Itu artinya semua pakaian termasuk celana dalamnya juga. "Iya. Sisil yang nyuci pakaian Pak dokter tiap hari. Kan sudah Sisil bilang, kalo Sisil bertanggung jawab atas pekerjaan rumah, termasuk nyuci dan setrika bajunya Pak dokter," terang Sisil. "Tapi... Kamu nggak nyuci pakaian dalam saya,'kan, Sil?" Aster tetap bertanya meskipun ragu. Seketika itu, Sisil melemparkan tatapan genitnya. "Kalo bukan Sisil, pakaian dalam yang tersusun rapi di lemari Pak dokter di cuci sama siapa?" Aster memejamkan matanya dengan helaan napas berat. Ternyata Sisil tidak hanya mencuci, ia juga yang menyusun semua pakaiannya di lemari. Dan ya, Aster sekarang sudah tak memiliki privasi seketat dulu. "Kamu masuk kamar saya tanpa izin?" tanya Aster dengan raut wajah kesal. Sisil sesaat menggigit bibir bawahnya sendiri. Kemudian, ia menjawab, "Iya, Pak dokter. Sisil minta maaf, habisnya Sisil bingung. Kalo pakaian Pak dokter nggak langsung masuk lemari, nanti takutnya kotor." Aster hanya memandang Sisil dengan ekspresi yang tak bisa ditebak. Dan hal itu membuat Sisil makin tak enak hati. "Pak dokter marah ya? Sisil minta maaf... Pak dokter malu gara-gara pakaian dalamnya di cuci sama Sisil? Maafin Sisil ya... Sisil nggak tau kalo itu bisa buat Pak dokter marah." "Kamu tau, Sil? Nggak ada lagi orang lain yang nyuci pakaian dalam saya selain Asisten Rumah Tangga di rumah orang tua saya yang udah kerja sejak saya bayi." Nada bicara Aster terdengar tegas. Menyadari kekesalan Aster, Sisil menunduk dengan hati ketar-ketir. Ia merasa sepeti melakukan kesalahan besar. "Sisil minta maaf...." "Udahlah, udah terlanjur malu saya. Cuci aja cuci, pakaian dalam saya udah terlanjur dilihat sama kamu, Sil." Aster sudah pasrah. Sisil mendongakkan dengan wajah yang berbinar. "Kalo gitu, Pak dokter maafin Sisil,'kan?" "Emangnya kamu mau kalo nggak dimaafin sama saya?" Aster memicingkam matanya, masih agak kesal pada Sisil. "Nggak mau. Nanti Sisil bakalan jadi istri durhaka kalo Pak dokter gak maafin Sisil." "Yaudah." Aster mengedikkan bahunya. "Yaudah dimaafin?" "Iya." Sisil hampir bersorak mendengar jawaban Aster. Ia tersenyum terus-terusan pada lelaki yang jauh lebih tinggi darinya. Sementara Aster yang hendak masuk ke kamarnya tertahan secara tidak langsung oleh Sisil yang tiba-tiba berceletuk dengan entengnya. "Lain kali, Pak dokter beli sempak upin-ipin ya? Jangan spongebob mulu, udah numpuk lho sempak Pak dokter yang warna kuning." Aster melirik Sisil dengan telinga yang sudah merah padam karena menahan malu. "Sisiiiiiill!" geramnya. Sisil langsung kabur dengan cekikikan untuk menghindari amukan Aster. Inilah yang membuat Aster malu, ia tak masalah jika Sisil yang mencuci pakaian dalamnya. Pasalnya, sempak punya Aster sama sekali tidak estetik, semua berkarakter, dan karakternya itu selalu saja si makhluk kuning yang hidup di dalam air. Bukan ya, bukan t*i! Tapi kartun spongebob. Perlu kalian tahu, bukan Aster yang membelinya, melainkan sang Mami yang selalu membelikan Aster benda tersebut. Karena Aster orangnya tak mau ribet, jadinya ia pakai saja tanpa protes. Toh, Tidak akan terekspos juga oleh siapapun'kan? Namun, Sisil telah melukai harga diri Aster dengan mencuci sempak keramat miliknya. Padahal, Aster sengaja menjaga benda tersebut untuk tidak terlihat oleh siapapun. Sayangnya, keberuntung tidak berpihak pada sempak gambar spongebob kepunyaan Aster.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN