Di kafe Bintang, Sisil masih merasakan ketidakpercayaannya atas apa yang Aster lakukan. Bahkan, sedari tadi pun Mira sampai terus mengikutinya hanya untuk sebuah pernyataan untuk memastikan kebenarannya dari mulut Sisil.
"Mbak... Ya ampun! Aku nggak percaya Mbak Sisil nikahnya sama dokter Aster. Gimana ceritanya, Mbak?"
Sisil menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Ia melirik pada Mira dengan ragu. "Eeee... Kita kayaknya emang jodoh, hehe...."
"Aaaaah... Aku jadi ngiri deh, Mbak!" Mira menyenggol lengan Sisil dengan bergelayut.
Sisil hanya terkekeh dibuatnya. Beberapa saat setelahnya, mata Sisil menemukan sesuatu di meja yang menjadi tempat tadi Aster duduk. Ponsel Aster tertinggal. Untung saja tidak ada orang yang mengambilnya. Maka dari itu, Sisil berinisiatif untuk mengantarkan ponsel tersebut pada Aster di rumah sakit. Sebelum itu, ia pamit sebentar pada Mira.
Sisil mencari keberadaan Aster di setiap sudut rumah sakit. Langkahnya berhenti mendadak saat melihat hal yang sangat menggangu pemandangannya. Dari kejauhan Sisil melihat Aster yang tengah memeluk Vania.
Aster tak bisa melihat kehadiran Sisil karena lelaki itu berada di posisi membelakanginya. Sorot mata gamang terus tertuju pada kedua orang itu. Sepertinya nama Vania di hati Aster masih ada. Buktinya, Aster begitu lama memeluk Vania. Sisil memegang dadanya yang terasa sesak. Ia jadi gelagapan berada di tempat itu. Apalagi semua orang yang berlalu lalang memandanginya dengan tatapan aneh.
"Sisil?"
Ketika mendengar panggilan dari suara berat itu, Sisil spontan berbalik. "Dokter Liam?" beonya.
"Ngapain kamu di sini?"
"Oh, Ini." Sisil memperlihatkan benda pipih di tangannya. "Sisil mau anterin ponselnya Pak dokter."
Lelaki yang dipanggil dokter Liam itu, lantas mengerutkan keningnya. Tak mengerti pada siapa Sisil menyebut Pak dokter.
"Eh, maksud Sisil, Dokter Aster," terang Sisil.
“Oh, suami kamu ...?” Dokter Liam manggut-manggut. Kemudian ia berujar, "Jangan lupa besok lusa jadwal kamu kontrol ke rumah sakit ya, Sil?"
Sisil tersenyum lebar hingga matanya terbenam. "Iya, dokter Liam. Sisil nggak bakalan lupa."
Sisil cukup lama mengenal lelaki pemilik lesung pipit itu. Wajahnya memang tak setampan Aster, tapi dokter Liam adalah lelaki manis dengan perlakuan baik yang pernah ia temui. Lelaki yang bernama lengkap Liam Kalingga itu sudah sejak lama menjadi donatur panti asuhan yang dulu menjadi tempat tinggal Sisil. Hubungan mereka begitu dekat, semakin dekat ketika Sisil menjadi pasiennya dokter Liam.
Jika Liam dan Aster disandingkan, mereka tampak setara dengan kecerdasan yang sama dan ketampanan yang hampir sama pula. Namun, tetap Aster yang lebih unggul dalam hal itu. Dalam satu tempat umtuk menempuh pendidik yang sama, mereka mengambil residensi yang berbeda. Aster mengambil spesialis bedah saraf, sedangkan Liam mengambil spesialis jantung.
Dan perihal pernikahan Aster dan Sisil, Liam sudah mengetahuinya. Tentu saja Sisil yang memberitahunya langsung. Namun, sangat disayangkan karena Liam tak bisa datang ke acara pernikahan mereka meskipun sudah diundang secara langsung. Sebab, bertepatan dengan itu, Liam ada urusan di luar negeri.
“Sil ... Suami kamu ...?” Perkataan Liam tergantung tanpa berani melanjutkannya saat melihat Aster tengah memeluk seseorang. Kemudian, ia beralih pada Sisil yang sama sekali tidak terganggu dengan itu.
"Sisil harus kembali kerja lagi, dokter Liam. Boleh minta tolong kasih ponselnya ke Pak dokter?" dalih Sisil.
Dokter Liam tak langsung menjawab, tapi Sisil sudah meraih tangan dokter Liam dan meletakan benda pipih itu di telapak tangan lebarnya. "Makasih, dokter Liam. Sisil pergi dulu ya? Dadah!"
Dokter Liam masih diam di tempatnya. Ia melirik Aster dan Sisil secara bergantian. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Aster adalah suami Sisil, tapi kenapa Aster malah memeluk gadis lain di depan istrinya sendiri?
***
Malam ini, Sisil menghilangkan segala keresahan hatinya. Ia berusaha untuk mengembalikan mood-nya yang sempat hilang karena melihat Aster bersama Vania tadi. Dalam waktu satu jam Sisil sudah siap dengan makanan yang ia buat untuk makan malam bersama Aster. Namun, ketika jarum jam sudah menunjukkan angka delapan, Aster tak kunjung pulang.
Sisil sudah berjalan kesana-kemari. Ia juga sudah menutup makanannya agar tidak basi. Hingga sampai pada jarum jam di angka 10, Sisil sudah memejamkan matanya dengan menaruh kepala di atas meja makan. Dengan kata lain, Sisil ketiduran selama menunggu.
Di waktu bersamaan, Aster baru sampai di rumah dengan wajah lelahnya. Aster berjalan melewati dapur dan melihat keberadaan Sisil.Helaan napas berat keluar lewat mulutnya. Lagi-lagi ia membuat Sisil menunggu. Hal itu membuat Aster merasa tidak enak hati.
Harusnya Sisil tidur saja di kamarnya tanpa menunggu Aster pulang. Tapi, lihatlah gadis lugu itu, ia bahkan rela kedinginan dan tertidur di permukaan yang keras untuk menunggu Aster pulang. Ia juga rela mengerahkan tenaganya untuk memasak makanan yang jarang Aster sentuh.
Karena tidak tega, Aster lantas mendekat. Wajah manis nan polos itu terlihat dengan jelas. Raut wajah lelahnya tampak jelas meski Sisil tak memasang ekspresi apapun.
"Sisil...." panggil Aster pelan. Ia ingin membangunkan Sisil, tapi ragu. Kasihan jika Sisil bangun dari tidurnya yang nyenyak itu.
Mau tak mau, Aster menggendong Sisil untuk yang kedua kalinya. Lalu, Aster membawa tubuh mungil itu ke kamar, kamar Sisil lebih tepatnya.
Kemudian, Aster merebahkan tubuh itu di ranjang dengan hati-hati agar Sisil tak terbangun. Setelah menutupi tubuh Sisil dengan selimut, Aster tak langsung meninggalkan kamar itu. Ia duduk di tepi ranjang sambil memandang Sisil dengan lekat.
"Sil... Sebenarnya apa yang kamu mau dari saya?"
"Jika kamu suka sama saya, maaf sebelumnya, saya nggak bisa balas perasaan kamu, Sil. Saya bilang ini bukan karena latar belakang kamu, melainkan karena masa lalu saya kembali datang. Dan saya tidak bisa menolaknya."
Aster menunduk. Tak lagi memandang wajah lugu yang tertidur itu. "Maaf karena saya mungkin sudah membuat hati kamu terluka, Sil."
Setelah itu, Aster beranjak dari duduknya. Lalu, ia mematikan lampu sebelum benar-benar keluar dari kamar itu dengan menutup pintu. Lagi. Sisil berpura-pura tertidur dalam gendongan Aster. Bukan, ia bukan mencari kesempatan dalam kesempitan. Hanya saja, Sisil ingin merasakan sedikit perhatian dari Aster.
Seperti yang Sisil rencanankan sebelumnya, hanya untuk 100 hari. Biarkan Sisil mencoba untuk menarik perhatian Aster meski hatinya bukan untuk Sisil.
Sisil bangkit dari tidurnya tanpa mengalihkan pandangannya dari arah pintu. Pintu kamarnya itu seolah menggambarkan seperti apa hati Aster sekarang. Tertutup rapat dan tidak memperkenankan siapapun untuk masuk kecuali masalalunya yang mungkin masih berhak masuk ke dalamnya.
"Kalo hati Pak dokter nggak bisa terbuka buat Sisil, maka izinkan Sisil untuk berusaha mengetuk hati Pak dokter. Karena nggak ada salahnya kalo Sisil berusaha meskipun hasilnya tak sesuai dengan apa yang diharapkan."