Istri Dokter Aster

1028 Kata
BRUK! Namun, kejadian nahas mendadak menimpanya. Tiba-tiba saja ada orang lain yang menyenggolnya dari belakang saat Sisil hendak meletakkan minuman di meja. Alhasil, minuman yang mengandung banyak s**u itu tumpah secara mengenaskan pada seorang wanita yang mengenakan jas putihnya. Di jam istirahat ini, banyak dokter dan perawat yang datang. "Aakkhh!" jerit wanita itu. Sisil terkejut bukan main. Ia langsung mengambil tisu dan membersihkannya dengan cepat walaupun percuma. Dan wanita yang sudah bangkit dari duduknya itu, menepis tangan Sisil dengan kasar. "KAMU BISA KERJA YANG BENER NGGAK SIH? KETIMBANG NARUH MINUMAN AJA GAK BECUS!!!" "Ma-maaf, Mbak. Saya nggak sengaja. Biar saya bersihkan bajunya Mbak." Sisil tak berhenti untuk membersihkan pakaian wanita itu denga tisu walaupun percuma. "Nggak usah!" sentak wanita itu dengan murka. "Saya mau ketemu sama manajer kamu. Panggil dia sekarang, saya mau ngasih tau kalo pegawai di sini kerja nggak becus!" "Saya beneran nggak sengaja, Mbak. Saya minta maaf. Biar saya ganti minumannya ya, Mbak?" Sisil berusaha membujuk. "Baju saya kotor. Dan itu gara-gara kamu! Saya nggak mau tau, kamu harus ganti rugi!" Sisil menggigit bibir bawahnya dengan keras. Tumpahan minuman di pakaian wanita yang lebih tua darinya itu sangat banyak. Sisil bingung harus melakukan apa, jika ia ganti rugi, ia tidak memiliki banyak uang. "Ch! Kamu kerja di sini digaji, 'kan? Tapi kenapa kerja kamu nggak bener?!" "Mbak, saya minta maaf... Saya udah bilang kalo saya nggak sengaja," cicit yang mulai ketakutan karena terus dibentak. "Yaudah kalo gitu kamu harusnya ganti rugi dong. Baju saya jadi basah, kamu tau'kan baju saya mahal. Dan noda di baju saya susah ilang!" "Harus ganti rugi berapa?" Mendengar suara berat dan berciri khas itu membuat Sisil terpaku di tempatnya. Bukan hanya Sisil, seluruh orang di kafe tersebut memusatkan perhatiannya pada seorang lelaki yang tiba-tiba menghampiri keributan itu. Sulit dipercaya bahwa lelaki itu adalah Aster dengan jas putihnya. Sisil tambah malu jika seperti ini. Dan pastinya Aster lebih malu. Jadi, Sisil memilih untuk terus menunduk. "Saya tanya, harus ganti rugi berapa untuk pakaian kamu yang kotor itu? Biar saya yang ganti," ulang Aster. "Nggak usah, dokter Aster. Ini salah dia, dia yang harusnya ganti rugi!" tunjuk wanita itu secara terang-terangan. "Justru karena dia saya mau ganti rugi." "M-maksud dokter Aster?" "Dia istri saya. Saya berhak ganti rugi atas kesalahan yang istri saya lakukan." Perkataan Aster membuat pelayan, pengunjung kafe, dan wanita itu terkejut bukan main, termasuk Sisil sendiri. Sisil tak menyangka Aster akan memperjelas hubungan mereka di tempat ini. Sedangkan wanita yang ternyata adalah dokter koas di rumah sakit Adinata itu, terdiam tak berkutip. Ia langsung menyesali perbuatannya. Di sisi lain, Vania, yang duduk bersama Aster tadi, lebih terkejut lagi mendengar perkataan Aster. Kecewa tentunya. Kecewa karena hatinya mulai kembali berharap, tapi Aster sudah dimiliki oleh orang lain. Vania juga sedikit kesal kenapa Aster tak pernah memberitahukan hal itu. Aster sudah mengeluarkan dompetnya. "Jadi, saya harus bayar berapa?" Wanita yang bernama Taya itu, menggeleng dengan cepat. "Nggak usah dokter Aster. Nggak perlu ganti rugi, saya udah maafin istri dokter Aster kok." "Beneran?" "Iya. Saya nggak tahu kalo dia istri dokter Aster. Saya minta maaf." "Gapapa, terima kasih karena kamu udah maafin istri saya." Sisil terus memandang Aster yang entah sejak kapan terlihat lebih menawan dari biasanya. Aster itu manusia sejenis apa sih? Kenapa bisa ada lelaki sebaik dia? Apa dia tidak malu mengakui Sisil sebagai istrinya di tempat umum seperti ini? Hal ini mungkin akan menjadi kabar besar di rumah sakit. *** Seluruh staff rumah sakit dibuat heboh oleh kabar berita mengenai Aster yang sudah memiliki seorang istri. Kabar itu sudah menyebar begitu cepat, dan entah siapa yang menyebarkan kabar tersebut. Sehingga, saat Aster kembali memasuki rumah sakit setelah menyelesaikan urusannya di kafe tadi, banyak desas-desus tentang dirinya yang terdengar. Tentunya desas-desus itu terlontar dari mulut-mulut perawat yang terus memperhatikannya dengan tatapan kecewa. Mungkin mereka kecewa karena Aster sudah tak lajang lagi. "Dokter Aster." Panggilan itu membuat Aster menoleh ke belakang. Suster Farah menghampirinya dengan langkah lebar. "Iya? Kenapa?" sahut Aster. "Dokter Aster sudah menikah?" tanya Suster Farah. Aster bergumam samar sebelum menjawab, “Iya. Saya sudah menikah beberapa hari yang lalu." Bukan hanya suster Farah saja yang mendesah kecewa. Bahkan, perawat lain yang tengah menunggu jawaban Aster secara langsung pun ikut kecewa mendengarnya. Mungkin, banyak dokter tampan di rumah sakit ini yang masih lajang. Namun, Aster tetaplah Aster, ketampanannya tidak bisa disamakan dengan orang lain dan didefinisikan dengan apapun. "Masih ada yang perlu ditanyakan lagi?" Aster mengangkat alisnya. "Ah, nggak, dok. Saya tadi penasaran, jadi untuk memastikan saya bertanya langsung." "Kalo begitu, saya permisi dulu." Suster Farah membungkuk ringan untuk mempersilahkan Aster pergi. Sebenarnya, Aster cepat kembali ke rumah sakit untuk menyusul Vania yang pergi meninggalkannya tanpa basa-basi. Ia takut melukai hati perempuan itu. Setelah Aster mencari kemana-mana, ia akhirnya menemukan keberadaan Vania yang tengah duduk di taman rumah sakit sendirian. Lantas, Aster menghampirinya. "Vania." Mendengar panggilan tersebut. Vania menoleh sebentar. Setelahnya, ia kembali memalingkan wajahnya seperti enggan melirik Aster. "Aku minta maaf," ucap Aster. "Untuk apa?" tanya Vania tanpa menoleh. "Aku belum sempat kasih tahu kamu kalo--" "Kalo kamu ternyata sudah menikah dengan gadis lain?" sela Vania. Bersamaan dengan itu, ia beranjak dari duduknya. "Kenapa? Kenapa kamu nggak bilang dari awal? Atau kamu bisa ngasih tahu aku sebelumnya." "Aku kira kamu sudah tahu dari Vano." Aster mengusap tengkuknya, ia sangat merasa bersalah. Detik berikutnya, Vania tersenyum kecut. "Dia perempuan hebat yang bisa dengan mudahnya memiliki kamu. Sementara aku, sejak dulu selalu sulit rasanya menggenggam hati kamu. Aku mesti berjuang mati-matian sampai kamu luluh." "Aku sebenarnya nggak pernah serius menjalin hubungan dengan Karel. Aku cuma mau buat kamu cemburu. Iya, aku tahu kalo sikap aku kayak anak kecil. Tapi aku lakuin itu semua agar kamu lebih bisa memperhatikan aku, Aster!" lanjutnya. Aster jadi tidak tega melihat Vania yang sudah menyorotkan tatapan sendunya. Aster menunduk sesaat untuk kembali bersiap menatap mata sayu itu. "... Aku minta maaf." Vania tertawa hambar. "Aku tanya sekali lagi, kamu minta maaf untuk apa?" "Untuk semuanya," jawab Aster spontan. Vania sudah tak bisa menahan bulir bening di pelupuk matanya. Sekeras apapun menahan, hatinya masih sakit. Pada akhirnya, air matanya meluruh juga. Aster melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan Vania. Kemudian, ia merengkuhnya ke dalam pelukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN