"Cherry?!" Kedua mata Seika sontak membulat. Dia pun segera turun dari tempat duduknya lalu meraih tubuh mungil Cherry ke dalam dekapan. "Kenapa Cherry bisa ada di sini?" "Cherry takut Mama pergi ninggalin Cherry. Cherry mau terus sama, Mama ...." Jantung Seika seketika mencelus. Dia merasa sangat bersalah sudah membuat Cherry menangis. "Maaf, ya. Kakak tadi nggak bilang dulu sama Cherry kalau mau pulang. Cherry jangan nangis lagi, ya?" Seika mengusap air mata yang membasahi pipi Cherry dengan lembut. Cherry mengangguk. "Mama jangan ninggalin Cherry lagi, ya?" Seika terpaksa mengangguk agar Cherry tidak bersedih. "Janji?" Cherry mengulurkan jari kelingkingnya pada Seika. "Kakak berjanji," ucap Seika sambil menautkan jari kelingking mereka. "Cherry kok, bisa sampai di sini? Me

