Sebuah Tawaran

1024 Kata

"Baik, Pak." Seika membungkukkan badan sekilas lalu pergi ke pantry karena dia ingin membuat secangkir kopi untuk Devan. Dia selalu menyempatkan diri untuk menyapa sekretaris Devan yang berada di luar ruangan. "Permisi, Pak." "Nona Seika, tunggu!" Seika sontak berhenti melangkah lalu menatap Pramudya. "Iya, Pak?" "Tolong berikan berkas ini pada HRD." Kening Seika berkerut dalam karena ruangan HRD berlawanan arah dengan pantry. Namun, dia tidak mungkin menolak permintaan Pramudya. "Baik, Pak." "Terima kasih, Nona." Seika bergegas pergi ke ruangan HRD, setelah itu ke pantry untuk membuat kopi. Semoga saja Devan tidak marah karena dia membutuhkan waktu agak lama. Entah kenapa Seika merasa semua orang yang berpasaaan dengannya selal berbisik-bisik sambil menatapnya. Apa mungkin ini ha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN