Seika menggeleng cepat. "Em, tidak. Saya suka sekali. Cuma—" "Cuma apa?" "Harga ponsel ini pasti mahal. Saya tidak bisa menerimanya, Pak." Devan menghela napas panjang sambil memutar bola mata malas. Dia pikir Seika menolak ponsel pemberiannya karena tidak suka, tapi ternyata karena sungkan dengan harganya yang mahal. "Saya memberimu ponsel ini agar bisa memantau Cherry kapan saja, Seika. Jadi, jangan banyak protes dan terima saja!" ucap Devan tidak bisa dibantah. Seika mengerucutkan bibir kesal karena Devan sangat pemaksa. "Baik, Pak. Ponsel ini saya terima. Terima kasih." Devan mengangguk lalu meminta Seika keluar dari ruangannya karena dia sudah tidak ada urusan apa pun dengan gadis itu. Seika menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan untuk meredam emosinya agar

