05. Pergi Selamanya

1411 Kata
Saat ini, sepasang sahabat itu tengah berada di sebuah villa. Ethnio membawa kabur Eleana atas permintaan gadis tersebut. Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka pun tiba. Ethnio mempersilakan sahabatnya masuk. Mereka tak tinggal berdua, melainkan tinggal berempat bersama seorang asisten rumah tangga dan seorang tukang kebun. "Lea, kamar lo di atas dan kamar gue di bawah. Kalo lo mau istirahat, langsung ke atas aja. Gue mau keluar sebentar," tutur Ethnio pada gadis yang tengah mengamati villa ini. Eleana mengalihkan pandangan ke arah Ethnio yang bersiap pergi. Lelaki itu memanggil tukang kebun rumah untuk menemaninya. Sejak dulu, sahabatnya itu tak pernah berubah. Ethnio adalah tipikal orang yang tidak betah lama-lama di rumah. "Nio, gue laper lagi," cicitnya merasa malu. Di perjalanan mereka sudah mengisi perut, tetapi rasa lapar kembali mendatanginya. Ethnio terkekeh. Ia mengacak rambut Eleana, lalu menggiringnya menuju ruang makan. Eleana memekik kesenangan melihat ada banyak makanan yang tersaji. "Silakan duduk, Tuan Muda dan Nona." Asisten rumah tangga Ethnio menyajikan nasi beserta lauk untuk mereka. Ia tak henti-hentinya tersenyum melihat Ethnio dan Eleana yang persis seperti sepasang kekasih yang terus bersenda gurau. "Makan yang banyak," ucap Ethnio menambahkan nasi di piring sahabatnya yang tersisa sedikit. Eleana melotot. "Nio! Gue udah kenyang! Kenapa lo nambahin nasinya!!" Teriakan cemprengnya mampu membuat Ethnio menutup kedua telinga. Tanpa merasa bersalah, lelaki itu malah melepas tawa. Eleana dibuat kesal atas ulahnya. Tak mau mengurusi Ethnio yang masih tertawa, ia pun kembali memakan makanannya. "Kalo lo masih doyan, nggak usah ngamuk gitu," ledek Ethnio yang mengingat jelas tabiat sahabatnya yang tidak suka membuang makanan. "Bacot lo!" amuk Eleana melayangkan tatapan tajam padanya. Lagi-lagi, Ethnio dibuat tertawa olehnya. Ia yang sudah selesai makan pun langsung berpamitan. Meninggalkan Eleana yang terpaksa menghabiskan makanannya. Setelah selesai, gadis itu memutuskan untuk mengelilingi villa ini ditemani sang asisten rumah tangga yang diketahui bernama Bi Endah. Eleana berjingkrak melihat sebuah kolam ikan yang ditengahnya terdapat sebuah jembatan. Tanpa membuang waktu, ia langsung berlari mendekati kolam tersebut. "Bi, aku boleh jebur nggak?" tanyanya menatap penuh permohonan ke arah Bi Endah yang menggeleng pelan. Senyum di wajah Eleana memudar. Meski begitu, ia tetap melangkahkan kakinya menuju jembatan kolam. Matanya terus memandang ikan-ikan yang berenang dengan bebas. "Apa Nona mau memberi makan ikan?" tawar Bi Endah berhasil mengalihkan kesedihan yang dirasakan Eleana. "Boleh deh, Bi!" serunya yang langsung merebut wadah berisi pakan ikan. Tanpa terasa malam pun tiba, dan Eleana masih betah menghabiskan waktu bersama ikan-ikan tersebut. Sebuah paper bag yang disodorkan seseorang membuat gadis itu mendongak. Eleana mengulurkan tangannya pada Ethnio. Dengan senang hati, Ethnio membantunya berdiri. Kemudian memberikan paper bag di tangannya pada Eleana. "Gue udah beli baju ganti buat lo, cepet mandi sana," ucap Ethnio mengakibatkan segurat senyuman terbit di wajah cantiknya. "Thanks." Eleana mendaratkan satu kecupan di pipi lelaki yang sangat dicintai. Setelah itu, ia berlari meninggalkan Ethnio yang masih mematung. Lelaki yang tak pernah berpikir jika sahabatnya akan melakukan sesuatu di luar dugaan. Tangan Ethnio terulur memegangi pipinya yang memanas. "Lea! Lo kenapa kabur? 'Kan gue belum bales kecupan lo!" *** Sejak kejadian itu, Eleana selalu merasa malu saat berhadapan dengan lelaki yang tampak biasa-biasa saja, padahal kejadian tersebut sudah berlalu dan berganti dengan hari yang baru. Namun mengapa, Eleana tidak berani berbicara sebelum Ethnio yang mengajaknya berbicara terlebih dahulu?. "Lea, lo beneran nggak berniat pulang? Gue nggak maksud usir lo, gue cuma khawatir sama keluarga lo yang pastinya cari-cari keberadaan anak gadis mereka yang mendadak hilang." Ethnio menatap lekat manik mata gadis tambatan hatinya. Ia tak bisa egois menyembunyikan Eleana untuknya seorang. Gadis tersebut masih memiliki keluarga yang menyayanginya. Eleana terdiam sesaat. Ia menundukkan kepala. Terlihat jelas raut kebimbangan di wajahnya. Seusai mendapatkan jawaban dari pertanyan Ethnio, ia pun memberanikan diri menatap lelaki yang menjadi cinta pertama. "Sehari lagi, ya, Nio. Gue masih butuh waktu untuk nenangin diri. Besok, gue janji bakal pulang," jawab Eleana bersungguh-sungguh. Ethnio mengulum senyum. "Oke. Tapi lo sama sekali nggak mau ngabarin keluarga lo, Le? Lo nggak bawa ponsel, 'kan?" "Gue nggak ada niatan, Io. Gue keburu kecewa sama mereka." Eleana tersenyum miris. "Rasanya, gue masih nggak percaya dijadiin tumbal atas kebaikan si duda ke keluarga gue." "Kalo lo mau, ucapan gue yang kemaren masih berlaku," ujar Ethnio mengingatkan. Eleana tidak menampik bahwa ia menginginkan Ethnio menikahinya. Namun, ia tidak mau menyeret sahabat tercinta ke dalam masalah keluarganya. "Tuan Muda!" teriak seorang pria yang tergopoh-gopoh menghampiri Ethnio. "Ada beberapa orang yang mencoba masuk ke dalam. Mereka ada di luar gerbang." Tanpa berpikir panjang, Ethnio berlari keluar. Eleana yang memiliki perasaan tidak enak, memilih untuk mengintip dari kejauhan. Entah mengapa, ia merasa jika orang-orang tersebut adalah bawahan Erland. Dugaannya benar. Eleana meremas tirai jendela saat melihat Eksa yang siap beradu mulut dengan sahabatnya. "Biarkan kami membawa Nona Eleana!" pekik Eksa mulai kehilangan kesabaran. Ia memberi isyarat pada teman-temannya untuk memegangi lengan Ethnio. "Eleana siapa yang lo maksud?! Lo jangan buat keributan di villa gue, ya!" teriak Ethnio berlakon tidak mengenali gadis yang dimaksud oleh mereka semua. "Terlalu banyak mengelak!" tandas Eksa yang langsung menerobos masuk. Ethnio tak dapat mengejar karena dua orang pria bertubuh besar memegangi kedua lengannya. Melihat Eksa yang semakin mendekat, Eleana menjadi ketar-ketir. Ia berlari ke arah Bi Endah untuk menanyakan tempat persembunyian. Namun, ia tak menemukan keberadaan wanita tersebut. Tepat saat dirinya membalikkan tubuh, Eksa sudah berada di hadapannya. "Nona, pulanglah. Tuan Erland menugaskan saya untuk menjemput Nona pulang," bujuk Eksa yang tak digubris oleh Eleana yang mengepalkan kedua tangan. "Saya nggak mau!" tolak Eleana dengan nada tinggi. Eksa menghela napas panjang. Ia melirik gadis yang memundurkan langkah menjauhinya. "Nona, dengarlah. Tuan Eldar saat ini tengah di rawat di rumah sakit." Bagai disambar petir di siang bolong, tubuh Eleana ambruk bersamaan dengan air mata yang mengalir deras. Segala pemikiran negatif mulai merasuki pikirannya. Eksa yang tidak bisa melihat seorang gadis menangis langsung menyadarkan Eleana. "Nona, tidak ada gunanya menangis. Tuan Eldar sedang menunggu Nona di sana," ucap Eksa menyodorkan sebuah sapu tangan padanya. Tanpa lebih dulu menerima sapu tangan tersebut, Eleana langsung berlari keluar. Hatinya mencelos melihat Ethnio yang berkelahi dengan anak buah Erland. Selain itu, wajah tampannya dipenuhi luka lebam. Seharusnya, sejak awal Eleana tidak mengikutsertakan Ethnio. Ia baru sadar sepenuhnya, jika pria yang akan menjadi suaminya sama-sama kejam seperti di dunia novel itu. "STOP!" teriaknya berhasil menghentikan perkelahian diantara mereka. Ethnio menyeka sudut bibirnya yang berdarah, lalu melangkah menghampiri Eleana yang terisak. Kedua ibu jarinya terulur mengusap lembut jejak air mata Eleana. "Gue nggak papa." "Maafin gue, gue yang salah." Tangis Eleana semakin pecah. Gadis itu memeluk erat tubuh sahabatnya. Dengan paksa, Eksa melerai pelukan mereka. Ia tak mau tuannya naik pitam, jika mengetahui gadis miliknya disentuh oleh orang lain. Meski Erland tak terlihat memiliki perasaan pada gadis tersebut, tetap saja bila dia adalah calon nyonya mereka semua. "Semua keluarga Nona sudah menunggu, kita tidak memiliki banyak waktu lagi." Eksa mempersilakan Eleana melangkah lebih dulu menuju mobil yang terparkir di depan pintu gerbang. Eleana mengambil napas panjang. Ia mencoba tersenyum di tengah kepanikan yang melanda. "Gue harus pergi. Papa masuk rumah sakit. Gue minta do'anya, ya, Io, semoga Papa baik-baik aja." "Aamiin, lo hati-hati di jalan. Jangan lupa hubungi gue," ucap Ethnio sambil melambaikan tangan. Dengan berat hati, ia harus merelakan gadis itu pergi. Ia harap, dirinya masih memiliki kesempatan untuk memiliki gadis tersebut. Setibanya di rumah sakit, Eleana berlari di lorong-lorong menuju ruang rawat sang papa. Ia menghentikan larinya saat melihat seorang pria yang terduduk di kursi tunggu. Tanpa bertanya lebih dulu, ia langsung menerobos masuk. Eleana melemas mendapati seseorang yang tertutupi kain di sekujur tubuhnya. Tangis Eleana semakin pecah. Dengan tangan gemetar, ia membuka kain tersebut. Eleana meraung-raung saat tersadar jika papanya sudah tak bernyawa lagi. "Papa... Bangun, jangan tinggalin, Elea... Elea minta maaf...." Eleana memeluk erat jasad Eldar. Pria yang telah sangat berjasa dalam hidupnya. Ia tak menyadari jika di belakangnya ada seorang wanita yang mengepalkan kedua tangan erat. Dengan gerakan cepat, wanita tersebut menarik tubuh sang adik agar menjauhi jasad pria yang menjadi cinta pertamanya. "Menjauh dari Papa gue!" teriak Elina menyorot tajam ke arah Eleana yang berusaha bangkit. Tubuh kurusnya terhuyung. Tak menghiraukan larangan sang kakak, Eleana berjalan mendekati jasad Eldar. Akan tetapi, Elina tak membiarkan itu terjadi. Wanita itu kembali mendorong Eleana dan berusaha mengusirnya dari ruangan ini. "Elea mau bangunin Papa, Kak. Jangan halangi Elea," ucapnya melirih. Tawa Elina pecah. Ia berdiri tepat di depan tubuh Eleana yang lebih pendek darinya. "Seberapa keras lo berusaha, Papa nggak akan bisa bangun! Papa udah pergi ninggalin kita semua, dan itu karena lo, Elea!! Karena lo!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN