06. Kesedihan Eleana

1522 Kata
Eiman datang dan langsung merengkuh tubuh istrinya yang bergetar. Entah untuk berapa kali, Elina menangis dalam dekapannya. "Istigfar, Sayang. Kamu nggak boleh salahin Elea." Tangan Eiman terulur mengelus puncak sang istri. Berbeda dengan Eleana yang menatap kosong. Gadis itu duduk bersimpuh di lantai yang dingin. Seketika, bayang-bayang masa kecilnya yang dipenuhi oleh kasih sayang sang papa kembali terngiang. "Maafin Elea, Pa," lirih Eleana yang kemudian memeluk lututnya sendiri. Selepas kepergian Elina, Eiman berjongkok di sebelah adik iparnya. "El, dengerin Kak Eiman. Ikhlaskan Papa, ya, Papa sudah bahagia di sana." "Tapi Kak Elina salahin Elea atas kepergian Papa...." Eleana menatap kakak iparnya dengan wajah sembab. Ia kembali menangis saat rasa sesak kembali memenuhi dadanya. "Elea tau, kalo Elea banyak salah. Tapi kenapa, Kak Elina tega salahin Elea, Kak?!" Eiman menundukkan kepala. Ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan segalanya. "Elea yang tenang. Sebentar lagi Papa akan dipulangkan ke rumah, kamu pulang duluan bersama Erland, ya? Tunggu kami di rumah." Dengan cepat Eleana menggeleng. Ia mencoba berdiri meski gagal berkali-kali. Gadis itu menolak bantuan sang kakak ipar. Setelah berusaha keras, ia berjalan gontai mendekati jasad Eldar. "Papa mau maafin Elea, 'kan? Elea minta maaf sama Papa," lirih Eleana menggenggam erat tangannya yang dingin. Eiman beranjak keluar ruangan. Ia mengusap wajahnya, lalu duduk di sebelah Erland. "Saya titip Eleana di dalam. Jika Eleana hilang kendali, peluk saja dia." Erland tak menjawab. Ia hanya mengangguk dan memandang kepergian sahabatnya. Mendengar tangisan pilu dari dalam, membuat hati Erland tergerak untuk melihat kondisi gadis itu. Ia melangkah lebar saat tubuh Eleana terhuyung ke samping kanan. Dengan sigap, ia menopang tubuh gadis yang sudah tidak sadarkan diri. "Eksa, kau sudah membantu Eiman?" tanya Erland pada asistennya yang baru tiba. "Sudah Tuan," jawabnya ikut menyusul Erland meninggalkan ruangan ini. Sesampainya di parkiran, Eksa langsung membukakan pintu mobil. Setelah sang tuan membaringkan tubuh calon istrinya, ia bersiap menancapkan gas. Namun, Erland justru menyuruhnya turun dari dalam mobil. "Kau jemput anak-anak dan bawa ke kediaman tuan Eldar," titah Erland yang kemudian melajukan kendaraan beroda empat itu dari area parkiran rumah sakit. Erland menghentikan mobilnya sedikit jauh dari rumah gadis yang sampai saat ini belum sadarkan diri juga. Suasana rumah tuan Eldar tampak begitu ramai. Ada banyak tetangga yang sudah berkumpul. Erland tampak tersenyum dan menyapa bapak-bapak yang dilewatinya. "Dek, antar Abang ke kamar Eleana," pintanya pada seorang lelaki yang duduk di teras rumah. Adik laki-laki Eiman segera menyusul. Ia membukakan pintu kamar bernuansa ungu itu. Keduanya terpaku oleh keindahan kamar Eleana. Semua benda tertata rapi hingga membuat nyaman indra penglihatan mereka. "Abang beneran mau nikah sama Ele?" tanyanya pada Erland yang telah membaringkan tubuh Eleana di kasur. "Kau pikir sendiri," ketus Erland kemudian menyeret lelaki yang sudah dianggap sebagai adik sendiri keluar dari kamar. **** Seorang gadis membuka matanya perlahan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Merasa suasana rumah berubah sunyi, ia pun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan tertatih-tatih. Tubuhnya terasa sangat lemas dan wajahnya terasa lengket. Sejenak Eleana berpikir, apakah mimpi buruk itu membuatnya menangis dalam tidur? "Ma," panggil Eleana pelan. Ellie menoleh ke sumber suara. Ia mengulum senyum melihat putri bungsunya yang berada di bibir tangga. Wanita itu sudah mengikhlaskan kepergian sang suami. "Elea, sini Nak," ucap Ellie melambaikan tangan pada Eleana yang berjalan mendekat. Setelah anak gadisnya duduk di sofa, Ellie langsung menengadahkan kepalanya. Mencoba membendung buliran bening yang terus mendesak keluar. Ellie takut, putrinya tak bisa mengikhlaskan kepergian sang papa. Mengingat keduanya sangat saling menyayangi. "Kenapa mereka semua ada di sini, Ma? Terus, papa kemana?" tanya Eleana yang kebingungan atas hadirnya sanak-saudara di rumahnya sendiri. "Ele yang sabar ya, papa sudah pulang. Allah lebih sayang papa dari pada kita semua." Air mata Eleana melolos. Gadis itu menatap kosong ke depan. Ia tak menyangka, jika yang terjadi hari ini adalah sebuah kenyataan pahit yang tidak bisa diterimanya. Eleana melepas pelukan sang Mama, kemudian berlari keluar rumah. "Nggak, nggak mungkin papa meninggal. Pasti papa ada di tempat pemancingan." Kaki jenjangnya melangkah menuju tempat pemancingan yang biasa dikunjungi oleh dirinya dan sang papa. Ellie yang tak sanggup menyusul kepergian Eleana, terpaksa menyuruh kakak iparnya. Hati Eleana mencelos. Tempat pemancingan tersebut sangatlah sepi. Tak ada satu orang pun di sana. Sebuah tangan menariknya, membuat Eleana jatuh ke dalam pelukan sang paman. Pria yang memiliki kemiripan wajah dengan papanya, meski mereka bukanlah saudara kembar. "Ikhlaskan papa, ya, Nak. Papamu sudah bahagia." Tangan pria itu terulur mengelus puncak kepala keponakannya. "Papa baru saja dimakamkan. Elea mau ke makam papa?" Tak ada sahutan dari gadis yang menangis histeris itu. Eleana terus berteriak memanggil papanya. Ia berusaha melepaskan diri dari pelukan sang paman, tetapi pria tersebut malah semakin erat memeluk tubuhnya. "Lepaskan Elea, Paman! Elea mau cari papa!! Papa pasti ada di rumah Pak RT!" teriak Eleana terus meronta. "Istigfar Nak, ikhlaskan papamu. Paman yakin, Elea gadis yang kuat. Elea pasti bisa menjalani ujian hidup ini," tuturnya pada Eleana yang kemudian kembali tak sadarkan diri. Paman Eleana menyeka sudut matanya. Ia tahu, sangat berat melepas dan mengikhlaskan orang yang kita sayangi pergi ke pangkuan Tuhan. Setelah itu, ia menggendong sang keponakan dan membawanya pulang. Ellie yang sejak tadi mengkhawatirkan putrinya memutuskan menunggu di teras rumah. Tangis wanita itu pecah kala melihat putrinya pingsan. Di sore harinya, Eleana memaksa untuk mengunjungi makam sang papa. Ia menolak diantar oleh siapa pun. Tiba di pemakaman, Eleana melangkah menuju satu makam yang masih basah. Ia berjongkok di samping makam tersebut. "Pa," panggilnya dengan suara bergetar. "Papa marah ya sama Elea, sampe Papa pergi ninggalin Elea?" Gadis itu berkata panjang lebar seolah jasad yang berada di dalam tanah dapat mendengarnya. Dengan linangan air mata, Eleana tetap berceloteh. Hal yang sering dilakukannya setiap kali Eldar pulang dari kantor. "Papa ayo bangun! Elea nunggu Papa di sini. Ayo kita pulang bareng, Pa! Sebentar lagi mau magrib, Elea nggak mau pulang sendiri. Elea nggak mau diomelin Mama. Biar nanti Papa yang lindungi Elea dari amukan Mama...." Elea memeluk makam Eldar. Dadanya terasa begitu sesak. Tanpa sengaja, ia meremas tanah yang ditaburi bunga di atasnya. Eleana tidak menyadari jika di belakangnya ada seorang pria yang sejak tadi memperhatikan. Niat hati untuk datang ke rumah calon mertuanya, terpaksa terurung kala melihat seorang gadis yang berjalan seorang sendiri menuju tempat pemakaman umum ini. "Jangan buat Papamu sedih, dengan dirimu yang terus menangis." Erland menyodorkan sebuah sapu tangan. Kedua mata Eleana terpejam sesaat. Kemudian ia melepas pelukannya pada makam sang papa. Setelah itu bangkit, menghiraukan sapu tangan yang masih di udara. Eleana meninggalkan Erland yang menghela napas panjang. "Edward, bawa anak-anak langsung ke rumah Nyonya Ellie. Aku akan mengawasinya dari kejauhan," titah Erland pada Edward yang mengendarai kendaraan beroda empat ini. Setelah mobil melaju, Erland berjalan pelan mengikuti gadisnya yang melangkah tanpa gairah. Penampilan gadis itu sangatlah kacau. Rambut yang acak-acakan dan wajah yang tampak sangat menyedihkan. Selain itu, pakaiannya juga kotor akibat tanah makam papanya sendiri. "Ingat, ya, jangan dekati Nona Eleana dulu. Berikan dia waktu sendiri." Edward menatap tuan mudanya satu per satu. Mereka sudah sampai di rumah Eleana. "Siap Paman," jawab kelimanya serempak. Eleana masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan orang di sekitar. Ia menghentikan langkah saat melihat kakak perempuannya duduk di atas karpet bersama suaminya. Tanpa sadar Eleana tersenyum samar. Elina beruntung sudah bersuami, karena di masa terpuruknya ada seseorang yang terus menguatkannya. Berbeda dengan dirinya yang tidak memiliki orang spesial di dalam hidupnya. Ia menanggung kesedihannya seorang diri. "Lo! Udah puas lo, buat papa meninggal?!" teriak Elina setelah menyadari keberadaan gadis yang berdiri di ambang pintu. "Apa yang Elea lakuin, Kak? Sampe Kak Elin terus salahin Elea?" tanyanya melirih. Elina menyeret adiknya ke ruangan yang sepi dari sanak-saudara. "Lo masih tanya kesalahan lo apa? Setelah sikap kekanakkan lo yang kabur. Asal lo tau Elea, perbuatan lo itu buat papa kena serangan jantung!" "Papa pergi atas kesalahan lo! Lo yang salah di sini! Lo yang udah buat papa meninggal!!!" teriak Elina meluapkan emosinya. Kesedihan Eleana bertambah berkali-kali lipat. Ia membutuhkan waktu untuk benar-benar mengikhlaskan kepergian papanya, tetapi sekarang Elina justru terus menyalahkan dirinya. Situasi yang seharusnya saling menguatkan, malah semakin membuatnya ingin menyusul Eldar sebagai penebus dosa. "Apa Kak Elin mau Elea mati juga? Elea nggak masalah kalo harus mati saat ini juga, asalkan Kak Ellen berhenti jadi orang yang terus merasa benar." Eleana melangkah lebar menuju dapur. Ia mencari-cari keberadaan pisau. Hanya benda itu yang terbersit di pikirannya untuk mengakhiri hidup. Tangan Eleana menggenggam erat pisau yang telah ditemukan. Ia mengarahkan pisau tersebut ke dadanya sendiri. Kedua matanya terpejam. Mencoba menikmati detik-detik terakhir hidupnya di dunia ini. Suara benda terlempar membuat Eleana membuka matanya perlahan. Ia menatap pria yang menggagalkan rencana bunuh dirinya. "Kau jangan gila! Kau kira setelah dirimu mati, tuan Eldar akan bahagia?! Jauhi pikiran sempitmu, Eleana!!" bentak Erland dengan d**a naik-turun. "Pergi dari hadapanku Tuan Erland terhormat! Kau tidak berhak mencampuri urusan hidupku!" pekik Eleana mencoba meraih pisau yang tergeletak di lantai. Namun, terhenti karena Erland mencekal pergelangan tangannya. Eleana berusaha melepaskan cekalan tangan tersebut. Akan tetapi gagal. Tenaga yang dimilikinya tak sebanding dengan tenaga pria dewasa seperti Erland. "Lepaskan aku! Biarkan aku mati! Aku lelah terus disalahkan oleh Elina! Asal kau tau, aku sangat membencinya! Dia selalu memaksaku melakukan hal yang tidak aku inginkan. Termasuk menikah denganmu!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN