Cinta Pertama Tarzia
Namanya Tarzia, Ibunya adalah orang Turki sedangkan Ayahnya orang Indonesia. Tapi jangan tanya bahasa Turki padanya, dia takkan bisa. Karena dia lahir dan besar di Indonesia, di tanah jawa yang subur. Sejak usia 17 tahun memiliki 2 kewarganegaraan yaitu sebagai Warga Turki dan Warga Negara Indonesia tentunya. Tak hanya mendapat identitas dua Negara, dia juga mendapat identitas sebagai pacar Joshua. Sahabatnya sejak kecil hingga SMA, yang orang asli Indonesia dengan kulit sawo matangnya dan bahasa jawanya yang mendhok. Joshua memang berbeda, senyumnya manis dan dia selalu bisa membuat Tarzia tertawa dengan sifatnya yang humoris. "Hari ini kita resmi jadian, kamu jadi bojoku, aku jadi koncomu. Semoga hubungan kita langgeng sampai pernikahan dan punya anak. Pasti seru karena anak kita mirip zebra." Kata-kata Joshua membuat Tarzia terperangah. "Loh, kok anak kita mirip hewan sih?" Tanyanya dengan polos saat itu. "Lha iya, kulitku hitam, kulitmu putih, mesti zebra anaknya belang-belang." Begitulah kira-kira guyonannya yang membuat Tarzia tertawa terpingkal-pingkal.
Sejak jadian, mereka berangkat ke sekolah bersama dengan sepeda motor butut milik Ayahnya Joshua. "Punten Pak, assalamu'alaikum." Joshua berpamitan pada Ayah Tarzia. "Wa'alaikumsalam..." Jawab Ayahnya dengan ketus. Sebenarnya Sang Ayah tak suka kalau Tarzia bergaul dengan Joshua, karena Joshua cuma anak petani dan pekerjaan Joshua cuma mengembala sapi tiap sore. "Ayah gak setuju kamu dekat-dekat sama dia apalagi sampai punya hubungan." Suatu malam Ayah menasehatinya seakan dia sudah tau kalau anaknya dan Joshua sudah berpacaran 1 bulan yang lalu. Ibuk memang tidak banyak bicara kalau Ayah yang memberi keputusan, Ibunya orangnya penurut dan patuh. "Tapi kenapa Yah? Jojo baik, sopan, lucu..." Tarzia membela Joshua di hadapan Ayahnya. "Memangnya kamu bisa hidup cuma dengan itu? Ayahnya kerja di sawah kita Zia, dia ngawon sapinya kita, apa yang bisa diandalkan?" Aneh rasanya dia berkata kasar begitu pada orang yang sangat setia bekerja padanya selama bertahun-tahun. Bagaimana kalau sampai Pak Teguh, Ayahnya Joshua mendengarkannya.
Bagaimanapun sebagai anak, Tarzia harus menurut pada orang tuanya, tapi itu hanya jika di depan Ayahnya saja. Diam-diam mereka memilih backstreet. Setiap pagi Tarzia diantar oleh Ayah ke sekolah, tapi saat pulang sekolah, dia tetap pulang bersama Jojo. "Kenapa sih Ayah kamu melarang kita pergi sekolah bareng?" Tanya Jojo waktu itu sambil mengemudikan sepeda motor. Tarzia memeluk pinggang Jojo dengan erat, menyandarkan kepalanya di punggung Jojo lalu berkata. "Biar saja Ayah melarang kita. Kita selalu punya cara untuk sama-sama kan?" Kalimat itu membuat Jojo merasa lega, dia tersenyum dan menggengam tangan Tarzia dengan tangan kirinya. "Kata guru biologi hati manusia penuh darah, warnanya merah, tapi hati kamu kok putih ya?" Kembali Jojo membuat Tarzia tersenyum dan terhibur dengan leluconnya itu.
Meski Jojo tidak bisa mengantarkan Tarzia sampai ke depan rumah seperti biasanya. Tapi dia mengantarkannya tak jauh dari rumah, sehingga Tarzia masih bisa berjalan kaki menuju rumah. "Hati-hati jantung hatiku." Jojo masih juga belum pergi sebelum melihat Tarzia sampai ke rumah dengan selamat. Tarzia menoleh lalu berlari kembali padanya. "Lha kok balik lagi?" Tanya Jojo dengan polos. Gadis itupun tersenyum lalu mendekat dan mencium pipi kiri Jojo. Seketika wajah Jojo memerah karena merasa malu sekaligus senang. "Dah..." Tarzia melambaikan tangan dan kali ini dia benar-benar berlari menuju rumah.
Itu adalah salah satu momen paling romantis yang pernah mereka lakukan. Biasanya mereka pergi sekolah bersama, pulang bersama, makan di kantin sekolah bersama, membaca buku di bawah pohon yang ada di halaman sekolahpun bersama-sama. Tarzia bahkan menemani jojo mengembala sapi di padang rumput dimana jojo akan memainkan seruling dan Tarzia hanya bisa tertawa melihatnya bernyanyi dan berjoget. Tapi entah siapa yang tega merusak keindahan kebersamaan itu. Tiba-tiba Ayah memutuskan mengirimkan Tarzia dan Ibunya kembali ke Turki. "Secepatnya Ayah akan mengurus kepindahan kamu ke Turki." Siapapun pasti takkan terima dengan keputusan sepihak dan tergesa-gesa itu. "Zia udah kelas 3 SMA Ayah, bentar lagi Zia lulus, Zia gak mau kemana-mana." Begitupun dengan Tarzia, dia pasti akan menolaknya. Tapi Ayah tetap teguh pada keputusannya. "Ayah gak mau tau, kamu harus ke Turki sama Ibuk kamu."
"Setidaknya biarkan Zia sampai lulus SMA dulu Mas." Malam itu untuk pertama kalinya bahkan Ibunya menolak perintah Ayah. Ayah terdiam sejenak melihat ke arah Ibuk yang menundukkan kepalanya. "Aku tidak pernah minta apa-apa sama kamu kan? Tolong kali ini saja." Tarzia merasa terharu pada keberanian Ibuk. Ayah tak menjawabnya saat itu, dia memilih masuk ke kamarnya. "Buk..." Tarzia langsung memeluk Ibuk dengan erat dan menumpahkan air mata.
Mungkin semalaman Ayah dan Ibuk berdebat, tetapi satu hal yang pasti, Tarzia bersyukur tak jadi pindah ke Turki untuk sementara sampai dia lulus SMA, meskipun resikonya harus home schooling. Untungnya Jojo selalu punya 1001 cara agar mereka bisa bertemu meski hanya lewat jendela kamar rumah. Kodenya tak lain dan tak bukan adalah permainan suling Joshua yang merdu. Segera dibukakan jendela kamar dan Tarzia tersenyum lepas melihat Jojo membawakan setangkai bunga padi yang indah. "Maaf ya, nyari mawar di sini susah, adanya cuma bunga padi, tapi ini lebih mahal dari mawar kok, karena kalau dia tumbuh jadi padi dan berbuah, butiran berasnya mahal kalau dijual." Jojo tertawa dan Tarziapun ikut tertawa.
Jojo lalu menyelipkan bunga padi itu dirambut Tarzia yang ikal dan dibiarkan tergerai. "Gimana di sekolah?" Tanya Tarzia padanya. "Sekolah masih seperti biasa, tapi hatiku kosong, hampa dan sunyi tanpa kehadiranmu." Jawab Jojo. Tarziapun tersenyum lalu meraih tangan Jojo dan menciumnya. "Sabar ya, nanti pas ujian Nasional, aku bakal balik ke sekolah." Tuturnya. Jojo mengangguk, masih dengan wajah lesunya. "Jangan gini dong, aku jadi ikutan sedih..." Tarzia memegang wajah Jojo dan Jojo kembali tersenyum. "Iya deh, bidadariku." Ucap Jojo. Setiap wanita pasti akan meleleh dengan sikap Jojo yang menggemaskan itu.
Tarzia tak sabar menanti hari ujian Nasional tiba. Hari itu Ayah sendiri yang mengantarkannya dengan sepeda motor ke sekolah. "Nanti Ayah jemput, tunggu di sini." Perintah Ayah. Tarziapun mengangguk. Setelah Ayah pergi, Jojo langsung menghampirinya. "Tadi Ayahmu bilang apa?" Tanyanya penasaran. "Nanti Ayah jemput di sini. Tapi itu gak akan terjadi." Tarzia tersenyum dengan segudang ide cemerlang di kepalanya. "Kok bisa?" Jojopun semakin penasaran. "Ikut aku...!" Tarzia menarik tangan Jojo lalu mengajak Jojo naik motornya dan pergi dari sekolah. "Kita mau kemana? Kita kan ada ujian?" Sambil mengendarai sepeda motor, Jojo terus bertanya. "Udah, ikutin aku aja." Kata Tarzia.
Merekapun tiba di terminal bis, masih dengan pakaian seragam sekolah. "Kita ngapain di sini? Mau jemput seseorang?" Tanya Jojo lagi. "Bukan, kita mau pergi, yang jauh, ke tempat yang gak akan ada orang ngelarang kita bersama." Inilah saat yang tepat baginya mengutarakan rencananya pada Jojo. Jojo terlihat kaget saat mengetahuinya. "Kamu udah gila? Kita ini masih sekolah Zia, kita bahkan belum lulus? Kita mau kemana?" Jojo terlihat kesal dan tak setuju dengan rencana itu. Tarzia terkejut kenapa mendadak Jojo berubah. "Jojo, kamu gak sayang sama aku, kamu gak cinta sama aku?" Tanyanya. Jojo memegang wajah Tarzia dan menatap matanya dalam-dalam. "Aku sangat mencintai kamu, tapi bukan begini caranya. Ini salah. Ini justru akan nambah masalah."
Tarzia terdiam, terpaku di hadapan Jojo, dia hanya dimabuk cinta pada Jojo dan tak berfikir jauh ke depan. Dia hanya takut kehilangan Jojo ataupun jauh darinya. "Terus kita harus gimana? Aku akan dikirim ke Turki setelah lulus SMA, kita gak akan ketemu Jo."
"Kalau itu keputusan Ayah kamu, kamu harus turutin, mungkin kita memang gak ditakdirkan bersama." Dengan mudahnya Jojo berkata demikian. Air mata Tarzia tumpah membasahi pipi, orang-orang mulai memperhatikan mereka. Jojo lalu mendekapnya. "Jangan nangis di sini. Ayo pergi." Dia mengajak Tarzia pergi dari terminal, kembali memboncengnya dengan sepeda motor. "Apa kamu gak punya ide lain Jo?" Tarzia masih berharap pada Jojo. Jojopun pasti sama sedihnya. "Saat ini aku gak ada pilihan, tapi aku akan buktikan kalau Ayah kamu akan menyesal memisahkan kita berdua." Rupanya Jojo punya rencana lain yang lebih besar di masa depannya nanti.
Mereka kembali ke sekolah dan mengikuti ujian Nasional sampai hari terakhir. Mereka tak pernah bertemu selama 1 minggu lamanya sejak hari di terminal itu. Tarzia memilih menyendiri di kamar hingga hari kelulusan tiba. Dia mendengar lagi suara seruling yang sering dimainkan oleh Jojo, tapi kali ini saat dia membuka jendela kamar, yang didapati bukan Jojo, melainkan sepucuk surat darinya. "Selamat ya, kita lulus Ujian. Harusnya kuucapkan sendiri padamu, tapi tanganku tak kuat jika harus menjabat tanganmu untuk mengucapkan selamat tinggal. Karena kamu akan pergi jauh dariku dan mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Semoga kelak takdir mempertemukanmu dengan orang yang kau cintai dan direstui oleh Ayahmu. Selamat tinggal Tarzia, aku takkan pernah melupakanmu. Kamu akan selalu ada dalam setiap nafasku, dalam nadi dan detak jantungku." Isi surat itu terdengar sangat puitis, seperti bukan Jojo yang menulisnya. Tapi siapapun yang menulisnya pasti atas permintaan dari jojo atau persetujuan darinya. Karena tak ada yang tau lantunan lagu dalam melodi seruling yang dimainkan itu selain mereka berdua.
Selamat tinggal Joshua, selamat tinggal kenangan indah tentang cinta pertama dalam hidup. Tarzia pergi jauh menyeberangi pulau, menyeberangi lautan, melewati angkasa ke Negeri lain bernama Turki. Turki memang indah, pemandangannya, Kotanya. Tapi hatinya masih hampa. Dia dan Ibunya tinggal di sebuah rumah sederhana yang ada di lereng perbukitan. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai peternak domba, berkebun dan berjualan, tak jauh berbeda dengan di Indonesia.