Mencari Cinta Pertama

2191 Kata
Tarzia mulai mempelajari bahasa Turki dari Ibuk dan Neneknya di sana. Sekedar untuk bahasa sehari-hari agar dia mudah bergaul dengan masyarakat setempat. Dia pun mulai memberanikan diri untuk keluar dari rumah berjalan-jalan sendirian dengan pakaian hangat, karena cuaca di sana cukup dingin. Saat Tarzia sedang menyendiri di atas bukit. Dia dikagetkan oleh suara seorang pria yang sedang mengupat sendirian, marah pada langit. Di tangan kanannya ada sebotol minuman keras, sepertinya pria itu mabuk. Anehnya pria itu bukan mengupat dalam bahasa Turki melainkan bahasa Indonesia. Hal yang sangat menarik bagi Tarzia. Sebelumnya dia ingin menjauh dari pria itu dan memilih pulang saja daripada terlibat dengan seorang pria mabuk yang tak jelas di tengah bukit. Tapi Tarzia malah penasaran dan mendekatinya. "Kenapa marah pada langit? Bukannya kamu tinggal di bawah langit, kenapa marah pada udara bukannya dia telah memberikanmu hidup?" Mendengar suara Tarzia yang muncul dari arah belakangnya. Pria itupun menoleh, wajahnya terlihat tidak menyenangkan dia benar-benar mabuk. "Siapa kamu?" Tanyanya. Jujur Tarzia tak tahan dengan aroma alkohol dari mulutnya itu, tapi dia sudah terlanjur nekad, jadi tak apalah. "Aku Zia, setengah Indonesia, setengah Turki. Aku baru 3 bulan di tempat nyaman dan damai ini, tapi Om ini... Maksudku, anda ini." Tarzia sedikit bingung harus menyebutnya dengan panggilan apa karena pria itu terlihat lebih tua darinya tapi tak juga sepantaran dengan orang tuanya. Pria itu tertawa sejenak mendengar Tarzia yang kebingungan sampai akhirnya diapun menyebutkan namanya. "Ahmed, nama Indonesiaku Ahmad. Sepenuhnya Indonesia. Aku sedang memulai usaha di Turki. Tapi bisnis itu kotor anak muda. Aku ditipu dan hartaku di bawa pergi oleh perempuan matre itu. Aku pikir gadis Turki berbeda dengan gadis Indonesia. Ternyata sama saja." Meski mabuk dia tetap bisa menceritakan kisah pilunya. "Sifat manusia itu bukan dari asal-usul atau latar belakang mereka, tapi dari hati dan pikiran mereka." Jelas Tarzia. Pria bernama Ahmad itu mengangguk seolah setuju dengan kalimat itu. Dia lalu duduk kembali di rerumputan, membuang botol minuman kerasnya jauh-jauh ke jurang lalu dia mendumal dalam bahasa Turki yang hanya dimengerti sedikit. "Aku yang bodoh. Aku yang bodoh." Hanya itu yang dapat dipahami. Pria itu terjatuh ke tanah, entah pingsan atau apa, tapi Tarzia merasa khawatir dan mencoba memeriksa kondisinya. "Hello, permisi Om Ahmad, Ahmed, bangun!" Agaknya pria itu benar-benar tak sadarkan diri karena mabuk berat. Tarzia melihat ke sekeliling untuk mencari bantuan tetapi tak ada seorangpun di sana. Mau tak mau terpaksa dia yang harus menolongnya. Tarzia mengangkat dan memapah tubuh Ahmad yang tinggi dan besar itu. Rasanya begitu berat. Tarzia harus mencari akal. Dia melihat sebuah gerobak pengangkut kayu yang ada di bawah sebuah pohon yang baru di tebang. Tarzia membuang semua isi yang ada di dalam gerobak itu lalu mendorongnya menuju Ahmad. Gerobak itulah yang membantu membawa Ahmad pergi menuju ke rumah neneknya. "Zia, dia siapa, kenapa kamu bawa dia kesini?" Tanya Ibu. "Nanti Zia ceritain semua Buk. Kita harus menolong dia, apalagi dia juga orang Indonesia." Tarzia mencoba memberi penjelasan pada Ibu dan Nenek. Rupanya sang Nenek tahu betul cara untuk menyembuhkan dan membuat stamina orang yang mabuk kembali sembuh seperti sedia kala. Dia memiliki ramuan herbal rahasia yang bahkan cucunya pun tak tahu. Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya Ahmad sadar juga. "Saya dimana, anda siapa?" Dia bertanya dalam bahasa Turki. Nenekku mengatakan kalau dia ada di rumahnya karena kondisinya mabuk dan Tarzia yang telah membawanya ke sana. Mungkin karena mabuk Ahmad tidak ingat pada Tarzia. Dia hanya tersenyum kepadanya dan mengucapkan, "Terima kasih." "Maaf, tapi saya harus pergi sekarang." Dia mencoba bangkit dari tempat tidur. "Terimakasih banyak atas pertolongan kalian." Ahmad bersalaman dengan mencium tangan Nenek. Dia terlihat sangat sopan. Nenek sepertinya sangat menyukai Ahmad, dia menepuk pundak Ahmad dan berkata. "Jaga dirimu baik-baik." Ahmad mengangguk lalu berpamitan kepada yang lainnya. "Permisi." Bersama-sama mereka mengantarkan Ahmad sampai ke depan pintu. Anehnya saat dia hendak pergi, Tarzia malah memanggilnya. "Tunggu, Kamu mau kemana?" Aneh pastinya bagi Ahmad saat ada yang bertanya dalam bahasa Indonesia. "Kamu bisa bahasa Indonesia?" "Iya. Ayahku orang Indonesia, aku di sini tinggal bersama Ibu dan Nenekku." Jawab Tarzia. "Aku juga dari Indonesia." Tutur Ahmad yang nampak antusias setelah tau ternyata mereka se-Bangsa dan se-Tanah air. "Aku harus balik ke apartmen." Kembali Ahmad berpamitan. Tarzia harus mengatakan sesuatu. "Kalau kamu butuh pertolongan jangan ragu kami pasti akan bantu kamu." Kalimat Tarzia begitu sederhana namun bermakna besar. Ahmad mengangguk sambil tersenyum. Pria berkumis dan berjenggot itu memandangnya dengan sorot mata ketulusan, seakan pikirannya sedang berkata. "Ternyata gadis ini baik juga." Entahlah, mungkin Tarzia hanya kasihan karena sudah terlanjur mendengar kisah sedihnya saat mabuk tadi. Akhirnya Ahmad pergi. Sejak hari itu mereka tak pernah bertemu. Tarzia merasa kesepian karena sama sekali tidak punya teman baik di desa. Meski sudah kuliah di Turki tapi rasanya berbeda . Meskipun kawan baru di Kampus sangat baik padanya, tapi tetap saja tidak ada yang dapat mengerti hati Tarzia yang sangat merindukan Joshua. Entah bagaimana kabarnya sekarang, apakah dia masih ingat padanya. Satu tahun sudah waktu berlalu, Tarzia mendapat telepon dari dari kampung kalau Ayahnya sakit. Mereka diminta pulang ke sana. Mereka pun kembali ke Indonesia untuk melihat kondisi Ayahnya. Sedih rasanya melihat sang Ayah yang biasanya kuat bekerja keras dari bagi sampai sore, mengantarkannya ke sekolah dan menjemputnya, kini terbaring lemah. "Ayah sakit apa? Kenapa nggak mau dibawa ke rumah sakit?" Tarzia memeluk Ayah. "Rumah sakit nggak bisa menyembuhkan Ayah." Saat itu dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ayahnya. Tarzia meninggalkan kuliah di Turki dan sepenuhnya merawat Ayahnya. Menyuapi makan dan minum obat, mengajaknya berjemur di pagi hari, membersihkan badan Ayah dan mencuci pakaian Ayah yang kotor. Namun Kondisi Ayah tak kunjung membaik. Rasanya mereka hampir putus asa. "Kita harus bawa Ayah untuk diperiksa ke rumah sakit yang lebih besar Buk." Usulnya pada Ibuk. Ibuk pun setuju. Dibantu seorang pekerja di sawah Ayah, mereka membawa Ayah ke rumah sakit yang lebih besar yang ada di Kotanya. Dokter ahli yang memeriksa kondisi Ayahnya mengatakan. "Tidak ada masalah dengan Ayah kamu, hasil lab.nya baik. Maaf saya harus mengatakannya, tapi kami tidak mendiagnosa penyakit apapun pada Ayah kamu." Penjelasan Dokter itu membuka pikiran Tarzia dan menyadari ada yang aneh dengan semua ini. Tapi bagaimanapun dia harus berpikir dengan logika dan nalar. Bukan pada kata-kata pekerja Ayahnya tentang hal klenik. "Ayahmu kena santet Zia. Kamu harus bawa dia ke orang pintar." Itu semua tak masuk akal baginya. Dalam setiap sholat, dititipkannya doa untuk kesembuhan Ayah pada yang maha kuasa. Bahkan pernah dia tertidur karena berzikir sampai pagi. Dalam mimpinya itu, Tarzia melihat Joshua dengan pakaian sobek-sobek, dia nampak sangat kesusahan dan hanya membawa bungkusan kain, dia akan pergi dari desa. "Jojo, kamu mau kemana?" Tarzia mencoba mengejar Joshua yang pergi bersama keluarganya. Jojo menoleh sejenak, wajahnya pucat. "Jojo!" Tapi Tarzia tak bisa mencegahnya pergi. Dalam sadarnya air matapun menetes membasahi mukenah. "Astaghfirullah hal 'adzim..." Mungkinkah Joshua sangat merindukannya saat itu. Tarzia sadar sejak dia kembali dari Turki, dia tak pernah melihat Jojo di desa. Kebetulan hari itu Tarzia ada transaksi jual beli sawah dengan seorang pembeli. "Jadi kita sepakat ya?" Tanya pembeli itu sambil mengulurkan tangan. "Iya Pak." Tarzia menyambut uluran tangan itu sebagai tanda jadi kalau sawah Ayahnya telah dijual pada Pria itu. Sejumlah uang yang ada dalam koper akan dibawa pulang ke rumah. Tarzia akan melewati rumah Joshua yang ada di dekat sawah. Sebuah gubuk kayu yang dia tempati bersama kedua orang tuanya dan kedua adiknya yang masih kecil. Rumahnya nampak kosong dan tak berpenghuni. Karena penasaran dia bertanya kepada tetangga Jojo. "Mbak, Jojo kemana ya?" "Sudah lama pindah Zia, sejak lulus SMA." Jawab wanita hamil yang sedang menjemur pakaian di depan rumahnya itu. Tarzia mulai berfikir. “Apakah yang baru kudengar nyata? Apakah arti mimpiku itu adalah kebenaran bahwa Joshua sudah pergi jauh dari hidupku.” Kini jangankan untuk memandang wajahnya, melihat bayangannya saja dia sudah tidak bisa. Kaki Tarzia terasa lemah untuk kembali ke rumah. Meski batinnya menangis, namun dicobanya menahan air mata di depan kedua orang tuanya. Sudah cukup lama Ayah sakit. Tarzia dan Ibuk yang mengurus usaha peternakan. Tapi mereka hanya wanita dan tak sepandai Ayah dalam mengelolanya. Pada akhirnya mereka terpaksa menjual ternak sapi juga untuk biaya berobat Ayah ke orang pintar. "Yang ini pasti mujur Buk, dia sudah terkenal se-pulau Jawa. Tapi lokasinya jauh, di dekat gunung merapi." Semua info diperoleh dari orang kepercayaan Ayahnya. Tarzia dan Ibukpun menurut saja karena mereka sudah membawa Ayah kesana dan kemari tapi tetap saja belum dapat menemukan obat untuk penyakitnya. Berangkatlah mereka ke luar kota, berjam-jam di dalam kereta api, lalu dari stasiun mereka membawa Ayah yang begitu kurus dan lemah di kursi roda menaiki bis dan kembali melanjutkan perjalanan ke sebuah desa yang sangat jauh dan terpencil. Malam itu mereka tiba di sebuah rumah adat jawa yang minim penerangan dan hanya bercahayakan obor saja. Anehnya ramai orang yang mengantri di halaman rumah yang bertuliskan. "Praktek pengobatan Mbah Merapi." Tarzia bahkan sampai ketiduran. Setelah mengantri beberapa saat, tibalah giliran mereka dipanggil ke dalam rumah. Tarzia melirik jam tangan yang ternyata sudah pukul 21.00 WIB. Mereka masuk ke dalam. Ayahnya ditidurkan di atas ranjang kecil yang ada di ruangan itu. Seorang kakek tua tunanetra yang disebut Mbah Merapi memegang tangan Ayah dan dia bicara pada Ayah dalam bahasa Jawa kuno yang tak dapat dimengerti. Ayah tiba-tiba menangis. Ibuk segera menghampiri Ayah. Tarzia mulai cemas saat itu. Mbah Merapi lalu memegang dahi Ayah dan sejenak dia terdiam seperti paranormal yang dapat membaca pikiran orang lain. Kembali Mbah Merapi berkata dalam bahasa jawa yang kemudian diterjemahkan oleh asistennya pada Tarzia. "Cuma Mbak yang bisa mengobati Ayah Mbak." Setelah habis semua harta dijual kecuali sepetak tanah dan sebuah rumah yang berdiri di atasnya demi pengobatan terbaik unyuk Ayah, tiba-tiba saja Kakek ini berkata bahwa Tarzialah yang dapat menyembuhkan Ayahnya. "Saya Mas? Tapi saya gak bisa apa-apa." Tarzia terkejut. "Sebaiknya Mbak dengar sendiri penjelasan Ayah Mbak." Kata Asisten Mbah Merapi. Ayah lalu menggenggam tangan Tarzia dengan erat. "Maafin Ayah Zia. Ayah yang sudah memecat Ayah Jojo dari pekerjaan, Ayah udah bikin keluarganya susah sampai-sampai mereka terpaksa pindah dari desa ini dan mencari tempat lain untuk hidup. Semuanya Ayah lakukan karena ayah tidak mau kalian bertemu lagi." Ternyata Ayah menderita sakit karena ulahnya sendiri yang telah berlaku kejam pada Jojo dan keluarganya. Tarzia hanya bisa menangis sesegukan, Tarzia tak bicara pada Ayahnya bahkan saat mereka telah kembali ke rumah. Ibuk merasa sedih melihatnya tak lagi mau mengurus Ayahnya seperti biasa. "Maafkan Ayah kamu Zia. Carilah Jojo dan bawa kemari." Pinta Ibuk. "Tapi Zia harus cari Jojo kemana Buk?" Itulah yang membuat Tarzia bingung. Tarzia mulai mencari informasi dari teman-teman SMAnya dulu, barangkali ada yang tahu di mana Jojo. "Aku dengar dia tinggal di Kota sekalian kerja dan kuliah di sana. Dia merasa lega karena mendapat sedikit petunjuk. Mau tidak mau Tarzia harus ke Kota. Tarzia berpamitan pada Ibuk. "Hati-hati, kalau sudah sampai di sana, kabarin Ibuk ya." Ibuk membelai rambut Tarzia kemudian mereka berpelukan sebelum Tarzia pergi dengan membawa sebuah tas berisi pakaian, karena pastinya waktu pencarian itu tak sebentar. Namun Tarzia tak berpamitan pada Ayahnya. Hal itu membuat Ayahnya sedih. "Semoga Ayah cepat sembuh." Namun jauh di lubuk hatinya, Tarzia tetap mendoakan sang Ayah. Dari desa kecil Tarzia pergi ke Kota yang besar dan ramai. Mencari keberadaan Jojo di sana ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami. Dia sendirian, tak tahu harus tinggal di mana. Dia memilih rumah kost yang tak jauh dari sebuah kampus. Rencananya dia akan memulai pencarian dari salah satu kampus di sana. "Kalian kenal dia gak? Namanya Joshua." Tarzia menunjukkan satu-satunya foto Jojo yang dimiliki pada sekelompok mahasiswa yang sedang bercengkrama di depan kampus. "Oh...ini Joe gak sih?" Salah seorang gadis berkemeja kotak-kotak bertanya pada pemuda yang memakai sweater merah di hadapannya. "Kayaknya bukan deh. Ini culun banget, bukan style Joe banget." Pemuda itu malah tertawa. Sepertinya kelima orang mahasiswa itu tidak mengenal Jojo. Tarzia harus mencarinya ke kampus lain yang juga ada di kota yang sama. "Permisi Pak, kenal dia gak?" Kembali ditunjukkan foto Jojo pada seorang dosen di sana. "Maaf, gak kenal." Sayangnya dosen itupun tidak mengenalnya. Tarzia mulai lelah mencari Jojo di tengah panas teriknya matahari. Sudah 2 hari dia di sana, tapi belum juga bertemu dengan Jojo. Hingga akhirnya dia mendengar suara seruling dengan melodi yang sering dimainkan Jojo untuknya sebagai kode pertemuan. "Jojo?" Tarzia langsung menebak suara yang berasal dari seberang jalan itu. Segera dia berlari untuk menyebrangi jalan tanpa melihat kesana kemari, tanpa peduli rambu-rambu lalu lintas. Semua orang yang melihatnya berteriak karena kecerobohannya. "Awas! Udah gila loe ya?" Seseorang bertubuh tinggi meraih lengannya dan menyelamatkannya yang hampir tertabrak sebuah mobil. Tarzia mendongak ke atas untuk melihat wajahnya. "Ahmad?" Antara sadar atau tidak, pria itu adalah Ahmad yang pernah ditolongnya di Turki tiga tahun lalu. Namun kali ini wajahnya tak lagi dipenuhi kumis dan jenggot sehingga dia terlihat jauh lebih muda. Ahmad membawa Tarzia menuju ke mobil mewahnya. Tanpa paksaan Tarzia mau saja mengikutinya, dia masih melihat wajah Ahmad sedangkan Ahmad terus mengumpat, masih seperti dulu dengan kalimat kasar tapi hatinya lembut. "Kamu nggak berubah ya? Masih nekad, ceroboh, gak hati-hati." Sambil menyetir Ahmad mengomel. Tarzia malah tersenyum, sejenak dia melupakan tujuan awalnya yaitu mencari Jojo. Entah kemana dia akan membawa Tarzia, tapi hatinya yakin kalau Ahmad hanya ingin membalas perbuatan baiknya dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN