Mobil Ahmad berhenti di depan sebuah rumah lantai 3 yang cukup megah, gerbang pagarnya dibuka oleh security. Ahmad membuka pintu mobil dan meminta Tarzia turun dari mobil. Tarzia masih takjub dengan apa yang dilihat. Rumah itu 2 kali lipat lebih besar dari rumahnya di kampung. Halamannya cukup luas, tanamannya tertata rapi oleh pengurus kebun yang telaten. "Ayo masuk." Ajaknya. Seorang asisten rumah tangga segera membukakan pintu rumah dan dengan sopannya dia mempersilahkan mereka masuk. "Selamat datang." Sepertinya Ahmad adalah keturunan bangsawan.
Jika dari eksterior rumahnya telah dibuat kagum, kali ini interior rumahnya membuat Tarzia takjub karena tampak seperti istana. Ahmad menuju ke ruang makan dan Tarzia dipersilahkan duduk oleh asisten rumah tangganya yang lain. Semua pekerja di rumahnya memakai seragam. "Tolong siapkan menu makan siangnya ya. Dan siapkan minuman segar untuk Nona ini." Ahmad memberi perintah. "Baik Tuan." Segera kedua asisten rumah tangganya menyiapkan makanan untuk mereka.
Makanan disajikan dalam kondisi panas. "Selamat menikmati Nona." Makanannya sungguh lezat, jika bukan karena rasa malu dan harga diri, pasti sudah dilahap semua hidangan yang tersedia. Sayangnya Tarzia harus menahan nafsu makannya itu dan memilih beberapa menu saja. Ahmad makan dengan lahapnya. Kedua asisten rumah tangganya berdiri di sudut untuk mengawasi makan siang, mereka menunggu aba-aba atau perintah jika majikannya membutuhkan sesuatu.
Makan siang telah selesai, semua makanan dan piring kotor disingkirkan dari meja makan. "Sebaiknya kamu mandi dan berganti pakaian dulu untuk menyegarkan diri. Setelah itu aku akan antar kamu pulang." Ahmadpun beranjak dari ruang makan sebelum Tarzia sempat mengatakan. "Aku gak mau pulang, aku harus cari..."
"Mari ikut saya ke kamar tamu." Seorang asisten rumah tangga lalu mengantarkannya ke kamar tamu yang ada di lantai dua. Kamar tamu itu sangat besar. Seperti kamar VIP di hotel saja. "Di dalam lemari ada pakaian wanita, Nona bisa pilih yang sesuai. Jika perlu sesuatu, saya menunggu di luar." Tutur asisten rumah tangga Ahmad. "Makasih." Ucapnya pada wanita berhijab itu.
Tarzia masuk ke kamar mandi dan berendam di bath up, rasanya sangat segar, segala kepenatan hilang. Dia memakai handuk lalu membuka lemari besar yang ada di kamar itu. Sangat banyak pakaian di sana dengan berbagai ukuran dan model, Tarzia bingung harus memilih yang mana. Sehingga pada akhirnya dia tetap memilih pakaiannya yang semula. Kaos lengan panjang dengan rok panjang. Namun kali ini Tarzia memilih mengikat rambut ikalnya sehingga tampak lebih rapi.
Saat dia keluar dari kamar tamu dan menuruni anak tangga, Ahmad melihatnya dengan tatapan kekaguman, dia tak perlu memuji, tapi Tarzia dapat merasakannya. "Kenapa gak ganti baju?" Tanyanya untuk mengelak mengakui penampilan Tarzia yang sedikit berbeda kali ini. "Aku nyaman menjadi diri aku yang seperti ini." Jawab Tarzia singkat sambil tersenyum. "Ayo pergi" Ajak Ahmad. "Tunggu sebentar." Pinta Tarzia. Dia lalu menghampiri asisten rumah tangga yang menemaninya tadi. Wanita berhijab itu merasa sedikit takut akan ditegurnya. "Makasih ya Buk." Tarzia malah menyalaminya lalu pergi bersama Ahmad. Wanita berhijab itu merasa terharu, dia masih memegang tangannya dan tersenyum. Apakah selama ini tak ada yang pernah menghargainya.
"Siapa yang kamu cari?" Pertanyaan Ahmad membuyarkan lamunan Tarzia. "Seseorang." Tarzia tak mau mengatakan bahwa yang dicarinya adalah kekasihnya. "Pacar?" Tanyanya lagi. "Bisa dibilang begitu." Jawab Tarzia. Ahmad tersenyum. "Dia pasti sangat istimewa sampai kamu cariin." Tebak Ahmad. "Dia tidak istimewa, dia sangat berharga bagiku. Aku harus ketemu sama dia. Sebenarnya tadi aku hampir ketemu sama dia, tapi kamu malah bawa aku ke sini." Mendadak Tarzia menjadi sentimentil. "Maksud kamu malaikat maut?" Ahmad menjadi kesal gara-gara perkataan itu. "Makasih." Ucap Tarzia. "Kamu tinggal dimana?" Tanya Ahmad kemudian. "Kost'an." Jawabnya. Maka Ahmadpun mengantarkannya ke sebuah Kost'an yang berada di g**g sempit. "Mobil aku gak bisa masuk." Jelas Ahmad. "Gak papa, aku jalan aja." Tarzia keluar dari mobil Ahmad. Ahmad segera pergi.
Keesokan harinya, Tarzia akan memulai pencarian dari titik terakhir kemarin. Kebetulan ada sebuah telepon umum di sudut jalan itu. Dia putuskan menghubungi Ibuk di kampung. Pada masa itu tekhnologi belum canggih seperti sekarang. "Buk, Zia baik-baik aja di sini. Tapi Zia belum ketemu sama Jojo. Tapi Ibuk tau gak Zia ketemu sama siapa?" Saat itu Tarzia ingin memberitahu tentang Ahmad pada Ibuk. Tapi terdengar suara Ayah memanggil. "Buk!" Nampaknya Ayah sedang butuh pertolongan. "Ayah sakit lagi ya Buk?" Dia menjadi cemas. "Sudah dulu ya Zia." Ibukpun mengakhiri pembicaraan.
Tarzia harus cepat menemukan Jojo untuk minta maaf sebelum semuanya terlambat. Sayup-sayup terdengar suara musik yang sangat keras dari arah Kampus. Nampaknya sedang ada acara di sana. Tarzia menjadi penasaran dan mencoba melihat dari kejauhan. "Selamat pagi semuanya...!" Sapa seorang pemuda berkacamata hitam dengan style ala rocker meski tak serba hitam. Gayanya sangat keren apalagi ada gitar yang ditentengnya. Penonton mulai bersorak sorai melihat pemuda itu. Pemuda itu mulai memainkan gitar dan bernyanyi dengan suaranya yang merdu.
Semua penonton larut dalam kemeriahan acara pekan seni mahasiswa tahunan itu. Tarzia merasa sedikit terhibur dengan penampilan band itu. Suaranya sangat bagus, seperti suara Jojo. Tarzia harus cepat menemukan Jojo, tanpa membuang waktu, dia segera melanjutkan perjalanan menuju pusat perbelanjaan di sana. Dia sama sekali tak menyadari kalau pemuda itu adalah Joshua alias Jojo. Dia terlihat sangat berbeda dengan penampilan barunya itu.
Sekarang Jojo jauh lebih keren, tidak culun lagi seperti dulu. Banyak wanita yang menggilainya. "Penampilan kamu keren banget Joe." Puji seorang mahasiswi cantik saat Jojo turun dari panggung. Jojo membuka kacamatanya lalu merangkul gadis itu. "Siapa dulu dong. Pacar kamu. Joe...!" Bahkan gaya bicaranya tak lagi seperti dulu. Saat Jojo sedang berjalan dengan mesranya bersama gadis yang kini jadi pacar barunya, muncullah seorang gadis lain yang kemudian menjambak rambut pacar Jojo. "Dasar gak tau malu. Beraninya kamu rebut cowok aku ya." Ternyata gadis yang lain itu mengaku sebagai pacar Jojo juga. "Kamu siapa? Datang-datang jambak rambut pacar aku." Tapi Jojo tak mengakui gadis bertubuh gemuk itu sebagai pacarnya. "Joe, kamu apa-apaan sih. Aku Sania, pacar kamu." Betapa sedihnya gadis bernama Sania itu mendapat perlakuan berbeda dari Joe.
Joe mendekap pacar barunya sambil merapikan rambut gadis itu. "Kamu gak papa kan?" Joe begitu mencemaskan pacarnya. Perdebatan di tengah keramaian itu membuat mereka menjadi pusat perhatian. "Keterlaluan kamu Joe, aku udah ngasih semuanya untuk kamu, uang, motor, baju. Tapi kamu ninggalin aku demi dia!" Saniapun menangis saat mengatakannya. Joe malah menertawakannya. "Kamu yang ngasih, aku gak pernah minta, kamu ngejar-ngejar aku dan mohon-mohon supaya aku mau jadi pacar kamu, atau kamu akan bunuh diri. Aku punya buktinya. Apa perlu aku tunjukin di depan semua orang?" Jojo balik mengancam Sania.
Sebagai seorang wanita, Sania pasti merasa malu jika rahasianya terbongkar. "b******k kamu Joe!" Maka diapun memilih pergi dari sana. Anehnya lagi semua orang malah mengejek Sania. "Ayo kita pergi." Joe lalu mengajak pacarnya pergi dari Kampus. Gadis cantik yang kini jadi pacar baru Joe ternyata juga tak kalah kaya. "Naik mobil aku aja." Dia memiliki mobil mewah keluaran terbaru saat itu.
Tarzia sudah sampai di mall dan mulai bertanya pada orang-orang di sana. Lagi-lagi dia harus kecewa karena tak ada yang mengenal Jojo. Sedangkan pemuda yang dicari itu sedang berjalan bersama pacarnya tepat di sampingnya menaiki lift. Tarzia tidak melihatnya karena pintu lift sudah tertutup.