Isi lagu itu terdengar menyayat hati dan semua tamu undangan seakan turut merasakan betapa kesedihan Jojo saat menciptakan lagu itu. Terlebih Tarzia, dia sangat mengerti jika orang yang dimaksud adalah dirinya. Ahmad lalu melihat ke arahnya yang mulai menitikkan air mata. Ahmad menggenggam tangan Tarzia lalu tersenyum. Tarzia menghela nafas dan berusaha tersenyum di depan Ahmad. "Kamu pasti teringat sama Jojo? Cinta pertama memang susah dilupakan." Gumam hati Ahmad.
Ahmad terkenang peristiwa beberapa tahun silam saat dia pertama kali tiba di bandara Turki dan dengan sibuknya dia asik menelpon seseorang sampai tak melihat ada seorang gadis cantik, gadis Turki asli sedang berdiri di depannya sambil memeriksa isi tasnya. "Dimana tadi dompetku?" Dia mencari sesuatu. Ahmad malah menabrak gadis itu sampai tersungkur ke lantai dan seluruh isi tasnya berhamburan. "Hati-hati kalau berjalan." Gadis itu memarahi Ahmad. Saat itulah Ahmad merasa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis asing yang belum pernah dia kenal sebelumnya.
Petugas keamanan yang ada di Bandara segera menghampiri mereka. "Anda baik-baik saja?" Mereka hendak membantu gadis itu untuk berdiri. "Biarkan saja. Harusnya dia yang menolong saya." Gadis itu begitu marah pada Ahmad. Ahmad lalu membereskan barang-barang gadis itu kembali ke dalam tas lalu mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu berdiri. "Maaf." Ucap Ahmad yang memang bisa berbahasa Turki. "Lain kali hati-hati." Gadis itu mengambil tasnya dari tangan Ahmad lalu segera pergi. Ahmad masih terkesima, terpaku di sana melihat gadis itu pergi. "Berbalik. Berbaliklah kalau memang kita jodoh." Kata Ahmad dalam bahasa Indonesia yang tak dapat dimengerti petugas bandara. Gadis itupun menoleh meski dengan wajah kesal, dia melihat Ahmad yang tersenyum kepadanya. "Dasar gila." Kata gadis itu.
Setelah pertemuan di bandara itu. Mereka kembali dipertemukan di sebuah hotel yang ada di Turki. "Tapi saya sudah pesan kamar itu beberapa hari yang lalu." Nampaknya gadis itu memang mudah marah. "Maaf, tapi tidak ada pemesanan kamar atas nama Gunesh." Resepsionis mencoba menjelaskannya. "Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Ahmadpun datang. "Kamu?!" Melihat Ahmad, gadis bernama Gunesh itu merasa kesal. "Ahmad." Ahmad mengulurkan tangan untuk berkenalan, tapi Gunesh tak menyambutnya dengan ramah. "Jadi maksud kalian, teman saya berbohong?" Dia malah berdebat dengan petugas resepsionis. "Tolong berikan kamar itu untuknya." Ahmad memberikan solusi terbaik. "Tapi anda akan tidur di kamar mana Pak?" Dia merelakan kamarnya untuk Gunesh sehingga petugas respsionis merasa tak enak hati. "Masih banyak kamar tidur lain di hotel ini kan? Semua pasti nyaman." Jawab Ahmad dengan bijak. Mendengar kalimat itu Gunesh merasa bersalah. "Permisi." Ahmad pergi begitu saja. "Berbalik, berbalik kalau kamu menyukaiku." Giliran Gunesh yang berdoa di dalam hati. Ahmadpun menoleh dan melihat Gunesh sedang tersenyum kepadanya. "Dasar aneh." Ahmad tersenyum.
Setiap pertemuannya dengan Gunesh membuat Ahmad yakin kalau Gunesh adalah jodohnya. Saat Ahmad sedang meninjau lokasi tanah di sebuah tempat, dia melihat mobil Gunesh mogok. Ahmad menghampirinya dan mencoba membantu. "Boleh saya bantu?" Gunesh mengangguk. Tak hanya pintar dalam urusan bisnis, ternyata Ahmadpun pandai urusan otomotif. "Coba nyalakan." Pinta Ahmad. Gunesh lalu menyalakan mesin mobil dan berhasil. "Makasih. Aku Gunesh." Kini giliran Gunesh yang mengulurkan tangan. Ahmad menyambutnya dengan ramah.
Hari itu mereka tak hanya akur tapi juga menjadi teman baik. Gunesh mengajak Ahmad berjalan-jalan melihat keindahan kota Istanbul. Mereka mulai akrab dan saling jatuh cinta. Ahmad memberikan segalanya untuk Gunesh. Mulai dari tas dan dompet baru, pakaian, sepatu hingga mobil baru. Sayangnya Ahmad sama sekali tak tau Gunesh hanya mengincar hartanya saja.
Hingga suatu hari, Ahmad membeli cincin dari sebuah toko perhiasan di sana. Wajahnya terlihat bahagia. Ahmad lalu menuju ke sebuah rumah sederhana yang ada di sebuah desa kecil, tepatnya desa tempat Nenekku tinggal. Ahmad berjalan kaki lalu memanggil nama Gunesh dari depan pintu rumah tersebut. "Gunesh, kamu di dalam?" Karena tak ada jawaban, Ahmad membuka pintu rumah yang ternyata tidak terkunci. "Gunesh?" Ahmad mencari keberadaan gadis berambut cokelat itu. Tiba-tiba dia mendengar suara seorang pria yang tertawa dari arah kamar Gunesh. "Pria itu benar-benar bodoh!" Entah siapa yang mereka ceritakan saat Ahmad sedang berusaha menguping. "Dia naif." Gunesh ikut mengejek seseorang yang dibicarakan pria itu. "Katakan sayang, dimana surat peralihan aset kepemilikan tanah dan bangunan itu?" Tanya pria itu. Kini Ahmad mulai menyadari kalau yang dibicarakan mereka adalah dirinya. "Jadi ini tujuan kamu? Mengambil semua hartaku dan pergi dengan laki-laki lain?" Ahmadpun geram. Gunesh dan pria itupun kaget melihat dia datang. "Ahmad? Sejak kapan kamu di sana?" Tanya Gunesh. "Siapa pria ini?" Tapi Ahmad balik bertanya. "Aku suaminya." Jawab pria itu. Hati Ahmad hancur mendengarnya. "Benarkah itu?" Dia menatap mata Gunesh dalam-dalam. Guneshpun mengangguk. "Maaf Ahmad. Kamu tak pernah bertanya statusku. Kamu yang mengejar-ngejar aku." Perkataannya semakin menyakitkan Ahmad saja.
Otot-otot kaki Ahmad terasa lemas sampai dia tak kuat untuk berdiri. Ahmad bersimpuh di hadapan Gunesh. "Katakan ini bohong. Kamu hanya ingin mengerjaiku kan?" Ahmad meraih tangan Gunesh lalu mengambil kotak cincin yang ada di dalam kantong jasnya. "Lihat ini, aku mau melamar kamu hari ini." Ahmad membuka kotak cincin itu. Pria yang mengaku sebagai suami Gunesh merasa geram. Dia lalu mengambil cincin itu dan membuangnya ke lantai. "Kamu mau melamar istri orang lain? Sadarlah Bung!" Kemudian mendorong Ahmad sampai terjatuh ke lantai. "Ayo kita pergi sayangku." Pria itu mengajak Gunesh pergi dari rumah itu.
Apalagi yang bisa dilakukan Ahmad selain putus asa, bersedih, mabuk-mabukan. Dan di situasi itulah terjadi pertemuan pertama kami. Sekali lagi Ahmad mencuri pandang pada Tarzia, dia tersenyum dan seolah bersyukur memiliki Tarzia dalam hidupnya. Tapi bagaimana dengan Tarzia yang dilema. Untung saja penampilan Jojo dan bandnya sudah selesai. Mereka turun dari panggung dan kembali ke back stage. "Kenapa harus pakai topeng sih Joe? Seharusnya kamu tunjukin aja ke Zia kalau kamu ada di sana." Andipun protes pada Jojo. Jojo membuka topengnya dan menjelaskan alasannya. "Tadinya begitu, tapi setelah melihat Zia, aku tau dia cuma terpaksa menikah dengan laki-laki kaya itu, ini pasti karena Ayahnya." Jojo tidak tau kalau Ayah Tarzia sudah meninggal dunia.
Kemeriahan kejutan resepsi pernikahan kami masih terus berlanjut. Persembahan tari-tarian menghibur semua tamu kecuali Tarzia. Meski bibirnya tersenyum, hatinya masih bertanya. "Dimana kamu Jojo, aku harus jelasin semuanya." Bagaimanapun hubungan mereka tidak pernah benar-benar berakhir begitu saja. Mereka hanya terpaksa berpisah.
Pembawa acara meminta Tarzia dan Ahmad saling bersuap-suapan makanan dan minuman, semua diikuti Tarzia meski setengah hati. Malam tak juga berlalu padahal rangkaian acaranya sudah sangat lengkap. "Dan inilah yang paling kita nantikan, couple dance." Tiba-tiba pembawa acara mengumumkannya. Tarzia langsung menengok Ahmad. "Aku gak bisa dansa." Katanya. Ahmad tersenyum. "Ikutin aku aja." Selalu dan akan selalu, Ahmad menenangkan Tarzia dan membuatnya merasa semua akan baik-baik saja.
Ahmad mengulurkan tangan untuk mengajak Tarzia berdansa di depan semua orang diiringi musik biola yang romantis. Keduanya saling berhadapan. "Jangan pedulikan yang lain, cukup tatap mata aku aja dan dengarkan arahan dariku." Kalimat itu menghipnotis Tarzia. Ahmad meletakkan tangan kiri Tarzia di pundak kanannya dan dia memegang pinggang kiri Tarzia lalu menggenggam tangan kanannya. "Kenapa aku jadi deg-degan gini ya." Pesona Ahmad yang tampan membuat Tarzia terbius. Tarzia yang sama sekali tak bisa berdansa kini dengan mudahnya menggerakkan kaki dan badan. Semuanya terasa ringan dan enteng. Bibirnya tersenyum lebar. Ahmadpun ikut senang melihatnya. "Lihat kan, kamu bisa." Bisik Ahmad. Semua tamu memberikan tepuk tangan meriah. Tanpa disadari Jojo sedang melihat kemesraan dan kebahagiaan mereka dari kejauhan.
Pesta kejutan yang meriah dan sungguh menyenangkan. Tarzia dan Ahmad bersiap melempar buket bunga kepada beberapa tamu yang sudah menunggu di belakang mereka. Ada Jojo di belakang, tanpa mengenakan topeng lagi. "Apakah kamu bahagia bersamanya Zia? Kalau kamu gak bahagia, aku akan menunggumu di sini untuk pergi bersamaku." Gumam hati Jojo. Lalu buket bunga itu malah jatuh ke hadapannya karena tak ada satupun orang yang berhasil menangkap buket bunga itu. Jojo mengambil bunga itu saat orang-orang bertepuk tangan padanya. Jojo tersenyum tanpa melihat kearah Tarzia. "Jojo?" Tarzia kembali merasa bersalah. "Jojo?" Ahmad baru menyadari kalau itu adalah Jojo. Jojo malah memberikan bunga itu pada seorang gadis yang ada di sana lalu pergi meninggalkan acara resepsi. "Tunggu!" Ahmad mencoba memanggil Jojo. "Cie... yang dapat buket bunga..." Tapi gemuruh sorak sorai tamu-tamu lain beralih kepada gadis penerima buket bunga hingga membuat Jojo tak bisa mendengar suara Ahmad. "Jojo!" Ahmad turun dari pelaminan dan mencoba melewati kerumunan itu untuk menyusul Jojo. "Selamat ya Pak? Doakan saya segera nyusul." Namun gadis itu menghalangi jalan Ahmad dan mengajaknya mengobrol. Sebagai seorang pimpinan perusahaan tak mungkin Ahmad mengelaknya, apalagi mereka telah menyiapkan acara kejutan untuknya.
Acara malam itu berakhir dengan dilepaskannya kembang api di atas gedung hotel. Warna-warni itu terlihat indah di langit malam. Mereka mendapat hadiah sepasang merpati. "Sepasang merpati ini menandakan kalian berdua. Kalian harus saling menjaga satu sama lain, saling menyayangi untuk selamanya, dan kesetiaan seperti merpati." Seorang perwakilan divisi memberikan sepasang merpati itu pada Ahmad. "Terimakasih untuk kejutan yang luar biasa ini. Semoga kalian semua juga selalu berbahagia." Ucap Ahmad. "Terimakasih telah menjadi keluarga baru untuk kami. Sebelumnya saya tidak punya adik atau kakak, kami hanya keluarga kecil, tapi sekarang saya punya kalian semua." Tarzia turut merasa terharu. "Oh ya, masih ada 1 kejutan lagi." Kata seorang karyawan hotel. Tarzia dan Ahmad saling memandang. "Apa?" Mereka menjadi penasaran. "Kamar bulan madu dong." Jawaban karyawan itu membuat mereka tersipu malu. Semua orangpun tertawa. "Udah ah, jangan ganggu mereka. Antarkan saja langsung." Divisi yang memberikan merpati tadi menggoda kami berdua. "Mari Pak, Buk." Ajak karyawan itu. "Bye... Happy honey moon Pak." Terdengar suara-suara lucu lagi dari mereka. Tarzia hanya bisa tersenyum saja, begitupun Ahmad. Tarzia lalu melihat ke arah Ibunya. Dia melambaikan tangan sambil tersenyum.
Mereka mengikuti karyawan hotel itu ke kamar paling mewah yang ada di hotel tersebut. "Silahkan Pak, Buk. Saya permisi." Dia menyerahkan kunci kamar itu pada Ahmad lalu pergi dengan sebuah senyuman yang menandakan rasa suka citanya atas pernikahan mereka. Ahmad melihat ke arah Tarzia seakan diapun merasa tidak enak dengan semua yang terjadi itu. Sedangkan Tarzia tak berani menatap matanya.
Ahmad membuka pintu kamar tersebut lalu mempersilahkan Tarzia untuk masuk. "Coba kita lihat apa yang udah mereka siapkan? Mereka terlalu berlebihan kan?" Meskipun sedikit canggung, Ahmad mencoba mencairkan suasana dengan tertawa kecil. Ternyata seisi kamar telah didekorasi dengan indah oleh mereka sehingga terkesan begitu romantis. "Ini bagus banget." Tarzia merasa takjub melihatnya begitupun Ahmad. "Mereka bener-bener serius rupanya." Puji Ahmad. "Mungkin Mas harus kasih bonus untuk mereka." Kata Tarzia yang disambut senyum oleh Ahmad. "Kamu manggil aku apa barusan?" Dia mencoba mendekat ke arah Tarzia. "Mas." Jawab Tarzia dengan polos. Ahmad lalu meraih tangan Tarzia dan matanya berkaca-kaca. "Terus panggil aku seperti itu ya." Ada apa dengan Ahmad malam itu, tiba-tiba dia menjadi sentimentil begitu. Tarzia sampai terlalu percaya diri mengira Ahmad akan menciumnya, tapi ternyata Ahmad malah keluar dari kamar.
Tarzia sendirian di dalam kamar dengan cahaya lampu yang temaram. Dinyalakannya lampu kamar kembali agar terang kembali dan dia hanya duduk dengan sedikit kesal di atas tempat tidur. Tak berapa lama kemudian Ahmad masuk kembali ke kamar. Dia membuka jasnya lalu menggantungkan di hanger. Ahmad naik ke atas tempat tidur lalu duduk di sampingk Tarzia yang masih termenung hingga tak menyadari dia datang. "Ibu aku meninggal saat aku masih kecil dengan menanggung beban yang amat berat. Ibuk yang biasanya ceria menjadi murung, Ibuk dibawa ke pPsikiater tapi malah tambah parah sampai dia bunuh diri." Sebuah pengakuan yang sangat mengejutkan dari Ahmad tentang Ibunya. "Kalau kamu penasaran kenapa? Semua karena penjahat itu. Dan aku sebagai anaknya cuma bisa diam, gak berani bilang apa-apa." Malam itu mereka melewati malam bersama di dalam kamar bernuansa romantis dengan penuh kesedihan bukannya kebahagiaan. Ahmad tertidur di pangkuan Tarzia dengan mata yang masih basah karena menangis. Ahmad mengidap genophobia. Seharusnya sebagai istri Tarzia membantunya untuk sembuh dan melewati traumanya itu bukannya malah melakukan kesalahan yang justru akan menambah sakit hati.
Setelah malam itu, Ahmad bersikap sangat dingin kepadak Tarzia. Dia selalu sibuk dengan bisnisnya yang tersebar dimana-mana. "Buk, hari ini Ahmad mau ke Kalimantan, mungkin sampai 1 minggu di sana." Ahmad berpamitan pada Ibuk. Tarzia lalu segera menghampirinya. "Mas pergi lagi?" Tanyanya. Ahmad mengangguk dan tersenyum. "Jaga diri kamu baik-baik. Jaga Ibuk ya." Kalimatnya membuat Tarzia takut. "Hati-hati Nak." Ucap Ibuk. Ahmad mencium tangan Ibuk, Tarzia menyalami Ahmad. Pria itu pergi begitu saja tak seperti pasangan baru lainnya yang akan mengecup kening sang istri sebelum pergi bertugas.
Tarzia hidup dalam kemewahan tapi rasanya bagai burung dalam sangkar emas. Hidupnya hanya dihabiskan di dalam istana itu saja. Dia mulai bosan dan ingin menikmati hidup. Tarzia memutuskan pergi jalan-jalan ke taman Kota seorang diri. Cuaca yang cerah membuat Tarzia bersemangat. Dia duduk di bawah sebuah pohon sambil membuka buku harian untuk menulis. "Kalau kamu butuh cinta, aku akan selalu ada untuk kamu. Karena aku masih sangat mencintai kamu." Tiba-tiba saja Jojo datang dan duduk di samping Tarzia. "Jojo, kamu ngapain di sini?" Tarzia terkejut. "Ini tempat umum kan? Jadi siapapun berhak datang ke sini." Jawab Jojo. Tarzia segera berdiri. "Tapi kita cuma berdua di sana, orang-orang bisa salah paham." Jelasnya. "Orang-orang akan mengira kita pasangan yang saling mencintai seperti yang lainnya." Jojo menunjuk ke arah sepasang sejoli yang sedang bergandengan tangan dengan mesra berjalan ke arah mereka.
Jojo meraih tangan kanan Tarzia dan menyentuh cincin kawin di jari manis Tarzia. "Aku tau kalau suami kamu gak memberikan cinta untuk kamu kan?" Mata Tarzia melotot, dia menarik tangannya kembali. "Dan aku tau hati kamu masih menyimpan cinta untuk aku kan?" Tebak Jojo. "Hari ini harusnya tanggal jadian kita Zia. Aku masih ingat waktu kamu nerima cinta aku di belakang sekolah." Jojo mencoba mengenang memori indah kebersamaan kami dulu. "Waktu kamu cium pipi aku. Aku gak bisa tidur Zia." Dan Tarzia mulai terhanyut kembali ke dalam nostalgia itu.
Jojo menyentuh pipi Tarzia dan menatap kedua bola mata Tarzia dalam-dalam. "Aku cinta sama kamu Zia, aku akan ngebahagiain kamu meski kamu bukan milikku lagi." Seketika Tarzia seperti terhipnotis dan Tarzia langsung memeluknya dengan erat. "Mulai sekarang, kalau kamu butuh aku, hubungin aku. Aku pasti datang." Jojo membelai rambut Tarzia.
Mereka berjalan-jalan di taman, Jojo memetik bunga dan menyelipkan di rambut Tarzia, padahal di depan pohon bunga itu sudah tertulis. "Dilarang memetik bunga dan menginjak rumput." Karena kenekatannya itu Jojo jadi dikejar-kejar oleh penjaga taman dan menyebabkan Tarzia harus ikut melarikan diri juga bersamanya. Mereka bersembunyi diantara kerumunan orang di halte hingga tak berhasil ditemukan. Mereka tertawa bersama tak peduli orang-orang melihat kami dengan aneh. Hingga bis berhenti di halte. "Ayo naik?" Jojo mengajaknya naik bis.
Ternyata semua tempat duduk sudah ditempati penumpang lain dan mereka memilih berdiri dan saling memandang satu sama lain. Di perhentian bis selanjutnya, bis yang mereka naiki berhenti mendadak dan membuat Tarzia hampir terjatuh, untungnya Jojo segera memegang pinggang Tarzia dengan erat. "Kamu gak papa?" Terlihat jelas dari sorot mata Jojo kalau dia sangat mengkhawatirkan Tarzia. Tarzia menggelengkan kepala. Dia masih mempedulikannya.
Mereka turun dari bis sambil berpegangan tangan. Lalu berjalan kaki bersama tanpa bicara apapun selain tersenyum saja. "Aku gak bisa ngantar kamu sampai rumah. Kita ketemu lagi besok di sini ya." Jojo melepas tangannya, Tarzia merasa sedikit sedih. Dia hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah Ahmad dan harus berpisah dengan Jojo di sana. "Ini persis seperti dulu lagi kan Jojo? Waktu kamu nganterin aku pulang ke rumah supaya gak ketahuan Ayah?" Gumam Tarzia.
"Kali ini beda, gak akan ada yang bisa misahin kita lagi." Jojo mengusap air mata yang jatuh di pipi Tarzia sambil tersenyum.
Tarzia menyeberangi jalan dengan perasaan sedih, Tarzia menoleh ke belakang dan Jojo masih berdiri di sana melambaikan tangan padanya. "Gak, aku gak mau ini cuma mimpi aja sebagai bentuk salam perpisahan aja." Bagaimanapun hatinya memberontak dan segera berlari kembali menemui Jojo untuk memeluk dengan erat. Jojopun tetawa kecil melihat tingkah Tarzia. "Kita baru pisah 1 menit dan kamu udah rindu sama aku?" Tarzia kesal mendengar perkataannya itu. "Mulai sekarang 1 menit itu akan cukup lama untuk aku. Aku gak mau 1 tahun di Turki itu terulang lagi." Dan kini giliran Jojo yang bersedih.
Jojo harus mengenang pahitnya hidup di jalanan bersama keluarganya. Adik-adiknya bahkan sampai mengamen di lampu merah demi mendapat uang untuk membeli makanan. Kedua orang tuanya bahkan pernah diusir saat memulung sampah di depan sebuah mini market. Hanya musik yang menjadi teman Jojo dan menghibur dirinya di sela waktu dirinya menjadi tukang parkir di depan studio musik. Gema sulingnya yang merdu itu akhirnya membuat pengunjung studio musik dan minta diajari bermain suling oleh Jojo. "Kayaknya itu anak bawa hoki." Wanita pemilik studio musik melihat peluang keuangan pada Jojo. "Kamu mau kerja di sini gak?" Kemudian suatu hari wanita itu menawarkan pekerjaan pada Jojo. Dari pekerjaannya itulah dia bisa bertahan hidup di Kota, meskipun hanya tinggal di kolong jembatan. Jojo kembali memeluk Tarzia, air matanya menetes hingga terjatuh ke pundak Tarzia. Jojo segera menghapus air matanya agar kekasihnya tak mengetahui. "Ayo sana, atau kita akan ketahuan di sini sebelum misi kita selesai." Tutur Jojo sambil tersenyum. Tarzia merasa sedikit lega melihat senyum merekah kembali menghiasi wajah Jojo.
Bibi Lorenza membukakan pintu untuk Tarzia. "Makasih Bik." Ucap Tarzia sambil tersenyum lepas. Ibuk menghampiri Tarzia. "Kelihatannya kamu senang sekali? Ada apa?" Tanyanya.
"Ini pertama kalinya Zia jalan-jalan di kota ini Buk, ke taman, naik bis, pokoknya seru banget." Jawaban Tarzia membuat Ibuk dan Bibi Lorenza ikut bahagia. "Nona harus selalu bahagia seperti ini." Nasehat Bibi Lorenza. Ibuk mengangguk dan tersenyum. "Zia ke kamar dulu Buk." Tarzia segera naik tangga menuju ke lantai 2. "Ini pertama kalinya juga aku bohong sama Ibuk." Dia merasa gelisah di kamar dan tak dapat tidur malam itu. Lalu ponselnya berdering. Panggilan dari nomor yang tak dikenal. "Halo?" Tarzia memberanikan diri menjawab panggilan itu. "Kalau kamu gak bisa tidur, setidaknya pejamkan mata dan ingat aku di dalam pikiranmu. Kita bisa ketemu dalam mimpi kan?"
"Jojo?" Ternyata yang menghubunginya adalah Joshua.
Tarzia langsung sumringah dan memilih duduk di atas ranjang. "Kok kamu tau nomer handphoneku?"
"Aku bahkan tau perasaan kamu. Ini kecil buatku." Jojo menelpon dari seberang jalan di depan rumah Ahmad. Ada sebuah bangku di sana untuk orang-orang beristirahat jika sedang berolahraga atau menunggu taxi. Joshua memakai sweater agar tak kedinginan duduk di sana sambil melihat ke arah rumah Ahmad. "Sampai ketemu besok pagi di lapangan bola ya." Jojo menutup telpon.
Tak sabar rasanya menunggu besok pagi. Tarzia segera bersiap, memakai pakaian olahraga dan segera menuju ke luar rumah. "Perlu saya antar Nona?" Tanya Sopir pribadinya. "Gak usah, saya cuma mau lari pagi aja di sekitar sini kok." Tarzia memang berlari dari halaman rumah Ahmad menuju ke lapangan bola yang tak jauh dari sana, berlari dari kenyataan bahwa kini dia adalah seorang istri bukan remaja lagi yang menjalin backstreet dari orang tuanya.
Ada beberapa orang sedang berolahraga di lapangan. Tarzia celingukan mencari Jojo. Akhirnya dia datang dengan penampilannya yang terlihat keren dengan pakaian olahraganya. Tarzia terkesima melihat ketampanannya. "Hei!" Jojo menjentikkan jarinya di depan wajah Tarzia sehingga dia menjadi malu. "Ayo kita bersepeda." Ajaknya. "Tapi aku gak bawa sepeda." Jawab Tarzia. "Untuk apa 2 sepeda kalau 1 saja sudah cukup." Ternyata Jojo ingin membonceng Tarzia dengan sepeda yang dibawanya.
Joshua mengayuh sepeda tanpa lelah melewati jalan di pagi yang cerah. "Kita mau kemana?" Tanyaku. "Ke sungai." Jawaban Jojo membuat Tarzia penasaran. "Jangan bilang kita mau berenang. Aku gak bisa berenang Jo." Jojopun tertawa mendengarnya. "Aku tau. Kita mau mancing." Jelasnya. Dua orang yang baru memulai mengulang cinta lagi memilih memancing. "Kencan pertama kita memancing?" Cukup lucu bukan. Apalagi memancing itu terasa membosankan bagi Tarzia. "Supaya kamu gak bosan, gimana kalau kita main tebak-tebakan." Usul Joshua. "Tebak-tebakan?" Tanya Tarzia. "Iya, kamu tebak batunya ada di sebelah mana?" Joshua mengambil batu di pinggir sungai lalu menggepalkan kedua tangannya dengan cepat hingga Tarzia tak bisa menebak dimana batu kerikil itu berada. "Kalau tebakan kamu benar, kamu dapat hadiah dari aku. Begitupun sebaliknya." Joshua menjelaskan aturan mainnya.
Mereka mulai memainkan permainan itu secara bergantian sambil menunggu ikan memakan umpan di mata pancingan. Berulang kali Tarzia salah menebak begitupun Jojo. Mereka terus tertawa hingga pancinganpun bergerak. "Ada ikan?" Tebak Tarzia. Segera Jojo menarik kail pancing yang terasa cukup berat. Lalu Tarzia membantu menarik badan Joshua agar dapat mengambil ikan yang besar itu. "Wow..." Tarzia takjub melihatnya. "Kita bakar atau apa?" Joshuapun bingung. "Kita main 1 kali lagi. Kalau aku benar, aku yang nentuin ikannya harus dimasak apa." Usul Tarzia. Joshua mengangguk. "Kalau kamu salah, kamu dapat hukuman dari aku." Tuturnya. "Oke." Tarziapun setuju.
Joshua memasukkan ikan ke dalam timba yang dibawanya lalu memulai permainan. "Tebak ada dimana?" Tanyanya. Tarzia mencoba memperhatikan dengan seksama, kedua kepalan Jojo terlihat sama persis sungguh mengecoh. "Kiri." Tunjuk Tarzia, dia berharap jawabannya benar. Tapi saat Joshua membuka kepalan tangannya, pilihan itu salah. Wajah Tarzia langsung merengut tapi Jojo malah tertawa. "Kamu harus nerima hukumannya." Dia membuat Tarzia semakin kesal saja. "Ayo pejamkan mata." Pinta Joshua. Tarziapun menurut.
Joshua menatap wajah Tarzia sejenak dan berbisik di dalam hatinya. "Aku mau ngajak kamu pergi dari sini Zia, hanya kita berdua. Tapi aku gak bisa ninggalin orang tua dan adik-adikku yang selama ini sudah menderita gara-gara aku."
"Jojo, jangan nakut-nakutin aku dong. Apa hukumannya?" Tanya Tarzia. Joshua mendekat dan mengecup kening Tarzia. Tarzia membuka mata dan melihat tatapan mata Tarzia yang berkaca-kaca. "Kamu kenapa?" Hal itu membuat Tarzia khawatir. Tarzia memeluk Jojo dengan erat. "Aku gak mau kehilangan kamu lagi Zia." Ucap Jojo.
Setelah memancing mereka membawa ikan itu ke sebuah rumah makan. "Tolong diolah menjadi makanan yang lezat ya." Joshua menyerahkan ikan itu pada seorang pelayan restoran sementara mereka menunggu di meja. Wajah Joshua terlihat begitu bahagia. Rasanya Tarzia juga ikut bahagia. Kehadirannya kembali dalam hidup Tarzia mampu mengobati segala kepedihan yang ada. Tapi mereka berdua telah membuat luka di hati orang lain. Patricia yang masih berstatus pacar Joshua sedang berada di restoran itu dan dia melihat mereka di sana.
Patricia datang ke restoran bersama teman-temannya, mereka akan pergi ke suatu tempat sehingga memilih makan siang di sana. Melihat Joshua ada di sana bersama wanita lain, bukannya marah, Patricia malah memilih pergi dari restoran dengan mengajak semua teman-temannya. "Kita makan di tempat lain aja yuk. Aku baru ingat dapat voucher makan gratis di restoran chinese food." Bahkan dia rela berbohong. "Serius? Ayo dong. Ada yang gratis." Patricia berhasil mengajak teman-temannya pergi dari sana.
Setelah menyantap hidangan lezat dari ikan hasil pancingan sendiri, Joshua mengantar Tarzia kembali ke lapangan. "Sampai jumpa besok." Ucap Joshua. "Bye." Tarzia melambaikan tangan padanya. Lalu Tarzia berlari pulang ke rumah seolah baru selesai berolahraga. Ibuk sudah menunggunya di gazebo. Dia nampak cemas. "Kamu darimana aja? Lari marathon?" Ibuk memarahinya. "Maaf Buk, ini pertama kalinya Zia olahraga di sekitar sini, Zia tadi sambil jalan-jalan ke sungai dan ngelihat tempat makan juga di sekitar sungai. Ternyata seru juga ya buk." Tarzia malah larut dalam ceritanya sehingga Ibunya tersenyum. "Kalau kamu butuh kegiatan di luar rumah, lebih baik kamu lanjut kuliah lagi." Usula Ibuk. "Ibuk akan ngomong sama Ahmad setelah dia balik dari Kalimantan." Tutur Ibuk.
Tarzia kembali gelisah di dalam kamar karena memikirkan Ahmad. "4 hari lagi Ahmad balik dari kalimantan, itu artinya aku dan jojo bakal susah kalau ketemuan?" Dia mengambil ponsel dan menghubungi Joshua yang sedang berada di rumah Patricia. "Apa yang kamu lakuin itu salah Joe. Kamu selingkuh sama istri orang." Patricia mencoba mengingatkan Joshua. "Kamu pernah dengar pepatah? Semua adil dalam perang dan cinta. Kali ini aku gak mau kehilangan Zia walaupun kami harus diam-diam bertemu seperti ini." Joshua tetap bersikukuh pada pendapatnya sendiri. "Maksud kamu diam-diam di tempat umum? Suatu hari nanti suaminya Zia akan mergokin kalian dan kamu tau siapa yang dipermalukan? Tarzia." Sekali lagi Patricia menjelaskannya. Kali ini Joshua terdiam. Patricia lalu melihat ponsel Joe berdering di atas meja dan dia menjawab panggilan itu. "Jangan pernah temuin Joe lagi!" Nada suaranya terdengar sangat marah. Joshua lalu merebut ponsel itu dari tangan Patricia. "Zia, jangan dengerin dia. Kamu dimana? Aku tunggu kamu di tempat kemarin kita ketemu ya." Joshua menutup telpon. Tarzia menjadi bingung.
Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 21.00 WIB. Tarzia harus pergi dari rumah tanpa ketahuan siapapun. Dia lalu menuruni anak tangga dengan perlahan seperti seorang pencuri. Ada Ijah di ruang tamu. Tarzia harus mencari akal. "Ijah." Panggilnya. "Ya Nona. Nona mau kemana?" Tapi Ijah malah balik bertanya karena melihat pakaian Tarzia yang rapi. "Sssst..." Tarzia langsung menarik tangan ijah ke ruang tunggu. "Saya butuh bantuan kamu." Merekq berbicara dengan pelan-pelan agar tak ketahuan. "Apa Non?" Tanya ijah. "Pinjamkan baju kamu untuk aku ya." Itulah ide yang ada di kepala Tarzia. "Tapi untuk apa Non?" Jelas saja Ijah penasaran. "Saya mau makan es krim di taman. Tapi Ibuk gak ngizinin. Saya pengen banget..." Tarzai berbohong pada ijah. "Nona... Ngidam?" Ijah terlalu polos dan naif. "Bukan gitu... Pokoknya jangan bilang sama siapa-siapa ya." Pinta Tarzia. "Siap Nona. Biar kejutan kan?" Ijah tertawa kecil. Tarzia tersenyum.
Setelah selesai bertukar pakaian di kamar. Tarzia meminta Ijah tetap berada di kamarnya sampai dia kembali. Tarzia lalu keluar dari rumah dengan memakai masker. "Mau kemana kamu Jah?" Tanya security yang membuka pintu gerbang. Tarzia berpura-pura batuk. Memberi kode pada security bahwa sosok Ijah akan membeli obat. "Hati-hati." Kata security itu. Tarzia mencari taxi dan segera menuju ke taman Kota. Joshua sudah menunggu di sana. "Kamu gak papa?" Joshua terkejut melihat Tarzia dengan seragam asisten rumah tangga. "Itu gak penting. Aku bingung soal Ahmad." Kata Tarzia. "Apa dia tau tentang kita?" Joshua merasa khawatir. "Dia udah tau itu dari awal. Aku takut kalau dia balik dari kalimantan, kita gak bisa ketemu lagi. " Tarzia menjelaskannya pada Joshua. Mereka duduk di bangku taman. "Aku bingung Jojo. Aku yang memilih menikah sama dia karena amanah dari Ayah. Tapi sekarang aku yang selingkuh. Ibuk pasti sedih kalau tau."
"Kamu bilang almarhum Ayah kamu berpesan kalau kamu harus menikah dengan orang yang datang bersama kamu kan? Itu karena Ayah kamu pikir kamu pasti berhasil nemuin aku di kota dan ajak aku pulang. Kamu terpaksa menikah sama Ahmad bukan karena cinta, dan itupun secara sirih kan? Itu artinya kita bisa bersama Zia." Joshua terlihat antusias, dia menggenggam kedua tanganbTarzia dengan kuat. "Setelah Ahmad balik dari Kalimantan, kamu minta dia mentalak kamu, semuanya akan selesai saat itu juga dan kita bisa nikah hari itu juga. 4 hari lagi Zia. Bersabarlah." Joshua membelai rambut Tarzia.