Bulan Madu

4870 Kata
Tarzia lalu menelpon Ahmad. Saat itu Ahmad sedang berada di lokasi pembangunan proyek mall. "Tarzia?" Dia terbelalak melihat nama Tarzia di layar ponselnya. "Zia nelpon aku?" Dia nampak senang. "Halo." Sapanya. Tarziapun bahagia mendengar suaranya. "Apa kabar Mas?" Tanyanya. "Aku baik, kamu baik-baik aja kan?" Ahmad balik bertanya. "Gak Mas, aku rindu sama kamu." Dan kalimat Tarzia membuat Ahmad terharu. "Maafin aku karena gak pernah nelpon kamu selama di sana. Aku takut itu akan mengganggu pekerjaan kamu. Tapi aku rindu sama kamu. Kapan kamu pulang?" Lanjutnya. Mata Ahmad berkaca-kaca mendengarkan pernyataan Tarzia. Dia begitu tersentuh. "Besok aku pulang." Kata Ahmad. Tarzia mulai terharu. "Aku tunggu di bandara Mas. Jaga diri kamu." Obrolan itupun berkahir. Air mata jatuh ke pipi Tarzia dengan sebuah senyuman menghiasi bibirnya. Tarzia tiba di depan hotel milik keluarga Ahmad. Semua staff terkejut melihat kedatangannya. "Selamat datang Buk." Sapa Tomy, Manager hotel tersebut. "Tomy, besok Pak Ahmad balik dari Kalimantan. Saya ingin mengadakan kejutan untuk dia. Makan malam yang romantis di hotel ini." Tarzia mengutarakan niatnya pada Tomy. "Baik Buk, saya akan mempersiapkan makan malam itu dengan baik dan special, sehingga Pak Ahmad gak akan pernah melupakannya." Ujar Tomy. Lega rasanya menyelesaikan semua persoalan yang Tarzia buat dalam 1 hari. Tarzia kembali ke rumah dengan suka cita. "Apa kamu ketemu lagi sama Jojo?" Tanya Ibuk yang terlihat cemas. Tarzia tersenyum lalu menggenggam kedua tangan Ibuk. "Joshua adalah masa lalu dan Ahmad adalah masa depanku Buk." Tuturnya. Betapa senang hati Ibuk mendengarnya, dia langsung memeluk Tarzia dengan erat. "Ibuk bersyukur Nak. Semoga kamu dan Ahmad bahagia." Bisik Ibuk. Malam itu Tarzia kembali menelpon Ahmad yang ternyata sedang memasukkan pakaian ke dalam koper. "Jam berapa penerbangannya?" Tanya Tarzia. "Jam 7." Jawab Ahmad. "Mas udah siap packing?" Tanyanya lagi. "Sudah.” Jawab Ahmad. Setelah sholat subuh, Tarzia segera bersiap untuk menjemput Ahmad di Bandara. Tak lupa dia menyiapkan sarapan di dapur yang dibantu oleh Bibi Lorenza. "Tuan Ahmad suka sekali roti panggang dengan selai strawberry ditemani secangkir teh lemon." Bibi Lorenza antusias mengajarinya di dapur. Lalu Ibuk datang dan tersenyum melihat kesibukannya. "Zia, kamu masak?" Tarzia tersipu. "Pasti dia ngerepotin Bibik kan? Dia gak pernah masak sebelumnya, anak manja ini tukang makan." Goda Ibuk. Bibi Lorenza tertawa. "Lihat hasil masakan pertamanya Nyonya. Ini sempurna." Pujinya kemudian. Jam dinding menunjukkan pukul 06.00 WIB. "Zia harus pergi sekarang Buk." Tarzia segera bergegas. "Sarapan dulu." Perintah Ibuk. "Iya Non. Tuan juga pasti belum naik pesawat." Gumam Bibi Lorenza. Dua orang tuanya sudah meminta maka Tarzia harus menurut dengan ikut sarapan bersama Ibuk. Setelah makan 1 potong roti dan secangkir teh manis, dia berpamitan. "Zia pergi dulu Buk. Bik, makasih ya." Tarzia segera pergi. Ahmad sudah naik ke pesawatnya. Dia melihat keluar jendela. "Tunggu aku Zia." Katanya sambil tersenyum. Tarzia sudah tiba di bandara. "Kita tunggu di mobil atau di terminal Non?" Tanya Sopir. "Kita di bandara Supri, ngapain ke terminal." Tarzia yang polos dan lugu tidak tau apa itu terminal meskipun dia pernah naik pesawat saat ke Turki. Supri jadi tertawa. "Maksudnya di tempat kedatangan. Begitu Non." Jelasnya. Tarzia merasa malu. "Yaudah, kita ke sana." Jawabnya dengan nada ketus. Mereka menuju ke terminal kedatangan dan menunggu diantara kerumunan orang-orang yang juga kan menjemput keluarganya. Supri mulai lelah menunggu sambil berdiri. Tapi dia merasa kasihan melihat Tarzia juga berdiri. "Sebentar ya Non." Dia malah pergi. "Supri!" Tarzia baru di kota itu, jadi dia merasa takut bila ditinggal sendirian dengan orang-orang yang tidak dikenal. Ternyata Supri membeli 1 kotak air mineral di bandara dengan harga mahal dan membawakannya pada Tarzia. "Duduk dulu Non." Itu semua hanya agar Tarzia bisa beristirahat. Tarzia sangat terkejut tapi juga kagum dan menghargainya. "Kamu beli 1 kardus cuma buat saya duduk? Air di sini kan mahal." Keluhnya namun dia tetap duduk di atas kotak itu. "Tenang Non, ini 2 botol udah saya siapin untuk Non." Dia juga menyerahkan dua botol air mineral pada Tarzia. Kebetulan saat itu Tarzia sangat haus. "Makasih ya." Ucapnya. Supri tersenyum dan merasa bangga pada dirinya sendiri. Tarzia sudah minum setengah gelas air dari botol. Sopirnya duduk di lantai bandara untuk menemaninya menjemput Ahmad. Menunggu memang terasa lama dan membosankan. Lalu terdengar suara Ahmad memanggil namanya. "Zia?" Dia mendorong troli berisi koper pakaian dan beberapa tas yang mungkin berisi barang penting lainnya. Saat menoleh, rasa rindu Tarzia seketika terobati dengan melihat wajahnya. "Mas Ahmad." Tarzia tersenyum. "Tuan. Biar saya bawakan." Supri segera mengambil alih membawa troli itu ke mobil. Tarzia dan Ahmad masih saling berhadapan dan bertatapan satu sama lain. "Apakah benar kamu merindukan aku?" Bisik hati Ahmad. "Iya. Aku rindu sama kamu." Jawab hati Tarzia. "Aku udah siapkan sarapan untuk kamu. Kamu pasti belum makan kan?" Lalu Tarzia mengawali pembicaraan. Ahmad tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ayo." Ajak Tarzia. Mereka menuju ke mobil lalu masuk ke dalam mobil dan Tarzia langsung mengambil kotak makanan dan membukanya. "Roti panggang?" Ahmad takjub melihatnya. "Aku yang bikin. Semoga rasanya seenak bikinan Bibik." Kata Tarzia. Ahmad lalu mengambil roti itu dan menyantapnya. "Ini enak banget. Ternyata kamu punya bakat memasak juga." Puji Ahmad. Tarzia merasa lega. Ahmad menikmati sarapannya di dalam perjalanan pulang. "Makasih ya." Ucapnya pada Tarzia setelah selesai menghabiskan roti panggang yang dibuat Tarzia. Tarzia merasa bahagia melihat Ahmad bahagia. "Gimana pekerjaan kamu di sana?" Tanya Tarzia. "Bulan depan aku harus balik lagi untuk pantau proyek pembangunannya." Jelas Ahmad. "Aku ikut ya." Pinta Tarzia. "Kamu yakin? Perjalanan bisnis itu akan membosankan karena waktu kamu akan habis di lokasi pembangunan mall, meeting di hotel. Dan lainnya." Gumam Ahmad. "Gak papa, asalkan aku punya waktu bersama kamu." Jawaban Tarzia terdengar seperti gombalan saja. "Maksudnya aku pengen mengenal lebih jauh tentang kamu. Apapun itu, pekerjaan, kebiasaan, semuanya." Tarzia langsung meralatnya. Ahmadpun tersenyum. "Oke." Katanya. Mereka tiba di rumah dan langsung disambut oleh Ibuk, Bibi Lorenza, Ijah, dan dua orang asisten rumah tangga lainnya. Ahmad menjadi bingung. "Ada apa ini? Seperti menyambut Duta besar aja." Ujar Ahmad. "Bukan duta, tapi berita." Jawab Ibuk. "Kami senang kamu pulang dengan selamat." Ibuk menghampiri dan mengelus pundak Ahmad. Ahmad turut senang melihat kami semua. Mereka masuk ke dalam rumah. "Sebaiknya Mas istirahat dulu." Kata Tarzia. Ahmadpun menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Sedangkan yang lainnya kembali pada tugas mereka masing-masing. Tarzia menyusul Ahmad ke kamar di saat Ahmad belum selesai berganti pakaian. "Maaf-maaf." Tarzia menutup matanya dengan kedua telapak tangan. Ahmad segera memakai kaosnya lalu tersenyum. "Aku udah selesai." Dia tersenyum melihatku salah tingkah. Tarzia kembali membuka mata dan menurunkan tangannya. "Nanti malam kita dapat undangan di hotel." Tarzia memberitaukannya pada Ahmad. "Oya, acara apa?" Tanyanya penasaran. "Cuma makan malam biasa dengan tamu special." Jawab Tarzia. "Kok Tommy gak ngasih tau aku ya?" Ahmad menjadi bingung. "Dia udah ngasih tau Bu Ahmad kok. Sama aja kan?" Tarzia berlagak sedikit sombong di depan Ahmad. "Iya." Ahmad kembali tertawa melihat tingkah Tarzia. Malam itu Tarzia menyiapkan kemeja dan jas yang akan dipakai Ahmad di atas tempat tidur disaat Ahmad sedang mandi. Tarzia sendiri sudah selesai sejak tadi dan memilih menunggu di ruang keluarga sambil menonton televisi. Ahmad telah selesai dan dia melihat pakaian itu di atas tempat tidur. "Warna kesukaanku." Ahmad tersenyum. Dia telah selesai berganti pakaian dan sedang menyisir rambut di depan cermin. Ahmad bingung harus memakai parfum yang mana. Lalu dia melihat sebuah kotak kado yang bertuliskan. "Semoga kamu suka." Kemarin saat pulang dari kantor Pak Vero, Tarzia sempat membeli parfum untuk Ahmad. "Berhenti di mall sebentar ya." Perintahnya pada Sopir. Banyak sales parfum yang menawarkan beberapa merek, tak satupun menarik baginya. Hingga Tarzia mencium aroma segar dari salah satu sales tersebut, bukan dari parfum yang disemprotnya melainkan dari pakaiannya. "Saya mau beli parfum yang kamu pakai." Saat itu juga Tarzia menghampirinya. Ternyata aroma itu memang disukai oleh Ahmad. Dia langsung memakai parfum itu. Ahmad keluar dari kamar, dia terlihat begitu mempesona. Tarzia terpukau melihatnya. Dia berjalan ke arah Tarzia. "Ayo." Ajak Ahmad. Dia mempersilahkan Tarzia berjalan lebih dulu, tapi Tarzia tak mau berjalan sendiri-sendiri. "Ayo." Dia memegang lengan Ahmad dan tersenyum padanya. Ahmad terkejut namun dia senang. Mereka turun dari tangga bersama-sama. "MashaAllah... kalian terlihat serasi." Ibuk terharu melihatnya. "Sempurna Nyonya." Ijah ikut memuji mereka. "Kami pergi dulu Buk." Ahmad berpamitan pada Ibuk. Tarzia memeluk Ibuk sambil berbisik. "Kali ini Zia gak akan pernah melepas tangannya lagi Buk." Agar Ibunya yakin bahwa dia sudah melupakan Joshua. Tapi ternyata Joshua tidak bisa melupakan Tarzia. "Seharian ini Zia gak kabarin aku. Apa dia sakit?" Joshua mengecek ponselnya. Dia lalu menekan nomer Tarzia dan mencoba menghubunginya. Hal itu sudah diduga oleh Tarzia sebelumnya,maka Tarzia membuang sim card yang biasa digunakannya untuk berkomunikasi dengan Joshua. Joshua merasa gelisah karena tak bisa menghubungi Tarzia. "Kenapa nomernya gak aktif?" Dia kembali mencoba menelpon namun tetap gagal. Merasa kesal, Joshua membanting ponselnya ke lantai dan berteriak. "Argh! Pasti ini ulah Ibunya." Mendengar teriakan dari kamar Joshua, Ibunya segera mencari tau apa yang terjadi. "Jojo, kamu kenapa?" Tanya Ibunya. "Orang-orang kaya itu memang keterlaluan Buk. Mereka pikir bisa beli segalanya dengan uang." Joshua begitu emosional. "Ada apalagi ini? Jangan bilang ini tentang Tarzia lagi." Ayah Joshua merasa kesal melihat sikap anaknya itu. 3 tahun yang lalu, Joshua sempat mengalami depresi hebat karena perpisahannya dengan Tarzia. Dia sempat ingin bunuh diri dengan melompat dari jembatan penyebrangan. "Jojo, jangan nekad Nak, ingat adik-adik kamu, mereka masih butuh kamu." Kali itu Ayahnya berhasil membujuk Joshua dengan mengajak kedua adik Joshua kesana. Lalu setelah berkenalan dengan Sania, kondisinya mulai membaik. "Kalau aku bisa jadi orang kaya, gak akan ada yang bisa misahin aku sama Zia lagi." Pikir Joshua saat itu. Hingga dia berubah menjadi orang yang mempermainkan hati wanita hanya demi uang. Bukan hanya Sania tapi ternyata ada banyak wanita yang pernah menjadi korban perasaan dan harta oleh Joshua. Akhirnya Tarzia dan Ahmad tiba di hotel. Semua terlihat normal dan Ahmad masih belum menyadari kejutannya. Mereka menuju ke restoran dan Ahmad mulai merasa ada keanehan. "Apa tamu hotel kita udah selesai makan malam?" Dia bertanya pada Tommy yang berdiri di depan restoran. "Tamu specialnya baru tiba Pak. Silahkan menunggu di dalam." Dia mempersilahkan mereka berdua masuk. Ada sebuah meja yang dihiasi lilin di sana, dan mereka diarahkan oleh Tomy untuk duduk di sana. "Apa kita mau candle light dinner?" Tebak Ahmad. "Bisa dibilang seperti itu." Tarzia tersenyum. Ahmad mulai menyadarinya saat pelayan menyajikan makanan kesukaannya. "So, this is surprize right?" Tebak Ahmad, dan Tarzia mengangguk. "Kamu suka?" Tarziapun mengakuinya. "Boleh juga." Ahmad tertawa kecil. Ahmad dan Tarzia menikmati hidangan yang lezat diiringi musik yang romantis. "Pemain musiknya juga ide kamu?" Tanya Ahmad. "Bisa dibilang begitu." Jawab Tarzia sambil tertawa kecil. "Makasih ya" Ucap Ahmad. Setelah makan malam, kembang apipun dinyalakan oleh Tomy dan 2 orang staffnya. "Ini bukan malam tahun baru kan?" Kembali Ahmad terkejut. "Bukan tahun baru, tapi awal yang baru untuk kita." Bisik hati Tarzia. "Aku rasa kamu harus punya usaha event organizer. Semuanya perfect." Puji Ahmad. Mereka berdua tertawa. "Gimana kalau besok kita survey lokasinya." Usul Tarzia. "Oke." Ahmad setuju. Malam itu adalah kencan pertama mereka sebagai pasangan suami istri. Tarzia sudah mempersiapkan kencan lainnya lagi secara diam-diam. Mereka pulang ke rumah di saat semua orang sudah tidur kecuali security yang bergiliran jaga malam itu. Mereka masuk ke kamar dengan perasaan bahagia. "Aku tidur di sofa aja." Kata Ahmad. "Gak usah. Aku punya cara kok." Lalu Tarzia meletakkan bantal guling sebagai pembatas di atas tempat tidur. "Kita harus belajar berbagi kan." Tuturnya. Ahmad tersenyum, dia setuju dengan ide itu. Azan subuh telah berkumandang. Ahmad sudah bangun sedangkan Tarzia masih tertidur. Sejenak dia memperhatikan wajah Tarzia sambil tersenyum. "Dasar anak kecil." Gumamnya. Dia bisa terhibur hanya dengan memandang wajah Tarzia tidur. "Zia, bangun." Ahmad membangunkannya. "Ada apa, gempa, tanah longsor, banjir bandang?" Tarzia ketakutan sampai berkeringat. Ahmad malah tertawa. "Sudah subuh. Dasar anak kecil." Itu akan menjadi panggilan sayang Ahmad untuk Tarzia. "Iya. Ayo kita sholat berjama'ah." Ajak Tarzia. Mereka berdua sholat berjamaah di kamar. Rasa sejuk dan tentram menyentuh hati. Tarzia tak tau kalau saat itu Joshua sedang mengkhawatirkannya. "Kenapa nomor handphonenya gak bisa dihubungi?" Semalaman dia tak bisa tidur karena memikirkan hal itu. "Lebih baik aku cari tau langsung." Joshua mengambil sweaternya dan segera masuk ke mobil. "Assalamu'alaikum warahmatullah." Sholat berjamaah telah selesai. Tarzia meraih tangan Ahmad dan mencium tangannya. "Terimakasih ya Allah, engkau kirimkan aku istri seperti Tarzia." Ahmad mengucap syukur di dalam hatinya. Masing-masingpun saling bermunajat pada Allah SWT. "Ya Allah, semoga kami dapat membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rohmah." Pinta Tarzia. "Ya Allah, semoga kami bisa saling mencintai sampai akhir hayat." Itulah Do’a Ahmad. Setelah sholat subuh, Ahmad berolahraga di ruang fitnesnya sedangkan Tarzia menyiapkan sarapan bersama Ijah di dapur. Ibuk merasa bangga melihat perubahan Tarzia. "Semoga kalian bahagia selalu." Terselip do’a di hati Ibuk untuk Tarzia dan Ahmad. Tarzia sudah selesai membuat roti panggang kesukaan Ahmad dan juga secangkir teh lemon. Dia segera membawa makanan itu ke ruang fitnes. Ahmad memiliki bentuk tubuh yang bagus. "Sarapannya Mas." Tarzia menunjukkan makanan yang dibawa dalam nampan. "Taruh di sana." Perintah Ahmad. Tarzia meletakkan makanan itu di atas meja yang ada di ruangan tersebut. Ruangan itu cukup luas, Tarzia menyempatkan melihat-lihat alat olahraga yang ada di sana. Bahkan dia ingin mencobanya. "Aduh." Tapi karena tubuhnya yang kurus, dia jadi kesulitan memakai alat tersebut, akibatnya pergelangan tangan kirinya terkilir. "Kamu gak papa?" Ahmad segera menghampiri Tarzia, dia terlihat sangat khawatir. "Sakit..." Tarzia berusaha mengangkat tangan kirinya. "Biar aku periksa." Ahmad memegang tangan Tarzia. “Aduh...!” Tarzia berteriak dengan begitu keras. "Pelan-pelan, ini sakit." Tarzia hampir menangis. "Zia?" Mendengar suara anaknya, Ibu Tarzia merasa panik, dia menyusul ke ruang fitnes. "Makanya pemanasan dulu kalau mau olahraga." Ahmad memarahi Tarzia. Dengan perlahan tapi pasti, Ahmad bisa meringankan sedikit rasa sakit dengan pijatannya. "Gimana sekarang?" Tanyanya. "Kamu kenapa?" Tanya Ibuk. "Zia mau pakai alat olahraga ini Buk. Dia datang terus langsung coba begitu aja tanpa nanya apalagi pemanasan." Ahmad menggerutu di depan Ibuk. Ibuk hanya bisa tertawa. "Kalau begitu, Ibuk gak akan ikut campur. Ini salah kamu sendiri." Dia malah pergi dari ruangan meninggalkan kami berdua. Tarzia masih merengut dengan mata berkaca-kaca. Saat itu mobil Joshua berhenti di seberang jalan, tepat di depan rumah Ahmad. "Dimana Zia, kenapa dia gak kelihatan?" Joshua memantau keberadaan Tarzia. Dia menunggu di sana untuk sesaat. Sementara itu Ahmad mengajak Tarzia ke kamar. "Ayo istirahat di kamar." Dia membantu Tarzia berdiri. "Mas, yang sakit tanganku, bukan kakiku." Tarzia masih kesal pada Tarzia. "Yaudah, jalan saja sana sendiri." Ahmad malah ikut-ikutan merajuk. Tarzia berjalan sendiri ke kamar dan Ahmad berjalan di belakangnya. "Krucuk, krucuk." Karena keheningan itu, suara perut Tarzia yang keroncongan jadi terdengar jelas. "Apa sebaiknya kita sarapan dulu?" Ahmad menertawainya. "Iya, makan roti panggang aja. Yang di ruang fitnes itu." Jawab Tarzia dengan kesal. Mereka memutuskan sarapan bersama di kamar tidur. "Suapin." Perintah Tarzia. Padahal Ahmad juga ingin sarapan. "Emangnya kamu makan pakai tangan kiri? Kan tangan kiri kamu yang sakit." Ahmad merasa kesal. "Tangan kanan aku harus istirahat kalau nanti ada pekerjaan yang membutuhkan 2 tangan, aku bisa pakai 1 tangan kan." Begitulah cara Tarzia membela diri sehingga Ahmad tak dapat mengelak lagi dan dia harus menyuapi Tarzia. Diam-diam Ijah mengintip dan dia tersipu malu. "Andaikan aku dan dia..." Rupanya Ijah juga ingin disuapi oleh Bima, salah satu security di rumah Ahmad yang sering mengganggunya. "Udah 1 jam aku di sini, harusnya ada tanda-tanda dari Zia." Joshua masih mengawasi dari mobil. Ijah keluar dari rumah dengan membawa tong sampah dan memakai masker. "Apa sampah di rumah ini sebanyak itu?" Tanya Bima. Ijah menunddukkan kepalanya dan tak menjawab. Dia keluar gerbang dan membuang sampah itu ke tempat pembuangan sampah agar dapat diangkut oleh mobil sampah. "Zia?" Karena penyamaran Tarzia selama ini dengan seragam asisten rumah tangga, Joshua mengira Ijah adalah Tarzia. Dia keluar dari mobil dan menyebrang jalan. Melihat gelagat Joshua yang mencurigakan, securitypun segera waspada. "Zia?" Joshua menarik lengan Ijah. Saat melihat kedua bola mata Ijah. "Maaf, saya salah orang." Joshua menyadari bahwa itu bukan Tarzia. "Ada apa ini?" Tanya security. "Maaf, salah orang." Joshua lalu kembali ke mobilnya dan memilih pergi. "Siapa dia?" Tanya Security pada Ijah. "Gak tau. Tapi kok kayak pernah lihat ya." Ijah mulai mencoba mengingat-ingat wajah Joshua. "Alasan aja. Bilang aja kamu mau kenalan sama dia kan?" Ternyata security itu cemburu. "Ya gak mungkin lah. Aku kan sukanya sama kamu." Akhirnya Ijahpun keceplosan. Security itu sangat senang mendengarnya. "Apa? Bisa diulang gak?" Pinta Bima. "Salah dengar." Ijah segera berlari masuk ke dalam rumah. Joshua menuju ke taman, tempat biasa mereka janjian. Dia berkeliling taman untuk mencari Tarzia. "Dia juga gak ada di sini." Joshua mulai panik. Dia lalu menuju ke sungai dan tak ada orang di sana. "Restoran." Joshua berlari masuk ke mobilnya untuk menuju ke restoran yang ada di dekat sungai. Kali ini Joshua merasa lelah dan putus asa. Dia tak bisa menemukan Tarzia di sana. Dia lalu duduk untuk beristirahat sejenak. "Kamu dimana?" Joshua merasa gelisah. Ahmad sedang memeriksa dokumen di ruang kerja. "Permisi. Ini hari minggu Pak. Ayo kita jalan-jalan." Tarzia sudah berganti pakaian dan akan mengajak Ahmad pergi. "Tangan kamu udah sembuh?" Ahmad berhenti menulis dan menanyai kondisi Tarzia. "Em... belum. Makanya butuh hiburan. Butuh udara segar." Tarzia memilih berbohong. Ahmad berdiri di hadapan Tarzia lalu memegang dahinya. "Kelihatannya kamu memang butuh udara segar." Dia pergi begitu saja setelah berhasil mengejek Tarzia. "Emangnya aku udah gila." Omel Tarzia. Tapi ternyata Ahmad setuju untuk pergi jalan-jalan dengan Tarzia hari itu. "Kita mau kemana?" Tanya Tarzia saat masuk ke mobil. "Toko elektronik. Cari kipas angin baru yang udaranya segar." Lagi-lagi Ahmad mengejek Tarzia. "Dasar orang tua." Balas Tarzia. Ahmad hanya tertawa. "Studio?" Tiba-tiba Joshua mengingat tempat itu. "Mungkin Zia cari aku ke sana." Kini Joshua bergerak dari restoran menuju ke studio musik. Mobil yang dikemudikan Ahmad juga bergerak menuju ke tempat piknik. "Aku mau ajak kamu ke villa orang tuaku, di pegunungan dan pemandangannya bagus. Udaranya juga sejuk." Kata Ahmad. "Aku jadi gak sabar." Gumam Tarzia. Joshua tiba di studio. Wanita pemilik studio terkejut melihatnya. "Joe? Kok kamu di sini? Aku dengar video klip untuk single pertama kamu akan dirilis malam ini." Dia tutur senang atas kemajuan karir Joshua. "Apa Zia datang ke sini?" Joshua tetap fokus pada tujuannya. "Gak. Kalian bertengkar?" Tanya wanita itu. Joshua tak menggubris pertanyaan itu. Dia pergi begitu saja. "Kenapa dia?" Membuat wanita itu bingung. "Kemana lagi aku harus nyari kamu Zia?" Joshua merasa hampir putus asa. Handphonenya berdering sejak tadi, tapi itupun tak dihiraukan. Patricia sedih karena Joshua tak menjawab panggilan darinya. "Pasti Joe marah kalau tau model klipnya digantikan." Pikir Patricia. "Jadi model video klipnya diganti?" Ternyata Andi mendengar ucapan Patricia. "Tapi kenapa?" Tanyanya. "Karena..." Patricia belum selesai bicara. "Zia berubah pikiran." Tebak Beno yang datang bersama Chiko. "Maksudnya?" Chiko penasaran. "Sejak awal aku udah gak setuju dengan hubungan mereka karena Zia udah nikah." Beno sedikit melampiaskan amarahnya. "Tapi kalau Joe tau gimana?" Chiko terlihat cemas. "Aku gak mau Joe kumat lagi." Patricia juga terlihat cemas. "Kalau Joe nekad, dia bisa membahayakan dirinya sendiri bahkan orang lain." Lanjutnya. Perjalanan menuju ke villa milik orang tua Ahmad pasti lumayan lama. Tarzia memilih menyetel radio untuk menghibur diri. "Jangan lupa nanti malam peluncuran klip pertama Davinci bakal live di TVRI. Kalian harus nonton karena pasti bakal bagus banget. Davinci adalah pemenang festival Band tahun ini. Pasti banyak banget penggemarnya." Berita itu disampaikan oleh penyiar radio. Tarzia merasa konyol karena telah menyetel radio. "Aku ngantuk, mau tidur aja deh." Segera dimatikannya radio. "Kalau kamu mau dengerin lagunya, gak papa kok. Lagipula harusnya kita ikut senang kan, karena dia udah bisa ngeraih impiannya." Ahmad menyikapinya dengan bijaksana. "Aku tidur dulu ya." Tarzia memejamkan mata dan merebahkan punggung pada senderan bangku. "Apa sekarang Zia udah mulai ngelupain Jojo?" Pikir Ahmad. Perdebatan anggota Band Davinci masih terus terjadi. "Akan lebih fatal kalau Joe tau nanti malam setelah videonya diputar." Chiko mulai gelisah. "Terus kita harus gimana?" Tanya Patricia. "Kita harus minta tolong Zia." Usul Andi. "Kamu udah gila? Joe depresi karena Zia dan kamu malah minta tolng sama dia!" Chiko kesal mendengarnya. "Andi benar, cuma Zia yang bisa mengakhiri semua ini. Kalau Joe dengar langsung dari Zia, dia pasti akan ngelupain zia." Beno setuju dengan ide Andi. "Aku gak setuju. Zia mau melanjutkan hidup barunya, kita gak berhak gangguin dia lagi." Chiko menolak usulan Beno. "Biarin aja Joe tau. Dia harus bisa nerima. Kita gak bisa biarin dia terus-terusan seperti ini." Jelasnya. "Aku setuju." Kata Patricia. Sedangkan orang yang mereka bahas malah sibuk mencari Tarzia. "Kampus! Mungkin aja Zia ke sana." Joshua masih belum menyerah. Dia menelpon Andi. "Joe." Dia memberi tau yang lainnya. "Angkat aja." Pinta Chiko. "Halo Joe." Sapa Andi. "Di, loe ngelihat Zia gak di kampus? Coba tanya anak-anak, mereka lihat Zia gak? Kalau ada, kabarin gue ya." Suara Joshua terdengar tak.beraturan karena dia kelelahan. "Gue gak lihat Zia. Kami sedang ngumpul di dekat aula, dan gak ada yang ngelihat Zia." Jawab Andi. "Please, kalau kalian lihat Zia, kabarin gue ya." Rengek Joshua. "Loe tenang aja, gue pasti kabarin kok." Kata-kata Andi mampu membuat Joshua sedikit lebih tenang. Mereka berempat saling melihat satu sama lain. "Kayaknya Zia bener-bener mau pergi dari kehidupan Joe, dia pengen ngelupain semuanya dan memulai hidup barunya sama suaminya yang kaya itu. Makanya dia gak mutusin hubungannya dulu sama Joe." Chiko berspekulasi demikian. "Itu salah. Harusnya dia menjelaskan semuanya dulu sama Joe baru pergi." Beno juga setuju dengan pernyataan Chiko. Tarzia masih berpura-pura tidur, padahal sebenarnya Tarzia tak mengantuk. Ahmad masih fokus menyetir mobil. Tarzia mulai bosan jika terus memejamkan mata dan tak menikmati pemandangan. "Kamu bawa handycam kan?" Lalu dia bangun dan bertanya pada Ahmad. "Sudah kuduga, kamu cuma pura-pura tidur." Ahmad malah menertawai Tarzia. "Aku gak bisa tidur kalau di perjalanan." Bantahnya. "Oya, waktu kita pulang ke kampung dulu. Kamu sampai mendengkur." Ternyata Ahmad masih mengingat kejadian waktu itu. "Mendengkur? Gak mungkin." Tarzia malu mengakuinya. "Lihat saja di rekaman videonya." Kata Ahmad. "Ada videonya? Mas, kamu kok tega sih..." Tarzia hampir menangis dibuatnya. Tapi Ahmad begitu senang mengganggu Tarzia. Tak lama Joshuapun tiba di kampus. Teman-temannya sudah menunggu di area parkir kampus. "Ada kabar dari zia?" Joshua menghampiri teman-temannya. "Gak ada Joe. Gue yakin suaminya udah balik dari kalimantan dan dia gak bisa leluasa kayak biasanya." Beno memberi pendapat. "Iya Joe, kalau sampai semuanya ketahuan sekarang, rencana kalian bisa berantakan kan." Sambung Chiko. "Kalian bener juga. Kenapa aku jadi bodoh gini ya." Joshua menepuk dahinya lalu tertawa. "Syukurlah, Joe mau ngertiin." Andi berucap di dalam hati. "Setelah nanti malam, semua sandiwara ini akan berakhir." Joe begitu bersemangat. Teman-temannya mulai ketakutan. "Maaf Joe, semua gak sesuai rencana loe." Pikiran Andi merasa risau. "Ayo kita ke mall. Beli pakaian baru. Masa artis stylenya begini." Ajak Joe pada teman-temannya. Ahmad masih menyetir. "Rekaman itu gak ada kok." Ahmad memilih jujur. "Tuh kan bener. Dasar kamu ya..." Tarzia semakin kesal. "Maaf." Ucap Ahmad. Tarzia tersipu mendengar kata itu. "Sebagai permintaan maaf, beliin aku jagung bakar itu." Tarzia menunjuk barisan pedagang yang berjualan jagung bakar di sepanjang jalan menuju villa milik keluarga Ahmad. Ahmad menghentikan mobilnya dan mereka turun bersama-sama. "Harus kamu yang bikin ya." Tarzia menambahkan syaratnya. "Aku?" Awalnya Ahmad nampak ragu, tapi setelah diajarkan oleh penjual jagung bakar tersebut, dia malah menikmati membakar jagung, bahkan banyak pengendara yang sedang melintas membeli di sana. "Saya pesan 10 ya. Abis yang jual ganteng sih." Ibuk-ibuk itu malah menggoda Ahmad, membuat Tarzia cemburu. Tarziapun punya ide untuk membakar jagung pada pedagang yang berada di sebelah tempat Ahmad membakar jagung. "Ayo dibeli..." Bahkan Tarzia bergaya seperti seorang pedagang sungguhan. "Ngapain anak kecil itu." Ahmad mulai melihat ke arah Tarzia. Para suami Ibuk-ibuk tadi dan bahkan anak lelaki mereka yang masih remaja mulai membeli di tempat Tarzia. "Mau 10 juga ya. Abis yang jualan cantik sih." Ternyata Bapak-bapak itu ingin membalas istri mereka karena cemburu. "Beli 10 bayar 9 aja Pak." Tarzia mulai beraksi. "Oh, mau cari lawan rupanya. Oke, siapa takut." Ahmad juga menggencarkan aksinya. "Beli 10 bayar setengah harga saja buk." Mendengar penawaran itu Tarzia merasa kalah. Tarziapun menegur Ahmad. "Kamu mau bikin usaha Bapak ini bangkrut? Beli 10 cuma bayar setengah harga." "Ini persaingan bisnis. Anak kecil gak bakal ngerti." Ahmad mengejek Tarzia. "Aku bukan anak kecil!" Tarzia memilih kembali ke mobil karena tak mau bertengkar dengan Ahmad. Ahmad memberikan sejumlah uang pada kedua pedagang itu sebagai ganti atas ulah mereka. "Makasih Mas." Ucap kedua pedagang jagung bakar itu. Ahmad menyusul Tarzia ke mobil. Tarzia membuang muka dan tak mau melihatnya. Ahmadpun tak berusaha membujuk Tarzia lagi, dia kembali menyetir untuk melanjutkan perjalanan. Seperti perjalanan Joshua dan teman-temannya. "Apa Joe akan baik-baik aja?" Patricia yang melihat Joshua pergi bersama Andi, Beno dan Chiko, namun dia merasa khawatir. "Sebaiknya aku ikutin mereka." Dia memutuskan mengikuti mereka dengan taxi ke mall. "Kita pakai kaos, kemeja atau jas?" Tanya Joshua. "Apa aja yang kamu suka." Jawab Beno sambil memegang pundak Joshua. Joshua memilih kaos lengan pendek dan mencobanya di ruang ganti. "Terlalu biasa gak sih? Ini kan peluncuran single kita." Tapi Joe merasa tak puas hati. "Aku coba kemeja aja kali ya. Kalian pilih juga dong." Kembali Joe memilih kemeja di toko lainnya, begitupun teman-temannya yang berpura-pura bahagia di depannya. Joshua keluar dari ruang ganti dengan kemeja yang dipilihnya. "Gimana, bagus gak?" Tanyanya. "Bagus kok." Chiko tersenyum. "Kalian kenapa sih, kenapa gak semangat gitu." Melihat teman-temannya yang lesu, Joshua merasa khawatir. "Kami gugup Joe, ini pertama kali kita bakal disejajarin sama band papan atas. Kita bakal 1 album sama mereka." Segera Andi memberi alasan yang sangat masuk akal. "Ini debut kita. Kita harus semangat. I love you guys." Joshua berusaha menghibur teman-temannya. Mereka berempat berpelukan. Patricia yang memantau dari kejauhan turut merasa lega. Sebahagia Ahmad dan Tarzia. "Bentar lagi kita sampai." Ahmad memberitahukan pada Tarzia. Tapi saat itu tiba-tiba ban depan mobil Ahmad kempes. "Kenapa nih?" Tanya Tarzia. "Bentar aku periksa." Ahmad mencoba memeriksa ban kanan depan mobilnya. "Bannya bocor." Raut wajah Ahmad berubah masam. "Terus gimana?" Tarzia juga ikut kesal. "Bengkelnya jauh, kita jalan kaki aja ke villa, gak jauh kok. Kita taruh barang-barang di sana, kamu bisa istirahay dan aku cari bantuan." Meski kondisi buruk, Ahmad mencoba tetap tenang agar Tarzia tak merasa panik. Ahmad membawa tas berisi pakaian mereka berdua dan Tarzia membawa tas berisi bekal makanan. Mereka melewati jalan perbukitan yang mendaki dan menurun. "Masih lama gak?" Tarzia mulai kelelahan. "Sebentar lagi. Anggap saja sekalian olahraga." Ahmad tak tampak lelah sama sekali padahal sudah berkeringat. Namun cuaca di sana memang sangat sejuk dan pemandangannya begitu hijau. Tarzia segera merekam dengan handycam. "Yuhu....!" Aku berteriak di tepi tebing. Ahmad yang sudah berjalan jauh di depannya menoleh dan dia terkejut melihat Tarzia begitu nekat mengambil video di sana. "Zia!" Ahmad menjatuhkan tas di tanah dan segera berlari ke arahnya. Seketika dia menarik Tarzia agar menjauh dari tebing. "Hati-hati, di sini bahaya." Dari tatapan mata Ahmad terlihat jelas kalau dia sangat takut kehilangan Tarzia. "Jangan jauh-jauh dari aku." Ahmad bersikap tegas pada Tarzia.  Ahmad mengambil alih membawa semua barang-barang Tarzia hanya membawa handycam saja untuk merekam. Sebuah villa mewah di tengah hutan itulah tujuan mereka. "Wah... ini bagus banget." Tarzia tersenyum lepas saat tiba di depan pintu. Ahmad meletakkan barang-barang di atas bangku yang ada di teras villa untuk mengambil kunci villa yang ada di kantong celananya. "Ayo masuk." Ajaknya. Tarzia masih terus merekam di dalam villa yang bernuansa kayu itu. "Gak ada orang jaga di sini ya?" Tanyanya. "Dulu Kakeknya Ijah yang jaga villa dari aku kecil sampai aku besar. Tapi setelah Kakeknya meninggal, aku gak bisa percaya sama orang baru. Aku ajak Ijah ke rumah di kota karena gak mungkin dia tinggal sendirian di sini." Ahmad sedikit bercerita. Mereka lalu menuju ke lantai dua dan masuk ke sebuah kamar. "Ini kamar aku dulu kalau liburan ke villa." Tutur Ahmad. Kamar itu masih tetap rapi meskipun sedikit berdebu hingga Tarzia terbatuk. "Kamu gak papa?" Ahmad selalu saja mencemaskan Tarzia jika saja sesuatu yang buruk terjadi. "Gak papa kok, cuma debu. Aku akan bersih-bersih." Aku masuk ke kamar dan meletakkan handycam yang masih dalam kondisi menyala di atas buffet. "Kita di sini untuk piknik, bukan bersih-bersih." Ahmad melarangnya. "Piknik juga butuh istirahat kan? Supaya istirahatnya nyaman, tempatnya harus bersih." Kali ini Tarzia yang menang dalam perdebatan itu. "Kita kerjakan bersama." Ahmad setuju asalkan dia juga boleh ikut membantu. Sayangnya moment keseruan itu terganggu oleh suara perut mereka yang keroncongan. "Mungkin sebaiknya kita mulai dari dapur dulu." Gumam Ahmad. Merekapun tertawa bersama. Tak ada bahan makanan di dapur. "Kita masih punya mentah tadi dan bisa kita bakar." Ahmad mengambil tas berisi bekal makanan di ruang tamu. "Pakai keju?" Tarzia mengusulkan ide membuat masakan ala mereka. Dapur terasa ramai oleh obrolan mereka. "Mari kita coba." Setelah memasak, mereka tak sabar mencicipi jagung bakar bumbu keju yang meleleh, juga minuman dari jagung yang diblender dengan s**u. "Ini enak." Syukurlan usaha mereka tidak sia-sia. Perut sudah kenyang, waktunya untuk mereka bekerja sama membagi tugas membersihakn ruangan yang akan kami pakai di villa. Tak lupa aku juga merekamnya. Setelah membersihkan kamar tidur, ruang tamu dan teras, merekapun merasa kelelahan. "Udah sore. Kita gak bisa jalan-jalan hari ini." Aku merasa sedikit kecewa hari itu. "Masih ada besok pagi. Kita menginap saja 1 malam." Ujar Ahmad. Sebenarnya semua itu adalah rencana Tarzia. Dia yang meminta Ijah untuk membuat jebakan agar ban mobil Ahmad kempes. "Oh ya, mobil kamu." Lalu Tarzia mengingatkannya. "Kalau aku ke bengkel, pasti malam baru nyampe ke villa dan kamu sendirian." Keluh Ahmad. "Besok aja aku cari pertolongan." Lanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN