Kemewahan Tanpa Cinta

5000 Kata
Malam begitu meriah di sebuah stasiun TV swasta tempat acara peluncuran video klip single pertama band Davinci. Joe dan kawan-kawannya tampil dengan style mereka yang menjadi trend saat itu. "Zia, semoga kamu nonton." Joe terlihat bangga akan pencapaiannya saat itu. "Sebentar lagi acara dimulai, ayo siap-siap." Produser pelaksana acara mengarahkan band Davinci ke studio. Tarzia menghampiri Ahmad yang sedang berdiri di balkon sambil memandang bintang di langit. "Kamu belum tidur?" Tanya Tarzia. "Aku belum ngantuk. Kamu tidur aja duluan." Jawabnya. Saat itu Tarzia dapat melihat sedikit kesedihan di mata Ahmad. "Mas rindu orang tua Mas?". Ahmad menghela nafas lalu tersenyum. "Ayo kita tidur, besok pagi kita harus jalan-jalan." Ahmad tak mau menjawabnya seolah semuanya baik-baik saja. Seperti sikap personel Davinci Band. "Dan, inilah saat yang ditunggu-tunggu. Mari kita sambut Davinci band." Pembawa acara musik begitu bersemangat. Layar televisi besar ada di belakang mereka, Joe menghadap ke arah penonton dan tak melihat tayangan video klip yang diputar tepat di belakangnya. "Semoga aja Joe gak noleh ke belakang." Patricia yang duduk di barisan penonton merasa was-was. Musik mulai dimainkan oleh personel band davinci seiring diputarnya video klip mereka yang berlokasi di pantai. Pada awal video klip, mata penonton akan dimanjakan oleh pemandangan pantai. Selanjutnya ditampikan seorang gadis cantik yang hanya tampak siluet punggungnya saja. "Itu Zia." Patricia sedikit menelan ludah. Lalu tampak Joe baru bangun tidur dengan wajah segar dan mencuci wajahnya di wastafel kamar mandi serta menyikat gigi sambil sedikit bernyanyi. Merasa mendapat ide, Joe mengambil gitarnya yang tergantung di kamar lalu memainkan gitar. Kembali ke suasana pantai yang cerah, kini Joe datang dengan pakaian pantainya serta memakai kacamata hitam. Joe langsung jatuh cinta pada gadis yang tadi hanya tampak punggungnya saja. Gadis itu (kini diperankan Patricia) berlari mengejar ombak dengan begitu riang gembira. Karena terhipnotis oleh pesona gadis itu, Joe pun turun berlari mengejar ombak dan bermain air bersama gadis itu. Mereka saling menjipratkan air satu sama lain sambil tertawa bersama. Adegan mesra Tarzia dan Joshua dihilangkan oleh sutradara dan diganti dengan adegan yang saling terpisah dimana Patricia ikut terlibat. Patricia merasa terharu melihat video klip itu. Suasana kembali ke dalam ruang tamu penginapan dimana Joe bermain gitar. Joe menulis setiap melodi lagu yang dia ciptakan pada sebuah buku. Beberapa penonton yang menikmati klip musik itu mulai memuji dan saling berbisik pada teman di sebelahnya. "Bukannya itu cewek yang ada dalam video klip?" Ternyata mereka menyadari kehadiran Patricia diantara mereka. Joshua begitu menghayati lagu yang dia nyanyikan karena membayangkan Tarzialah yang ada di sana, di tempat Patricia duduk. "Iya, Joe juga ngelihatin dia terus dari tadi." Komentar salah satu penonton. "Apa mungkin itu pacarnya?" Tanya penonton yang lainnya. "Ah... Aku patah hati." Perempuan itu sepertinya penggemar berat Davinci terutama Joshua. Video klip masih terus berjalan dengan suasana malam di pantai yang ramai. Ada api unggun dan anggota band Davinci menikmati hidangan barbeque. "Loh, ini kan waktu selesai syuting." Diam-diam Chiko melirik dan melihat video itu. "Mungkin ini cara sutradara menutupi kekurangan tayangan dalam durasi video." Pikirnya. Video itu diambil oleh cameraman yang ingin mengabadikan momen bersejarah itu untuk dokumentasi pribadi. "Akhirnya kita terpaksa menjadikan ini bagian dari klip." Sutradara yang menonton dari rumahnya bersama sang cameraman sebenarnya sedikit kecewa. "Tapi ini lebih baik daripada kita menayangkan video asli yang seharusnya tidak pernah kita ambil." Ujar cameraman. "Kamu benar. Daripada kita menanggung dosa dan malu berkepanjangan." Sutradarapun tersenyum. Joshua begitu bahagia saat lirik lagunya selesai diciptakan, dia segera berlari ke sebuah ruangan dimana ketiga temannya berkumpul dan menunjukkan melodi lagu tersebut pada mereka. Merekapun ikut senang lalu masing-masing personel band memegang alat musik yang mereka mainkan dan mulai memainkan musik sesuai melodi yang ditulis Joshua. Saat itu Joshua melihat bayangan gadis itu lagi yang seharusnya Tarzia kini digantikan oleh Patrcia, dimana Patricia berdiri di tepi pantai dan tersenyum ke arahnya lalu melempar pasir ke baju Joshua agar mengejar dirinya. Patricia berlari di sepanjang pesisir pantai dengan gaunnya yang begitu indah. Dia juga bermain ayunan yang berada di pantai sambil memainkan air dengan kakinya. Penonton kembali terhanyut dalam setiap cerita di sana. "Mbak yang ada dalam video klio itu kan?" Seorang penonton wanita menghampiri Patricia. Patricia hendak mengelak, tapi dalam adegan-adegan terakhir klip tersebut menampilkan dirinya sedang duduk menyaksikan penampilan Davinci band sambil tersenyum lepas karena bahagia. "Boleh minta tanda tangannya gak?" Pinta penonton itu. Patricia mengambil pena yang dibawa penonton wanita itu lalu memberi tanda tangan pada baju kaos penonton itu. "Makasih ya Mbak." Penonton itu nampak sangat senang. Penampilan Davinci band berakhir dengan tepuk tangan meriah penonton sambil berdiri. Beno menghampiri Chiko lalu berbisik. "Untung aja Joe belum nonton video klipnya." "Iya, tapi setelah ini dia bakal tau yang sebenarnya." Chiko merasa khawatir. Pembawa acara menghampiri Joe dan mengucapkan selamat. "Davinci Band. Video klipnya keren... banget. Lagunya juga bagus banget. Selamat buat kalian ya. Ada yang mau disampaikan gak?" Tanyanya. Joshua mengambil microphone yang terpasang di stand. "Makasih untuk produser musik label kami, Pak Vero. Buat sutradara dan crew yang terlibat dalam pembuatan video klip kami. Buat para penggemar setia kami yang hadir di sini dan di rumah. We love you all." Itulah ungkapan kalimat Joshua di malam yang berbahagia itu. Ahmad sudah tertidur tapi Tarzia belum bisa tidur, dia berbalik badan dan memandang wajah Ahmad. Diantara kami ada pembatas guling itu lagi. Tarzia merasa kasihan dengan kisah masa lalu Ahmad yang menyedihkan. "Aku janji akan bikin kamu bahagia selalu. Aku akan mengorbankan segalanya demi kamu Mas." Itulah janjinya. Ternyata saat itu Ahmad juga belum tidur dan dia mendengar semua perkataan Tarzia. Maka saat Tarzia tertidur, Ahmad memperhatikan wajah Tarzia dan berkata. "Aku akan bahagia selama kamu selalu ada bersamaku.” Bisik hati Ahmad. Pagi yang cerah di villa menyambut mereka. Tarzia menyiapkan sarapan pagi itu. Ahmad sudah bersiap-siap untuk mengajaknya menikmati keindahan alam di sekitar villa. "Sarapan dulu Mas." Tarzia menyajikan makanan di atas meja lalu sarapan bersama. "Kamu bisa naik sepeda?" Tanya ahmad. "Bisa dong. Aku juara balap sepeda tau." Jawab Tarzia dengan sedikit sombong. "Oh ya? Kalau gitu kita sepedaan." Ahmad menantang Tarzia. "Siapa takut." Tarzia menerima tantangan itu. Ahmad mengambil sepeda yang ada di garasi. Sepedanya masih bagus namun bannya kempis. "Gimana nih?" Tarzia merasa sedikit kecewa. "Gampang." Ahmad mengambil alat pompa sepeda di dalam gudang. Ahmad memompa kedua ban sepeda bagian depan dan belakang dengan sekuat tenaga. Usahanya tak sia-sia, mereka bisa bersepeda pagi itu. "Hati-hati, jalanan di sini curam dan menanjak, juga licin." Ahmad memberi nasehat. "Ok." Tarzia memberi kode dengan jari. Bersepeda di area perbukitan diiringi suara kicauan burung. Udara juga terasa sejuk. Pepohonan yang rimbun dan hijau memanjakan mata. Tarzia begitu bersyukur dengan nikmat yang Tuhan berikan. Mereka tiba di tepi danau dan Tarzia kembali dibuat takjub. "Ada tempat sebagus ini di sini." Ahmad juga merasa senang melihatnya. Ada sebuah sampan tua di sana. "Ayo naik sampan." Tarzia menarik tangan Ahmad. "Sampannya terlalu kecil, kalau kita naik berdua gak akan sanggup menampung berat badanku." Tapi dia menolak. "Aku naik sendiri aja." Tarzia selalu saja merajuk seperti anak kecil. "Ini sampan tua, gimana kalau bocor?" Ahmad menerangkannya. "Gak mungkin bocor kalau terapung begini." Kembali Tarzia membantah. "Aku naik sendiri aja." Lalu dia nekad naik ke sampan dan mulai mendayungnya. "Wah... Ini seru banget." Teriaknya. Ahmad menunggu di tepi danau sambil tertawa. "Hati-hati, jangan jauh-jauh." Teriaknya dari sana. Tarzia masih menikmati mendayung sampan dan sesekali menyentuh air danau bahkan memainkannya. "Airnya dingin banget. Kaya es." Gumamnya. Ahmad masih mengawasi sambil tersenyum dari sepedanya. Tarzia melihat ikan melompat di atas air, Tarzia menjadi penasaran ingin melihat ikan itu lagi. Karena terlalu banyak bergerak, sampannya terbalik dan dia jatuh ke danau. Tarzia terjatuh ke dalam danau yang tak tau entah berapa kedalamannya sementara dia sendiri tak bisa berenang. Mungkin hidupnya akan berakhir hari itu. "Zia...!" Joshua terbangun dari mimpi buruknya. Kedua orang tuanya yang sedang sarapan sampai terkejut. "Biar Ibuk yang lihat Pak." Ibu Joshua segera memeriksa ke kamarnya. Saat menuju ke sana dia bertemu Joshua yang hendak pergi. "Kamu mau kemana?" Tanyanya pada Joshua. "Zia dalam bahaya Buk. Jojo harus ke sana sekarang." Joshua benar-benar sudah dibutakan oleh cinta sehingga dia nekad pergi tanpa mau mendengarkan Ibunya. "Terus kamu mau apa? Mau ke rumah suaminya dan mengacaukan semuanya?! Hidup kita jauh lebih baik setelah kalian tidak berhubungan lagi." Joshua tetap saja menuju ke luar rumah. Melihat istrinya tak dihiraukan, Ayah Joshua turut bertindak. "Gadis itu pembawa s**l Jojo. Gara-gara dia Ayah kehilangan pekerjaan, kita diusir dari kampung dan luntang lantung hidup di jalanan." "Cukup Pak!" Joshua berbalik dan membentak Ayahnya di depan kedua adik-adiknya. "Jangan ada yang menjelek-jelekkan Zia lagi. Semua yang Jojo dapat saat ini semua karena cinta Jojo sama Zia. Semua yang kalian nikmati adalah karena kekuatan cinta Jojo sama Zia." Joshua membela Tarzia di depan keluarganya. Perkataan Joshua begitu kejam dan manyakitkan hati kedua orang tuanya. Ibunya bahkan sampai meneteskan air mata. "Kalau memang begitu, kami akan pergi dari rumah ini. Kami gak mau ada sangkut paut dengan Zia lagi. Biar kamu aja yang nikmati semua hal tentang dia." Wanita yang telah melahirkannya itu menuju ke kamar dan mengemasi barang-barangnya. Anak bungsunya menghampiri dan bertanya. "Kita mau kemana Buk?" "Kemana aja Nak. Jangan di sini. Ini bukan rumah kita." Ibu Joshua membelai rambut anak bungsunya itu. Joshua masih berdiri di depan pintu, merasa bersalah atas ucapannya tadi. "Maafkan kami Jojo. Kami gak bisa jadi orang tua yang baik untuk kamu. Hidup kamu susah gara-gara kami." Ayahnya menepuk pundak Joshua sebelum menyusul Ibunya ke kamar. Ayahnya membantu kedua adik Joshua mengemasi pakaian mereka lalu bersama-sama mereka pergi keluar rumah. Mereka lewat di depan Joshua dan pemuda itu hanya diam saja tanpa berusaha mencegah mereka. "Kami pergi dulu Nak. Kalau nanti kami sudah punya uang, kami akan ganti semua biaya hidup kami yang selama ini menumpang sama hasil cinta Zia ini." Sindiran Ayahnya begitu tajam. Joshua terdiam, terpaku di sana melihat kedua orang tua dan adik-adiknya pergi dari rumah menaiki taxi. Setelah kepergian mereka, barulah dia menangis. "Zia...!" Ahmad panik saat melihat Tarzia jatuh ke danau dan dia segera melompat ke dalam air, berenang ke arah Tarzia dan berusaha menyelamatkannya. Tarzia hanya ingat saat itu rasanya dia tak bisa bernafas. Dadanya sesak dan hidungnya terasa sakit karena kemasukan air. Ahmad telah menyelamatkan Tarzia. Tarzia pingsan dan Ahmad terus berusaha menyadarkannya. Dia membuka sweater Tarzia yang basah kuyup lalu memakaikan baju hangatnya. "Zia bangun." Dia menggosok telapak kaki Tarzia agar hangat namun Tarzia tak juga kunjung sadarkan diri. "Ayo bangun anak kecil. Jangan pergi seperti ini." Ahmad melakukan PCR untuk mengembalikan denyut jantung Tarzia. "Zia, aku gak bisa hidup tanpa kamu. Aku gak mau kehilangan orang yang kucintai lagi." Usahanya belum berhasil. Mau tak mau Ahmad harus memberikan nafas buatan. Saat itulah Tarzia merasakan hidupnya telah kembali. Tarzia membuka mata dan melihat Ahmad berlinang air mata. "Mas Ahmad." Ahmad memeluknya dengan erat. "Jangan bandel lagi. Kamu harus dengerin omongan aku." Tarzia bahagia mendengar kalimat itu. Dia sangat mengkhawatirkannya dan peduli padanya. Seperti kepedulian yang diberikan Patricia pada Joshua. "Selama ini apapun yang kamu lakuin, aku selalu dukung kamu Joe. Walaupun itu salah. Aku memaklumi semuanya karena kamu pernah tersakiti. Tapi kali ini aku gak bisa dukung kamu lagi Joe. Aku harus pergi membawa cintaku untukmu." Patricia memegang pundak Joshua yang sedang menangis di dalam kamarnya. Patricia berdiri di depan pintu kamar Joshua dan melihat Joshua sekali lagi. Pasti berat bagi Patricia meninggalkan orang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang hampir masuk dalam jurang kegelapan. Saat itu Patricia sedang mengikuti casting di sebuah rumah produksi. Patricia memang cantik, gayanyapun menarik dengan rok mini dan tank top. Patricia berdiri di depan seorang pria yang mengaku sebagai sutradara. Di saat yang sama Joshua yang bekerja sebagai pengantar makanan siap saji akan mengantarkan ke ruangan tersebut. "Sebenarnya kamu punya bakat, tapi acting kamu kurang natural. Lagi pula cukup banyak peserta yang tampil bagus hari ini. Saya bingung mau pilih yang mana." Pria itu menatap Patricia dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Tolong kasih saya 1 kesempatan Om. Saya sudah ikut banyak casting, saya sangat berharap sama sinetron ini." Patricia memelas di hadapan Pria itu. "Bisa aja, asalkan saya punya alasan yang kuat untuk loloskan kamu. Tapi itu butuh pengorbanan yang besar. Kalau kamu mau." Pria itu mengelilingi Patricia, seperti berniat jahat. "Pengorbanan? Maksudnya? Uang?" Tebak Patricia. "Bisa jadi." Jawab Pria itu. "Saya bukan orang kaya Pak. Saya gak punya banyak uang." Kata Patricia dengan raut wajah sedih. "Ada yang lebih berharga dari uang. Yaitu kamu." Akhirnya Pria itu mengatakan hal yang tidak sepantasnya dia katakan tepat di saat Joshua hendak mengetuk pintu ruangan itu. Patricia terguncang mendengar kalimat itu. "Kamu bisa jadi bintang besar tanpa harus casting sana-sini lagi. Job datang ke tangan kamu." Pria itu mecoba mempengaruhi Patricia. Joshua merasa geram, dia langsung membuka pintu tanpa permisi dahulu. Melihat seorang pengantar makanan siap saji masuk ke ruangannya, Pria itu marah. "Lain kali kalau masuk ketuk pintu dulu." "Lain kali kalau bicara dipikirkan dulu!" Joshua balik memarahi Pria itu. "Sudah berapa banyak perempuan yang kamu perlakukan begini? Hanya karena salah satu dari mereka gak berani melapor sama Polisi, bukan karena mereka lemah. Tapi kali ini gak lagi." Joshua memukuli Pria itu habis-habisan. Patricia hanya menyaksikan saja dengan mata berkaca-kaca. "Tolong!" Mendengar teriakan Pria itu, beberapa orang di luar masuk ke sana dan melerai mereka. "Kalau sampai kamu berani gak sopan sama perempuan lagi, saya akan laporkan kamu ke Polisi!" Ancaman itu membuat Pria itu ketakutan. "Ada apa ini?" Tanya salah satu dari orang yang melerai mereka. "Bayar makanannya!" Joshua berbohong di depan mereka demi melindungi Patricia. Pria itu mengambil uang di dalam kantong celananya lalu menyerahkan pada Joshua. "Ayo pergi!" Joshua mengajak Patricia ikut bersamanya. Tampak sekali Patricia masih terpukul dengan perlakuan Pria yang mengaku sebagai oknum Sutradara tadi. "Jangan diam aja kalau kamu gak bisa nerima, kamu harus lawan. Diam gak akan nyelesaikan masalah." Joshua menasehati Patricia. Sekarang dengan berlinang air mata Patricia harus pergi meninggalkan Joshua yang juga dalam kesedihan. "Kamu pernah bilang, diam gak akan nyelesaikan masalah. Selama ini aku diam aja dengan sikap kamu Joe. Meski kamu salah atau benar, aku akan selalu ada untuk kamu. Tapi kali ini kamu nyakitin hati keluarga kamu. Aku gak bisa diam aja Joe. Aku harus pergi." Sekali lagi dia mengatakan kalimat akan pergi tapi Joshua tak mempedulikannya. Patriciapun pergi dari rumah Joshua meski begitu berat dan terisak. Ada yang pergi dan ada yang kembali. Tarzia kembali dari kondisi buruk ke dalam pelukan Ahmad. "Ayo kita pulang ke rumah. Kita gak perlu liburan kalau cuma bikin kamu celaka." Ahmad menggendong Tarzia. Dia tak peduli lagi pada dua buah sepeda yang tergeletak di tepi danau. "Sepedanya?" Dia hanya peduli pada Tarzia saja. Padahal jalanan yang mereka tempuh akan sangat jauh ditambah Tarzia berada di punggungnya, pasti akan semakin berat. Tapi Ahmad tak merasa lelah sedikitpun, dia membawa Tarzia kembali ke villa dengan selamat. "Kamu berat juga ya." Ahmad menurunkan Tarzia di teras. "Kamu sih, harusnya kita naik sepeda." Protesnya waktu itu. "Kamu aja tenggelam naik sampan, kamu bisa jatuh ke jurang kalau sepedaan dengan kondisi kedinginan begitu." Tapi Ahmad balik memarahi Tarzia. "Maaf..." Tarzia sadar akan kesalahannya. "Buka pintunya." Ahmad memberikan kunci villa pada Tarzia, tapi setelah Tarzia membuka pintu. "Kamu istirahat dulu. Aku mau bawa mobil ke bengkel." Dia malah mau pergi. "Tapi..." Tarzia ingin berusaha mencegahnya, tetapi Ahmad keras kepala, dia tetap saja pergi tanpa memakai sweater apalagi berganti pakaian dulu. Ahmad berjalan kaki menuju ke mobil yang terparkir sedikit jauh dari villa. Dia membuka bagasi mobil dan mengambil ban serap yang sudah dia persiapkan sebelum keberangkatan ke villa. Dia juga mengambil peralatan pertukangan untuk mengganti ban sendirian. Tarzia sudah berganti pakaian meski flu tapi dia khawatir pada Ahmad. "Dasar keras kepala." Tarzia mengambil sweater di dalam lemari lalu menyusul Ahmad. Tampak dia sedang memakai alat dongkrak untuk menganti ban baru. "Di sini dingin banget. Pakai ini." Ahmad terkejut melihat Tarzia datang. "Kenapa ke sini, harusnya kamu istirahat." "Pakai dulu." Tarzia memakaikan sweater padanya. "Aku bantuin ya?" Lalu mencoba melihat-lihat apa yang bisa dia lakukan. Ahmad tertawa. "Bantu doa aja." "Jangan sepele. Dulu aku sering bantu Ayah betulkan motornya." Tarzia mulai berlagak sombong lagi. "Istriku, kamu duduk aja di sini ya. Biar aku yang kerjakan." Ahmad meminta Tarzia duduk di atas batu pembatas jalan. Kalimatnya begitu manis, mungkin saat itu dia mulai menerima kehadiran Tarzia sebagai istrinya. "Lebih baik aku diam aja dan seolah-olah gak tau." Itulah isi pikirannya saat itu. Tarzia duduk di atas batu pembatas jalan sambil melihat Ahmad memasang ban baru ke mobil. Tarzia hanya bisa tersenyum dan berhayal. Tarzia membersihkan keringat di dahi Ahmad dan dia akan terus menatap kedua bola matanya dengan mesra. Lalu ketika anak rambut Tarzia jatuh ke pipi, Ahmad akan merapikannya lagi ke belakang telinganya dan Tarzia akan tersipu malu. "Zia!" Tarzia jadi benar-benar malu saat tau Ahmad ada di depannya dan sejak tadi melambaikan tangan memanggilnya. "Apa?!" Tarzia terjaga dari hayalnya. "Mobilnya udah beres, ayo kita balik ke villa." Kata Ahmad. Mereka masuk ke mobil lalu segera kembali ke villa. "Beresin pakaian, kita balik ke rumah hari ini juga." Pinta Ahmad. Tarzia merasa kecewa jika harus pulang ke rumah secepat itu. Wajahknya terlihat murung dan Ahmad mulai khawatir. "Kenapa?" Tarzia tak langsung menjawab pertanyaannya, dia duduk di sofa ruang tamu dan memeluk bantal sofa. "Aku masih pengen liburan di sini. Kita baru lihat danau, kita belum lihat burung-burung di hutan, atau mungkin ada bibit bunga yang cantik di sini. Aku janji gak akan ceroboh lagi. Aku akan dengerin kamu." Tarzia merengek di hadapan Ahmad sambil menatap kedua matanya dengan tatapan yang memelas seperti seekor anak anjing. Ahmadpun tersenyum. "Dasar anak kecil." Dia mengacak rambut Tarzia lalu sedikit tertawa. Idenya berhasil untuk mengajak Ahmad kembali berjalan-jalan. Kali ini tidak dengan sepeda tapi dengan berjalan kaki dan Tarzia harus berada tepat di sampingnya. Mereka masuk ke hutan dan Tarzia sambil merekam dengan handycam. Betapa terkejutnya Tarzia saat melihat ada sebuah rumah pohon kecil di salah satu pohon. "Jadi rumah pohon itu beneran ada ya?" "Ayah yang bikin untuk aku waktu kecil. Aku senang berpetualang, aku selalu ingin tau hal-hal baru dan banyak bertanya. Kadang Ibu aku jadi kehabisan jawaban. Di sini aku bisa melihat pohon, burung, tanaman lainnya." Ahmad menjelaskannya. Saat itu Tarzia mencoba menaiki tangga ke rumah pohon. "Zia, turun." Ahmad panik saat melihatnya. "Aku mau ngerekam dari atas." Dengan handycam yang digantung di leher, Tarzia mencoba menaiki anak tangga yang sudah mulai rapuh itu. Ahmad berjaga-jaga di bawah pohon. Kali ini Tarzia ceroboh lagi, anak tangganya lapuk dan dia jatuh tepat ke pelukan Ahmad seperti adegan dalam sebuah film. Bedanya, "Kamu udah janji gak akan ceroboh lagi kan?" Ahmad sama sekali tak romantis dan malah memarahi Tarzia lagi. "Iya, maaf." Setelah itu Ahmad menggenggam tangan Tarzia dengan erat agar Tarzia tak melakukan tindakan bodoh lagi. Ahmad membawanya ke sebuah padang rumput yang dipenuhi bunga-bunga liar yang berwarna-warni dan terlihat begitu cantik. "Kamu mau petik?" Tanyanya. Tarzia menganggukkan kepala, tak sabar ingin segera ke sana. Ahmad melepas genggaman tangannya dan membiarkan Tarzia pergi ke taman bunga sambil merekam dan Tarzia melompat kegirangan. Tarzia berputar-putar di tengah taman bunga liar itu sambil bersenandung. Ahmad turut senang menyaksikannya sambil bersandar di sebuah pohon besar. "Mas, ayo kemari!" Dia arahkan camera padanya dan mengajaknya ikut bersama. Ahmad melambaikan tangan yang berarti dia tak mau ikut. "Dasar keras kepala." Tarzia berlari ke arahnya dan memaksanya ikut. Tarzia menggantung handycam di ranting pohon lalu mengajak Ahmad menari bersama di antara bunga-bunga cantik itu. Mereka begitu bahagia saat itu tapi tidak dengan Joshua. Sudah beberapa hari dia mengurung diri di rumah, sendirian tanpa anggota keluarganya lagi. Biasanya setiap pagi Jojo akan dibangunkan oleh suara gaduh kedua adiknya yang sedang bertengkar kecil di dapur. Jojo keluar dari kamarnya dengan rambut yang masih acak-acakan lalu menuju ke sana dan melihat Ibunya sedang menyajikan makanan di atas meja. “Ibuk.” Jojo sangat merindukan Ibunya. Begitupun dengan sang Ibu yang kini tinggal di kontrakan sempit. “Gimana kondisi Jojo sekarang ya Pak? Ibuk khawatir dia nekad bunuh diri lagi kayak dulu.” Wanita itu nampak gelisah saat menghidangkan segelas kopi pada suaminya yang sedang duduk di teras. “Gak akan. Dia sudah dewasa sekarang. Biarkan dia berfikir dengan bijaksana tentang sikapnya selama ini.” Gumam Ayah Jojo. Saat itu Patricia baru turun dari mobilnya dan mendengar pembicaraan mereka. “Patricia?” Ibu Jojo terkejut melihatnya datang. “Ibuk benar Pak, Joe sedang labil sekarang. Aku akan pastikan kondisi dia.” Patricia kembali masuk ke dalam mobil. “Anak itupun sama saja.” Ayah Joshua merasa kesal hingga dia memutuskan masuk ke dalam rumah tanpa meneguk kopi itu sedikitpun. Joshua masih larut dalam kerinduannya, dia duduk di kursi dan hanya makan mie instan saja. Bungkusan mie instan bekas kemarinpun masih berserakan di atas meja. Dia kembali teringat kepada Ayahnya yang senang minum kopi. “Ada berita apa di koran hari ini?” Setelah menyeruput kopi, Ayah Jojo mengambil koran di atas meja ruang tamu lalu membacanya. “Bapak?” Mata Jojo mulai berkaca-kaca. “Mas, ayo. Nanti kita terlambat.” Adik bungsunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar memanggilnya dari depan rumah. Joshua bangkit dan menuju ke sana. Biasanya Joshua akan mengantarkan adiknya ke sekolah terlebih dahulu barulah dia berangkat ke kampus. Tangis Joshuapun pecah. Joshua terduduk di depan pintu sambil menutupi wajahnya. “Joe?” Patricia memegang pundaknya. Seketika Joshua berhenti menangis dan mendongak ke atas. “Patricia?” Dia menghapus air matanya. “Maafin aku.” Joshua berdiri dan langsung memeluk gadis itu. Patricia mengelus punggung Joshua. Tarzia begitu bahagia bisa memetik bunga sepuasnya di taman itu dibantu oleh Ahmad. “Udah 2 keranjang penuh, kantong baju aku juga udah penuh, Kita balik ke villa?” Tanya Ahmad. Tarzia mengangguk. “Oke, kita balik.” Di tangan Tarzia juga sudah penuh dengan bunga indah itu. Mereka kembali ke villa. Tak lupa Tarzia mengambil handycamnya dan menekan tombol off. “Hari ini sudah cukup. Masih banyak momen berharga lainnya yang patut diabadikan.” Tarzia bicara pada dirinya sendiri. Mereka kembali berjalan kaki dan menghirup udara segar di pegunungan. Diam-diam Tarzia mencuri pandang pada Ahmad yang berjalan di sampingnya. Setelah sampai di depan Villa. “Makasih ya.” Ucap Tarzia dengan senyuman manis di bibirnya. Lalu Tarzia mengambil kunci villa dari tangan Ahmad dan segera membuka pintu. Dia masuk lebih dulu. Ahmad menyentuh pipinya, dia tersipu kemudian tersenyum dan mengambil keranjang-keranjang bunga tadi untuk dibawa masuk ke dalam. Patricia menuangkan air putih ke dalam gelas dan memberikannya pada Joshua yang sedang duduk di sofa ruang tamu. “Orang tua kamu sangat membutuhkan kamu Joe begitupun adik-adik kamu. Selama ini kalian selalu bersama susah maupun senang, apapun yang kamu lakukan orang tua kamu gak pernah melarang. Tapi kali ini mereka sampai pergi dari rumah.” Patricia mencoba memberi nasehat pada Joshua. Joshua meneguk air sampai habis. Patricia menggenggam tangan Joshua. “Pikirkan baik-baik Joe. Hubungan mana yang akan kamu pertahankan? Keluarga yang selalu ada untuk kamu, atau orang lain yang gak ada untuk kamu?” Patricia menatap kedua bola mata Joshua dalam-dalam. Joshua hanya terdiam dan tak memberi tanggapan apapun, padahal Patricia sangat berharap Joshua memilih keluarganya. Patricia merasa kecewa, dia lalu berdiri dan hendak meninggalkan Joshua lagi. “Tunggu!” Tetapi Joshua malah menarik lengan kirinya. “Kalau kamu minta aku memilih keluarga atau cinta. Aku akan memilih keduanya. Aku gak bisa kehilangan keduanya.” Joshua melepas tangan Patricia. Dia berdiri tepat di belakangnya. Patricia merasa sesak di dalam d**a, dia sedih mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Joshua. “Aku mau kamu selalu ada di samping aku.” Kemudian pemuda itu memeluk Patricia dari belakang. Air mata menetes di pipi Patricia. Merekapun berpelukan. Dengan mudahnya Patricia percaya kalau Joshua akan melupakan Tarzia, padahal tidak. “Bagaimanapun caranya aku akan mendapatkan Tarzia kembali dan keluargaku kembali.” Gumam hati Joshua. Tarzia dan Ahmad berkemas di Villa. Mereka akan kembali ke Kota. Sebelum keluar dari Villa, Tarzia mencoba menyimpan kenangan tentang tempat itu. “Kamu bisa datang ke sini kapanpun kamu mau.” Ahmad membuyarkan lamunan Tarzia. Tarzia memakai ranselnya dan segera menyusul Ahmad keluar dari Villa. Ahmad mengunci pintu dan bersama-sama mereka memasukkan barang ke bagasi mobil. Ahmad memandang Tarzia lalu tersenyum. “Ayo.” Dia membukakan pintu mobil untuk Tarzia. Pemandangan kebun teh memanjakan mata Tarzia di sepanjang perjalanan. Sengaja dia menurunkan kaca jendela agar semilir angin sejuk membuat perasaannya menjadi lega. “Aku gak peduli dengan masa lalu kamu atau masa lalu aku Mas. Aku janji akan selalu mendampingi kamu susah atau senang. Perjalanan ini adalah awal baru kehidupan kita.” Tekad hati Tarzia. Ibu Tarzia sedang membersiapkan pesta kejutan untuk menyambut anak dan menantunya itu dengan dibantu oleh asisten rumah tangga. “Semua sudah beres Nyonya.” Lapor Bibi Lorenza. Ibu Tarzia nampak senang. “Nyonya, Tuan dan Nona sudah sampai.” Salah satu security memberi kabar. “Ayo bersiap.” Perintah Ibu Tarzia. Maka keenam asisten rumah tangga Ahmad segera berbaris dengan rapi di depan pintu rumah. Security membukakan pintu pagar dan Ahmad memarkirkan mobilnya di area parkir. “Ada tamu penting ya Mas?” Tarzia terheran-heran melihat seluruh pekerja di rumah Ahmad bersikap sangat formal hari itu. “Mungkin aja.” Jawab Ahmad sambil keluar dari mobil disusul Tarzia. Ijah segera menghampiri mereka bersama Supri. “Biar kami yang bawa barang-barangnya Tuan.” Kata Ijah. Security membuka bagasi dan mengambil barang-barang di sana. Tarzia tersenyum pada mereka. Ahmad dan Tarzia berjalan bersama menuju ke rumah. “Selamat datang Tuan, Nona.” Bibi Lorenza dan semua asisten yang berbaris di depan pintu membungkukkan badan seperti sedang menyambut Raja dan Ratu saja. “Ini ada apa sih?” Tanya Ahmad. “Ibuk mana?” Tarzia ikut bertanya. “Silahkan masuk Tuan, Nona.” Bibi Lorenza membukakan pintu, terlihat karpet merah yang menuju ke ruang tamu. Kami mengikuti Bibi Lorenza menuju ke sana. Dengan cepat Asisten rumah tangga yang lain masuk dari pintu belakang. “Kejutan...!” Ternyata Ibu Tarzia sudah mempersiapkan pesta kejutan untuk mereka. “Happy honeymoon Ahmad dan Zia.” Itulah spanduk yang terpasang di salah satu sisi dinding ruang tamu. Hiasan bunga dan dekorasi juga tampak indah dan begitu romantis. Ahmad dan Tarzia terlihat canggung. “Ayo kita potong tumpengnya.” Ajak Ibu Tarzia. Maka keduanya memotong tumpeng tersebut dengan mengucapkan. “Bismillahirrahmanirrohim.” Para pekerja rumah Ahmad memberikan tepuk tangan. “Semoga ini menjadi awal baru dalam rumah tangga kalian menjadi lebih harmonis, kalian menjadi pasangan yang saling mendukung dan melengkapi, serta terus bersama sampai Kakek-Nenek.” Ibu Tarzia memberikan doa yang sangat baik hari itu. “Aaamin...” Ucap semua pekerja di sana. Setelah acara potong tumpeng, semuanya makan bersama di sana. Tarzia dan Ahmad duduk berdua dan saling bicara. “Maafin Ibuk ya?” Ucap Tarzia pada Ahmad. “Untuk apa?” Tanya Ahmad. “Ibuk fikir kita...” Tarzia berhenti bicara. “Kalau orang tuaku masih hidup, mungkin mereka juga akan seperti ini. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.” Ahmad menyikapinya dengan bijaksana. Tarzia merasa sedikit lega. Malam itu seperti biasa, ada guling diantara mereka berdua. “Trauma yang dialami Ahmad pasti cukup berat, aku harus membantu dia untuk bisa melawan rasa takutnya itu.” Tarzia hanya bisa bicara di dalam hati. Joshua juga sedang berusaha untuk dapat tidur dengan nyenyak di dalam pangkuan Patricia yang terus memembelai rambutnya. “Selamat malam Joe.” Patricia mencium kening Joshua yang sudah terlelap. Matahari sudah terbit, Ahmad sudah bersiap akan pergi ke kantor dan Tarzia juga sedang bersiap-siap akan pergi. “Kamu mau kemana?” Tanya Ahmad. “Aku mau ikut kamu ke kantor, aku mau belanar tentang bisnis.” Jawaban Tarzia membuat Ahmad tertawa kecil. “Kenapa, gak boleh?” Tanya Tarzia. “Bukan itu, yakin kamu gak bakal bosan?” Gumam Ahmad. “Gak akan. Kasih aku waktu 1 bulan bekerja di sana dan aku bakal buktiin kalau aku bisa beradaptasi dengan baik.” Jawab Tarzia dengan begitu percaya diri. “1 bulan deal?” Ahmad mengulurkan tangan. Tarzia terlihat ragu. “Kenapa aku bilang 1 bulan ya? Kalau gagal gimana?” Pikirnya. “Kalau kamu gagal, kamu harus turutin 1 permintaan aku, gimana?” Seakan Ahmad tau apa yang sedang dipikirkan istrinya itu. “Tapi kalau aku berhasil, kamu yang harus turutin 1 permintaan aku, gimana?” Tantang Tarzia. “Deal.” Ahmadpun setuju. Mereka lalu bersalaman tanda sepakat. Joshua terbangun dan melihat Patricia sudah tertidur. Joshua merasa kagum pada keteguhan hati Patricia. Joshua membelai rambut Patricia. Dia lalu menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka. Patricia lalu terjaga dan melihat Joshua sudah tak ada. “Joe!” Dia merasa takut. “Aku di kamar mandi.” Jawaban Joshua membuat Patricia merasa lega. Patricia merapikan tempat tidur. “Biarin aja, emang selalu berantakan kok.” Ternyata Joshua sudah selesai mandi dan dia hanya memakai handuk saja. “ Hari ini kita jemput Bapak, Ibuk dan adik-adik kamu kan?” Tanya Patricia penuh harap. “Iya.” Joshua mengangguk, dia membuka lemari pakaiannya dan mengambil pakaian. “Aku cuci muka dulu ya.” Patricia memilih keluar dari kamar Joshua. Tak hanya merapikan tempat tidur, Patricia juga memasak untuk Joshua. “Ayo sarapan dulu.” Ajak Patricia ketika melihat Joshua keluar dari kamar. Joshua semakin kagum pada gadis cantik itu. “Kenapa kamu masih peduli sama aku?” Tanya Joshua. “Karena aku cinta sama kamu Joe, aku gak bisa tanpa kamu.” Jawab Patricia. Joshua menggenggam tangan Patricia yang duduk di depannya. “Makasih.” Mata Joshua tampak berkaca-kaca. Ibu Tarzia masih tertawa melihat Tarzia makan dengan terburu-buru. “Kalian kan pergi bersama, kenapa harus buru-buru.” Tegurnya. “Hari ini Tarzia mulai bekerja di kantor Buk.” Kata Ahmad. Ibu Tarzia, Bibi Lorenza bahkan Ijah terkejut mendengarnya. “Tapi Zia kan gak ada basic bisnis.” Ujar Ibunya. “Tapi Zia bisa belajar Buk.” Tarzia membela diri. “Lagipula Ahmad gak akan ngasih jabatan yang tinggi sama Zia Buk, dia harus belajar dari posisi bawah dulu.” Tutur Ahmad. “Maaf Tuan, tapi Nona kan istri Tuan. Bagaimana tanggapan orang lain.” Bibi Lorenza turut angkat bicara. “Justru itu Bik, jangan sampai orang-orang mengira Zira menikahi saya demi harta atau jabatan.” Alasan Ahmad.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN