Mereka berangkat ke kantor bersama-sama. Semua karyawan di kantor perhotelan itu menyapa mereka dengan hormat. Hingga tiba di lobi, Ahmad memanggil Kepala staff karyawan. “Tarzia, ini Pak Rusdi. Kepala Staff Karyawan di hotel ini. Seluruh karyawan menjadi tanggung jawab dia termasuk kamu.” Pak Rusdi terkejut mendengar kalimat dari Ahmad. “Maksud Bapak?”
“Istri saya ingin mengenal bisnis perhotelan kita dengan baik dan dia memutuskan akan bekerja sebagai karyawan di sini. Saya ingin Pak Rusdi memberi jabatan pekerjaan yang cocok untuknya.” Tutur Ahmad. Beberapa receptionist juga terkejut mendengarnya. “Saya minta tidak ada perbedaan perlakuan antara staff. Kalian harus kompak dan saling membantu seperti biasanya.” Perintah Ahmad. “Baik Pak.” Jawab mereka semua. Setelah itu Ahmad menaiki tangga menuju ke ruangannya. Tinggallah Tarzia sendiri dalam kebingungan. “Mari ikut saya Buk.” Pak Rusdi mengajak Tarzia ke ruangannya. “Saya bingung harus memberikan tugas apa untuk Ibuk. Bagaimana kalau Ibuk sendiri yang kasih pendapat.” Ungkap Pak Rusdi. “Saya mau bekerja di receptionist aja Pak. Kita mulai dari sana.” Pinta Tarzia. “Baiklah Buk. Mari saya antar ke ruang ganti.” Kembali Pak Rusdi mengajak Tarzia ke ruangan lainnya. “Ini ruang gantinya dan ini seragamnya Buk.” Pak Rusdi memberikan seragam petugas hotel pada Tarzia. “Makasih Pak.” Ucap Tarzia. “Saya permisi.” Pak Rusdi meninggalkannya di sana. Setelah berganti pakaian, Tarzia kembali ke lantai 1, tepatnya ke meja receptionist. Kedua Receptionist yang lain saling berbisik saat melihatnya datang. “Kalau orang cantik mau pakai baju apa juga tetap cantik ya.”
“Emang dasar orang kaya, mau diapain lagi.” Tarzia mulai risih dengan sikap kedua perempuan yang usianya lebih tua dari dirinya. “Kalian panggil saya Zia aja. Nama kalian siapa?” Dia mencoba akrab. “Saya Penty Buk, dan dia Nova.” Mereka bersalaman dengan Tarzia. “Terus kita harus apa nih?” Tanya Tarzia. Penty dan Nova memberi tau tugas yang biasa mereka pada Tarzia.
Ahmad merasa tak enak hati atas sikapnya itu. “Apa aku terlalu kejam ya?” Ahmad membuka jasnya dan menggantungnya di hanger. Dia melihat pemandangan dari gedung bertingkat itu. “Aku coba cek aja.” Dia memutuskan pergi ke lantai 1 dengan menaiki lift. Saat pintu lift terbuka, Ahmad melihat Tarzia sedang menyambut tamu yang akan menginap di hotel itu dengan begitu ramah. Ahmadpun tersenyum, dia kembali naik ke lantai atas menuju ke ruangannya.
Sementara itu Joshua dan Patricia tiba di Kampus. Ketiga sahabat karib Joshua turut merasa senang. “Joe!” Mereka langsung menghampiri Joshua dan Patricia. “Kamu gak papa kan?” Tanya Andi. Joshua menggelengkan kepalanya. “Aku masuk kelas dulu ya. Sampai jumpa nanti siang Joe.” Patricia berpamitan pada mereka berempat. “Bye.” Teman-teman Joshua melambaikan tangan. “Aku kagum sama dia. Dia tetap cinta sama eloe Joe, meskipun eloe gak bisa ngelupain Zia. Dia juga selalu support eloe.” Gumam Chiko. Joshua mengangguk. “Ayo ke kelas.” Kemudian memilih untuk pergi. “Menurut kalian apakah Joe udah bisa menerima kenyataan tentang Zia?” Beni merasa penasaran. “Mudah-mudahan.” Jawab Andi. Merekapun menyusul Joshua masuk ke kelas.
Di hari pertamanya bekerja, Tarzia telah menunjukkan bahwa dia bisa cepat belajar dan mudah beradaptasi dengan karyawan yang lainnya yang bertugas di receptionist. Ahmad benar-benar ingin membuat Tarzia menjadi sosok yang mandiri, bahkan saat jam makan siang, dia tidak menemui Tarzia. “Aku lapar...” Tarzia mendumal di dalam hati. “Buk, eh, Mbak, aduh... Zia.” Penty merasa segan harus memanggil Tarzia dengan namanya saja. “Mau ikut kami makan siang?” Nova membantu Penty bicara. “Ayo.” Tarzia terlihat antusias. Mereka bertiga menuju ke warung yang berada di depan hotel. “Kenapa hotel sebesar itu tidak menyediakan makan siang untuk karyawan?” Pikir Tarzia saat duduk di salah satu meja warung tersebut. Nova lalu membawakan pesanan makan siang untuk mereka bertiga. “Nah, kita jadi Uni-Uni dulu, makan masakan Padang.” Dia sedikit bergurau. Mereka terhibur dan menikmati makan siang itu. “Ahmad merasa senang manakala Pak Rusdi memberitahukan padanya tentang Tarzia. “Terus infokan pada saya tentang Tarzia selama bekerja di sini Pak.” Perintah Ahmad. “Baik Pak, saya permisi.” Pak Rusdi meninggalkan ruangan Ahmad.
Meski seluruh mahasiswa lain sudah keluar dari kelas, Joshua malah tak bergeming. Andi memberi isyarat pada Chiko yang duduk di samping Joshua untuk mengajaknya pergi. “Joe, kita ke kantin yuk.” Tetapi Joshua menolaknya dengan alasan. “Aku lagi gak mood.” Andi dan Beno menghampirinya. “Kamu kenapa sih?” Tanya Andi. “Aku bosan makanan di kantin gitu-gitu aja.” Jawab Joshua. Merekapun tertawa. “Kita cabut aja gimana?” Usul Joshua. “Come on.” Chiko setuju begitupun dengan Andi dan Beno. “Kita ajak Patricia ya.” Usul Andi. “Oke.” Jawab Joshua. Kali ini mereka bersama-sama menuju ke sebuah restoran untuk makan siang bersama. Rupanya pengunjung restoran mengenali mereka. “Davinci.” Mereka malah menghampiri Joshua dan meminta tanda tangan. Personel band itu merasa kewalahan. Patricia sedikit kesal karena mereka tak dapat makan dengan tenang. “Halo Pak Vero, tolong kirim keamanan ke restoran chinese food dekat kampus ya.” Terpaksa Patricia menelpon Pak Vero selaku pemilik label rekaman Davinci band. “Oke Patricia, saya akan kirimkan bodyguard ke sana.” Pak Vero menutup telepon. Dia segera meminta sekretarisnya untuk mengirim 4 orang bodyguard pribadi mereka ke lokasi. Tanpa harus menunggu lama, akhirnya keempat bodyguard itu sampai di restoran untuk menjemput Davinci band dan Patricia. “I love you Joe.” Teriak salah satu penggemar mereka. Davinci merasa senang karena mereka sudah mulai dikenal banyak orang. “Kita jadi selebritis brow.” Chiko begitu bersemangat. Joshua juga nampak sangat menikmati moment itu.
Beda halnya dengan Tarzia yang menemui Ahmad di ruang kerjanya untuk mengajukan protes. “Kenapa di hotel sekaligus perkantoran sebesar ini gak menyediakan makan siang untuk staffnya?” Ahmad mengernyitkan alis, sedikit heran dengan istrinya yang begitu bersemangat. “Harusnya hotel ini. Maksudnya perusahan ini memiliki satu ruangan yang terpisah dari ruang jamuan untuk tamu hotel dimana staffnya bisa makan siang.” Tarzia mengutarakan pendapatnya. “Mulai sekarang, itu jadi tanggung jawab kamu. Kamu yang urus.” Ahmad memberi perintah. Tarzia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Ahmad. “Nona Tarzia Ahmad, anda naik jabatan.” Ahmad tersenyum padanya. Tarziapun tersipu. Dalam 1 hari Tarzia telah mampu menunjukkan pada Ahmad bahwa dia mampu berpikir dewasa, hal itu menjadi sebuah kebanggan sendiri bagi Tarzia. Joshuapun merasa bangga pada hasil kerja kerasnya. Sore itu dengan ditemani Patricia, Joshua menjemput keluarganya di kontrakan. “Pak, Buk, maafin Jojo.” Joshua memeluk kedua orangtuanya. Patricia dan kedua adik Joshua terharu menyaksikannya. “Kita pulang ya.” Ajak Joshua. Kedua orangtua Joshua mengangguk. Mereka merasa senang dan semua karena Patricia. Sudah sore dan Ahmad belum juga muncul, Tarzia masih menunggunya di depan hotel. “Nona. Tuan minta saya mengantar Nona pulang lebih dulu, Tuan ada meeting.” Supripun muncul. “Kok Mas Ahmad gak ngomong langsung ke aku ya.” Tarzia merasa sedikit kecewa. Tetapi sebagai seorang istri, Tarzia harus menurut pada perintah suaminya, maka diapun pulang diantarkan oleh Supir. Meski sudah sampai di rumah, Tarzia nampak tak bersemangat. Dia meletakkan tas di atas tempat tidur dan merebahkan badannya. Tarzia nampak kelelahan.
“Wellcome at home...” Patricia membukakan pintu rumah untuk keluarga Joshua. “Makasih ya.” Ibu Joshua memeluk Patricia. Patricia memang akrab dengan semua anggota keluarga Joshua. “Kamu benar-benar menantu idaman.” Puji Ayah Joshua. “Bapak...” Patricia tersipu malu mendengarnya.
Keesokan harinya, kembali Tarzia dan Ahmad pergi ke kantor bersama-sama. Kali ini Tarzia tidak bertugas sebagai receptionist melainkan penanggung jawab untuk menyediakan tempat makan siang bagi staff hotel dengan dibantu oleh Pak Rusdi dan manager hotel yaitu Miko. Mereka mengadakan rapat kecil di ruangan Pak Rusdi. “Area hotel berada di sisi kiri gedung sedangkan perkantoran berada di sisi kanan gedung. Jumlah lantai ada 3 dan Pak Ahmad berencana menambah 1 lantai lagi di yang saling menghubungkan perhotelan dan perkantoran.” Miko menunjukkan denah gedung pada Tarzia. Awalnya Tarzia belum mengetahui bagaimana cara membaca denah. “Bisa bantu saya memeriksa langsung ke lokasi?” Kemudian dia minta tolong pada Miko untuk mengajaknya berkeliling. Dari sanalah, Tarzia mengerti tentang denah tadi. Mereka berjalan dari lantai 1 hingga lantai 3, Miko tak bosan-bosannya terus menjelaskan pada Tarzia.
Para penggemar Davinci band kini bahkan sudah ada dari kalangan mahasiswa di kampus, mereka berkerumun di depan kelas Joshua dan teman-temannya. “Kemarin kita gak bisa makan dengan tenang, sekarang gak bisa belajar dengan fokus.” Bisik Chiko pada Joshua. “Nikmati aja bro.” Kata Joshua. Benar saja, setelah perkuliahan selesai, mahasiswa yang didominasi oleh wanita itu berburu masuk ke kelas dan meminta tanda tangan para personel Davinci. Kali ini mereka tak perlu bodyguard karena dosen mata perkuliahan selanjutnya masuk ke kelas dan meminta para penggemar itu keluar dari kelasnya. “Pegel tanganku.” Beno mengibas-ngibaskan pergelangan tangan kananya sehingga Andipun tertawa. Semakin hari mereka semakin populer dan Tarzia semakin pandai dalam melaksanakan tugasnya itu. “Ruangan makan siang untuk staff hotel sebaiknya berada di lantai 1 saja sehingga tidak akan mengganggu apalagi bercampur baur dengan pengunjung hotel yang kebanyakan di lantai 2.” Tarzia memberikan usulan. “Ruangannya tidak perlu terlalu besar, karena setiap staff akan bergantian makan siang dan yang lainnya berjaga, mereka semua dapat giliran sama rata.” Tarzia melanjutkan penjelasannya. “Baik Buk, saya sudah kosongkan perabotan di salah 1 kamar hotel dan saya juga sudah hubungi arsitek yang akan mengerjakannya.” Jelas Miko. “Sebagai gantinya, saya sudah melaksanakan perintah Ibu untuk perencanaan 2 kamar hotel premium di lantai 4.” Pak Rusdi menambahkan.
Davinci band diundang untuk tampil manggung kembali di televisi, mereka sudah jadi salah satu band paling terkenal saat itu. Patricia selalu setia mendampingi Joshua, tanpa ragu lagi, Joshua juga memperkenalkan Patricia sebagai pacarnya di depan wartawan yang menunggunya seusai manggung. “Aku mau tau reaksi kamu Zia.” Itulah yang dipikirkan Joshua, sayangnya Tarzia tak sempat menonton televisi karena sedang sibuk dengan pekerjaannya. “Alhamdulillah... semua selesai tepat waktu.” Tarzia tersenyum lepas saat melihat ruangan itu telah selesai dan sesuai dengan harapannya. “Terimakasih Pak Miko, Pak Rusdi.” Ucap Tarzia. “Ini semua berkat kerja keras Ibuk. Selamat ya Buk.”
Pak Rusdi mengulurkan tangan, begitupun Miko. Tarzia menyambutnya dengan suka cita. Ahmad yang diam-diam melihat dari kejauhan juga turut merasa bangga. “Lantai 3 sedang dalam tahap pembangunan, untuk interior kamar hotel aku serahkan ke kamu ya.” Tutur Ahmad sambil melepaskan jasnya di dalam kamar. “Mas serius?” Tarzia kembali terbelalak. “Iya, ini tugas kedua kamu, selesaikan dengan baik, aku akan kasih hadiah buat kamu.” Jawab Ahmad. “Makasih ya Mas.” Spontan Tarzia memeluk Ahmad. “Iya, iya.” Ahmad turut merasa bahagia. Tapi Ibu Tarzia malah gelisah. “Sudah 1 bulan lebih mereka nikah, tapi belum ada tanda-tanda Zia hamil.” Dia mencurahkan isi hatinya pada Bibi Lorenza. “Mereka kan pengantin baru, jadi wajar jika ingin menunda dulu. Apalagi Tuan dan Nona berkenalan secara singkat dan memutuskan menikah, biarkan mereka saling mengenal satu sama lain dulu.” Kata Bibi Lorenza.
Tarzia kembali disibukkan dengan proyek hotel di lantai 4. Matahari begitu terik dan rasanya Tarzia tak bisa membuka matanya. Ahmad lalu datang dan memberikannya sebuah kacamata. “Pakai ini.” Tarzia terkejut dengan kemunculan Ahmad yang terasa tiba-tiba saja. “Mas di sini?” Tanyanya. “Mau memantau pekerjaan kamu.” Jawab Ahmad yang juga memakai kacamata hitam. Tarzia memakai kacamatanya dan dia terlihat keren. “Pastikan jangan lepas topi kamu, di sini berbahaya.” Ahmad mengingatkan Tarzia. “Iya.” Jawab Tarzia sambil tersenyum. Kesibukan Tarzia dan Joshua dalam bidangnya masing-masing membuat mereka saling melupakan satu sama lain. Joshua mulai fokus mengejar target mini album band mereka. “Bapak seneng lihat Jojo berubah Buk.” Ayah Joshua melihatnya sedang menulis lirik lagu di kamarnya. Joshua berhasil merilis mini album hanya dalam waktu 3 bulan dan kasetnyapun terjual habis di pasaran. Lagu-lagunya bahkan terdengar dimana-mana. Tarzia sedang berbelanja di mall bersama Ijah. “Wah... itu album Davinci.” Tunjuk Ijah ke salah satu toko musik di mall. “Kamu mau beli?” Tanya Tarzia. “Boleh Mbak?” Ijah sedikit ragu. “Ayo.” Tarzia mengajaknya masuk ke sana. Ijah segera mengambil kaset itu di rak. “Mbak tau gak, saya pernah ketemu dia di depan rumah. Waktu itu dia kayaknya lagi nyari seseorang.” Cerita Ijah membuat Tarzia sedikit takut. “Dia nyebut nama orang yang dia cari?” Tanyanya untuk memastikan. “Em... Dia narik lengan saya terus neyebut nama Via kalau gak salah.” Ijah mencoba mengingat kembali kejadian itu. “Dia pasti nyari aku.” Pikir Tarzia.
Tarzia pulang ke rumah dengan perasaan gelisah. “Gimana kalau Jojo balik lagi ke rumah ini untuk nyariin aku.” Dia bicara seorang diri. “Aku harus akhiri semuanya. Aku harus ketemu sama Jojo untuk terakhir kalinya.” Entah apa yang terlintas di benak Tarzia hingga dia memikirkan ide itu.
Pak Vero mengucapkan selamat atas prestasi yang diraih Davinci band. “Kalian benar-benar hebat. Setelah berhasil merilis mini album dalam waktu 3 bulan, kalian berhasil menduduki puncak musik teratas dan mengalahkan band lain dalam waktu 3 bulan.” Pak Vero mengangkat gelasnya. “Bersulang untuk kalian.” Dia sedang mengadakan pesta kecil-kecilan untuk Band yang bernaung di bawah perusahaan label rekamannya. “Terimakasih Pak. Ini semua berkat dukungan Bapak juga.” Ucap Joshua. “Biasanya artis pendatang baru butuh waktu bertahun-tahun untuk terkenal, tapi kalian berbeda.” Pak Vero masih memuji mereka habis-habisan. “Oh ya, kita akan mengadakan tour concert kalian ke selurih Indonesia, ini sangat baik untuk meningkatkan popularitas dan kualitas kalian.” Usul Pak Vero. “Tour?” Andi terbelalak. “Consert?” Benopun seakan masih tak percaya. “Keren...!” Chiko sampai menganga dan Joshua tak mampu berkata apa-apa lagi. “Saya sudah mempersiapkan tim untuk kalian dalam waktu dekat ini.” Tutur Pak Vero.
Tarzia sedang mengawasi proyek pembangunan kamar hotel di lantai 4 gedung, namun dia malah tak fokus seperti biasanya. “Tapi kapan aku harus nemuin Jojo? Dimana kami bisa ketemu?” Dia malah memikirkan hal itu sampai-sampai tak menyadari kalau ada tangga yang akan jatuh menimpa dirinya akibat kelalaian seorang pekerja. “Zia!” Beruntung Ahmad datang dan menolong Tarzia. Semua pekerja terkejut. “Maaf Pak, Buk.” Pekerja yang menaruh tangga sembarangan tadi menghampiri mereka. Ahmad memeluk Tarzia dengan erat. “Lain kali hati-hati!” Dia memarahi pekerja itu. Jantung Tarzia masih berdegup kencang, dia masih terkejut dengan kejadian tadi. “Kamu kenapa sih?” Tanya Ahmad. Tarzia terdiam. “Ikut aku.” Ahmad menarik tangan Tarzia dan membawanya ke ruang kerja. “Kamu kecapean?” Tanya Ahmad. “Maaf.” Ucap Tarzia sambil menundukkan kepalanya. “Mulai besok, kamu gak usah tangani proyek ini lagi. Aku udah daftarin kamu kuliah sesuai dengan jurusan yang kamu ambil dulu di Turki.” Ahmad duduk di kursinya. “Tapi sebentar lagi pekerjaannya bakal selesai.” Protes Tarzia. “Sebentar lagi tahun ajaran baru Zia. Aku gak mau kamu buang-buang waktu masa muda kamu untuk bekerja. Kamu kejar pendidikan dulu.” Ahmad memberi penjelasan. “Tapi Mas janji mau kabulin 1 permintaan aku kan?” Tarzia mengingatkan Ahmad. “Iya. Emangnya kamu mau minta apa?” Tanya Ahmad. Tarzia terdiam sejenak. “Masa akau harus bilang, izinin aku ketemu Jojo 1 kali lagi untuk menyelesaikan semuanya.” Pikir Tarzia. “Zia?” Ahmad memanggilnya. “Iya. Aku mau es krim.” Dengan polosnya Tarzia menyampaikan hal itu. Ahmad tertawa terbahak-bahak. Tarzia merasa konyol akan kalimatnya tadi. “Kamu Cuma minta es krim?” Ahmad masih menertawakannya. “Aku mau ngelihat kamu seperti ini Mas.” Tarzia bahagia melihat Ahmad yang dapat tertawa lepas untuk pertama kalinya selama pernikahan mereka. “Tapi Mas yang bikin.” Tiba-tiba Tarzia melanjutkan kalimatnya sehingga Ahmad berhenti tertawa. “Aku?” Ahmad mulai menelan ludah. “Harus berhasil, oke?” Giliran Tarzia yang meledek Ahmad. Ahmad menjadi terbebani oleh permintaan Tarzia tersebut.
Saat di rumah, Ahmad menemui Bibi Lorenza. “Bibik bisa bikin es krim gak?” Tanyanya. “Bisa. Tuan mau es krim rasa apa?” Bibi Lorenza balik bertanya. “Aku lupa nanyain sama Zia.” Tutur Ahmad. “Tuan bicara sesuatu?” Untung saja Bibi Lorenza tak terlalu jelas mendengarnya karena Ahmad bicara dengan volume rendah. “Tolong tuliskan resep dasarnya ya Bik, ini penting.” Pinta Ahmad. “Baik Tuan.” Sebenarnya Bibi Lorenza merasa penasaran, tapi dia tak mungkin bertanya lebih lanjut lagi. Setelah menuliskan resep eskrim s**u, Bibi Lorenza mengetuk pintu ruang kerja Ahmad. “Masuk.” Pinta Ahmad. “Ini resep es krim yang Tuan minta.” Bibi Lorenza menyerahkan selembar kertas bertuliskan resep tersebut kepada Ahmad. Ahmad begitu bersemangat saat mengambilnya. “Makasih Bik.” Ucap Ahmad. Bibi Lorenza lalu keluar dari ruangan itu. “Untuk apa ya?” Dia masih penasaran.
Sudah malam namun terdengar suara dari arah dapur. Bibi Lorenza sampai terjaga dan segera memeriksanya. “Tuan?” Ternyata Ahmad sedang mencoba membuat es krim. Karena kaget akan kedatangan Bibi Lorenza, Ahmad menumpahkan 1 gelas s**u. Bibi Lorenza segera membereskan kekacauan itu. “Seharusnya Tuan bilang sama Bibik, biar Bibik buatkan.” Kata Bibi Lorenza. “Tarzia yang minta saya buatkan Bik.” Jelas Ahmad. Bibi Lorenzapun tertawa kecil. “Ya sudah, Bibik bantu ya.” Pinta Bibi Lorenza. Maka Ahmadpun mampu menyelesaikan memasak es krim dengan baik berkat arahan dari kepala asisten rumah tangganya itu. Adonan yang sudah dimasak segera dimasukkan dalam cetakan dan disimpan ke dalam freezer. “Akhirnya.” Ahmad merasa lega. Bibi Lorenza tersenyum melihat tingkah Ahmad. Tarzia yang tertidur pulas sama sekali tak menyadari kalau Ahmad tak ada di sampingnya.
Semua sudah berkumpul di meja makan. Ahmad lalu menghidangkan es krim buatannya di atas meja. “Pagi-pagi minum es?” Ibu Tarzia terkejut melihatnya. Ahmadpun tersenyum. Tarzia langsung mengerti dengan situasi itu. “Ini beneran Mas yang bikin kan?” Dia bertanya di dalam hati sambil melihat ke arah Ahmad. Ahmadpun mengangguk. “Silahkan dicoba.” Pinta Ahmad. Tarzia mencicipi es krim lezat itu. “Em... Ini pasti pesan di cafe kan?” Tebak Tarzia. “Enak sekali.” Puji Ibu Tarzia dalam bahasa Turki. Ahmad tersenyum mendengarnya. “Ini semua dibuat sendiri oleh Tuan Ahmad.” Bibi Lorenza angkat bicara meskipun Ahmad telah memberi kode agar dia diam saja. “Serius Mas?” Tarzia kagum pada Ahmad. “Mas harus buka usaha es krim.” Pujinya. Semua terlihat bahagia pagi itu. “Tapi kenapa? Ada pertanda baik kah?” Tanya Ibu Tarzia. Seketika pasangan muda itu terdiam. “Zia masuk kuliah hari ini.” Kemudian Ahmad segera mencairkan suasana. “Alhamdulillah... Semoga berjalan lancar.” Ibu Tarzia tersenyum pada putri semata wayangnya itu.
Tanpa menunggu lama lagi, Ahmad dan Tarzia segera berangkat menuju ke kampus. “Mudah-mudahan Mas Ahmad gak daftarin aku di tempat Jojo kuliah.” Tarzia kembali terlihat cemas. Do’anya seakan terkabul ketika mobil mereka melintas di depan kampus tersebut. “Huft.” Tarzia menghela nafas. “Kamu gugup?” Tanya Ahmad. Tarzia mengangguk. “Semua akan membaik setelah kamu punya teman-teman baru di sana.” Ahmad berusaha menenangkan Tarzia. Tibalah mereka di sebuah Universitas yang dimaksud. “Semangat.” Ahmad memberi dukungan pada Tarzia sebelum pergi dari sana. Tarzia melambaikan tangan. Tarzia melangkah masuk ke pekarangan kampus dan bertanya dimana kelasnya pada beberapa mahasiswa di sana. “Kamu mahasiswa baru ya?” Tanya seorang gadis berkacamata. “Iya.” Jawab Tarzia. “Ayo ke kelas, kebetulan kita satu jurusan.” Beruntungnya Tarzia langsung mendapatkan seorang teman hari itu. Mereka menuju ke kelas dan teman baru Tarzia langsung memperkenalkan dirinya pada mahasiswa lain yang berada di dalam kelas. “Temen-temen, kita dapat temen baru nih.”
“Hai, nama kamu siapa?” Tanya salah satu mahasiswa. “Tarzia, panggil aja Zia.” Jawab Tarzia. “Nama yang unik.” Gumam seorang pemuda yang duduk di bangku belakang. “Tinggal dimana?” Tanya mahasiswa lainnya. “Status dong...” Yang lain ikut bertanya. “Tinggal di rumah orang tuanya dan menikmati harta orang tuanya yang kaya raya. Statusnya anak Sultan. Betul tuan Putri?” Rupanya pemuda itu tak menyukai Tarzia. “Kevin!” Gadis berkacamata yang berdiri di samping Tarzia menegurnya. “Maaf ya Zia, Kevin emang gitu orangnya. Ayo duduk.” Ajak gadis berbaju pink itu. “Itu benar.” Tapi Tarzia malah menaggapi tuduhan Kevin tadi. “Sampai saat ini saya belum memiliki tempat tinggal dengan kepemilikan atas nama saya sendiri. Apakah teman-teman di sini ada yang sudah memiliki tempat tinggal sendiri?” Pertanyaan Tarzia membuat semua mahasiswa di kelas terkejut. “Aku nge-kost.” Jawab gadis berkacamata tadi. “Itu bukan rumah kamu dong.” Ejek mahasiswa yang lain. Merekapun tertawa, tapi tidak dengan Kevin. “Kamu?” Tarzia menantangnya. “Aku belum memiliki hunian yang disebut rumah atas kepemilikan sendiri. Tapi aku makan dengan penghasilanku sendiri.” Jawab Kevin. Tarziapun tertawa sinis. “Zia, udah lah...” Gadis berkacamata merasa cemas. “Apakah itu suatu kebanggaan buat kamu? Hanya makan untuk diri sendiri dan belum bisa memberi makan untuk orang lain yang membutuhkan?” Suasana perdebatan semakin memanas saja. “Bakal panjang nih.” Mahasiswa saling berbisik satu sama lain. “Baru kali ini ada orang yang berani ngelawan Kevin.” Kevin benar-benar diskakmat oleh Tarzia. Dia tak tau harus menjawab apalagi. “Kamu boleh menghardik orang lain kalau diri kamu sudah jauh lebih baik dari orang itu.” Tarzia lalu duduk di bangkunya. Semua mahasiswa memberikan tepuk tangan pada Tarzia. “Selamat pagi.” Dosen masuk ke kelas. Kevin masih melihat Tarzia dengan penuh keheranan.
Saat jam istirahat, Tarzia dan teman barunya menuju ke kantin. “Oh ya, kita belum kenalan, namaku Pinky.” Gadis berkacamata mengulurkan tangan dan Tarzia menyambutnya dengan ramah. “Maafin Kevin ya, dia itu sebenarnya baik. Dia Cuma gak suka sama orang kaya yang sombong. Karena pakaian kamu bagus dan tas kamu bermerek, dia pikir kamu orang yang sombong.” Pinky menceritakannya pada Tarzia. “Aku gak marah kok, aku Cuma gak suka cara dia seperti itu. Masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan supaya orang-orang kaya tidak sombong.” Kata Tarzia. Rupanya Kevin mendengar pembicaraan mereka. “Cewek ini emang beda.” Itulah yang dipikirkan Kevin.
Tarzia sangat senang bisa melanjutkan kuliah lagi dan mendapat teman-teman baru yang menyenangkan. “Aku senang kamu semangat belajar lagi.” Gumam Ahmad setelah mendengar cerita Tarzia. “Makasih ya Mas.” Ucap Tarzia. “Kamu kebanyakan terimakasih.” Protes Ahmad. Merekapun tertawa bersama.
Setelah kejadian hari pertama di kampus, Kevin tak berani bicara apa-apalagi pada Tarzia. Tarzia dan Pinky juga mulai akrab, kemana-mana mereka sering bersama. “Oh ya, besok aku gak kuliah ya.” Kata Pinky suatu hari. “Kenapa, kamu ada masalah? Kamu sakit?” Tarzia terlihat khawatir. Pinky sampai tertawa karena Tarzia bertingkah seperti orang tua. “Bukan... Aku mau nonton tour consert band favorit aku.” Jawab Pinky. Kini giliran Tarzia yang tertawa. “Demi band kamu sampai gak masuk kuliah...”
“Cuma 1 hari kok.” Kata Pinky. “Yaudah, have fun ya.” Tarzia memeluk sahabatnya itu. Band yang dimaksud oleh Pinky tak lain dan tak bukan adalah Davinci Band. “Hari ini tour pertama kita adalah di Kota kita sendiri. Ciptakan euforia penonton dan jadilah pusat perhatian mereka.” Pak Vero memberi pengarahan sebelum Davinci tampil di atas panggung. “Kalian siap?” Tanyanya. “Siap!” Mereka menyatukan kepalan tangan dan bersorak dengan penuh semangat.
Terpaksa Tarzia sendirian ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas kelompok. Tarzia tak bisa mengambil buku yang berada di rak paling atas. Kevin berinisiatif mengambilkannya untuk Tarzia. “Makasih.” Ucap Tarzia. “Pinky kemana?” Tanya Kevin. “Sedang ada keperluan.” Tarzia berbohong pada Kevin. “Kamu juga sendirian.” Kemudian Tarzia balik menanyai Kevin. “Aku memang selalu sendirian.” Kevin begitu sensitif dengan pertanyaan Tarzia sampai-sampai dia keluar dari perpustakaan. Tarzia merasa heran dengan sikap Kevin. Saat pulang kuliah, Tarzia memilih naik taxi dan mengikuti Kevin yang pulang dengan sepeda motornya ke sebuah rumah mewah. “Dia benci orang kaya, tapi dia sendiri orang kaya.” Tarzia semakin bingung dibuatnya. Penyelidikan Tarzia terhenti sampai di sana.
Entah kenapa Tarzia tertarik menyelidiki tentang Kevin sampai-sampai saat Kevin sudah pergi dari rumah, Tarzia datang ke rumah Kevin. “Supri, tunggu sebentar ya.” Perintah Tarzia. “Siap Non.” Jawab supir Tarzia. Tarzia menekan bel pintu dan seorang asisten rumah tangga membukakan pintu. “Cari siapa ya?” Tanya wanita itu. “Kevinnya ada?” Tarzia sengaja berbohong. “Baru saja pergi.” Jawab wanita yang bekerja di rumah Kevin. “Boleh saya ketemu orang tuanya? Ini penting.” Pinta Tarzia. “Silahkan masuk.” Wanita itu mempersilahkan Tarzia masuk. “Siapa yang datang?” Tanya seorang Nenek yang duduk di atas kursi rodanya. “Temannya Mas Kevin Buk.” Jawab wanita itu. “Nenek ini pasti Neneknya Kevin.” Tebak hati Tarzia. Nenek Kevin melihat Tarzia dari ujung kaki sampai kepala. “Apa dia pacarnya Kevin?” Pikir Nenek. “Pagi Nek, saya teman kampusnya Kevin.” Tarzia memperkenalkan diri. “Mari duduk.” Nenek menyambutnya dengan hangat. “Tolong buatkan teh ya.” Perintah Nenek pada wanita tadi. “Kamu cantik sekali.” Puji Nenek. Tarzia merasa tersanjung mendengarnya. “Nenek sendirian di rumah?” Tanya Tarzia. “Dulu rumah ini ramai, tapi kemudian semua sibuk dengan bisnis mereka masing-masing, di Papua, di Kalimantan, bahkan di luar Negeri. Semuanya pergi dan tinggallah Nenek sendirian.” Jawab Nenek. “Orang tua Kevin juga pergi Nek?” Tanya Tarzia. “Orang tuanya yang tidak beruntung karena menyia-nyiakan anak sebaik Kevin.” Jawaban Nenek kali ini membuat Tarzia bingung. “Kalau bukan karena Kevin, saya pasti sudah meninggal.” Kemudian Nenek memulai ceritanya.
10 tahun yang lalu, Nenek yang baru pulang berbelanja seorang diri kesulitan membawa barang belanjaan yang berupa bahan dapur hingga buah tomat bertumpahan ke jalan, Nenek mencoba memungut kembali tomat-tomat tersebut tanpa menyadari sebuah mobil menuju ke arahnya. “Awas Nek!” Seoarang anak kecil menyelamatkannya dari kecelakaan bahkan dia sampai terluka. Nenek segera membawa Kevin ke rumah sakit untuk diobati. “Kamu gak papa kan?” Tanya Nenek. “Anak laki-laki gak boleh cengeng. Harus kuat.” Jawab Kevin. Nenekpun tersenyum. “Kata Dokter kamu sudah boleh pulang, ayo, Nenek antar pulang.” Nenek membantu Kevin berdiri. “Gak usah Nek, saya memang tinggal di jalanan.” Jawab Kevin kala itu. Hati Nenekpun tersentuh, dia memutuskan mengadopsi Kevin. Kini Tarzia mengerti mengapa Kevin membenci orang kaya.
Tarzia mencari Kevin di Kampus, dia mengingat kata-kata Nenek tadi. “Selama ini Kevin gak pernah ngajak teman ke rumah dan gak ada temannya yang datang ke rumah. Pasti kamu orang yang sangat peduli sama dia. Tolong jaga Kevin dia. Nenek tau dia laki-laki yang kuat fisiknya, tapi hatinya tidak.” Nenek menggenggam kedua tangan Tarzia. Tarzia merasa bersalah pada Kevin dan dia merasa bertanggung jawab atas diri Kevin. Tarzia melihat Kevin masuk ke ruang kesenian, diapun menyusul ke sana. Tampaknya Kevin sedang melukis. “Kamu punya bakat melukis juga.” Tarzia menyapa Kevin. Saat itu Kevin sedang menggambar sketsa wajah Tarzia di buku gambar, dengan cepat dia menutup buku gambarnya agar tak ketahuan. “Maaf, aku mengganggu ya?” Tarzia merasa tak enak hati. Kevin memasukkan kembali buku gambar dan alat gambarnya ke dalam tas. “Kamu gak mau berteman sama orang yang pernah luntang lantung di jalanan kayak aku?” Tarzia menghentikan langkah Kevin yang hendak keluar dari ruangan seni. “Kamu benci orang kaya tapi kamu gak mau berteman dengan orang biasa kayak aku?” Lanjut Tarzia. Kevinpun menoleh. “Hidup itu seperti sebuah roda yang terus berputar, sekarang aku sedang di atas, dulu aku pernah di bawah.” Tarzia menghampiri Kevin. “Aku mau berteman sama kamu.” Itulah tujuan Tarzia. Kevin terdiam sejenak dan menatap mata Tarzia yang penuh dengan ketulusan. “Bagi aku hidup itu seperti film, aku memilih genre ini dan kamu dengan genre yang berbeda.” Sesaat tanggapan Kevin sungguh mengecewakan, tetapi kemudian. “Aku rasa gak ada salahnya 1 film dengan 2 genre.” Dia meralatnya dan Tarziapun tersenyum lega. Keduanya tertawa. “Teman?” Tarzia mengulurkan tangan. Persahabatan mereka dimulai hari itu.
“Ini amazing. Kevin mau bergaul sama orang lain?” Pinky terkejut saat mendengar cerita Tarzia. “Kita harus bisa memahami Kevin, dia gak seperti yang kita kira.” Jelas Tarzia. “Jangan bilang kamu naksir sama dia.” Tuduh Pinky. Tarzia tertawa mendengarnya. “Pinky, aku udah nikah.” Tarzia menunjukkan cincin kawinnya di jari manis. Mulut Pinky menganga. “Serius?” Dia seakan tak percaya. “Umur kamu baru 20 tahun dan kamu udah nikah?”
“Iya.” Jawab Tarzia. “Tapi tolong rahasiakan dari yang lain ya? Soalnya aku gak mau mereka berfikir yang aneh-aneh tentang aku.” Pinta Tarzia. Pinky menganggukkan kepala. “Kamu tenang aja.” Mereka lalu berpelukan.
Tarzia menjadi pusat perhatian di Kampus karena kepandaian dan kebijaksanaannya, bersama Kevin dan Pinky, dia mengikuti organisasi di Kampus yang bertujuan untuk mengajar anak-anak jalanan. “Jangan lupa, minggu besok kita ngajar anak-anak pengamen.” Kevin mengingatkan Tarzia dan kelima orang anggotanya yang lain. Setiap hari minggu, Tarzia akan pergi dari rumah. “Zia!” Hari itu sang Ibu memanggilnya. “Ibuk perhatikan semenjak kuliah, kamu jadi terlalu sibuk di luar, bukannya mengurus suami, urus rumah tangga.” Ibuk menegegur Tarzia. “Buk, ini adalah langkah awal Zia mencapai cita-citanya. Ahmad gak papa kok. Lagipula urusan rumah tangga kan ada asisten rumah tangga.” Ahmad datang untuk membelanya. “Kamu terlalu memanjakan dia, sama seperti almarhum Ayahnya dulu. Mudah-mudahan dia gak mengulang hal yang sama.” Ibuk memilih pergi meninggalkan mereka berdua di sana. Tarzia sedih mendengar perkataan Ibunya. Ahmad memegang pundak kiri Tarzia. “Jangan khawatir soal Ibuk. Sana pergi, nanti kamu terlambat. Anak-anak pasti udah nunggu kan.” Dia membuat Tarzia tersenyum kembali.