Cinta Diam-diam

4990 Kata
Seperti biasa, Tarzia akan diantarkan oleh Supri, supir pribadinya ke lokasi mengajar. Teman-teman Tarzia sudah menunggu di sana. “Maaf aku terlambat.” Dia menyapa Kevin. “Yang lain kemana?” Tanyanya. “Mereka udah gerak duluan. Kita berangkat.” Ajak Kevin. “Ayo.” Tarzia dan Kevin menuju ke lokasi mengajar yang berada di bawah jembatan. “Adik-adik, kenalin ini Kak Tarzia.” Kevin memperkenalkan Tarzia pada anak-anak pengamen yang berumur antara 10 sampai 12 tahun itu. “Tarzan?” Salah satu anak menggoda Tarzia. Tarziapun tertawa. “Iya, Tarzan wanita, yang pemberani dan tidak takut menumpas kejahatan.” Jawabnya. Kevin turut senang karena Tarzia tak memarahi anak tersebut. Merekapun mulai mengajar anak-anak tersebut. Di saat sedang serunya mereka bernyanyi lagu-lagu Nasional, tiba-tiba hujan turun. Anak-anak jalanan segera berhamburan berlarian ke tempat lain yang lebih aman. Tarzia sibuk membereskan buku-buku bacaaan yang dibagikan kepada anak-anak tadi. “Tarzia, ayo!” Kevin mengajaknya pergi. “Buku dan alat tulisnya gimana?” Tarzia malah mengkhawatirkan hal itu. “Di sini gak aman, kalau air sungainya pasang, bisa bahaya.” Kevin mencoba menjelaskannya pada Tarzia. Tarzia memasukkan buku-buku itu ke dalam tas yang mereka bawa, Kevin ikut membantunya. Kevin melepas jaketnya lalu memayungi kepala mereka berdua agar dapat menembus hujan dan berlindung di depan sebuah toko. Tarzia nampak kedinginan. Saat itulah Kevin melihat sosok Tarzia sebagai gadis yang tangguh. Dia memakaikan jaketnya pada Tarzia. “Kamu gimana?” Tarzia mengkhawatirkan Kevin yang hanya memakai kaos lengan pendek. Kevin tak menanggapinya dan malah mengalihkan pembicaraan. “Mudah-mudahan hujannya cepat reda.” Dia melihat ke langit. “Tarzia gak bawa payung atau jas hujan. Dia bisa sakit.” Ahmad mengkhawatirkan Tarzia manakala dia melihat hujan yang membasahi kaca jendela ruang kerjanya. Ahmad lalu menelpon Tarzia. Karena handphonenya berdering, Tarzia merogoh tas dan hendak mengambil handphonenya. “Jangan diangkat.” Tetapi Kevin melarangnya. Petir lalu menyambar ke sungai yang berada tepat di depan mereka. Tarzia berteriak ketakutan. Kevin memeluk Tarzia dan mereka memilih jongkok di teras toko tersebut. “Gak diangkat?” Ahmad merasa khawatir. “Aku harus ke sana sekarang.” Ahmad keluar dari ruang kerjanya dan meminta seorang asisten rumah tangganya mengambilkan jas hujan. “Ambilkan payung dan jas hujan.” Perintahnya. “Baik Tuan.” Segera asisten tersebut mengambilkan payung dan jas hujan di ruang wardrobe. Tarzia masih menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan Kevin. “Kita pergi dari sini. Ayo.” Ajak Kevin. Tarzia menggenggam tangan Kevin, kevin membawa tas buku dan mereka berlari di tengah hujan menuju ke titik kumpul utama bersama teman-teman yang lain. Tarzia terus melihat Kevin. “Ada apa ini, kenapa dengan perasaanku?” Bisik hatinya. “Zia, kamu gak papa?” Pinky langsung memeluk Tarzia.  Saat melepaskan tangan Tarzia, Kevin merasa perasaan gelisah. “Kenapa aku gak rela melepaskan tangan dia?” Tanya hati Kevin. “Kita udahan aja hari ini.” Perintah Kevin pada semua anggotanya. Merekapun memutuskan berpisah di sana. “Aku duluan ya? Kamu dijemput supir kan?” Pinky mengkhawatirkan Tarzia. “Iya.” Jawab Tarzia. “Mau aku antar pulang? Tapi aku naik motor.” Kevin menawarkan bantuan. “Gak papa, bentar lagi supir aku datang.” Kata Tarzia. Kevin mengangguk. “Jaga diri kamu. Hati-hati.” Diapun pergi meninggalkan Tarzia sendirian di sana padahal hujan masih turun dengan lebat. Sebenarnya Kevin tidak benar-benar pergi dari sana, dia mengawasi Tarzia dari seberang jalan. Tak lama Ahmad datang untuk menjemput Tarzia di WarTeg tersebut. Kevin mengira Ahmad adalah Supri, supir pribadi Tarzia karena Ahmad memakai jas hujan saat menghampiri Tarzia sambil membawa payung. Kevin merasa lega karena Tarzia baik-baik saja, dia dapat kembali ke rumahnya tanpa beban. Ahmad membukakan pintu mobil untuk Tarzia. Lalu dia masuk ke dalam mobil. “Kok Mas yang jemput?” Tanya Tarzia. “Aku khawatir karena kamu gak bawa mantel dan payung. Jadi aku tanya sama Supri kamu dimana dan jemput ke sini. Aku coba telepon tapi gak diangkat.” Jelas Ahmad. “Tadi itu petir di sini, aku takut.” Jawab Tarzia. Lagi-lagi Tarzia teringat pada Kevin yang sangat peduli padanya tadi. “Temen-temen kamu mana?” Tanya Ahmad. “Iya, cuma temen.” Tarzia asal bicara saja. “Siapa?” Tanya Ahmad lagi. “Maksudnya mereka udah pulang sama temen-temen yang lain.” Tarzia meralat perkataannya tadi sebelum terjadi kesalah pahaman. Ahmad tak mempersoalkan jaket yang dipakai Tarzia bahkan sampai mereka sudah di rumah. Tarzia berganti pakaian di kamar mandi tamu yang ada di lantai 1. Tarzia melepas jaket milik Kevin, dia mencucinya sendiri dan menjemurnya di sana. Malam itu Tarzia tak dapat tidur. Dia keluar dari kamar dan menyendiri di teras lantai atas rumah mewah itu. “Sebenarnya apa yang aku rasain tadi? Pasti aku cuma kagum aja.” Tarzia bicara pada dirinya sendiri. Begitupun Kevin yang juga tak dapat tidur. “Gak, aku gak mungkin jatuh cinta sama dia.” Kevin berusaha menghilangkan bayang-bayang wajah Tarzia dari pikirannya. Ahmad terjaga dan menyadari kalau Tarzia tak ada di sampingnya, dia lalu bangun dan mengetuk pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci. “Kemana dia?” Ahmad merasa khawatir. Barusaja Ahmad hendak keluar dari kamar, Tarzia sudah masuk ke sana. “Mas, kamu mau kemana?” Tanya Tarzia. “Mau ambil air minum.” Ahmad berpura-pura mengmabil botol air di kamar yang sebenarnya masih tersisa setengah kemudian keluar dari kamar. “Untung Mas Ahmad gak lihat aku di balkon tadi.” Tarzia merasa lega. Di kampus keduanya saling berpapasan saat hendak masuk ke kelas, rasanya canggung sekali. “Kamu masuk duluan.” Ujar Kevin. Tarziapun menurut, dia masuk ke kelas. Kevin menyusul masuk ke kelas lalu duduk di bangku belakang, tempat favoritnya. Perkuliahan berjalan normal dan mereka bersikap seperti biasanya. “Pinky, aku ke bentar ya.” Tarzia meninggalkan Pinky sendirian karena sedang mencatat materi yang diberikan Dosen tadi. Tarzia menghampiri Kevin yang hendak keluar dari Kampus. “Kamu mau pergi?” Tanyanya. “Em, ada apa?” Jawab Kevin. “Soal jaket kamu, maaf ya, belum kering.” Tarzia hanya mau menyampaikan hal itu. Kevin mengambil handphone di kantong celananya dan berkata. “Kalau cuma mau bilang itu, SMS aja.”  “Aku mau bilang makasih juga.” Jawab Tarzia dengan nada ketus. “Makasihnya gak tulus. Traktir aku makan siomay di kantin.” Gumam Kevin sembari berlalu dari hadapan Tarzia. “Kevin!” Tarzia menyusulnya keluar dari kelas. “Mereka mau kemana?” Pinky melihat mereka pergi tanpa mengajaknya. “Yaudah deh.” Tetapi dia lebih peduli pada pelajaran ketimbang Tarzia dan Kevin. Tarzia membawakan 2 porsi siomay dan duduk di hadapan Kevin. “Jadi makanan favorit kamu itu siomay?” Tebak Tarzia. “Sebenarnya aku carnivora, pemakan segala, tapi siomay di sini emang the best sih, jadi aku ketagihan dan gak akan pernah bosan.” Jawaban Kevin membuat keduanya tertawa. “Kalau kamu?” Kevin balik bertanya. “Dulunya aku omnivora, tapi karena kepepet, akhirnya jadi carnivora juga.” Tarzia mencoba bercanda tetapi Kevin malah tak tertawa. Tarzia merasa malu dan konyol. “Ayo makan.” Kevin segera melahap siomay tersebut tanpa peduli perasaan Tarzia. Setelah makan sampai kenyang, Kevin tiba-tiba tertawa. Tak hanya Tarzia, mahasiswa lain yang sedang makan di kantinpun terheran-heran. “Kamu kenapa sih?” Tanya Tarzia. “Omnivora?” Kevin mengingat candaan Tarzia tadi. “Kamu baru ketawa sekarang?” Tarzia menepuk dahinya. “Tadi aku gak sanggup ketawa karena lapar, jadi aku tunda.” Kevin masih terus tertawa. Mereka kembali tertawa bersama tanpa peduli pada orang lain yang ada di sana. Bahkan sampai kembali ke kelaspun mereka masih tertawa kecil. “Kalian udah gila ya?” Pinky hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedua temannya itu. “Ternyata Kevin itu orangnya lucu juga.” Tarzia malah memikirkan tentang Kevin saat di perjalanan pulang. Saat tiba di rumah, Tarzia melihat Ijah sedang membawa pakaian kering untung disetrika. “Ijah, kamu ngelihat jaket abu-abu yang saya jemur di kamar mandi tamu semalam gak?” Tanya Tarzia. “Maksud Mbak, yang ini?” Ijah menunjukkannya. “Iya.” Tarzia mengambil jaket itu lalu membawanya ke kamar. Ijah juga bingung dengan sikap Tarzia. Tarzia melipat jaket Kevin dengan rapi kemudian memasukkannya ke dalam paper bag dan diletakkan di atas meja di kamar tidur. Ahmad sudah pulang dari kantor ketika Tarzia sedang mengerjakan tugas kuliahnya di ruang tengah. “Ada tugas kuliah?” Ahmad menyapanya. “Mas udah pulang?” Tarzia sedikit terkejut. “Lanjutin aja. Aku mau ganti baju.” Ahmad tersenyum dan segera berjalan menuju ke kamarnya. “Gawat, kalau dia lihat jaket Kevin...” Tarzia merasa cemas. Diapun meninggalkan tugasnya dan menyusul Ahmad. “Biar aku bawa tas kamu.” Tarzia mengambil tas kerja dari tangan Ahmad. “Tumben?” Ahmad tertawa kecil melihat Tarzia yang berjalan cepat masuk ke dalam kamar. Tarzia berdiri di depan meja tempat dia meletakkan paper bag berisi jaket milik Kevin. “Tas itu harusnya di ruang kerja.” Ujar Ahmad. “Iya, aku bawa kesana.” Tarzia memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa paper bag tadi bersamanya. Kini giliran Ahmad yang geleng-geleng kepala melihat tingkah Tarzia. Tarzia berhasil menyembunyikan hal itu dari Ahmad dan dia bisa punya alasan untuk bicara pada Kevin lagi keesokan harinya. “Kevin!” Tarzia memanggil Kevin yang sedang memarkirkan sepeda motornya di tempat parkir. “Kamu habis marathon?” Goda Kevin saat melihat Tarzia berlari kecil ke arahnya. Tarzia memberikan paper bag di tangannya pada Kevin. Kevin tak langsung mengambilnya. “Hari ini bukan ulang tahun aku.” Gumamnya. “Aku gak tau kapan kamu ulang tahun, jadi gak mungkin aku ngasih hadiah kan. Ini jaket kamu.” Tarzia merasa kesal akan perkataan Kevin barusan. Kevin mengambil paper bag itu lalu mengambil jaketnya. Kevinpun merasa lucu. “Kenapa?” Tanya Tarzia. “Makasih.” Ucap Kevin. “Ayo masuk ke kelas.” Segera Kevin memasukkan kembali jaketnya ke dalam paper bag dan mereka masuk ke kelas bersama-sama. “Temen-temen, minggu ini aku gak bisa ikut ngajar anak-anak jalanan dulu ya.” Kevin menyampaikannya saat mereka semua berkumpul di ruangan Organisasi Mahasiswa. “Gak papa kok Kevin, kebetulan aku juga ada acara di rumah.” Sahut salah satu anggota. “Yes, aku bisa nonton konser lagi.” Dengan polosnya gadis penggemar warna merah muda itu berbicara di depan teman-temannya sampai-sampai mereka tertawa terpingkal-pingkal. Sama sekali tak terlintas dalam benak Tarzia bahwa band yang dimaksud oleh Pinky adalah Davinci. Saat itu Joshua bersama teman-temannya sedang menikmati kepopuleran mereka. Joshua terus berlatih vokal agar tak mengecewakan para penggemarnya. Agaknya Joshua sudah mampu melupakan Tarzia seperti halnya Tarzia melupakan dirinya. “Mau ikut aku minggu ini?” Kevin berbisik pada Tarzia. “Kemana?” Tanya Tarzia. “Mengurus peternakan sapi Nenek di luar Kota.” Jawab Kevin. “Luar kota?” Tarzia terbelalak. “Di pedesaan.” Lanjut Kevin. Saat itu Tarzia bingung harus menjawab apa. “Orang kaya seperti kamu mana mau ke peternakan sapi.” Kevin beranjak dari samping Tarzia. “Minggu pagi di WarTeg tempat biasa, jam 8 pagi, jangan terlambat.” Tetapi kalimat Tarzia menghentikan langkah Kevin terhenti dan dia merasa sangat senang. “Naik motor.” Kevin menyembunyikan tawanya kembali dan menoleh. “Oke.” Tarzia tersenyum pada Kevin. Tarzia semakin tertarik pada Kevin dan dia merasa tak bisa lepas dari pemuda itu. “Besok kamu ada jadwal ngajar anak-anak jalanan lagi?” Tanya Ahmad sambil mengambil handuk dari lemari pakaian. “Besok kami mau ke peternakan sapi.” Jawab Tarzia yang juga mengambil pakaian di lemari. “Edukasi yang sangat bagus.” Ahmad mencoba tegar padahal hatinya tidak rela jika Tarzia harus pergi besok. “Aku mau ngajak kamu nonton ke bioskop Zia.” Namun semuanya dia tutupi demi kebahagiaan Tarzia. “Mungkin akan seharian Mas. Gak papa kan?” Tanya Tarzia dengan raut wajah penuh harap. “Enjoy.” Ahmad tersenyum padanya lalu segera masuk ke kamar mandi. Tarzia merasa bersalah pada Ahmad, tetapi dia tetap memutuskan untuk pergi. Mirisnya, Ahmad sendiri yang mengantarkan Tarzia ke tempat janji temu Tarzia dan Kevin. Beruntungnya saat itu Kevin belum datang. “Teman-teman kamu dimana?” Ahmad mengira Tarzia akan pergi bersama teman-teman Kampus. “Sebentar lagi datang.” Jawab Tarzia. “Aku pulang ya.” Ahmad kembali masuk ke dalam mobil. “Hati-hati.” Ujar Tarzia. Setelah Ahmad pergi, Kevinpun datang. “Aku gak telat kan?” Tanya Kevin. Tarzia menggelengkan kepala. “Ayo berangkat.” Kevin memberikan helm yang dibawanya pada Tarzia. Tarzia memakai helm lalu naik ke atas motor. Ahmad melihat mereka dari spion mobilnya. Ahmad terlihat sedih. “Ini keterlaluan Ahmad!” Mendengar cerita Ahmad, Dr. Salsabila, sahabat Ahmad menjadi emosi. “Itu perselingkuhan. Aku yakin cowok itu gak tau kalau Tarzia udah nikah.” Lanjut Salsabila. Ahmad sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kemarahannya. “Zia hanya seorang gadis yang haus akan cinta, dia kehilangan cinta pertamanya, lalu mendadak menikah dengan orang yang baru dikenalnya. Sayangnya suaminya itu terlalu sibuk dengan bisnis sampai tak ada waktu untuk dia.” Ahmad justru memaklumi apa yang dilakukan Tarzia padanya. “Aku bener-bener gak ngerti sama kamu. Kamu terlalu memanjakan dia, membebaskan dia berbuat apa saja, ini bukan cinta tapi kebodohan.” Salsabila masih tak habis pikir dengan sahabatnya itu. ”Kamu sahabat aku sejak kecil, kamu yang paling mengerti aku, tolong bantu aku untuk menyembuhkan diri aku dulu, baru aku bisa menyembuhkan luka hati orang lain.” Ahmad menarik tangan Salsabila agar duduk di sampingnya. Salsabila menghapus air mata yang akan jatuh ke pipinya. “Kalau Zia tau betapa besar cinta dan pengorbanan kamu, dia pasti akan menyesal. Semoga saat itu terjadi, semuanya belum terlambat.” Tutur Salsabila. Salsabila adalah seorang psikiater. Belakangan Ahmad datang padanya untuk menyembuhkan trauma masa lalunya demi Tarzia. “Ahmad?” Salsabila begitu bahagia ketika pertama kali Ahmad datang ke tempatnya bekerja. “Teganya kamu nikah gak undang aku!” Wanita itupun cemberut. “Ceritanya panjang. Semua serba mendadak.” Jawab Ahmad sambil masuk ke ruang praktek Salsabila. “Jangan bilang kalian...” Salsabila hampir saja terserang penyakit jantung karena dugaannya yang salah itu. “Itu gak mungkin, karena aku...” Ahmad terdiam sejenak. “Kamu gak papa kan?” Salsabila terlihat cemas. “Ayo duduk.” Salsabila mempersilahkan Ahmad duduk. “Aku takut berhubungan.” Ahmad mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengatakan kebenaran itu. “Genophobia?” Tebak Salsabila. “Aku gak tau apa istilahnya. Tapi aku mau kamu nolongin aku.” Pinta Ahmad. “Kamu harus ceritakan semuanya Ahmad, sejak kapan kamu seperti ini?” Tanya Salsabila. “Kejadian mengerikan itu muncul terus sejak aku kecil, kalau aku sendirian, kalau aku sedih, aku akan merasa ketakutan. Kamu ingat waktu SMA? Alasan Namira mutusin aku karena aku takut ciuman sama dia.” Ahmad mulai bercerita. “Ini benar-benar serius Ahmad.” Salsabila merasa prihatin. “Gak ada penyakit yang gak ada obatnya.” Salsabila memberi semangat pada Ahmad. Keduanyapun tersenyum. Sejak itulah Ahmad akan datang menemui Salsabila setiap1 minggu sekali. Perjalanan dengan sepeda motor terasa menyenangkan bagi Tarzia. “Peternakan Nenek masih jauh, kita istirahat dulu sambil makan sesuatu.” Gumam Kevin. Merekapun berhenti di depan sebuah warung sederhana di pinggir jalan. “Kevin?” Ternyata pemilik warung mengenalinya. “Apa kabar Buk?” Kevin menyapa wanita paruh baya itu. “Pacarnya ya?” Goda Wanita itu saat melihat Tarzia. “Ini Zia, teman kuliah.” Kevin meperkenalkannya pada Tarzia. “Cantik banget, mirip orang Turki.” Puji Wanita itu. Tarziapun tersenyum. “Ibu saya orang Turki.” Kata Tarzia. “Wow, aku baru tau.” Kevin dibuat kagum. Pemilik warung menyajikan makanan untuk mereka. “Orang Turki makan ikan lele juga gak?” Goda Kevin. “Jangan ngeledek. Aku lahir dan besar di Indonesia, aku bahkan gak bisa bahasa Turki.” Tarzia melotot pada Kevin. Kevinpun tertawa. “Pecel lele di sini enak banget.” Kemudian diapun menikmati makanan tersebut sampai habis. “Kami pamit Buk.” Setelah membayar, Kevin berpamitan pada Pemilik warung. “Jangan lupa mampir lagi pas balik ya.” Wanita itu melambaikan tangan melepas Kevin dan Tarzia yang akan melanjutkan perjalanan. “Supir kamu bisa istirahat hari ini.” Tiba-tiba Kevin kembali mengganggu Tarzia. “Iya, hari ini aku dapat supir baru.” Tarzia membalas Kevin. “Berarti aku perlu dapat gaji kan?” Kata Kevin. “Tolong fokus aja ya Pak.” Perintah Tarzia. “ Siap, laksanakan.” Kevin menertawai Tarzia. Akhirnya mereka sampai di peternakan sapi milik Nenek Kevin. Peternakan itu cukup besar dan banyak sapi perah di sana. “Mas Kevin.” Seorang pria menyambut mereka. “Ini Zia, temen saya. Zia, ini Mamang, pengelola peternakan sapi di sini.” Kembali Kevin memperkenalkan Tarzia. “Mbak Zia pasti belum pernah ngerasain s**u segar yang diperah langsung dari peternakan kan? Mari Mbak, ikut saya.” Mamang langsung ramah pada Tarzia. “Ayo, kita cicipi.” Ajak Kevin. Setelah itu mereka masuk ke dapur pengolahan s**u. “Dari sini, s**u-s**u sapi segar diolah menjadi permen dan biskuit yang bisa dijual.” Kevin menjelaskannya pada Tarzia. Tarzia masih terpana melihat kelihaian para pekerja di sana. “Ini Mbak, Mas.” Mamang memberikan 2 gelas s**u pada mereka berdua. Kevin langsung meminumnya sampai tersisa setengah gelas sedangkan Tarzia hanya minum sedikit. “Kenapa, gak suka?” Tanya Kevin. “Bukan, aku gak biasa aja. Rasanya aneh.” Jawab Tarzia. Mamangpun tertawa. “Iya, gak papa Mbak. Cobain permen atau biskuitnya.” Mamang lalu mengambil sebuah permen dan sebungkus biskuit yang baru saja dikemas oleh salah satu pekerja. “Silahkan.” Dan memberikannya pada Tarzia. “Makasih.” Ucap Tarzia. Setelah mencicipinya, Tarzia langsung ketagihan. “Enak banget Mang.” Dia menghabiskan biskuit tersebut lalu segera memakan permen s**u berbentuk lolipop di tangannya. “Enak banget.” Tarzia begitu menikmatinya. Kevin tersenyum melihatnya. Setelah beristirahat sejenak di rumah kayu yang ada di peternakan, Kevin mengajak Tarzia pergi. “Ayo ke kandang sapi.” “Ngapain?” Tanya Tarzia yang sedang minum segelas s**u cokelat dalam kemasan. Di lain tempat, Ahmad sedang mengantarkan Salsabila kembali ke rumah sakit. “Makasih ya udah nemenin aku ke bioskop?” Ucap Ahmad. “Mubazir kan kalau tiketnya gak kepakek.” Salsabila menghibur Ahmad. Keduanya tertawa bersama. “Udah lama aku gak ngelihat kamu ketawa kayak gini lagi.” Salsabila terharu melihat sahabatnya itu. “Aku pulang dulu.” Ahmad berpamitan pada Salsabila. “Kamu gak mau makasih sama Ibu sapi yang udah ngasih s**u seenak yang kamu minum itu?” Gumam Kevin. “Iya, iya... Bawel.” Tarziapun segera pergi bersama Kevin ke kandang sapi. “Kamu gak jijik?” Tanya Kevin. “Dulu almarhum Ayah aku juga punya sapi dan kerbau, bukan sapi perah sih. Jumlahnya juga gak sebanyak di peternakan ini. Tapi aku udah biasa berbaur sama mereka.” Tarzia sedikit bercerita padanya. “Berarti mandiin sapi gak masalah dong?” Kata Kevin. “Mandiin?” Mata Tarziapun terbelalak mendengarnya. Mau tak mau Tarzia harus memandikan sapi di sana. Sangat mudah bagi Kevin karena sudah biasa melakukannya, tapi Tarzia malah ketakutan. “Kamu belum pernah mandiin sapi atau kerbau Ayah kamu?” Ejek Kevin. “Semua dikerjakan sama pekerja di tempat Ayah aku.” Tarzia membela diri. “Caranya mudah, seperti mandi diri sendiri juga.” Kevin lalu mengambil selang air dan mengarahkannya ke tubuh Tarzia. “Kevin!” Tarzia menjadi marah, dia berusaha mengejar Kevin yang terus menyiramnya dengan air. Keduanyapun basah kuyup akibat bermain air. “Kamu bawa baju ganti kan?” Tanya Kevin saat tiba di penginapan mereka tadi. “Iya, harusnya buat balik ke rumah.” Tarzia masih kesal pada Kevin. “Maaf.” Ucap Kevin. Tarzia tak menyangka pemuda super cuek seperti Kevin mau meminta maaf. “Setelah ini kita gak main air lagi. Kita mau yang santai-santai aja sambil duduk.” Tambah Kevin. Ternyata yang dimaksud oleh Kevin adalah memerah s**u sapi. “Aku gak tau caranya.” Keluh Tarzia. “Kamu bisanya apa sih?” Kevin kembali membuat Tarzia jengkel. “Sini, aku ajarin.” Kevin menarik bangkunya dan duduk di samping Tarzia. Kevin memegang tangan kanan Tarzia dan mengajarinya cara memerah s**u sapi. Jantung Tarzia berdegup kencang. Mereka begitu dekat. “Sekarang lanjutin sendiri ya.” Pinta Kevin. Tarzia menganggukkan kepala. Dalam 1 hari, Tarzia bisa mengerjakan hal-hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Kevin mengajarkan Tarzia arti kesederhanaan dan kerja keras. Tarzia juga turut memasak di dapur pengolahan s**u yang diperahnya bersama Kevin tadi. “Kamu hebat juga.” Kevin memuji hasil biskuit buatan Tarzia. “Udah hampir sore, kita siap-siap pulang.” Kevin mengatakan hal yang tidak ingin didengar oleh Tarzia. “Itu artinya kebersamaan kita...” Tarzia terlihat kecewa. “Ayo.” Ajak Kevin pada Tarzia yang sedang tertegun. Tarzia memasukkan pakaian basahnya yang sudah kering ke dalam ranselnya, Kevin juga telah selesai berkemas. “Jangan lupa oleh-olehnya.” Kevin memberikan beberapa kotak s**u ditambah 1 kotak penuh berisi permen s**u dan beberapa biskuit hasil olahan peternakan milik Neneknya pada Tarzia. “Ini semua buat aku?” Tarzia begitu antusias. “Masih muat kan?” Kevin tersenyum melihat Tarzia yang kegirangan. “Makasih...” Ucap Tarzia. Tak lupa mereka berpamitan pada Mamang. “Makasih ya Mang.” Ucap Tarzia. “Sama-sama Mbak, sering-sering datang kemari ya? Ajak kekuarga Mbak juga.” Ujar Mamang. Mendengar kata keluarga, Tarzia langsung teringat pada Ahmad. “Kami pergi Mang.” Kevin memeluk Mamang. “Hati-hati Mas.” Ucap Mamang. Tarzia merasa sedih karena kebersamaan dan tawa candanya bersama Kevin akan berakhir sore itu. “Pegangan ya, aku akan ngebut supaya kita gak kemalaman.” Perintah Kevin. Awalnya Tarzia ragu memeluk pinggang Kevin, dia hanya memegang jaket Kevin saja. Tetapi karena ada sapi yang tiba-tiba menyebrang di jalan, Kevin mengerem mendadak dan Tarzia respon memeluk Kevin. “Maaf Mas.” Pemilik sapi segera berlari untuk menarik tali pengikat di leher sapinya. Kevin tak memarahi pria tersebut, dia kembali mengendarai sepeda motornya. “Kamu gak papa kan?” Kevin mengkhawatirkan Tarzia. “Gak papa.” Tarzia hendak melepas tangannya dari pinggang Kevin. “Kan aku udah bilang pegangan yang erat.” Tetapi Kevin menarik tangan Tarzia agar tetap memeluk pinggangnya. Tarziapun tak melepaskan tangannya lagi. Kevin mengantarkan Tarzia ke tempat mereka bertemu. “Kamu yakin gak mau aku antar sampai rumah?” Tanya Kevin. “Iya. Makasih ya.” Ucap Tarzia. Tak ada yang bisa dikatakan Kevin lagi, diapun segera pergi dari sana. Tarzia memanggil taxi dan dia memilih pulang ke rumah dengan taxi. “Non, kok pulang naik taxi? Kan ada Supri.” Security yang membukakan pintu pagar bertanya pada Tarzia. “Gak papa. Saya masuk dulu.” Tarzia berlalu dari hadapnnya dengan wajah lesu. Ibunya sudah menunggu di ruang tamu. “Tunggu dulu Zia.” Dia mencegah Tarzia yang akan naik ke lantai 2. “Ibuk belum tidur?” Tarzia terkejut melihatnya. “Kamu pikir ada orang tua yang bisa tidur kalau anak perempuannya keluyuran setiap hari seperti kamu?” Sang Ibu nampak marah padanya. “Kamu pikir suami kamu bisa tidur kalau istrinya lebih sering di luar rumah?” Lanjut Ibunya. “Buk, Zia gak keluyuran, Zia kuliah tiap hari, jumat ada bakti sosial di komplek ini, minggu ada jadwal ngajar.” Tarzia menjelaskannya. “Hebat sekali, kamu lebih sibuk daripada suami kamu yang punya banyak hotel di Indonesia.” Ibu Tarzia memberikan tepuk tangan pada Tarzia. Ahmad memang belum tidur saat itu, dia menyendiri di ruang kerjanya. “Pokoknya Ibuk mau mulai besok, kamu gak boleh ikut ngajar anak-anak jalanan lagi!” Tegas Ibunya. Tarzia merasa sedih dengan keputusan sang Ibu, dia menuju ke kamarnya dengan lesu. “Kamu udah pulang?” Ahmad juga akan masuk ke kamar. “Mas belum tidur?” Tarzia terkejut melihatnya. “Kamu pasti bawa banyak oleh-oleh kan? Ransel kamu kelihatannya berat banget.” Ahmad mengalihkan pembicaraan. Tarzia melepas ranselnya. “Iya.” Jawabnya. “Ayo kita lihat.” Ahmad membuat suasana canggung menjadi ceria dengan antusiasmenya menyambut kepulangan Tarzia. Ahmad membawa ransel Tarzia masuk ke dalam kamar dan dia duduk di atas tempat tidur. “Wah... Ada banyak sekali.” Ahmad membongkar isi ransel Tarzia. Tarzia berusaha tersenyum di depan Ahmad. “Kenapa kamu baik banget sama aku Mas?” Kemudian dia menjadi sentimentil. Ahmad menatap wajah Tarzia yang duduk di hadapannya. “Kamu kenapa?” Ahmad menyentuh wajah Tarzia. Air mata tak terbendung lagi menetes ke pipinya. “Aku gak pantas mendapatkan perlakuan sebaik ini dari kamu.” Tarziapun menangis. Ahmad menghapus air mata di pipi Tarzia lalu memeluknya. “Lepaskan saja kalau kamu merasa berat. Janganmenyiksa diri kamu.” Kata-kata Ahmad semakin membuat Tarzia sesegukan. Tanpa sadar dia tertidur dalam dekapan Ahmad. Ketika terjaga, Tarzia segera melepaskan pelukan Ahmad yang juga ikut tertidur. Tarzia buru-buru bangun dan merapikan barang-barang di dalam ranselnya. Tarzia berangkat ke kampus diantarkan oleh Ahmad, seperti hari pertamanya saat ke sana dulu. “Nanti siang, Supri akan jemput kamu.” Kata Ahmad. Tarzia mengangguk. Setelah Ahmad berlalu dengan mobil mewahnya, Pinky menghampiri Tarzia. “Suami kamu ganteng banget...” Pujinya. “Ssst... Jangan keras-keras, nanti ada yang dengar.” Tarzia memberi isyarat. “Oops... Sorry.” Pinky membekap mulutnya sendiri. “Kemarin kamu kemana?” Tanya Pinky. “Peternakan sapi.” Jawab Tarzia dengan jujur. Tak lama Kevin menyusul mereka. “Gimana konsernya kemarin?” Dia menggoda Pinky. “Seru banget. Tau gak, salah satu personelnya minta nomor telepon aku waktu kami antri minta tanda tangan mereka.” Pinky begitu bersemangat saat menceritakannya. Tarzia tertawa mendengarnya. “Kayaknya dia naksir sama aku deh.” Pinky tersipu malu ketika mengingat Chiko berbisik padanya. “Boleh minta nomor telepon kamu gak?” Jantung Pinky hampir copot rasanya. Dia menuliskan nomor telepon rumahnya di secarik kertas dan memberikannya pada Chiko. “Aku gak percaya.” Kevin meremehkan Pinky. “Terserah.” Pinky merasa kesal pada Kevin, dia lalu pergi meninggalkan Kevin dan Tarzia. “Pinky!” Bahkan Pinky tak menghiraukan panggilan Tarzia. “Hari ini aku ulang tahun.” Kata Kevin. “Selamat ulang tahun.” Tarzia turut senang mendengarnya. “Apa ini? Ucapan tanpa hadiah?” Kevin tak menyambut uluran tangan Tarzia. “Aku kan pernah bilang, aku gak tau kapan kamu ulang tahun, jadi aku gak sempat nyiapin hadiah.” Jawab Tarzia. “Nanti siang, tunggu aku di tempat parkir.” Gumam Kevin yang segera menuju ke kelas tanpa mendengarkan dulu penolakan Tarzia. “Aku gak bisa.” Tarzia menjadi serba salah. Siang itu Tarzia menunggu Kevin di tempat parkir. “Ayo.” Kevin mengajak Tarzia pergi. “Bentar lagi supir aku datang.” Kata Tarzia. “Oke. Aku pergi sendiri untuk beli hadiahku sendiri.” Kevin menyalakan mesin motornya. “Oke, aku ikut.” Tarzia berhasil mencegat Kevin. “Bentar.” Tarzia menghampiri satpam Kampus. “Pak, bentar lagi supir saya datang, tolong suruh tunggu aja di sini ya. Saya ada jam kuliah tambahan.” Tarzia memberikan sedikit uang pada satpam tersebut. Kevin yang melihat merasa penasaran. “Ngapain dia?” “Oh... Supir Mbak. Oke.” Ternyata Satpam itu mengenal Supri. “Makasih ya Pak.”Ucap Tarzia. “Pokoknya beres.” Jawab Pak Satpam. Tarzia kembali menemui Kevin. “ Ayo.” Ajaknya. Maka merekapun segera pergi dari Kampus. “Kita mau kemana?” Tanya Tarzia. “Pulang.” Jawaban Kevin membuat Tarzia kaget. “Pulang ke rumah kamu?” “Iya, masa ke rumah kamu. Entar kita malah dinikahin lagi.” Perkataan Kevin membuat Tarzia terdiam. Tak ada yang istimewa di rumah Kevin. Tidak ada perayaan di luar rumah. “Ayo masuk.” Kevin membukakan pintu rumahnya. Di dalam rumahpun biasa saja. “Kamu udah pulang?” Nenek menyambut mereka bersama asisten rumah tangganya. “Kamu yang waktu itu datang kan?” Ternyata Nenek maaih mengingat wajah Tarzia. Kevinpun menjadi penasaran. “Kamu pernah ke sini sebelumnya?” Kevin memastikannya kembali. “Iya, Non ini temennya Mas Kevin kan.” Bahkan asisten rumah tanggapun masih mengingat Tarzia. Tarzia merasa malu mengingatnya. “Yasudah, ayo kita makan.” Ajak Nenek. Saat menuju ke ruang makan, Tarzia dibuat takjub karena menu makanan yang dihidangkan di atas meja sangat banyak. “Hari ini pertama kali Nenek ketemu sama Kevin, jadi Nenek menjadikan hari ini sebagai hari ulang tahun Kevin.” Nenek menceritakannya pada Tarzia. “Ayo kita makan.” Nenek mempersilahkan mereka untuk makan bersama. Nenek Kevin adalah orang yang sangat baik, dia memperlakukan asisten rumah tangga seperti anggota keluarganya sendiri. Mereka duduk bersama di sana tanpa ada perbedaan perlakuan. “Ini semua resep andalan Nenek loh.” Ungkap asisten rumah tangga. “Zia harus banyak belajar dari Nenek.” Tarzia memuji Nenek. “Nenek akan ajarkan semuanya sama kamu, Kevin ini senang makan. Dia suka semua makanan.” Kata Nenek. “Iya Nek, dia omnivora yang rakus.” Tarzia menggoda Kevin. Nenekpun tertawa mendengarnya. Setelah menikmati hidangan makanan yang lezat. Mereka mengobrol di ruang tamu. “Maaf ya Nek, Tarzia gak bawa kado buat Kevin. Soalnya Zia baru tau kalau hari ini Kevin ulang tahun.” Ucap Tarzia. Kevin hanya tersenyum, dia tak banyak bicara di depan Neneknya. “Kamu adalah kado terindah untuk Kevin.” Mata Nenek Kevin mulai berkaca-kaca. Nenek meraih tangan kanan Tarzia dan tangan kanan Kevin untuk menyatukannya. “Selama hidupnya, Kevin selalu mementingkan kebahagiaan orang lain. Dia menjaga Nenek, mengurus Nenek, membantu orang-orang yang membutuhkan, sampai-sampai gak ada waktu untuk bergaul dengan teman-teman sebayanya.” Nenek meneteskan air mata. “Nenek. Kevin kan cucu Nenek. Itu udah kewajiban Kevin.” Kevin menghapus air mata di pipi Nenek. “Sekarang waktunya Nenek minum obat. Kevin ambilin ya.” Kevin meninggalkan Neneknya berdua dengan Tarzia. “Kamu adalah orang pertama yang diajak ke rumah, itu artinya kamu sangat berarti buat dia. Jangan tinggalkan dia ya?” Pesan Nenek begitu menyentuh hati Tarzia. “Oh ya, Nenek punya sesuatu buat kamu. Bisa bantu Nenek ke kamar.” Nenek Kevin minta tolong agar Tarzia mendorong kursi rodanya ke kamarnya yang berada di lantai 1. Nenek Kevin membuka laci meja rias di kamarnya. Dia mengambil sebuah penjepit rambut yang sangat cantik. Tampak sekali penjepit rambut itu bukan hiasan rambut biasa. “Ini pasti cantik kamu kenakan.” Nenek memberikannya pada Tarzia. “Tapi Nek, ini kan punya Nenek.” Tarzia ragu untuk menerimanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN